Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

07 February 2017

Writing Therapy: Curhat Juga Bisa Jadi Tulisan Keren

8:06 PM Posted by Dyah Utami 4 comments
Ketika pertama kali saya mendapatkan undangan pre-launch Writing Therapy dari sahabat saya, Risma el Jundi, sejumlah pertanyaan langsung bermunculan di kepala saya. Maklum, saya orangnya suka menebak-nebak. Kalau nonton film, saya langsung memikirkan ntar pasti begini deh, ntar begitu deh. Tetapi, tenang aja. Nebak togel nggak termasuk di dalamnya, lho. Apalagi nebak apakah di hatimu ada aku #garingya

Bakal seperti apa sih writing therapy? Isinya seperti apa? Apa bakal ada sesi curhat massal, misalnya? Atau kita bakal nulis sesuatu dan dibacakan di depan kelas gitu? Kan nggak lucu kalau misalnya semuanya curhat tentang harga cabe sementara saya malah curhat kegagalan mendapatkan lipstick yang sampai sekarang masih aja sold-out. #sebenarnyainicurhatsusupan

Anyway, sabtu kemarin, saya menghadiri acara Writing Therapy dari Delima Project. Delima ini adalah singkatan tiga founder kerennya: Deka Amalia, Nuzulia Rahma Tristinarum dan Risma el Jundi. Ketiganya memiliki background berbeda yang saling menunjang lho. Deka Amalia adalah dosen sastra, trainer dan founder Women Script Community. Nuzulia Rahma Tristinarum adalah praktisi psikologi, trainer dan therapist. Sedangkan Risma el Jundi adalah novelis, penulis buku motivasi dan memoir, founder care GBS. Dengan menggabungkan kekuatan ketiganya, maka tadaaa…. jadilah pokemon Delima Project.

Prelaunch Writing Therapy ini berjalan selama satu hari. Tetapi sebenarnya Writing Therapy bisa fleksibel sesuai dengan kebutuhan peserta. Jadi, ada pilihan program:
One day One Workshop
2 Days Workshop
3 Days Workshop
3 Month Workshop
Keseruan mengikuti Writing Therapy. Ternyata diam-diam nggak tahu malu :D

Writing Therapy, Apaan tuh?

Sesi pertama langsung dimulai dengan gebrakan dari Nuzulia Rahma Tristinarum (Lia). Beliau memulai dengan penjelasan tentang writing therapy. Jadi writing therapy ini bukan istilah yang turun dari langit atau mengada-ada biar workshopnya kelihatan beda, begitu. Tetapi writing therapy emang beneran ada dalam terapi psikologis. Namun writing therapy ini bukan sekedar nulis-nulis aja atau curhat-curhat aja. Writing therapy itu ada tata cara dan strukturnya.

Writing therapy itu ada banyak jenisnya, seperti:

  • Focused journal therapy. Jadi terapinya langsung berfokus pada peristiwa yang dialami penulis.
  • Visual journal. Terapi ini dimulai dari sebuah foto atau gambar, dan kemudian baru menulis.
  • Dialogue Journal.  Dalam terapi ini, kita menulis percakapan antara diri kita dengan sseseorang atau sesuatu yang menjadi permasalahan kita. Bisa orang yang masih hidup, meninggal, aktivitas, bagian dari kepribadian kita, tubuh kita sendiri, masa lalu kita, dan lain-lain.  Sesuatu ini mengganjal hidup kita dan harus dibereskan. Atau kadang kala kita mengabaikan ganjalan tersebut tetapi diam-diam hidup kita terganggu karenanya. Percakapan ini sifatnya subyektif, memang. Apa yang kita pahami belum tentu merupakan kebenaran. Tetapi ini merupakan langkah awal untuk memahami dan menerima diri kita sendiri. 
  • Unsent Letter. Di terapi ini kita mengungkapkan perasaan kita dalam sebuah surat, namun kita tidak perlu mengirimkannya. Berbicara tentang ini, kayaknya saya pernah membuat unsent letter beberapa bulan yang lalu. Kalau nggak salah, saya mendapatkan tutorialnya di youtube. Kepada siapa unsent letter saya? Mau tahu atau mau tahu aja? Hehehe

Dialogue Journal dan Acara Tangis-tangisan

Jadi, karena acaranya hanya sehari, tidak mungkin Writing Therapy ini meng-cover semua teknik writing therapy yang ada. Maka, yang digunakan sebagai latihan adalah dialoque journal. Seperti sudah dijelaskan di atas, dialogue journal ini intinya, kita menulis percakapan dua sisi, antara kita dan pihak lain yang kita ajak ngobrol. Bisa orang lain, tubuh kita sendiri, masalah kita, masa lalu kita, mantan….. #eh
Mulai sibuk menulis atau update status?

Di sesi ini, kita diminta menulis percakapan tersebut dalam jangka waktu tertentu. Ya nggak mungkin nggak dibatasi lah, ya. Ntar jadinya malah pada nulis novel. Anyway, sesi ini sedikit mengingatkan saya pada latihan kecil yang pernah saya kerjakan dari bukunya Martha Beck, Finding Your Own North Star.

Di salah satu latihannya, Beck mengajak pembaca untuk berbicara pada tubuh kita sendiri dan bertanya apa yang salah. Ia percaya bahwa tubuh dapat memberi tahu kita apakah kita sudah ada di jalan yang tepat ataukah ada yang harus diperbaiki dari hidup kita. Memang tidak ada bagian menulisnya, tetapi model percakapannya, mengingatkan saya saat saya harus membuat dialoque journal. Begitu maksudnya, kakak. :)

Setelah selesai, tulisan tersebut kita simpan untuk diri sendiri untuk bahan evaluasi. Bisa juga dibicarakan dengan Lia seusai workshop, namun syarat dan ketentuan berlaku, ya. Hehehe….
Apakah dengan menulis dialogue journal, kita berarti harus memaafkan? Tidak juga. Menurut Lia, ending dari latihan ini tidak harus berakhir dengan happy ending. Bisa saja kita merasa tidak sanggup memaafkan. Tidak mengapa juga karena semuanya membutuhkan proses. Bisa juga di akhir tulisan kita, kita menerima kenyataan hidup dan move-on. Karena kadang kehidupan memang menyesakkan seperti itu.

Supaya writing therapy ini makin mantap dan bergizi, Deka Amalia dan Risma el Jundi secara bergantian memberikan materi tentang kepenulisan. Deka, misalnya, memberikan beberapa tips kepenulisan yang menarik. Deka percaya bahwa sebenarnya menulis itu yang penting adalah kemauan untuk berproses dan mengatur waktu dengan baik.

Sementara Risma el Jundi membagi pengalamannya dalam mendorong penulis menggunakan writing therapy dalam membuat memoar. Ternyata curhat nggak sekadar curhat lho. Kalau dituliskan dengan baik, curhat bisa menjadi sejumlah karya yang bernilai tinggi dan menginspirasi orang lain.
Ketiganya berharap bahwa setelah mengikuti writing therapy, peserta akan dapat: menghargai perjalanan jiwanya, mensyukuri perjalanan hidupnya, menerima peraaan yang hadir dan menyayangi diri sendiri.
Sesi penutup oleh Risma el Jundi

Tertarik ikutan Writing Therapy? Kamu bisa menghubungi Deka Amalia via facebook: https://www.facebook.com/dekaamalia.ridwan atau WA: 0857-7167-3538 untuk jadwal lengkapnya.


01 February 2016

Dyah Rinni Fan Fiction Contest

1:03 AM Posted by Dyah Utami No comments
Aku mungkin bukan penulis fan fiction, tetapi ada kalanya aku menikmati fan fiction bikinan orang lain. Buatku fan fiction itu bentuk kepedulian pembaca atau penonton pada sebuah cerita. Fan fiction juga bisa jadi pelampiasan saat kenyataan (baca: film/novel) nggak sesuai harapan penonton. Atau juga bisa juga pelampiasan khayalan liar pembaca, he he he.
Jadi, aku memutuskan untuk membuat event menulis fan fiction. Buat seru-seruan pembaca dan juga buat penyemangat aku. Karena, dari mana penulis mendapatkan suntikan semangat menulis kalau bukan dari pembacanya sendiri.
So, feel free to write. Aku mencoba nggak ngasih banyak pembatasan. Aku lebih mengharapkan kalian, pembaca, bersenang-senang. Kembali membaca novel yang sudah kalian miliki dan melampiaskan hal-hal yang... perlu dilampiaskan. Ada hadiahnya lagi.
Buat kalian yang nggak bisa ngebaca tulisan di foto, ini aku copaskan buat kalian:

Kamu suka dengan karya Dyah Rinni seperti Detektif Imai, Marginalia, Unfriend You dan Beautiful Liar? Kalau kamu ingin bikin cerita dengan versi kamu sendiri, sekaranglah saatnya. Kembangkan cerita sesuai keinginanmu. Tempatkan karakter di situasi yang kamu inginkan. Buatlah ending yang baru.
Lepaskan imajinasimu dan mulai menulis!

Syaratnya? Gampang, kok!
1. Buatlah fan fiction dari salah satu novel Dyah Rinni, yaitu: serial Detektif Imai, Marginalia, Unfriend You, dan Beautiful Liar
2. Genre bebas
3. Kamu boleh menciptakan karakter baru, tetapi tetap harus memasukkan karakter dari buku yang kamu pilih sebagai salah satu tokoh utama
4. Panjang karya paling sedikit 3 halaman 2 spasi ukuran A4
5. Kamu boleh menggabungkan dua novel atau lebih (cross-over)
6. Karya haruslah asli buatan kamu sendiri
7. Karya ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar
8. Karya harus dipajang setidaknya di satu media online pilihan kamu seperti blogspot, wordpress, facebook, wattpad, dan lain-lain
9. Kirimkan karya kamu ke email: deetopia@gmail.com dengan menyertakan:
• File naskah kamu dan sinopsisnya dalam format .doc
• Biodata berisi data nama, alamat, no telp, sekolah/kerja, akun sosial yang dimiliki
10. Karya ditunggu hingga tanggal 20 Maret 2016
Hadiah
Pemenang 1, voucher buku Rp200.000
Pemenang 2, voucher buku Rp150.000
Pemenang 3, voucher buku Rp100.000
Karya pemenang akan dipasang di blog dan page Dyah Rinni serta media sosial lainnya
Pemenang akan diumumkan pada tanggal 1 April 2016
Keputusan pemenang tidak dapat diganggu gugat.

Share ke teman-teman kamu biar makin seru, ya!


11 September 2014

BEAUTIFUL LIAR - BAB PERTAMA

12:52 AM Posted by Dyah Utami 5 comments
 Cuplikan novel "BEAUTIFUL LIAR", salah satu pemenang Lomba Menulis Novel Gagas Media dengan tema Seven Deadly Sins.

# 1

A Little Trick

Papa di mana? Apa Papa tahu setiap meter jarak yang memisahkan Lulu dari Papa bikin Lulu semakin menderita?


Gue nggak mau tahu, pokoknya sekarang kita putus!”

Ada banyak suara yang memenuhi area kedatangan Bandar Udara Soekarno Hatta; gemuruh pesawat yang sesekali melintas, suara tangis dan tawa penumpang, ataupun geretak puluhan koper yang diseret di atas lantai. Namun, hanya suara mendengking gadis itu yang mampu membuat Lunetta mengangkat kepalanya. Seorang gadis muda berambut cokelat berjalan mondar­-mandir dengan ponsel di telinganya, sementara tangan kanannya menggenggam gelas ice cappuccino yang
hampir habis.

Sebenarnya gadis itu lumayan cantik. Usianya tidak jauh dari Lunetta, mungkin sekitar tujuh belas atau paling jauh baru awal masuk kuliah. Rambutnya di­blow, makeup­nya sedikit berlebihan tetapi masih bisa dimaafkan, dan selera bajunya lumayan bagus, meskipun masih tergolong penampilan sejuta umat.

Ia mengenakan hot pants warna tosca dari Mango, berpadu dengan atasan putih berenda dari Forever 21 sementara tas cokelat selempang mungilnya keluaran terbaru dari Zara, cocok dengan wedges dari Charles and Keith. Namun, semua itu dirusak dengan nada bising yang keluar dari bibir warna apricot­nya.

“Kan gue udah bilang gue bakal nyampe pukul dua. Ya gue nggak peduli lo kudu bolos kuliah. Kalau gue bilang datang sekarang ya datang sekarang. Enggak!” Ia menyalak. “Gue nggak bilang gue datang pukul empat. Gue bilang datang pukul dua. Lo mau ngebantah gue?”

Ia melempar wadah minuman plastiknya ke arah tempat sampah. Gagal. Gelas plastik itu memantul di pinggir tempat sampah dan menggelinding. Airnya yang masih tersisa menetes keluar dari penutupnya, membasahi lantai bandara yang merah kecokelatan. Tanpa peduli pada nasib si gelas plastik, ia meneruskan pembicaraannya.

Lunetta melirik tajam gadis itu. Ia benci melihat orang yang buang sampah sembarangan.

“Nggak usah. Lo nggak usah kemari. Gue nggak mau ketemu sama lo. Kita selesai sampai di sini aja.” Gadis itu menutup ponselnya, tersenyum puas. “Mampus, lo. Gue mau lihat lo nyembah­nyembah minta balik ke gue.” Gadis itu kemudian menekan nomor telepon lain.

Lunetta mengangkat alis, terkejut mendengar nada suaranya yang tadinya begitu marah berubah menjadi manja, seakan­akan ia adalah nenek sihir yang mendadak berubah menjadi ABG berusia 16 tahun.

“Radin sayang, lo dah nyampe di mana sekarang? Oh,udah ada di tol bandara? Cepetan datang, ya, Sayang. Iya, gue nggak sabar banget pengin ketemu sama lo.”

Tanpa sadar gadis itu menyibakkan rambut di atas telinganya, memperlihatkan arloji yang melingkari pergelangan tangan kanannya. Jam tangan yang cantik, pikir Lunetta. Warnanya putih mengilap, dihiasi beberapa butir berlian mengelilingi permukaan jamnya sementara di bagian dalam, terlihat hiasan bunga merah yang semakin menegaskan kemewahannya. Trendi sekaligus mahal.

Lunetta mengerutkan dahinya, mencoba berpikir di mana ia pernah melihat jam tangan seperti itu. Di situs fashionista? Di majalah fashion terbaru?

Gadis norak itu terkikik kecil saat menutup koneksi ponselnya, seperti anak kecil yang baru saja sukses mencuri kue kering dari lemari dapur ibunya. Baru kemudian ia sadar seseorang tengah memperhatikannya.

“Kenapa lo?” Ia menatap Lunetta dengan dagu terangkat. Seulas senyum sombong terukir di bibir nya. “Ngiri, kan, lo karena nggak bisa punya dua gebet an sekali gus kayak gue?”

Lunetta menggeleng. Ia menunjuk ke arah jam tangan yang dikenakan sang gadis.

“Jam tangan itu…,” Lunetta menggigit bibir bawahnya. “Itu keluaran terbaru dari Shiondra Simone, kan? Seri Venus, kan?"

“Iya. Ini baru saja launching di New York seminggu lalu. Hadiah dari cowok gue.” Gadis itu tersenyum bangga.“Atau lebih tepatnya, mantan gue.”

“Sudah berapa lama kamu pakai jam tangan itu?”

Gadis itu menatap Lunetta, ia baru menyadari ada ekspresi kekhawatiran di wajah Lunetta. “Memangnya ke­napa?”

“Kamu nggak tahu? Aduh, gimana sih kamu. Padahal di Twitter ramai banget.”

“Ramai gimana?”

“Shiondra Simone itu lagi dituntut di Amrik. Di sana, sudah ada tiga cewek yang tewas setelah dua hari memakai seri Venus itu. Di Inggris sudah satu. Tadi pagi, malah ka­tanya sudah ada cewek Singapore yang koma.”

“Maksud lo apa?” Suara gadis itu meninggi, wajahnya memucat karena panik.

“Seri Venus itu dibuat dari bahan khusus yang belum tuntas diteliti. Ternyata bahan itu kalau kena keringat, la­ma-­lama akan membentuk racun yang akan terserap kulit. Racun itu menyerang otak dan berakibat koma, bahkan ke­matian.”

“Enggak... enggak mungkin!” Ia menggelengkan kepalanya berkali­-kali.

“Aku nggak bohong.” Lunetta menggeser posisi du­duknya, menjauhi gadis itu, seakan takut gadis itu telah beru­bah menjadi sumber penyakit menular. “Apa selama dua hari ini kamu nggak merasakan sesuatu? Gatal saat memakainya atau tenggorokan kamu sakit? Kepala kamu pusing, nggak? Reaksinya mungkin muncul dalam dua hari….”

Gadis itu terperangah. “Se­sebenarnya kemarin gue ngerasa kepala gue mendadak pusing. Udah gitu tadi pagi pas di pesawat, tenggorokan gue rada sakit….”

Lunetta membelalakkan matanya. “Itu!” Ia menekan­kan nadanya. “Itu salah satu tanda­-tandanya.”
“Nggak mungkin.” Gadis itu semakin ketakutan, ia se­perti menyadari bahwa tiba­-tiba saja ia memakai bom yang dapat meledak setiap saat. “Aduh, tolongin gue dong. Gue harus gimana sekarang?”

“Kalau kamu nggak cepat­cepat melepas jam tangan itu….”

Ketakutan gadis itu sampai ke puncaknya. Gadis itu menjerit seraya berusaha melepaskan jam tangannya. Dalam kepanikannya, ia melemparkan jam tangan itu ke tempat sampah, tepat langsung ke sasaran. Lunetta cepat-­cepat mengeluarkan tisu basah dari kantong tas selempangnya.

Berkali­-kali ia mengusap tangan kanan gadis itu, membantu membersihkan tangannya.

Lunetta menatap gadis itu dengan mata khawatir. “Nah sekarang, mendingan kamu cepat bersihin tangan di toilet.Cuci sepuluh kali pakai sabun. Ntar kalau masih terasa gatal atau nggak enak, kamu cepat­-cepat ke UGD.”

Gadis itu mengangguk ketakutan, dan bahkan berte­rima kasih kepada Lunetta. Cepat­-cepat ia berlari menembus kerumunan penumpang menuju toilet yang terletak jauh di salah satu sudut bandara. Lunetta menatap gadis itu dengan cemas. Begitu gadis itu tak terlihat dari pandangannya,
ekspresi Lunetta berubah. Gadis itu mengangkat dagunya, mengukir senyum kemenangan.

“Dasar cewek bego,” desis Lunetta. “Baru bisa mainin cowok aja sudah bangga.”

Dengan langkah ringan, Lunetta berjalan menuju tem­pat sampah, memasukkan tangannya untuk meraih jam tangan yang tergeletak di sana. Permukaan jam tangan itu sedikit basah, barangkali terkena sisa tum pahan minuman di dalam di sana. Tetapi tidak masalah. Lunetta mengenakan
jam tangan cantik itu dan ter senyum puas.

“Lumayan,” katanya.

Lunetta berani menjamin korbannya akan mengamuk saat menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Namun, pada saat itu, Lunetta sudah jauh pergi. Lagi pula, cewek seperti itu pasti tidak akan kesulitan mendapatkan lelaki yang mau membelikannya jam tangan baru. Selalu ada lelaki bodoh yang mau saja dikerjai perempuan seperti itu.

“Lulu….”

Lunetta terkesiap, tidak menduga ada seseorang yang memanggil namanya. Untuk sesaat, ia mengira gadis bodoh itu kembali dan tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Tetapi, itu tidak mungkin terjadi, kan?

Saat Lunetta menoleh, ia mendapatkan mamanya ber­diri di belakangnya. Lunetta menarik napas lega. Mama begitu mirip dengan dirinya, bahkan bisa di katakan, versi lain dirinya. Hanya saja, Mama memiliki beberapa kerutan di wajahnya. Dia juga memotong rambut hitam legamnya hingga sepundak, dan yang paling menyebalkan, memiliki perut yang menggelembung karena hamil.

Melihat mamanya hamil, Lunetta hanya bisa berdecak kesal. Sudah lebih dari tiga tahun ia tidak bertemu dengan mamanya. Sejak mama dan papanya resmi bercerai, Lunetta tinggal bersama Papa. Lunetta selalu menipu dirinya bahwa mamanya tidak mungkin mengkhianati papanya. Mungkin Mama sedang khilaf. Mungkin Mama kelak akan menyesal telah menceraikan Papa. Mungkin suatu saat mereka bertiga akan bersatu kembali dan keluarga kecil mereka akan baha­gia lagi.

Namun, dua tahun yang lalu, Lunetta harus menya­dari bahwa impiannya tidak mungkin terwujud. Mama­nya menikah lagi dengan seorang dosen universitas swasta yang kabarnya sudah menjabat sebagai dekan fakultas nya.

Dan sekarang, Mama berdiri di hadapannya dalam kondisi hamil tua. Ia semakin membenci mamanya. Seandainya saja Papa tidak memaksanya, Lunetta tidak akan sudi berada di
Jakarta. Ia seribu kali akan memilih bersama papanya.

“Coba Mama lihat wajahmu, Lulu. “

Lunetta ingin mengelak, tetapi Mama lebih cepat me­raih pipinya. Lunetta terpaksa diam, membiarkan Mama mengamati wajahnya. Ada air mata mengalir di wajah Mama. Mama mengelus pipi Lunetta, menarik napas lega kemudian memeluk putrinya. Pelukan itu terasa aneh bagi Lunetta, seakan­-akan ia tengah dipeluk oleh orang asing yang kebetulan lewat.

"Untung semakin lama kamu semakin mirip Mama, tidak seperti papamu.” Mama tersenyum bahagia.

Mendengar itu, Lunetta langsung melepaskan pelukan mamanya. Ia tidak suka jika Mama mulai mencela papanya. Memang kenapa kalau dia mirip papanya? Dia, kan, me­mang anak papanya.

“Mama, bisa kita pergi sekarang?” Lunetta mengalih­kan topik pembicaraan.

“Iya, tentu saja.” Mama menghapus air matanya.

“Mama sampai lupa kalau Pak Tono sudah menunggu kita. Mana barang-­barangmu?”

Lunetta menunjuk sebuah koper ber ukuran sedang ber­warna biru muda dan sebuah tas selempang cokelat yang tergeletak di sampingnya. Lunetta tidak memiliki banyak barang. Hidup ber sama Papa mengharuskannya untuk me­miliki barang yang ringkas dan mudah dibawa ke mana­-mana. Namun, Lunetta tidak pernah keberatan dengan itu semua. Setidaknya hidup bersama Papa selalu seru. Papa
juga tidak akan mengurungnya dalam sangkar seperti yang akan dilakukan oleh mamanya.

Dengan enggan, Lunetta menarik kopernya, membiar­kan roda-­roda kecil kopernya menggilas lantai bandara. Mama membawakan tas selempang Lunetta yang tidak se­berapa berat. Sebenarnya, Mama tidak perlu me lakukannya, tetapi dia bersikeras. Tatapan Mama jatuh ke pergelangan
tangan putri tunggalnya.

“Jam tangan baru?”

“Ya gitu deh, Ma.” Sekarang giliran Lunetta untuk ter­senyum tipis.

Lunetta bertanya­-tanya bagaimana reaksi mamanya kalau beliau tahu apa yang baru saja terjadi. Ia menduga mamanya akan langsung marah besar. Bahkan jika ia ber­untung, mamanya akan langsung mengembalikannya ke­pada Papa. Namun, satu hal yang Lunetta yakin, Papa pasti akan bangga kalau tahu kejadian tadi.

Lunetta dan mamanya berjalan menuju lapangan parkir. Pada saat yang sama, sebuah bus tur berhenti dan menurunkan isinya, satu rombongan tur yang lebih ramai dari pada seratus bebek yang berbunyi secara bersamaan.

Itu adalah perlindungan alami bagi jejak Lunetta. Sekilas, Lunetta menoleh ke belakang, ke arah bangku panjang ber­warna cokelat, tempatnya menunggu berdiri tadi. Gadis berbibir apricot itu telah kembali. Sayang, dari jaraknya, Lunetta tidak bisa melihat ekspresi wajahnya—yang pastinya marah besar. Lunetta hanya bisa membaca gerakan tubuhnya. Gadis itu men gentakkan kaki, menyadari
Lunetta tidak ada lagi di sana. Ia berlari menuju tempat sam­pah, dan membongkarnya seperti orang gila. Saat ia tidak berhasil menemukan jam tangannya, gadis itu memekik marah dan kemudian menendang tong sampah yang tidak bersalah itu. Di belakangnya, seorang satpam hanya bisa
menggaruk kepalanya, kebingungan sekaligus tidak berdaya.

Lunetta tersenyum tipis. Gadis itu boleh mengamuk sesukanya, tetapi ia tidak akan mendapatkan jam tangannya kembali ataupun menemukan siapa pe akunya. Seti­daknya, itu akan memberikannya pe lajaran kepadanya agar tidak belagu.

“Sayang banget,” komentar Mama saat mereka me­nyeberang jalan, berjalan menuju lapangan parkir tempat Honda Jazz merah dan sopir mereka telah sigap menunggu keduanya dengan pintu penumpang terbuka. “Jam baru,udah basah begitu.”

16 July 2014

Mengembangkan Ide Menulis dengan Sistem SCAMPER

8:00 AM Posted by Dyah Utami 5 comments

Bagaimana kalau kita gabungkan kucing dengan errr.. domba?
Seorang penulis yang baik adalah penulis yang tidak terpaku pada ide yang pertama kali keluar. Baginya, ide adalah sesuatu yang bisa terus bergerak, berubah. Bahkan sebenarnya, ide pertama yang keluar dalam benaknya adalah ide yang paling biasa-biasa saja, kurang orisinal. Mengapa/ Karena otak kita biasa melakukan asosiasi terdekat. Semakin lama kita memikirkan ide tersebut, kita akan mencari sesuatu yang asosiasinya tidak dekat. Lama-lama kita akan menemukan sesuatu yang lebih orisinil dibandingkan ide pertama kita. 

Salah satu cara untuk mengolah ide tersebut adalah dengan menggunakan sistem Scamper.
Scamper adalah sembilan prinsip berpikir kreatif yang diciptakan oleh Alex Osborn dan emudian disusun ulang oleh Bob Eberle. Kesembilan prinsip berpikir itu adalah:

S (Substitute) = Mengganti
C (Combine) = Kombinasi
A (Adapt) = Menyesuaikan
M (Magnify/Modify) = Memperbesar/Memodifikasi
P (Put to other use) = Memanfaatkan untuk kegunaan lain
E (Eliminate) = Menghapus
R (Rearrange/Reverse) = Menyusun kembali/Membalik

Scamper disusun berdasarkan pendapat bahwa segala sesuatu yang ‘baru’ sebenarnya adalah penambahan atau modifikasi dari segala sesuatu yang ada. Contohnya, handphone adalah modifikasi dari telepon. Tablet seperti Ipad adalah modifikasi dari komputer. Di dunia kepenulisan, hal yang sama juga berlaku. Kisah Titanic, misalnya, tidak lebih dari versi lain Romeo dan Juliet. Begitu juga dengan cerita Cinderella dan Beauty and The Beast.

Menerapkan Scamper dalam Menulis

S (Substitute) = Mengganti.
Anda boleh mengambil sebuah cerita yang Anda sukai dan mengganti semua hal yang bisa Anda ganti. Ini bukan mencuri, selama orang lain tidak bisa mengenali darimana ‘inspirasi’ cerita Anda. Misalnya Anda mengambil Twilight, tetapi yang manusia adalah cowok, ditemani satu peri cantik dan satu penyihir. Genrenya bukan romantis melainkan komedi. Lokasinya di pedalaman papua. Tetapi plotnya sama persis dengan Twilight.

C (Combine) = Kombinasi
Anda juga bisa menggabungkan beberapa cerita untuk mendapatkan satu cerita yang menarik. Misalnya: Gabungan dari Finding Nemo dan Lord of the Ring, atau  Inception dengan Twilight dan Titanic. Atau Ayat-ayat Cinta dengan Ada Apa dengan Cinta?

A (Adapt) = Menyesuaikan
Sebelum Anda, sudah ada orang-orang yang memikirkan masalah yang mungkin tengah Anda hadapi. Anda bisa memanfaatkan pemikiran ini demi kepentingan Anda. Cara mengolah plot siapa yang Anda Anda bagus? Cara menciptakan tokoh siapa yang bisa saya tiru? Apa yang bisa saya gabungkan dengan ide saya? Bagaimana saya menyesuaikan teori kepenulisan yang saya pelajari dengan situasi saya?

M (Magnify/Modify) = Memperbesar/Memodifikasi
Cara lain mendapatkan ide adalah dengan memperbesar atau memperluas ide Anda. Ini, menurut saya adalah salah satu bagian terpenting menjadi penulis. Jika Anda hanya meniru karya penulis lain, Anda tidak memberikan makna baru bagi pembaca. Perempuan jatuh cinta pada lelaki? Sudah banyak sekali. Lalu di mana kelebihan karya Anda? Apakah ada nilai ekstra dalam karya Anda? Bagaimana Anda bisa menciptakan tulisan yang lebih dalam, lebih luas atau lebih bermakna dibandingkan karya yang sudah ada sebelumnya?

P (Put to other use) = Memanfaatkan untuk kegunaan lain
Apakah buku Anda bisa digunakan untuk hal yang lain selain hiburan atau hadiah? Misalnya, buku Anda didesain untuk dibentuk menjadi wadah barang, pajangan yang menarik, dan lain-lain. Dengan demikian, Anda bisa meluaskan lingkup pemasaran buku Anda.

E (Eliminate) = Menghapus
Selain menambahkan ide, Anda juga bisa membuang sebagian dari ide tersebut. Coba perhatikan, bagian mana yang bisa Anda abaikan? Bagaimana kalau buku ini dibagi dua bagian saja? Bagaimana kalau cerita ini dipadatkan? Mana yang perlu? Mana yang tidak perlu?
Proses ini akan Anda hadapi saat Anda mulai mengedit naskah. Mungkin Anda akan merasa sulit karena Anda merasa semua bagian cerita Anda ‘terlihat’ utuh dan tidak boleh diotak-atik. Namun jika Anda bersedia mengotak-atik cerita Anda, bermain dengan ide menghapus dan memadatkan, maka bisa jadi tulisan Anda akan jauh lebih kuat.

R (Rearrange/Reverse) = Menyusun kembali/Membalik
Ide tentang membalik ini sudah dibahas minggu lalu secara spesifik. Tetapi intinya, kita mengubah langkah kita dalam menyusun cerita. Dari yang biasanya menulis dari awal, kita memulai dengan dari belakang.

Salinger dan Kafka

Saya ingin menutup tulisan kecil ini dengan cerita tentang Kafka dan JD Salinger. Saat novel Franz Kafka keluar, banyak orang terkesima akan unsur keterbaruan dalam novel Metamorphosis-nya. Ya iyalah, orang tokoh utamanya bangun dan langsung berubah menjadi serangga. Siapa yang akan terpikir? Hal ini membuat JD Salinger merasa tidak percaya diri, namun pada saat yang bersamaan, ia juga merasa tertantang. Ia membaca semua karya Kafka dan berusaha untuk menulis dengan gayanya sendiri. Hasilnya? Catcher in The Rye yang terkenal itu. Sejumlah penulis yang terinspirasi dari tulisan Kafka adalah George Orwell dan Neil Gaiman. Tetapi para penulis ini, tidak sekedar menyalin gaya Kafka, mereka menambahkan hal-hal yang belum diekspolarasi oleh Kafka. 
 
Intinya adalah jangan ragu untuk mengobrak-abrik tulisan penulis lain. Karya yang sudah ada saat ini bisa jadi bukan karya yang terbaik. Bakan, mereka menunggu untuk Anda eksplorasi, Anda perdalam dan Anda kembangkan.

09 July 2014

Stuck? Mungkin Ide Novel Kamu Harus Dibalik.

8:00 AM Posted by Dyah Utami 3 comments
Kadang kita harus membalikkan badan eh ide untuk tahu jawabannya
Cara membalikkan ide ini, atau lebih tepatnya membalikkan alur pemikiran kita adalah salah satu cara yang saya dapatkan ketika saya menulis novel saya, Detektif Imai. Menulis cerita detektif itu (katanya) sedikit berbeda. Pada umumnya saat menulis cerita,  kita berpikir dari A ke B lantas ke C. Tetapi saya kemudian dinasehati bahwa saat menulis cerita detektif, kita harus berpikir dari C, ke B baru kemudian A. Jadi, kita berpikir mundur.

Contohnya: Kita tidak berpikir detektif X menemukan mayat dan kemudian melihat petunjuk yang ada dan kemudian menentukan pelakunya. Tetapi sebagai penulis, kita berpikir kebalikannya. kita mulai berpikir dari apa yang sebenarnya terjadi, kemudian mundur ke awal cerita sementara kita  menyembunyikan dan menyebarkan satu persatu petunjuknya.

Saya pikir, ini adalah teknik ‘khusus’ untuk menulis cerita detektif saja. Akan tetapi saya kemudian menyadari bahwa pemikir besar seperti Einstein juga memakai cara ini dalam bekerja.

Bagaimana Cara Bekerja Mundur

Dalam berpikir ‘standar’, Anda bergerak maju satu persatu. Anda berpikir dari AàBàCàDà E. Dengan berpikir mundur, cara pikiran Anda menjadi tidak beraturan. Anda akan memikirkan dahulu kesimpulannya (akhir cerita). Anda sudah tahu terlebih dahulu bagaimana cerita Anda berakhir. Mungkin tokoh utamanya bahagia, mungkin meninggal, mungkin mendapatkan hikmah dari perjuangannya. Apapun itu, Anda sudah menentukan terlebih dahulu endingnya. Mari kita sebut Ending ini sebagai titik E.

Nah setelah itu, Anda tinggal mengisi titik-titik agar bisa sampai ke A (awal cerita). Bisa jadi, Anda akan terlebih dahulu menemukan titik awalnya. Bisa jadi, Anda akan menemukan titik tengahnya. Kurang lebih, pemikiran Anda kurang lebih terwujud dalam bentuk EàCàBàDàA.

Dengan cara ini, Anda akan menemukan beragam cara untuk memulai sebuah cerita dan mengembangkan alur cerita. Anda tidak lagi terfokus pada bagaimana tokoh Anda bertemu (karena Anda bisa mengembangkan puluhan versi pertemuan tokoh Anda), misalnya. Tetapi Anda fokus pada hasil akhir cerita Anda, apa yang ingin Anda sampaikan ke pembaca Anda.

Petunjuk Berpikir Mundur


  1. Tutup mata Anda, rileks, dan bayangkan ending (akhir cerita) ideal yang Anda inginkan untuk cerita Anda. Apakah Anda ingin tokoh utama Anda bahagia selama-lamanya? Ingin tokoh Anda menyesal seumur hidup?
  2. Tuliskan ending tersebut di kertas. Tuliskan apa manfaat Anda menuliskan ending seperti itu. Tuliskan pula bagaimana perasaan Anda. Anda bisa juga membayangkan pembaca atau editor Anda.
  3. Bagaimana caranya tokoh-tokoh Anda mencapai ending tersebut? PIkirkan caranya. Terkadang Anda mungkin hanya menemukan sedikit bagian awal, sedikit bagian tengah. Tidak apa-apa.
  4. Biarkan semua alternatif pemikiran Anda muncul. Anda akan menemukan tokoh baru, setting baru, mencoret tokoh yang sudah ada, membuang konsep yang Anda pegang. Jangan disensor.
  5. Mulailah mengurutkan adegan mana yang muncul terlebih dahulu. Pemikiran ini akan memaksa Anda untuk memikirkan ulang kaitan antar adegan, hubungan antar tokoh, dan sebagainya. Namun pada saat yang sama, Anda juga tetap terfokus pada tujuan utama Anda.

Nah itu sedikit pengetahuan yang bisa saya bagi bersama Anda.

Mari kita berbagi pengalaman dan berdiskusi, Lovelies. ^____^

Sumber: Michalko, Michael. Cracking Creativity: The Secrets of Creative Genius (2001)

02 July 2014

MENJARING IDE MELALUI JURNAL DAN MIMPI

8:00 AM Posted by Dyah Utami 1 comment
Berapa banyak dari Anda yang memiliki notes atau jurnal? Lebih jauh lebih berapa banyak dari Anda yang menulisnya SETIAP HARI? Saya harap Anda semua memiliki buku catatan, meskipun tidak menggunakannya setiap hari.

Anda tahu, buku catatan merupakan hal yang paling esensial dalam menangkap ide bagi penulis. Mengapa? Karena ide dapat hilang dalam sekejap. Anda mengatakan, “saya punya ide ini…” kemudian Anda berpikir, “Ah, nanti saja saya mencatatnya di rumah.” Yakin Anda masih ingat begitu sampai di rumah? Belum tentu. Jangan-jangan Anda malah sibuk dengan yang lain. Akhirnya sebelum tidur Anda malah berpikir, “tadi kayaknya aku punya ide keren, deh. Tapi apa, ya?”

Saya pernah memiliki seorang murid menulis. Saya mengatakan padanya bahwa semua penulis terkenal selalu memiliki buku catatan untuk mencatat ide. Dan wow, besoknya tanpa saya minta, dia sudah memiliki notes. Jadi, jika Anda serius ingin jadi penulis, miliki sebuah buku catatan dan bawa bolpein ke mana-mana. Setidaknya bolpein. Setidaknya Anda bisa meniru Stephen King yang langsung mencatat idenya di atas tissue makan. Alternatif lain, Anda bisa menggunakan handphone atau tablet untuk mencatat atau merekam suara Anda. 

Dan setelah Anda memiliki notes, bawalah notes Anda ke manapun Anda pergi. Catatlah segala sesuatu yang menarik perhatian Anda. Catat kalimat dalam buku yang Anda temukan. Catat pengamatan Anda terhadap sesuatu. Catat ide Anda yang keluar.

Setelah beberapa saat buku Anda mulai penulis, coba baca kembali notes Anda. Koneksi ide apa yang Anda temukan? Apa ada hal-hal yang bisa Anda kembangkan lebih jauh lagi? 

MORNING PAGES 

Oke. Anda sudah punya notes. Lalu, apa langkah selanjutnya? Morning Pages. Huh, apa itu? Istilah morning pages berasal dari Julia Cameron, penulis The Artist’s Way. Bukunya bagus untuk Anda yang ingin memecahkan kebuntuan Anda dalam menulis, secara spiritual. 

Konsepnya sederhana saja. Setiap pagi, begitu Anda bangun tidur, luangkan waktu untuk menulis selama tiga halaman (makanya notesnya jangan besar-besar ^_^). Tulis apa saja. Mau curhat, mau bercerita tentang film yang tadi malam ditonton, mau nulis nggak jelas, silahkan saja. Poin dari Morning Pages adalah melatih tangan dan pikiran Anda untuk menulis tanpa aturan, tanpa sensor.  Ibaratnya olahraga, morning pages adalah pemanasan bagi Anda. Setelah itu selesai, tutup morning pages Anda dan lupakan. Tidak perlu Anda baca lagi. Lakukan kegiatan Anda sehari-hari.  

MIMPI 

Mimpi juga bisa menjadi tempat yang menarik bagi ide Anda. Kalau tidak, bagaimana mungkin ada yang bisa membuat film tentang dunia mimpi seperti Inception? Melalui mimpi, kita juga bisa mendapatkan ide cerita yang menarik. Semua ini tergantung bagaimana Anda memperhatikan mimpi Anda.

Untuk mendapatkan ide dari mimpi, cobalah buat jurnal mimpi. Mungkin akan ada saat di mana Anda tidur terlalu dalam sehingga tidak bermimpi. Tidak apa-apa. Yang penting, begitu bangun coba gali kembali pikiran Anda. Ingat-ingat kata kunci yang muncul dalam pikiran Anda.

Sejalan dengan waktu, semakin Anda mengamati mimpi Anda, semakin mudah ingatan mimpi itu akan kembali pada Anda. Bahkan mimpi Anda bisa terlihat lebih detil, lebih jelas. Siapa tahu, Anda akan menemukan jawaban dari kebuntuan ide Anda.

25 June 2014

5 Cara Menjaring Ide dari Buku dan Film

2:28 AM Posted by Dyah Utami 3 comments


Bagi banyak orang, menemukan ide adalah hal yang paling sulit di dunia ini. Bagi orang-orang seperti Stephen King, ide tidak lebih mahal dari garam dapur. Ini karena bagi orang seperti Stephen King, ide hanyalah langkah awal, langkah kecil dari sebuah proses menulis yang panjang. Ide bisa datang dan pergi begitu saja. Ide bisa naik dan tenggelam.  Ide bisa menjadi cerita yang bagus atau jelek di tangan seseorang. Tidak pernah ada jaminan.

Oke. Terserah deh Stephen King mau bilang ide itu murah. Masalahnya, gimana kita mau membuat novel atau cerita kalau menemukan ide saja kita kesulitan?

Ada dua ‘cara’ yang pernah saya gunakan untuk menemukan ide menulis saya. Cara ini mungkin Anda semua sudah pernah mendengarnya, tetapi seberapa sering Anda menggunakannya untuk menjaring ide Anda?
MEMBACA BUKU UNTUK MENCARI SEBUAH IDE
Cara pertama adalah dengan membaca buku.  Bukan sekedar buku, tetapi buku yang bisa merangsang otak Anda, membuat Anda cemburu karena buku itu begitu bagus atau bahkan  membuat Anda ingin melempar buku itu dan berkata pada diri Anda, Anda bisa menulis sepuluh kali yang lebih baik dari buku tersebut. Pernahkah Anda?

Saya pernah. Ketika saya membaca Time Traveller’s Wife karya Audrey Niffenegger, saya tersentak. Buku itu begitu bagus hingga saya berharap saya yang mendapatkan ide tersebut, saya yang menuliskannya. Bahkan bisa dikatakan gaya mbak Audrey menulis, memengaruhi naskah yang sedang saya garap.

Stephen King berkata, bacalah buku yang bagus dan jelek. Buku yang bagus akan memicu Anda untuk lebih baik sementara buku yang jelek akan membuat Anda merasa lega karena tulisan Anda ternyata tidak sejelek itu. Kalau buku jelek itu bisa terbit, kenapa buku Anda tidak?

Jadi, bacalah buku yang bagus dan yang jelek. Mungkin Anda tidak akan langsung menemukan karya yang membuat Anda mak nyuzz tetapi, percaya pasti ada. Akan ada satu buku yang bikin Anda geregetan.

Cara kedua adalah, curilah plotnya. Yup, saya mengajarkan Anda mencuri. Curi plot yang Anda baca dari buku terkenal dan kemudian ubah segalanya. Ganti genrenya (roman menjadi detektif, misteri menjadi komedi dan lain-lain). Ubah settingnya. Gabung dengan plot buku lain. Lakukan semua yang Anda bisa untuk  menutupi  ‘kejahatan’ Anda. 

Karena apa? Karena tidak ada yang original di dunia ini lagi. Semua plot yang ada di dunia ini pernah ditulis sebelumnya. Yang bisa Anda lakukan adalah menambahkan sisi yang baru, yang mungkin belum pernah ditulis sebelumnya.  Anda protes dan menganggap ini tidak beretika? Umm, tahukah Anda kalau Naruto terinspirasi dari Harry Potter? Dan berapa banyak cerita di dunia ini yang memakai formula Cinderella? Romeo dan Juliet?

MENCARI IDE DARI FILM

Cara lain mendapatkan ide adalah dengan menonton film. Saya sering sekali menyarankan murid untuk membaca film. Mengapa? Karena menonton film hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari dua jam, sementara buku mungkin memakan waktu yang lebih dari itu.

Sama seperti buku, carilah film yang bisa menginspirasi Anda. Salah satu film yang paling menginspirasikan saya adalah Inception. Saya begitu tergila-gila dengan konsep mimpinya hingga saya menulis skenario tentang pembunuhan di dunia mimpi. Meski genrenya berbeda (satu science fiction, satu misteri), saya rasa orang dengan mudah tahu darimana saya mendapatkan idenya. Tetapi itu tidak masalah, bukan?

Film (atau lebih tepatnya drama) yang menginspirasi saya adalah Secret Garden (Korea).  Saya begitu menyukai kisah pengorbanan tokoh utamanya hingga saya merasa, saya harus, membuat cerita saya bisa mencapai level pengorbanan seperti itu. Jadi, sementara drama itu diputar di depan mata saya, tangan saya sibuk mencorat-coret di atas kertas. Saya merancang dunia fiksi saya. Aneh memang kalau dipikir.
Jadi, saat Anda mulai membaca atau menonton film, coba pikirkan hal-hal berikut ini untuk merangsang ide Anda.

  1. Apa hal yang bisa saya pelajari dari buku/film ini?
  2. Apa hal yang bisa saja ubah, saya acak-acak, saya putar-balikkan dari buku ini?
  3. Bagaimana kalau awalnya diubah atau endingnya diganti? Cerita apa yang akan tercipta?
  4. Bagaimana kalau settingnya saya ganti, (contoh) bukan di New York tetapi di pedalaman Papua?
  5. Bagaimana kalau tokoh utamanya justru tokoh yang tidak penting dalam cerita tersebut? Seperti apa cerita berlangsung dari sudut pandangnya?