![]() |
| Penampakan novel saya di Gramedia Matraman. |
Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas
28 June 2011
10 February 2011
Buku Buku Yang Mengubah Hidup Saya
![]() |
| Buku apa yang mengubah kehidupan seekor kucing? |
Jadinya, saya menulis saja sejumlah buku yang paling banyak berperan dalam kehidupan pribadi saya. Ada yang mengubah saya dari segi kesehatan, karir, spiritual sampai juga ke make-up (sorry ya jek. Saya masih perempuan ^o^) Cukup menarik ternyata sebagian besar adalah buku non fiksi dan hanya satu yang fiksi. Berikut ini adalah daftarnya berdasarkan huruf:
- Agar Siapa Saja Mau Berdamai Dengan Anda dan Agar Siapa Saja Mau Berubah untuk Anda oleh David J. Lieberman, Ph.D. Buku ini menyadarkan saya tentang sifat asli manusia. Bahwa rasa marah lahir dari ketakutan dan bahwa kita bisa mengubah orang jika niat kita tulus untuk kebaikan orang itu sendiri. Yang saya suka adalah buku ini begitu sederhana dan ringkas, langsung menembak ke permasalahan yang kita hadapi.
- Making Faces oleh Kevyn Aucoin. Oke, ini memang buku tentang make up. Tetapi sumpah buku ini bagus banget buat perempuan yang mau belajar dandan. Kevyn ngajarin bahwa make up yang bagus itu nggak harus tujuh lapis. Ditambah ilustrasi yang bagus dan peralatan yang simple, ini benar-benar buku yang must have buat semua perempuan.
- On Writing oleh Stephen King. Stephen King adalah salah satu penulis favorit saya. Buku ini adalah biografinya, tetapi banyak nasihat kepenulisan yang tertera di dalamnya. Mulai dari pengalamannya ditolak sampai dengan bagaimana menjadi penulis yang baik. Buku yang inspiratif bagi semua penulis.
- Pelatihan Shalat Khusyu' oleh Abu Sangkan. Saya adalah seorang muslim dan meskipun sudah sholat bertahun-tahun, rasanya kualitas sholat saya masih begitu-begitu aja. Buku ini mengajak saya untuk lebih memahami makna sholat dan bagaimana sholat bukan sekedar ritual tetapi meditasi yang sangat dalam yang mengkoneksikan antara manusia dan penciptanya.Buku yang bagus untuk memaknai ibadah yang sebenarnya.
- Quantum Ikhlas oleh Erbe Sentanu. Anda ingat The Secretnya Rhonda Byrne? Quantum Ikhlas mirip dengan itu. Dengan memakai pendekatan Indonesia, Quantum Ikhlas terasa lebih dekat dan praktis. Saya banyak belajar tentang makna hidup yang sebenarnya dari sini.
- Sang Alkemis oleh Paolo Coelho. Sang Alkemis datang ketika saya menghadapi titik kejenuhan dalam karir di perusahaan tempat saya kerja. Bersama karakter utamanya, saya diajak mempertanyakan apa hal yang paling penting dalam hidup saya dan mendorong saya untuk berani meninggalkan apa yang saya miliki untuk mencapai tujuan hidup saya. Saya belum sampai ke piramida, tentu, tetapi keberanian meninggalkan toko kristal saya dapatkan dari Sang Alkemis.
- Staying Young oleh Mehmet C. Oz, MD. Mehmet Oz dan situs realage.com banyak mengubah cara pandang saya pada kesehatan saya. Saya jadi lebih memperhatikan makanan dan olahraga. Saya juga mengikuti yoga karena beliau, meski sekarang tak sesering dahulu lagi.
- The Miracle of Enzyme oleh Hiromi Sinya. Dr. Sinya membuat saya lebih perhatian pada kesehatan saya. Ia yang membuat saya lebih banyak mengkonsumsi sayuran dan buah sekarang, meninggalkan susu, mengurangi kopi dan mengunyah lebih banyak. Tulisannya akan membuka cakrawala Anda tentang kesehatan. Dijamin.
- The Whuffie Factor oleh Tara Hunt. Whuffie Factor adalah modal sosial yang Anda butuhkan agar sukses di dunia maya. Menariknya, seperti di dunia nyata, Anda harus banyak beramal, berbagi, dan terlibat agar diakui oleh orang lain. Buku ini mengubah cara pandang saya tentang dunia maya, bahwa dalam banyak hal sebenarnya dunia maya tidak jauh berbeda dengan dunia nyata.
25 January 2011
Indonesia Permai: The (Writer's) Soundtracks
Nah yang kedua? Well, siapa tahu saja saya cukup beruntung seperti Stephanie Meyer yang suka banget sama Muse (en memakai Muse waktu menulis Twilight) dan kok ya kebetulan film Twilight juga memakai lagunya Muse (hate you for that Meyer!) Siapa tahu saya juga ketiban rezeki Arashi juga mau membuatkan lagu untuk saya *ngarepindurenbangkokjatuh*
Anyway, Indonesia Permai atau Imai selalu punya gaya yang ceria dan ketika saya mendengarkan lagu Arashi ini, saya langsung klop dengannya. Apalagi semangat mengejar mimpi yang diusung Arashi dalam lagu ini kayaknya pas buat mereka.
Mungkin ada juga sih lagu Indonesia yang cocok, nggak harus lagu Jepang juga. Tapi ya gitu deh... namanya juga udah klop. :) Bahkan saking senengnya, saya malah ngebayangin kalau Imai dibuat filmnya atau dramanya atau drama musikalnya *ngimpikejatuhanduren* pasnya ya pakai lagu Arashi.
ARASHI - WE CAN MAKE IT.
Satu lagi lagu yang saya pakai dari Arashi untuk buku 1 Imai adalah STEP AND GO. Tapi sayangnya, video klipnya nggak saya temukan lagi di youtube :( *hiks*
Akan tetapi kalau kalian penggemar berat Arashi pasti kalian tahu deh dua lagu ini. Kalau belum, coba deh dengerin. Biarpun boysband, gaya lagunya bener-bener beda dengan ala Korea en Indonesia.
09 December 2010
Seekor Katak dan Dinding Trotoar
Waktu telah menunjukan jam sepuluh malam ketika saya melalui kompleks belakang menuju rumah saya. Pada siang hari, daerah itu adalah salah satu bagian favorit tempat tinggal saya. Sebuah taman panjang teratur menghiasi tepian sungai, menciptakan oase kecil di tengah-tengah Jakarta yang padat. Bahkan saya menggunakan taman di sepanjang sungai itu sebagai setting novel saya.
Akan tetapi, di malam hari, taman itu tidak terlalu menarik lantaran situasinya yang sangat sepi dan pencahayaannya yang tidak merata, terutama pada bagian ujung taman. Apalagi malam itu hujan rintik-rintik turun, membuat saya semakin cepat melangkah.
Saat saya mencapai ujung taman itulah kemudian saya melihat seekor katak.Sebenarnya bukanlah hal yang aneh jika saya melihat katak di sana. Namanya juga dekat dengan sungai. Saya teringat dulu ketika tanah lapangnya dibiarkan liar. Setelah hujan, akan terdengar orkestra katak saling bersahutan. Sungguh menyenangkan.
Untuk beberapa saat, saya tertarik untuk mengamati makhluk kecil itu. Katak itu tengah berusaha melompat sekuat tenaga untuk naik ke atas trotoar. Tentu saja dengan badannya yang kecil, sulit baginya untuk mencapai trotoar dan akhirnya sampai ke sungai. Tetapi ia tidak berhenti melompat. Ia terus melompat dan terus melompat. Saya sempat berpikir, sampai kapankah katak itu akan terus melompat? Trotoar itu cukup panjang dan nyaris tidak ada bagian yang lebih rendah bagi sang katak untuk bisa mencapai sungai.
Akan tetapi saya salah. Ternyata ada satu lubang kecil di ujung trotoar. Lubang itu dibuat agar air dari jalanan bisa mencapai sungai. Jika sang katak mau bekerja lebih lama lagi, ia akan menemukan lubang itu dan ia akan kembali ke sungai.
Pikiran itu membawa saya pada diri saya sendiri. Meskipun saya mencintai menulis, tetap saja ada momen di mana saya mempertanyakan semua arti hidup saya. Apakah menulis dapat membuat saya hidup berkecukupan? Apakah saya hanya hidup dalam ilusi saya sendiri? Bagaimana kalau tidak ada yang menyukai tulisan saya? Apakah saya tidak realistis dengan kondisi perbukuan di Indonesia?
Kegigihan katak itu dalam melompat itu membuat saya merenung. Mungkin seperti katak, tujuan hidup manusia adalah sungai itu. Kita semua memiliki sungai itu. Entah berupa kebahagian di dunia dan di akhirat, kekayaan, cinta, kepopuleran dan lain-lain. Untuk mencapainya, selalu ada trotoar tinggi yang harus dilompati: keluarga yang tidak setuju, situasi ekonomi yang tidak mendukung, bakat yang dirasa kurang, dan lain-lain. Saya tidak tahu apakah kemudian katak itu memilih meninggalkan sungai dan menerima tinggal di selokan saja. Akan tetapi, saya berharap katak itu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Begitu juga kita semua. Memang pada akhirnya kita semua dihadapkan pilihan apakah kita akan terus mengejar mimpi kita atau akhirnya menerima hidup apa adanya. Akan tetapi, kalau kita mau percaya bahwa ada lubang kecil itu, pada akhirnya kita akan menemukannya, meskipun butuh waktu lama untuk menemukannya. Hanya saja, berapa banyak dari kita yang bersedia berjuang begitu lama dan begitu keras untuk mencapai mimpi yang mungkin tinggal sedikit lagi tercapai?
Saya tidak tahu apakah saya bisa menjadi seorang penulis yang baik. Tetapi seperti katak itu yang hanya bisa meloncat, saya juga hanya bisa menulis. Saya hanya bisa berharap, suatu saat saya akan menemukan lubang kecil itu dan akhirnya mencapai sungai saya sendiri.
29 November 2010
Event Menulis Nanowrimo: Sebuah Catatan
![]() |
| salah satu ide menambah word count |
Bagi saya, mungkin tidak ada kegiatan menulis tahunan yang lebih menarik dibandingkan nanowrimo. Ini karena nanowrimo berarti dua hal: bertemu dengan rekan sesama penulis (sepertinya justru ini yang lebih menarik) dan tentu saja, menulis novel. Bukan berarti saya tidak menulis novel di luar kegiatan menulis ini. Hanya saja, ide menulis novel dari dasar, berjuang bersama sesama rekan penulis dan akhirnya menang bersama-sama, tetap menarik bagi saja meski sudah tiga kali saya melakukannya.
Nanowrimo: Apaan sih itu?
Nanowrimo adalah singkatan dari National Novel Writing Month. Gampangnya, nanowrimo adalah kegiatan menulis novel bareng seluruh dunia. Yup. SELURUH DUNIA. Mulai tanggal 1 November, kamu mulai menulis novel dari dasar atau halaman pertama, hingga kamu mencapai 50.000 kata. Harus 50.000 kata atau kamu tidak akan mendapat gelar winner.
Jangan panik dulu. 50.000 itu tidak terlalu banyak, lho (tapi juga tidak terlalu sedikit). Kalau dikonversikan ke dalam halaman, mungkin sekitar 150 halaman. Agar beban kerja kamu tidak terlalu berat, kamu cukup mengetik sekitar 1.667 kata per hari. Pada hari ke 30, kamu akan mendapatkan 50.000 kata. Untuk mengetahui jumlah kata, kamu bisa mengecek word count yang ada di word processor kamu.
Apa untungnya ikutan Nanowrimo?
Sayangnya, tidak ada medali emas atau Ipad baru menanti kamu. Yang jelas, kamu akan mendapatkan kepuasan batin karena berhasil menyelesaikan novel yang kamu ingin tulis selama ini. Tahap pertama kepenulisan telah kamu lalui dan kamu dapat melanjutkannya ke jenjang berikutnya, menyuntingnya.
Nanowrimo juga membantu kamu lebih disiplin, sesuatu yang sangat penting kalau kamu ingin serius jadi penulis. Dan karena kamu akan berhubungan dengan sesama penulis, kamu juga akan mendapatkan jaringan penulis yang lebih luas. Siapa tahu kamu akan dapat kenalan dari penerbit!
Nanowrimo bagi saya
Saya suka nanowrimo. Dua novel saya yang sedang ada di tangan penerbit ditulis ketika saya melakukan nanowrimo. Tahun 2010 ini, saya memanfaatkan nanowrimo untuk sedikit keluar dari jalur dan menulis cerita fantasi, sesuatu yang tak pernah baik saya lakukan. Saya pikir, inilah momen untuk membebaskan diri saya tanpa ada beban dari pihak manapun (termasuk diri saya sendiri). Dan hasilnya cukup mengejutkan. Saya merasa cerita fantasi saya tidak buruk-buruk amat (meskipun tidak bagus-bagus juga).
Tips Memenangkan Nanowrimo Buat Sang Pemalas
- Siapkan ide novel Nanowrimo beberapa hari sebelum mulai lomba. Ini jauh lebih bagus daripada kamu benar-benar blank pada saat nanowrimo dimulai
- Tuliskan apa yang ada di pikiran kamu mengenai novelmu. Anggap kamu sedang berlatih menulis novel, bukan menulis novel. Hal ini membuat pikiranmu lebih nyaman dan tidak terbebani.
- Tidak perlu menulis bab per bab. Tuliskan setiap adegan yang kamu bayangkan tentang novel kamu. Jika kamu malas menulis bab tertentu, lewatkan saja dan lanjutkan ke bab lainnya. Toh yang membaca hanya kamu.
- Jika kamu sudah muak dengan komputermu dan ingin menulis di atas kertas, lakukan saja. Nanti kamu dapat mengira-ngira jumlah katanya dan menambahkannya di file novelmu. Tak perlu mengetik ulang.
- Jika kamu sudah kehabisan ide tentang plot, lakukan pembahasan tentang tokoh-tokohmu. Kamu akan mengenali tokohmu dengan lebih baik dan kamu juga akan menambah word count.
- Pada awal nanowrimo, tulislah sebanyak mungkin sebagai ‘tabungan’. Semakin ke belakang, tentu ada kecenderungan api perjuanganmu padam, entah karena idemu semakin mengecil atau kamu terlalu sibuk. Dengan tabunganmu, beban tulisanmu menjadi berkurang namun kamu tetap berpeluang menjadi pemenang.
- Kumpul bareng bersama penulis lain di Write-Ins. Kamu bisa dapat tambahan ide baru sekaligus menambah teman.
- Beri hadiah kecil bagi dirimu setiap minggu jika kamu berhasil mendapatkan target. Mungkin hanya sekedar es krim atau nonton bioskop. Apapun yang membuat kamu bertambah semangat.
20 September 2010
7 Kebiasaan Buruk Penulis yang sering dipelihara!
![]() |
| Tidur tidak akan menambah jumlah halaman tulisan Anda. :D |
- Tidak disiplin. Ini adalah adalah kebiasaan buruk penulis yang utama. Karena kamu pikir kamu seniman, kamu punya hak untuk tidak disiplin. Salah besar. Banyak penulis besar yang memasang waktu khusus untuk menulis. Ada ide atau tidak, mereka harus ada di depan komputer dan menulis. Selain itu, jika kamu malas, kamu tidak akan menepati tenggat waktu. Penerbit bisa jadi enggan menggunakan kamu lagi.
- Menunggu mood menulis. Kalau kamu harus menunggu suasana hati yang tepat untuk menulis, kamu akan sulit menemukannya. Selalu ada hal yang dapat mengganggu kamu: tetangga kamu yang sibuk memasang petasan, adik kamu yang menangis atau bahkan bajaj yang tak henti-hentinya lewat di depan rumah. Jadi kapan kamu bisa menulis? Sebenarnya, kamu perlu melanjutkan kebiasaan buruk penulis ini. Kamu bisa menulis kapanpun tanpa menunggu mood. Katakan saja pada dirimu: Saya mau menulis sekarang. Sekarang adalah mood yang tepat untuk menulis. Otak saya akan mengeluarkan ide-ide yang brillian.
- Terlalu sibuk. “Aduh, saya terlalu sibuk kerja.” Atau “tugas kuliah ini terlalu berat.” Kalau kamu memang benar-benar berniat menjadi penulis, tidak ada alasan mempertahankan kebiasaan buruk penulis ini. Karena jika kamu menundanya sekarang, besar kemungkinan kamu akan terus menundanya.
- Takut idenya tidak orisinil. Kebiasaan buruk penulis ini lahir karena kita ingin menjadi sempurna, ingin menjadi yang pertama. Padahal di dunia ini, semua ide pasti pernah terpikirkan oleh penulis. Yang bisa kita lakukan adalah mengolah ide itu dengan lebih baik dibandingkan sebelumnya.
- Meniru ide orang lain. Kamu pikir karena Stephanie Meyer bisa kaya dengan menulis tentang vampir, kamu juga akan sukses menulis tentang vampir. Nyatanya, dengan melakukan kebiasaan buruk penulis ini, kamu hanyalah seorang pengekor. Atau bisa jadi saat buku vampir kamu selesai, trend buku sudah mengarah ke tema yang lainnya.
- Enggan mencatat ide dan berpikir akan mengingatnya. Kamu punya ide akan tetapi kamu sedang berada di dalam angkutan umum. Jadi kamu putuskan untuk menulis ide itu nanti saja di rumah. Salah! Ini adalah kebiasaan buruk penulis yang harus dibuang karena bisa jadi, kamu kehilangan ide saat kamu menundanya. Karena itu selalu sediakan bolpen dan kertas. Kamu tidak pernah tahu kapan ide kamu datang.
- Takut hasilnya tidak sempurna. Kebiasaan buruk penulis ini lahir dari keinginan kamu untuk sempurna. Kamu terus merevisi berkali-kali. Tapi sadarkah kamu bahwa tidak ada gading yang tidak retak? Karenanya, cukup sampai kamu puas (atau sedikit puas) dan kemudian kirim hasilnya ke penerbit. Mereka akan memberikan masukan yang mungkin tidak kamu pikirkan sebelumnya.
11 September 2010
6 Cerita Rakyat Indonesia Terbaik bagi Anak Anda.
Beberapa cerita rakyat Indonesia yang baik untuk anak (menurut saya) adalah:
6. Malin Kundang (Sumatera Barat) atau Batu Menangis (Kalimantan Barat).
5. Bawang Merah Bawang Putih (Jawa Tengah) atau Burung dan Semangka (Kalimantan Selatan).
4. Beribu Kandung Seekor Kucing (Jambi).
3. Si Kancil (Jawa).
2. Rusa dan Si Kulomang (Maluku Utara).
1.Timun Mas (Jawa Tengah).
Inilah bekal pilihan Anda untuk mendongengkan pada anak Anda. Di luar ini, tentu saja masih ada cerita rakyat Indonesia yang menarik untuk diceritakan. Hanya saja pastikan Anda membacanya secara tuntas sebelum memutuskan untuk menceritakannya. Selamat mendongeng!
24 July 2010
Pemboenoehan Tempoe Doeloe - Sebuah Catatan dari Perpustakaan Nasional
04 July 2010
Indonesia Permai: Karakter
Nah itu keputusan yang sulit. Saya menginginkan karakter yang masuk akal. Saya lebih suka karakter yang nggak serba tahu, tapi dia belajar dan bekerja sama dengan banyak orang. Karena itu tipe single fighter seperti Nancy tidak menjadi pilihan saya. Kemudian saya menjatuhkan pilihan pada model keroyokan mirip lima sekawan (minus anjingnya) karena dua alasan: makin banyak orang makin ramai dan saya punya banyak sudut pandang untuk saya mainkan. Bukankah menyenangkan kalau satu bab kita melihat dari sudut pandang A dan kemudian di bab berikutnya kita melihat dari sudut pandang B?
Nah, kalau kamu melihat model lima jagoan (atau empat jagoan atau tiga jagoan), kamu akan melihat semacam pembagian tugas. Ada yang jadi pemimpin, ada yang jadi pemikir, pengacau dan ada anjingnya :p. Saya pikir model semacam ini akan mempermudah pembaca untuk mengingat karakter-karakter itu sendiri. Jadi saya menciptakan lima karakter dengan sedikit twist: seorang detektif yang menjadi problem maker sekaligus problem solver, seorang pemimpin yang enggan memimpin karena lebih suka belajar, seorang pemberontak, seorang jenius yang 'menderita' sindrom asperger, dan si manis yang.. hmm... sejauh ini masih terkesan jadi pemanis. :p
Berbeda dengan karakter tim detektif seperti misalnya lima sekawan atau trio detektif yang dari awal mereka sudah rukun dan selalu bersama, karakter tim saya justru punya konflik antar anggota. Saya rasa hal itu jadi bumbu yang menarik selain fakta karena di dunia nyata kita toh juga nggak selalu akur dengan teman.
27 June 2010
Indonesia Permai: Sebuah Awal
Dari sela-sela pembicaraan kami, entah bagaimana, kami tiba pada percakapan betapa kurang beragamnya buku anak atau remaja saat ini. Saat ini kami tidak lagi menemukan buku menarik seperti Trio Detektif, Lima Sekawan dan lain-lain. Memang buku-buku lama seperti Lima Sekawan kemudian diterbitkan lagi. Tetapi sepertinya tidak ada generasi baru dalam menulis genre detektif petualangan seperti itu. Apalagi ketika kami membicarakan penulis lokal.
Pada akhirnya kami semua mengambil kesimpulan, kami seharusnya tidak boleh mengeluh. Kami seharusnya melihat ini sebagai kesempatan. Dan karena hanya saya satu-satunya penulis di pertemuan itu, tebak siapa yang kena imbasnya :D
Beberapa hari kemudian, saya terus mengolah ide tentang detektif remaja yang saya inginkan. Saya mencari beberapa ebook gratisan (maaf) dari internet. Saya juga berburu beberapa buku anak di toko buku (see? I don't just rely on the free illegal books ;P). Salah satu teman editor sayajuga mengirimkan dua buku yang ia rasa berkaitan dengan penulisan saya.
Draft buku yang pertama berhasil saya selesaikan pada akhir bulan November dua tahun yang lalu, bertepatan dengan Nanowrimo. Akan tetapi, naskah yang benar-benar punya muka untuk dikirimkan kepada penerbit baru muncul tiga bulan kemudian. Saya juga sudah menyelesaikan draft buku kedua sekitar sebulan yang lalu dan pada saat ini sedang memasuki proses reading di penerbit.
Akan ada banyak yang saya tuliskan di blog ini mengenai karakter atau latar belakang penulisan saya. So, stay tune. :D
11 May 2010
15 Books I'll Always Remember
(In no particular order, ya)
1. Sang Alkemis - Paulo Coelho. Mungkin karena dibaca pada waktu yang tepat, jadinya buku ini benar-benar memengaruhi gue. Rasanya buku ini bakal gue rekomendasikan ke semua orang.
2. Little Prince
3. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Maap. Tapi ini yang kepikiran. :p
4. The Original Beauty Bible - Paula Begouin. Buku tentang kecantikan dan perawatan kulit. Sangat mengubah pandangan hidup gue tentang dua hal tadi.
5. Making Faces - Kevyn Aucoin. Buku tentang make up paling bagus yang pernah gue baca. :p
6. Twilight. Remember this book for the wrong reason. ^o^
7. Thesaurus Bahasa Indonesia boleh masuk kan?
8. Menulis secara populer - Ismail Marahimin. Buku pertama yang gue miliki tentang kepenulisan. Sebenarnya yang gue lebih ingat adalah penulisnya, dosen yang sangat kejam dalam menilai tulisan orang. >.<
9. Menulis itu gampang - Arswendo Atmowiloto.
10. The name of this book is secret - pseudonymous bosh. buku anak-anak yang dituturkan dengan gaya yang unik.
11. Lima Sekawan - Enid Blyton. This is how I spend my childhood.
12. Pluto
13. Bleach
14. 21th century boys
15. Deadnote.
Maap, empat yang terakhir bukan kategori buku, tapi manga >.< tapi emang keempat manga itu lumayan membantu gue dalam membuat plot dan menciptakan karakter. dan pada dasarnya gue gak ingat buku yang lain.... *kabur pelan-pelan*
Pembunuhan Dalam Cerita Anak: Ya atau Tidak?
Saya sebenarnya masih sedikit bingung membuat pembatasan kekerasan dalam sebuah cerita anak. Bahkan untuk memasukkan tema kematian dalam cerita anak saja, saya merasa perlu hati-hati. Kalau ditujukan untuk anak terlalu muda, saya menghindarinya. Karena itu juga saya menabukan diri untuk memasukkan cerita pembunuhan. Kenapa? Karena pembunuhan merupakan hal yang serius dan punya tingkat kekerasan yang tinggi (meskipun hal yang sama bisa diterapkan pada penyiksaan atau pemerkosaan). Melihat pembunuhan juga merupakan suatu hal yang traumatis, bahkan bagi orang dewasa sekalipun.
Memang di dalam buku tersebut, pembunuhan tidak terlalu diekspos. Bahkan menurut saya terlalu sederhana. Sedikit mengejutkan melihat anak-anak yang jadi detektif cilik mengharapkan bertemu dengan kasus pembunuhan. Bahkan setelah dapatpun, reaksi mereka terhadap pembunuhan itu sendiri, minimalis (saya mengharapkan ada rasa shock atau ketakutan ketika pertama kali melihat pembunuhan. Ternyata, tidak.)
Setelah saya membaca buku itu, saya jadi meragukan pemikiran saya sendiri. Mungkinkah anak zaman sekarang lebih terekspos dalam masalah kekerasan hingga cerita pembunuhan bukan lagi masalah? Coba lihat game yang dimainkan anak-anak zaman sekarang. Banyak yang mengandung darah di mana-mana. Memang sih game itu bukan buat anak-anak. Maksud saya adalah, apakah zaman telah berubah sehingga petualangan lima sekawan, Nancy Drew atau Hardy Boys cuma cocok untuk 'bayi' saja? Atau bagaimana? Ya atau tidak untuk cerita pembunuhan dalam cerita anak-anak?
Oh, ya. Satu lagi. Bagaimana dengan peran penegak hukum atau figur yang dihormati (guru) sebagai sosok antagonis (penjahat) dalam cerita anak. Setuju atau tidak?
Belajar Detektif dari Monk
Akan tetapi, setelah mengikuti dorama Amerika, Monk, saya agak memikirkan ulang untuk memasukkan cerita pembunuhan.
Monk adalah kisah seorang detektif yang mengalami masalah jiwa setelah kematian istrinya sehingga dipecat dari kepolisian San Fransisco. Meski demikian, kemampuannya yang hebat dalam memecahkan kasus kejahatan, membuatnya selalu dipakai pihak kepolisian. Selama ini saya selalu berpikir kalau mau menampilkan pembunuhan ya harus menampilkan mayatnya dan itu berarti menampilkan adegan yang terlalu vulgar untuk anak-anak.
Akan tetapi uniknya Monk tidak perlu itu semua untuk menyelesaikan kasusnya. Saya ingat salah satu adegan di mana ada kasus seorang laki-laki membunuh pacarnya dengan cara dipukul lalu digergaji. Yang ditampilkan di TV hanya jendela yang terkena percikan darah. Saat diotopsi, sama sekali tidak ditampilkan potongan mayat. Hanya omongan si dokter forensik saja.
Begitu juga dengan saat ada adegan perempuan yang mati tercekik karena syal lehernya terjepit lift.Hanya menggambarkan suara perempuan itu yang minta tolong dan kemudian meninggal. Satu-satunya penampilan mayat yang saya ingat adalah saat ada seorang pelayan yang meninggal, tapi tidak bisa ditemukan mayatnya. Setelah ketemu, baru deh kelihatan mayatnya. Tapi itupun hanya terlihat wajah pucat mayat. Tidak terlihat darahnya (padahal seingat saya matinya ditusuk. Hmm....mungkin ditusuknya dari belakang hingga tidak terlihat dari depan)
Anyway, ini adalah salah satu cara untuk memasukkan kasus pembunuhan akan tetapi tidak perlu menampilkan adegan vulgar. Akan tetapi, saya belum tahu seperti apakah model kasus pembunuhan yang melibatkan anak-anak. Hmm....
30 July 2005
Ketiga
Seharusnya tidak begini. Seharusnya semua berjalan lancar sesuai rencananya dua minggu yang lalu.
"Ton, siapa yang akan kamu bawa ke ultah Siska nanti." tanya Hari, temannya sekaligus pacar Siska.
"Emangnya penting?"
Hari menonjok pundak temannya dengan main-main, membuat Toni tergelak. "Oke. Lihat saja nanti, di pesta Siska nanti aku akan membawa salah satu diantara dari mereka. Dan di tengah pesta aku akan langsung menembaknya."
Itu rencananya. Toni selalu berpikir kalau semuanya akan berjalan lancar. Ia tinggal akan telepon salah satunya dan semuanya beres.
Tapi nggak semudah itu. Di hari-hari terakhir ia disibukkan oleh pemikiran mana yang lebih pantas jadi pacarnya. Maya memang tipe ideal seorang cewek: anggun dan cantik bagaikan seorang putri. Satu-satunya kekurangannya adalah isi otaknya. Sebaliknya kelebihan Karin ada di otaknya. Ia cerdas, populer dan kaya. Hanya saja mulut Karin besar. Kalau sudah terbuka, susah ditutup. Nah, kekurangan Karin ini yang jadi kelebihan Septiana. Septiana amat tenang. Diantara ketiganya yang paling jelek memang Septiana, tapi anaknya baik hati dan yang paling disukai Toni, Septiana nggak pernah mengatakan "nggak" padanya.
Toni meraih handphonenya dan mencari-cari nomer telepon Septiana di bagian buku alamat.
"Halo?" terdengar nada lembut mengalun dari seberang, suara bidadari penyelamatnya.
"Septiana, ya?."
"Toni, ya?
"Kamu datang ke ultah Siska besok malam, nggak?"
"Tentu aja. Kenapa?"
"Sudah ada yang mau nganterin, belum?"
"Sudah"
Jantung Toni mendadak ingin meledak. "Siapa?"
"Kakakku."
Toni tersenyum lega. "Boleh nggak aku menggantikan tugas kakakmu?"
"Maksudmu kamu mau menjemput aku?"
"Iya." Yes! teriak Toni dalam hati. Septiana pasti setuju. Mendadak pikirannya melayang. Cukup sebulan saja jadian dengan Septiana, kemudian Maya atau Karin. Atau dua minggu saja?
Terdengar nada diam yang panjang.
"Kenapa aku, bukan Maya atau Karin."
Toni ternganga sesaat, ia tak menduga sama sekali. "Egh..mereka nggak bisa. Maya lagi syuting dan Karin sakit."
"Karena itu kamu mengajakku? Karena mereka nggak bisa?"
Toni menjadi panik. Kok tiba-tiba begini.
"Bukan begitu maksudku, Ana."
"Aku mengerti kok, Ton. Jangan khawatir. Aku akan datang, tapi nggak bersamamu. Maaf ya, Ton. Aku harap kamu mengerti."
"Mengerti apa?"
Toni tersentak.
"Aku pikir kamu akan bilang iya, tadi." Karin berbaring di atas tempat tidur Septiana.
"Iya."balas Maya. "Ini
"Nggak." Septiana meletakkan handphonenya dan berbaring memeluk bantalnya. "Habis aku dijadikan ban serep. Memangnya aku cewek apaan."
"Kira-kira Toni lagi ngapain, ya?" tanya Karin.
"Mau taruhan?" Maya tersenyum. "Kurasa ia sedang mencari gadis keempat."
Toni menekan nomer telepon yang nyaris dilupakannya. Kali ini pasti berhasil. Gadis ini tergila-gila padanya. Toni menarik nafas dalam-dalam ketika mendengar sambutan dari seberang.
"Halo, bisa bicara dengan..."
01 July 2005
Sepenggal Dusta
Jadi, aku berdiri di depan pintu, menanti BMW hitam yang meluncur dengan anggun melalui pintu pagar dan berhenti di hadapanku. Ketika rodanya berhenti berputar, Budi sang supir dengan cepat membuka pintu belakang.
Rasanya seperti sudah seabad aku tidak melihatnya. Dadaku bergejolak karena kerinduan yang kupendam dan air mataku nyaris meleleh. Ia nyaris tak berubah, hanya uban yang semakin bertambah di sana-sini. Tetapi senyumannya, kebahagiaannya semuanya terpancar begitu jelas, begitu indah. Dengan cepat aku berlari menyambutnya dan mencium tangannya yang mulai keriput.
"Bapak, Wawan minta maaf tidak bisa menjemput di Gambir."kataku setengah berbisik.
Dengan lembut ia mengelus kepalanya. "Nggak pa-pa, kok le. Bapak juga tahu kamu sibuk dengan semua urusan bisnismu. Tapi..." Matanya berkeliling ke arah istana putih yang ada di belakangku. "Bapak nggak menduga kamu sekaya ini. Kok kamu nggak cerita apa-apa pada Bapak."
Aku tersenyum dan mengeluarkan kata-kata yang semalaman sudah kususun.
"Saya nggak mau Bapak terus-menerus memikirkan Wawan. Kondisi Bapak akhir-akhir ini kan…"
"Bapak sehat-sehat saja kok, Wan." Aku menuntun Bapak masuk ke dalam rumah diikuti Budi yang kanan kirinya dipenuhi bawaan Bapak. Wajah Bapak semakin berbinar-binar ketika melihat bagian dalam rumah. Sebuah permadani merah terhampar menyelimuti lantai marmer. Di dinding, sebuah lukisan kabah yang besar terpampang dan Bapak menatapnya penuh kerinduan. Aku tahu betapa besar keinginan Bapak untuk naik haji tapi nggak pernah kesampaian.
"Jadi bener ini rumahmu, Wan?"
"Ya, begitulah, Pak. Bagaimana menurut Bapak?"
"Yo apik banget. Bapak sama sekali nggak menduga. Sebenarnya pekerjaanmu kuwi opo to, le?"
"Pak Wawan itu pegawai, Pak." timpal Budi sembari menurunkan bawaan Bapak. Aku ingin sekali menutup mulut besarnya. Kenapa nggak biar aku saja yang ngomong?
"Pegawai apa, negeri apa swasta?"
"Swasta." "Negeri." Aku dan Budi berebutan bicara. Aku melotot padanya.
"Negeri." "Swasta"
Bapak mengerutkan alisnya. "Yang benar yang mana?"
"Dulu saya di kerja sebagai pegawai negeri, Pak. Tapi karena gajinya terlalu kecil saya keluar dan kerja sebagai pegawai swasta. Kalau nggak kerja di swasta mana mungkin saya bisa beli rumah sebesar ini kan, Pak?"
Bapak tersenyum puas mendengar jawabanku lalu berjalan menuju kamar yang telah kusiapkan. Ia kelihatan lelah setelah seharian menempuh perjalanan dari Jogya dan memutuskan untuk beristirahat.
Aku berlari menuju dapur dan menghembuskan nafas kuat-kuat di sana. Udara tiba-tiba terasa gerah. Budi dan Maman sang satpam sudah duluan duduk di meja dapur sembari mereguk secangkir teh. Di belakangnya, mbok Yem sibuk mengaduk isi panci.
"Gimana penampilanku?" Budi tertawa sembari menepuk dadanya. "Keren nggak? Pantes kan aku menerima piala oscar?"
"Pantes gundulmu!" Aku nyaris berteriak. "Bapak hampir saja curiga tadi."
Nggak bakal! Bapakmu itu sudah berpikiran tinggi soal kamu. Sepanjang jalan aku bilang kamu itu kaya banget. Tanahmu seabrek-abrek dan ada dari sabang sampai merauke. Bahkan ketika Bapak tanya siapa yang jadi pacarmu sekarang aku bilang Dessy Ratnasari."
Aku menyemburkan tehku, nyaris mengenai Maman."Gila kamu!" teriakku. "Gimana kalau Bapak minta dibawain Dessy!"
"Tenang, Wan. Aku bilang kalian sudah putus. Jadi nggak perlu panik. Lagipula masih ada waktu seminggu untuk bersenang-senang sebelum majikan kita pulang."
Aku menghempaskan tubuhku, menatap langit-langit yang putih dan menghembuskan nafas dalam-dalam. "Ya, Allah. Aku tidak percaya akhirnya kita melakukan rencana gila ini."
"Nah kalau udah tahu kenapa juga dilakukan."timpal Mbok Yem. Aku meliriknya. Di antara orang serumah, Mbok Yem-lah yang paling sering menentang rencanaku. Berkali-kali ia mengingatkan bahwa kebohonganku nggak ada gunanya, cuman menambah masalah saja. Percuma saja berkali-kali kujelaskan kalau aku...
"Nggak ada pilihan lain, Mbok."kataku, lagi-lagi seteguk teh masuk ke mulutku. "Aku sudah terlanjur bilang pada Bapak kalau aku punya pekerjaan yang bagus di kota."
"Lho jadi tukang kebun kan pekerjaan bagus. Daripada jadi pengangguran?"
"Kamu nggak tahu keluargaku sih Bud. Cuman aku anak laki-laki harapan Bapakku. Kakakku, Yono, nggak dapat pekerjaan akhirnya jadi maling dan mati di tangan massa. Kamu tahu apa yang terjadi? Bapakku langsung jantungan dan dirawat di rumah sakit. Terus yang kedua, Joko kerjaannya cuman main judi dan mabuk aja. Setiap pulang, ia nggak pernah bawa apa-apa kecuali hutang. Untungnya adikku Sari sudah menikah jadi beban Bapak sedikit berkurang, meskipun suaminya cuman guru SD. Harapan Bapak padaku itu besar sekali, Bud. Bapak bahkan rela membobol tabungan buat biayaku ke Jakarta. Gimana aku tega ngomong sama Bapak kalau aku cuman jadi tukang kebun di sini?"
"Tapi ini kan sama saja dengan menipu Bapakmu, Wan."kata Mbok Yem bersikeras. "Bayangin kalau Bapakmu sampai tahu yang sebenarnya. Apa nggak lebih sakit lagi?"
"Ya kalau begitu jangan ada yang ngasih tahu!" balasku tak kalah sengit. Wanita itu tampak sedikit tersinggung dan aku merasa menyesal membentaknya. Bagaimanapun juga ia sudah merasa aku sebagai anaknya. Aku menurunkan nadaku. "Aku nggak bermaksud untuk menipu Bapak, Mbok. Aku cuman ingin membuat Bapak bahagia. Sekali ini saja. Apa itu berlebihan? Apa seorang anak nggak boleh membahagiakan Bapaknya?"
"Ya tapi bukan begini caranya, Wan!" kata mbok Yem.
"Terus gimana? Mbok punya cara lain? Nggak kan?" tantangku.
"Terserah kamulah, Wan. Mbok Yem sudah capek ngasih tahu kamu. Kamu ini memang keras kepala. Tapi jangan salahkan mbok kalau nanti ada apa-apa. Mbok sudah bilang jangan berbohong tapi kamu nggak mau nurut." Ia beranjak keluar dengan mangkuk sup di tangannya. "Wan, kamu salah kalau kamu pikir kamu bisa membahagiakan Bapakmu dengan kebohonganmu. Nggak ada kebahagiaan dari kebohongan, Wan. Nggak ada."
Kata-kata terakhirnya begitu tajam, menghujani ulu hatiku seperti duri mawar.
"Jadi?" kata Budi akhirnya. "Kita teruskan?"
Aku memutar-mutar cangkirku dan mereguk habis isinya.
"Apa aku punya pilihan lain?"bisikku pelan.
Budi mengangkat pundaknya. Bersama Wawan ia ngeloyor pergi.
*
Aku nggak pernah melihat Bapak lebih bahagia dari saat ini. Ia begitu menikmati hari-harinya, berjalan-jalan di kebun yang biasa kurawat setiap hari atau bermain-main dengan ikan mas koki yang ada di kolam. Kadang-kadang ia duduk di Gazebo menatap matahari senja menikmati secangkir kopi dan mulai bertutur tentang masa-masa jayanya di pabrik gula zaman Belanda. Dan aku, Budi, Maman dibawanya melayang.
Saat kutatap matanya yang bersinar, senyumnya yang merekah, saat itu pula aku tidak menyesal memainkan sandiwara ini. Bahkan aku rela bersandiwara sepuluh kali apabila ini bisa membuat Bapak bahagia seumur hidupnya.
"Ada kabar buruk, Wan. Majikan kita mau pulang besok," mendadak Budi berkata ketika Bapak sudah masuk ke kamar untuk istirahat.
"Apa?" Keringat dinginku mendadak keluar. "Gimana sih, katanya mau dua minggu di Bali. Ini kan baru seminggu lebih."
"Iya, tapi Ibu sudah kangen sama rumah Jakarta."
Mampus aku! Bagaimana aku membujuk Bapak untuk pulang ke kampung? Bapak kelihatan kerasan banget tinggal di Jakarta. Malah aku mulai berpikir Bapak mau tinggal di sini seumur hidupnya. Kebohongan macam apa lagi yang harus aku ciptakan? Aku begitu lemas sehingga tak sadar Budi menepuk pundakku dan meninggalkanku.
Bapak duduk tepat di depan tape desk, menikmati keroncong yang mengalun perlahan seperti riak-riak kecil sungai ketika aku masuk. Ia tersenyum ketika melihat kedatanganku.
"Kebetulan kamu di sini, le."katanya setengah berbisik. "Bapak mau bicara padamu. Bapak bukannya nggak mau berterima kasih. Apa yang kamu beri pada Bapak ini lebih dari cukup, tapi Bapak nggak bisa tinggal lama-lama. Bapak kangen sama rumah."
Aku tak mempercayai telingaku. Terima kasih Tuhan. Terima kasih.
Bapak pulang keesokan harinya naik kereta argobromo yang uangnya kukumpulkan dari sumbangan kami berempat. Sandiwara yang kami gelar sukses berat.
Kedua majikanku ternyata tidak pulang secepat perkiraan kami. Mereka nggak dapat tiket pesawat ke Jakarta, jadi mereka terpaksa menunggu beberapa hari. Nggak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika adikku, Sari, menelpon malam-malam.
"Maaf mas, Sari mengganggu. Sebenarnya Sari nggak mau mengganggu, tapi kondisi Bapak memaksa Sari menelpon."
Jantungku seperti mau meledak. "Memangnya Bapak kenapa?"
"Bapak masuk rumah sakit lagi. Kemarin banyak orang yang datang ke rumah dan mencari Mas Joko. Tentu saja nggak ada. Kata mereka, Mas Joko kalah judi dan berhutang sepuluh juta. Kalau nggak dibayar, rumah Bapak akan diambil sebagai gantinya." Aku dapat mendengar isakannya yang tertahan. "Dada Bapak langsung sakit dan Bapak harus dirawat."
"Sepuluh juta?" Aku terbelalak. Ya, Allah. Sepuluh juta! Dari mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu?
"Sari hanya punya sejuta." katanya di sela -sela tangisannya. "Itupun setelah pinjam tetangga. Tapi yang sembilan juta lagi darimana? Belum lagi untuk perawatan Bapak."
Kabel telepon itu kuremas. Sesungguhnya aku juga nggak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sama sekali nggak punya uang. Tapi aku nggak mungkin mengatakannya pada Sari. Mereka sudah terlanjur menganggap aku kaya. Bapak sendiri saksinya."
"Sari."Akhirnya aku membuka mulut. "Kamu tenang saja di sana. Nanti Mas kirim uang yang kamu butuhkan."
Aku tahu apa yang baru saja aku lakukan. Sekali lagi aku berbohong. Sekali lagi aku menciptakan harapan semu yang nggak mungkin aku penuhi. Mana mungkin aku bisa mengirimi mereka uang sembilan juta. Kecuali kalau aku...
Mataku terantuk pada brankas besi yang ada di depan mataku.
Tiba-tiba aku tercekat. Kenapa nggak kepikiran?
Malam itu aku memandangi langit-langit kamarku. Aku gelisah. Berkali-kali aku bertanya pada diriku apa ini yang harus kulakukan. Apa tidak ada pilihan lain. Tapi semakin keras aku berpikir semakin yakin aku bahwa tidak ada cara lain. Aku nggak mungkin berbicara pada Mbok Yem, Maman atau Budi soal ini. Mereka nggak akan membantu apa-apa kecuali nasihat setinggi gunung. Satu-satunya jalan aku harus menjebol brankas itu dan mengirim uangnya pada Sari.
Aku bangkit dari tempat tidurku dan menarik senter dari laci. Dunia mungkin punya sejuta alasan untuk mengutukku, tapi aku juga punya sejuta alasan untuk melakukannya.
Perlahan, aku membuka pintu kamarku. Senyap dan gelap. Ini hampir dini hari dan semuanya terlelap. Sembari berjingkat aku berjalan menuju ruang kerja majikanku, berusaha agar tak seorangpun yang terbangun.
Tidak sulit mencari kunci brankas besi itu. Pak Sardi, majikanku itu, selalu menempatkan kunci brankas di laci mejanya. Aku pernah melihatnya memasukkan kunci itu ke laci ketika aku merawat mawar tepat di dekat jendela ruang kerjanya. Tebakanku tidak meleset. Kunci perak itu tampak bersinar di bawah sinar senter yang kubawa.
Entah Pak Sardi yang bodoh atau apa aku tak tahu. Yang jelas brankas besi itu langsung terbuka begitu kuncinya masuk. Pasti ia tidak merubah nomor kombinasinya. Ini sih sama saja dengan mempersilahkan pencuri masuk.
Tanganku bergetar dan keringat dingin mulai mengalir ketika aku menarik gagangnya. Mendadak aku merasa seperti Alibaba yang berhasil membuka pintu gua harta. Dan mataku terbelalak lebar.
Berlembar-lembar uang ratusan ribu tergeletak di sana, menungguku untuk meraihnya satu persatu. Di sampingnya, beberapa perhiasan emas memanggil-manggil namaku. Aku tak sabar untuk merengkuhnya.
Tapi tentu saja Alibaba tidak akan diganggu telepon yang mendadak mendering dan membuat jantungku nyaris copot. Siapa sih yang malam-malam begini telepon? Deringannya semakin menderu-deru dan aku tidak punya pilihan lain kecuali mengangkatnya. Kalau tidak mungkin Maman atau Budi yang akan datang.
"Halo?"
Hanya isakan yang terdengar. Tapi rasanya menghujam jantungku seperti sebuah belati. Aku kenal sekali suara itu.
"Mas Wawan?"
Sari!
"Mas, kita sudah tidak butuh uang itu lagi. Orang-orang itu sudah tidak sabar dan menyita rumah Bapak. Dan Bapak…" Isakan itu semakin menguat. Darahku mengalir lebih cepat.Ya Allah ini tidak mungkin. Sari, tolong jangan katakan kalau... "Bapak sudah tidak ada, Mas."
Gadis itu tak tahan lagi dan menangis sejadi-jadinya. Begitu pilu di telingaku, Begitu tak berdaya.
Air mataku meleleh, tapi itu bukan tangisan. Telepon itu berayun-ayun di udara, menemani diamku, kecewaku, sesalku. Aku tak dapat merasakan apa-apa karena jiwaku terasa lepas. Satu-satunya hal yang aku ingat adalah sesosok bayangan hitam mendekatiku. Aku tahu itu Budi, tapi saat itu ia tampak seperti Izrail. Samar-samar kata-kata Mbok Yem melayang-layang menembus pikiranku. Nggak ada kebahagian dari kebohongan, Wan.
Dan sesungguhnya kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Dan sesungguhnya seorang yang berdusta hingga ia ditetapkan di sisi Allah sebagai pendusta (H.R Bukhari)





