Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

09 July 2014

Stuck? Mungkin Ide Novel Kamu Harus Dibalik.

8:00 AM Posted by Dyah Utami 3 comments
Kadang kita harus membalikkan badan eh ide untuk tahu jawabannya
Cara membalikkan ide ini, atau lebih tepatnya membalikkan alur pemikiran kita adalah salah satu cara yang saya dapatkan ketika saya menulis novel saya, Detektif Imai. Menulis cerita detektif itu (katanya) sedikit berbeda. Pada umumnya saat menulis cerita,  kita berpikir dari A ke B lantas ke C. Tetapi saya kemudian dinasehati bahwa saat menulis cerita detektif, kita harus berpikir dari C, ke B baru kemudian A. Jadi, kita berpikir mundur.

Contohnya: Kita tidak berpikir detektif X menemukan mayat dan kemudian melihat petunjuk yang ada dan kemudian menentukan pelakunya. Tetapi sebagai penulis, kita berpikir kebalikannya. kita mulai berpikir dari apa yang sebenarnya terjadi, kemudian mundur ke awal cerita sementara kita  menyembunyikan dan menyebarkan satu persatu petunjuknya.

Saya pikir, ini adalah teknik ‘khusus’ untuk menulis cerita detektif saja. Akan tetapi saya kemudian menyadari bahwa pemikir besar seperti Einstein juga memakai cara ini dalam bekerja.

Bagaimana Cara Bekerja Mundur

Dalam berpikir ‘standar’, Anda bergerak maju satu persatu. Anda berpikir dari AàBàCàDà E. Dengan berpikir mundur, cara pikiran Anda menjadi tidak beraturan. Anda akan memikirkan dahulu kesimpulannya (akhir cerita). Anda sudah tahu terlebih dahulu bagaimana cerita Anda berakhir. Mungkin tokoh utamanya bahagia, mungkin meninggal, mungkin mendapatkan hikmah dari perjuangannya. Apapun itu, Anda sudah menentukan terlebih dahulu endingnya. Mari kita sebut Ending ini sebagai titik E.

Nah setelah itu, Anda tinggal mengisi titik-titik agar bisa sampai ke A (awal cerita). Bisa jadi, Anda akan terlebih dahulu menemukan titik awalnya. Bisa jadi, Anda akan menemukan titik tengahnya. Kurang lebih, pemikiran Anda kurang lebih terwujud dalam bentuk EàCàBàDàA.

Dengan cara ini, Anda akan menemukan beragam cara untuk memulai sebuah cerita dan mengembangkan alur cerita. Anda tidak lagi terfokus pada bagaimana tokoh Anda bertemu (karena Anda bisa mengembangkan puluhan versi pertemuan tokoh Anda), misalnya. Tetapi Anda fokus pada hasil akhir cerita Anda, apa yang ingin Anda sampaikan ke pembaca Anda.

Petunjuk Berpikir Mundur


  1. Tutup mata Anda, rileks, dan bayangkan ending (akhir cerita) ideal yang Anda inginkan untuk cerita Anda. Apakah Anda ingin tokoh utama Anda bahagia selama-lamanya? Ingin tokoh Anda menyesal seumur hidup?
  2. Tuliskan ending tersebut di kertas. Tuliskan apa manfaat Anda menuliskan ending seperti itu. Tuliskan pula bagaimana perasaan Anda. Anda bisa juga membayangkan pembaca atau editor Anda.
  3. Bagaimana caranya tokoh-tokoh Anda mencapai ending tersebut? PIkirkan caranya. Terkadang Anda mungkin hanya menemukan sedikit bagian awal, sedikit bagian tengah. Tidak apa-apa.
  4. Biarkan semua alternatif pemikiran Anda muncul. Anda akan menemukan tokoh baru, setting baru, mencoret tokoh yang sudah ada, membuang konsep yang Anda pegang. Jangan disensor.
  5. Mulailah mengurutkan adegan mana yang muncul terlebih dahulu. Pemikiran ini akan memaksa Anda untuk memikirkan ulang kaitan antar adegan, hubungan antar tokoh, dan sebagainya. Namun pada saat yang sama, Anda juga tetap terfokus pada tujuan utama Anda.

Nah itu sedikit pengetahuan yang bisa saya bagi bersama Anda.

Mari kita berbagi pengalaman dan berdiskusi, Lovelies. ^____^

Sumber: Michalko, Michael. Cracking Creativity: The Secrets of Creative Genius (2001)
Reactions:

3 comments:

  1. Gila! keren pemikirannya, ya? tapi yang kadang suka bikin aku bingung. aku udah bikin cerita. dan ceritanyanya itu nggak konsisten. jadi kemana-mana. dan setelah aku satuin sama ending yang udah aku pikirin. malah nggak nyambung sama sekali. kira-kira. gimana, ya, solusinya? makasih.

    ReplyDelete
  2. that's good! aku lagi proses menulis kira-kira sudah sampai tengah dan hampir klimaksnya, aku udah mikirin ending nya tapi masih bingung kalau ngeliat balik adegan-adegan yang udah keluar sebelumnya karena hampir semua adegan menarik udah aku keluarin di tengah, jadi mungkin aku kehabisan ide menarik pada saat hampir mencapai klimaksnya.

    ReplyDelete
  3. cocok nih, buat proyek novelku yang mangkrak. thanks ya :)

    ReplyDelete