Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

29 April 2005

Dia Di Dalam Mimpi

10:03 AM Posted by Dyah Utami No comments
Tepat dua bulan dua minggu dan dua hari setelah ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun, Shari merasa jatuh cinta untuk pertama kalinya. Sayangnya, cowok yang ia sukai bukanlah cowok paling ganteng di sekolah atau guru pengganti yang digilai teman-temannya atau juga tetangga sebelah rumah melainkan seorang pemuda yang ia lihat hanya beberapa menit dalam mimpinya.

"Kamu nggak bisa jatuh cinta pada sebuah mimpi!" begitu protes Eliz, sahabatnya, begitu mendengar deklarasi cintanya. Ia berjalan cepat menyalip puluhan murid sekolah lainnya yang masih bergerombol di depan pintu kelas masing-masing seusai sekolah.

"Kenapa nggak?" Di belakangnya, Shari mengekor menuntut penjelasan.

"Karena…" Eliz berbalik mendadak dan nyaris menabrak Shari bila dua detik saja gadis itu terlambat mengerem. "Karena dia itu mimpi! Dia itu tidak nyata!"

"Tapi bagaimana kalau ternyata dia itu benar-benar ada di dunia ini?" tantang Shari.

"Bagaimana kalau ternyata dia itu nggak ada?" tanya Eliz balik.

Shari menghela nafas dalam-dalam.

"Ok. Mungkin kamu benar. Mungkin dia nggak ada. Sekali lagi, mungkin. Tapi, dalam hidup ini berapa banyak sih cowok yang kamu suka juga menyukai kamu? Tidak banyak, kan? Dan ketika ada cowok yang begitu baik padamu, cowok yang begitu sempurna di matamu, meskipun ia hanyalah kreasi mimpimu, apakah sedikitpun kamu tidak akan jatuh hati padanya?"

Gadis berkaca mata tebal itu pura-pura berpikir serius sejenak sebelum berkata dengan tegas,

"Tidak! Karena aku bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan! Semua cowok dalam mimpi memang selalu sempurna. Kalau tidak, itu namanya mimpi buruk! Kenapa sih kamu nggak cari yang ada di dunia nyata aja? Kaya di dunia ini udah nggak ada stok yang bagus aja."

"Seperti siapa?"

"Marcel."

Mendengar nama itu disebut, air muka Shari langsung berubah. Ia tidak tahu mana yang harus ia lakukan terlebih dahulu, tertawa atau muntah. "Marcel? Yang benar aja!"

Kali ini giliran Eliz yang sedikit kesal. "Emang apa yang salah dengan Marcel?"

"Iya, kalo tidak ada makhluk jantan di dunia ini lagi."sambung Shari dengan cepat.

Eliz berkacak pinggang. "Aku nggak tahu kenapa kamu sebal banget sama Marcel."

"Aku yang nggak tahu kenapa kamu dan anak-anak lainnya suka bergaul sama Marcel. Dia itu udah jelek, brengsek, jahil, malas, suka mengganggu orang…."
Belum selesai Shari menyelesaikan kalimatnya, sebuah bola hitam putih melayang tepat ke kepala Shari. Gadis itu kehilangan keseimbangannya sebelum akhirnya sepasang tangan yang kokoh berhasil menangkapnya. Tanpa mendongakpun, Shari sudah bisa menebak siapa pelakunya.

"Kena lagi ya, Shari. Maaf ya." Dengan sepasang mata bulatnya yang berbinar-binar, Marcel menatapnya dan menyebarkan senyuman polos yang bisa meyakinkan orang bahwa ia tak mungkin berniat jahat. Namun, Shari bukanlah gadis kebanyakan yang bisa langsung dirontokkan hatinya dengan cara itu. Ia langsung menghempaskan pegangan Marcel.

"Kenapa sih setiap kali aku pulang sekolah, setiap kali aku melintasi lapangan, selalu saja kamu menendang bola ke arah ke kepalaku. Memangnya aku ini gawang, apa?"

"Kalau begitu jangan lewat lapangan! Gampang, kan." ucapnya ringan sebelum memungut bola, menjentikkannya ke kepala Shari, lalu berlari kecil ke lapangan.

"Lihat, kan? Sekarang kamu tahu kan betapa brengseknya dia, Liz. Liz? Eliz?"

Shari mendengus. Percuma, Eliz sudah tersihir akan kehadiran Marcel. Mata Eliz berkelana mengikuti setiap gerakan Marcel. Ia bahkan tidak sadar sahabatnya memilih pergi ke ruang OSIS dan menyelesaikan sisa artikel majalah dinding yang harus ia buat. Itu adalah artikel kemenangan tim sepak bola sekolah mereka. Tapi kenapa foto yang akan dipasang justru aksi Marcel yang mencetak gol? Sungguh menyebalkan, bahkan ruang OSIS pun tidak steril dari pengaruh Marcel.

Shari tak ingat bagaimana awalnya genderang perang antara mereka berdua ditabuh. Yang ia tahu pasti sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di sekolah ini, Marcel selalu memanfaatkan setiap detik waktunya untuk membuat hidup Shari sengsara. Mulai dari menarik rambut panjang Shari, menarik PR yang semalam suntuk ia kerjakan atau yang lebih terang-terangan, menarik kertas ujian Shari untuk dicontek. Yang paling menjengkelkan adalah kalaupun akhirnya ia tertangkap basah, dengan cepat ia merubah wajahnya menjadi begitu polos, begitu kelihatan tak berdosa, sehingga guru yang paling sadis pun yang tega untuk menghukumnya!

Kadangkala Shari heran, kok ada orang yang begitu menyebalkan tapi bisa berlagak suci seperti Marcel. Ia begitu berbanding terbalik dengan pangerannya. Shari menghela nafas panjang. Senyumnya merekah lebar saat pikirannya mulai melayang jauh ke dunia sang Pangeran.

Bersama angin siang hari yang sepoi-sepoi, pangeran melaju dengan kuda putih. Wajahnya yang begitu tampan semakin sempurna dengan senyumannya yang menawan. Ia melompat turun dari kuda dan mendekati Shari dengan setangkai mawar merah yang jauh lebih indah dari padang bunga di sekelilingnya.

Mawar merah itu mengelus pipi Shari dengan hangat. Saat menutup matanya, Shari bisa merasakan keharuman bunga memenuhi indera penciumannya dan mendengarkan rangkaian kata-kata romantis yang mengalir dari bibirnya. Bunga itu menggelitik pipi dan telinga Shari. Gadis itu tersenyum karena geli, namun senyum segera lenyap saat matanya terbuka dan menemukan seekor monster sedang menggambar mukanya dengan kapur biru!

Shari memekik, membuat pemuda itu mundur beribu langkah sembari menutup kedua telinganya.

"Nggak usah teriak gitu, dong. Kaya’ mau diperkosa aja!"

"Ngapain kamu di sini!"

"Ngembaliin bola." jawab Marcel tanpa perasaan berdosa. "Kamu yang ngapain di sini? Tidur sambil cengar-cengir kaya orang ngimpi mesum."

"Bukan urusanmu!" Muka biru Shari langsung berubah menjadi merah meskipun ia sibuk menghapusnya dengan tissue. "Lagipula apa nggak ada cara lain yang lebih normal untuk membangunkan orang tidur?"

"Tadinya sih aku berpikir untuk melempar bola ke arahmu."

Shari tak ingin menunda waktu lebih lama lagi untuk keluar dari tempat itu. Satu menit lebih lama lagi, ia bisa gila karena kelakuan Marcel. Namun justru Marcel yang sepertinya tidak mau lepas dari dirinya karena begitu ia menghentikan metro mini, Marcel dan teman-temannya ikutan naik.

Ya Tuhan, ada ratusan metro mini di Jakarta ini, kenapa juga Engkau takdirkan hamba-Mu ini berada dalam satu kendaraan dengan makhluk paling menyebalkan di dunia? Atau jangan-jangan....

Seperti bisa membaca pikiran Shari, Marcel membuka mulut terlebih dahulu sebelum sempat Shari mengeluarkan komentar.

"Jangan ge-er, ya. Aku nggak ngikutin kamu. Aku sama anak-anak mau main ke tempat Riki. Bukan salahku kalau rumah Riki satu jalan denganmu! Siapa juga yang sudi ngebuntitin kamu. Emangnya kamu itu siapa?"

Shari menggeram. Ia tak tahan lagi. Lebih baik ia turun dan mencari angkutan lain. Namun baru selangkah ia melewati Marcel, Marcel justru menahan tangannya.

"Jangan turun!"perintahnya tegas. "Ada tawuran!"

"Apa-apaan, sih! Lepaskan tanganku!"

Begitu lepas dari Marcel, Shari berbalik menghadap kaca metromini dan sebelum Marcel sempat melakukan apapun, sesuatu yang keras menembus kaca dan langsung menghantam kepala Shari. Yang Shari tahu itu bukanlah sebuah bola karena sedetik kemudian aliran merah kental mengalir dan hal terakhir yang Shari ingat adalah wajah panik Marcel.

Saat mata Shari terbuka, yang ia temukan hanyalah senyum jahil Eliz. Shari baru menyadari bahwa ia berada di rumah sakit.

"Marcel nggak ada di sini." Sahabatnya yang memasang tampang nakal.

"Aku nggak nyariin dia! Enak aja." Shari memegangi kepalanya yang masih sakit.
Baru seminggu kemudian Shari diizinkan keluar dari rumah sakit. Dalam masa peristirahatannya itu, entah mengapa ia berharap Marcel menjenguknya. Mungkin karena ia berharap ia bisa berterima kasih pada Marcel. Karena sesungguhnya ia tak tahu bagaimana cara berterima kasih pada orang yang sudah lama ia benci.

Maka, pagi itu, saat ia mendapat kesempatan untuk berdua saja di dalam kelas dengan Marcel, suasana menjadi aneh dan kaku. Marcel duduk dengan kaki di atas meja dan wajah tertutup tabloid olah raga.

Di bawah sinar matahari pagi yang menyelinap melalui jendela dan jatuh ke atas wajah Marcel, untuk pertama kalinya, Shari bisa menilai Marcel dengan baik tanpa prasangka buruk. Eliz benar, ada sesuatu yang menarik dengan wajahnya yang tidak terlalu manis tapi juga tidak terlalu maskulin. Saat membaca, kejahilan dan segala kenakalannya lenyap, tertutupi dengan wajah yang begitu terlihat dewasa, serupa dengan wajah yang berusaha melindunginya di metromini tempo dulu.

"Ada yang mau kamu omongin atau emang kamu ingin ngeliatin aku sepanjang hari?" Marcel menurunkan tabloidnya, menatap Shari dengan tanda tanya di wajahnya.

Shari menggigit bibir atasnya, rasanya sedikit berat untuk mengatakan, "Aku cuma ingin berterima kasih atas pertolonganmu."

"Oh, begitu."ujarnya seraya kembali ke tabloidnya.

Tak tahan berlama-lama dalam situasi aneh seperti ini, Shari memutuskan untuk berbalik dan pergi. Namun baru lima langkah ia berjalan....

"Shari." Namanya terucap dengan sangat lembut.

Shari menoleh dan mendapatkan Marcel sedikit sedikit kaku dan kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata. Sama sekali tidak terlihat seperti seorang Marcel.

"Maaf. Hubungan kita selama ini nggak baik dan agak susah bagiku untuk melihat kamu tiba-tiba datang dan berterima kasih." Marcel berusaha menyembunyikan ketidaknyamanannya dengan membuang muka, namun tidak berhasil. Akhirnya "Ka-kamu datang ke final pertandingan bola besok?"

Shari sama sekali tak menduga Marcel akan bertanya seperti itu. Insting pertamanya menolak, namun mendadak ia mendengar ketukan di jendela dan di sana bibir Eliz nyaris menempel membentuk kata ya ya ya. Sejak kapan makhluk yang satu itu bertengger di sana?

"Entahlah."Akhirnya Shari mengeluarkan jawaban yang tidak pasti. “Emangnya kenapa?”

Wajah Marcel terlihat bersemu merah ketika ia berkata, "Berarti banget kalau kamu mau datang."

Dengan kata terakhirnya, Marcel bangkit dan pergi keluar kelas, meninggalkan Shari yang sibuk mencerna arti kalimat terakhirnya dan melewati Eliz yang masuk ke dalam kelas sembari tertawa kegirangan.

"Berarti banget kalau kamu mau datang?" ulang Eliz. Ia tertawa seperti anak kecil berhasil menemukan permen. "Wah, dia pasti suka sama kamu."

"Apa? Nggak mungkin! Nggak mungkin! Kamu pasti bercanda."

"Ayolah, Shari." Eliz menonjok pundak Shari dengan main-main. "Kamu ini nggak buta, bego atau dua-duanya, kan? Dia itu begitu supaya kamu mau perhatian sama dia. Lagipula kalau dia benar-benar nggak suka sama kamu, mana mungkin dia sampai benar-benar panik waktu meminta aku datang ke rumah sakit. Sekarang ia malah memintamu datang ke pertandingan. Berapa banyak gadis yang secara pribadi diundang untuk datang?"

"Tapi aku nggak suka sama dia. Aku..."

"Kamu suka pada orang yang nggak lebih bunga tidurmu." potong Eliz. "Sampai kapan kamu akan menunggu, eh? Jangan-jangan saat kamu sadar dia cuma mimpi, semuanya sudah terlambat. Rambutmu sudah putih dan udah nggak ada lagi cowok yang mau sama kamu. Kamu sendiri dulu bilang, berapa banyak sih cowok yang kita suka, suka sama kita. Nah, sekarang ada Marcel yang aku yakin suka sama kamu. Sekarang tinggal kamu. Kamu memang mungkin belum suka sama Marcel, tapi apapun bisa terjadi kalau kamu mau membuka hatimu buat dia. Jadi kenapa kamu nggak ngambil kesempatan ini?"

Shari paling benci kalau Eliz benar. Sialnya, kata-kata Eliz terus berada dalam pikirannya hingga separuh malam menjelang. Memang kalau dibandingkan dengan sang pangeran, Marcel itu nggak ada apa-apanya. Kalau ia datang, itu sama artinya dengan memberi harapan baru buat Marcel. Dan entah kenapa rasanya ia seperti mengkhianati pangeran. Lalu bagaimana kalau ia sudah bersama dengan Marcel mendadak sang pangeran benar-benar ada?

Begitu ia jatuh tertidur ia justru tak tahu mana yang lebih buruk, dunia nyata atau dunia mimpi. Mimpinya dipenuhi oleh puluhan monster yang mengejarnya. Dengan terengah-engah gadis itu berlari hingga mencapai sebuah kastil tua tak terawat. Secepat kilat ia membanting pintunya dan berusaha menahannya agar binatang-binatang mengerikan itu tak bisa mendapatkannya. Namun yang ia temui di kastil jauh lebih mengerikan. Bukan saja ada monster berkepala tiga, namun juga hantu tanpa kepala, mumi dan vampir.

Ketakutan semakin memenuhi raga Shari. Ia berlari, keluar dari kastil dan tanpa sadar jatuh ke sungai hitam yang seakan tak berdasar. Sedetik sebelum ia kehabisan nafas dan merasa ini adalah akhir dari hidupnya, Shari dapat merasakan tangannya ditarik keluar.

Pangeran!

Shari terbangun dengan wajah terkejut. Tidak mungkin! Kenapa yang menolongnya justru Marcel?

Sepanjang perjalanannya ke stadium tempat pertandingan Marcel, Shari banyak berpikir. Mungkin Eliz benar, pangeran cuma kreasi mimpinya. Marcel itu nyata. Lagipula kalau dipikir-pikir, Marcel juga tidak terlalu buruk. Ia mungkin jahil, ia mungkin nakal, tapi ada banyak hal di dunia ini yang jauh lebih buruk dari kenakalannya.

Dari kejauhan, ia bisa mendengar riuh rendah suara teman-temannya sibuk meneriakkan nama Marcel. Suara-suara itu seakan memanggilnya untuk mendekati Marcel.

Baru saja Shari hendak melangkah ke arah lapangan, mendadak saja seorang menabraknya hingga Shari terjatuh.

"Kamu nggak pa-pa?"

Jantung Shari nyaris berhenti berdebar ketika menatap wajah pemuda yang menabrak sekaligus membantunya untuk bangkit. Apakah ini yang namanya takdir? Ataukah ini bagian dari lelucon alam yang ditujukan padanya? Sekarang, tepat di hadapannya, berdiri seorang pemuda yang selama ini ia pikir tak lebih dari sebuah mimpi. Wajahnya, suaranya, gayanya berbicara, semuanya sama. Bahkan kehangatan tangannya pun sesuai dengan apa yang ia rasakan dalam tidurnya.

Saat ia berpikir semuanya adalah mimpi, semuanya berubah menjadi kenyataan. Tapi bagaimana kalau mimpi itu hanyalah mimpi? Bagaimana kalau sang pangeran bukanlah seperti dalam mimpinya dan Marcel justru merupakan pangeran yang selama ini ia cari dan ia tunggu?

Mendadak, Shari tak tahu apa yang harus ia lakukan. Shari seperti merasa terjebak dalam labirin dan tak tahu jalan keluarnya. Berkali-kali ia menatap pangeran di hadapannya dan Marcel yang ada jauh di belakang sang pangeran bergantian seraya berharap ada jawaban dari semua ini. Haruskah ia mengejar mimpi atau mengejar kenyataan?

(To my sis: May he's not merely a dream)