0 Ingin Foto ala Instagram tanpa IPhone? Ini Alternatifnya

Sunday, March 11, 2012

Pernah nggak melihat teman Anda hobi mengunggah foto yang terkesan retro atau terkesan buram? Kalau iya, mungkin teman Anda memakai aplikasi IPhone, Instagram. Aplikasi ini memang sedang tren gara-gara Justin Bieber. 

Instagram akhirnya sukses membuat saya penasaran. Bukan karena dipakai Justin Bieber, tetapi karena hasilnya memang membuat foto amatiran dari kamera handphone bisa kelihatan keren. Maka, Instagram menjadi salah satu percobaan saya pertama begitu saya memiliki IPod Touch.
Hasilnya memang tidak mengecewakan.  Ini contohnya:

Cuma sayangnya, karena saya memakai IPod Touch, saya sangat tergantung pada WIFI. Padahal Instagram hanya bisa digunakan dengan jaringan WIFI. Ini berarti lupakan saja acara memotret di luar ruangan—gunung, pantai, pulau terpencil. Berarti, hanya ada dua pilihan, punya sistem WIFI sendiri atau cari alternatif lain selain Instagram.
Setelah berkonsultasi dengan mbah Google, saya mendapatkan dua jenis alternatif, online atau offline. 

Alternatif Online
Untuk alternatif online, ada sejumlah tawaran yang menarik:
Saya paling sering menggunakan picplz.com karena picplz menampilkan semua versi filternya. Dengan cepat kita bisa melihat mana yang paling pas dengan keinginan kita. Hanya kekurangannya, kita tidak bisa mengatur tingkat kecerahan, dan lain-lain. Untuk amatir yang malas repot seperti saya, picplz.com sudah cukup.

Alternatif Offline

Anda tidak terkoneksi internet setiap saat? Kalau begitu, Anda bisa mencoba Adobe Lightroom atau Adobe Photoshop. Saya belum mencoba Adobe Lightroom yang konon punya aplikasi resmi kerjasama dengan Instagram. Tetapi ada banyak penjelasan di internet tentang bagaimana mengubah foto Anda menjadi ala Instagram untuk Photoshop. Namanya Photoshop Action.

Saya bukan ahli Photoshop, tetapi gampangnya Photoshop Action adalah program kecil untuk mengotomatiskan kegiatan Anda di Photoshop. Jadi kalau Anda ingin membuat foto ala Instagram di Photoshop, Anda tinggal cari action-nya di internet, download, klik dan Anda akan menemukan Photoshop Anda sudah memiliki action tambahan (di bagian workspace). Tekan saja segitiga play, maka photoshop akan secara otomatis bekerja mengubah foto Anda. Asyik, kan?

Ini hasil foto yang saya tangkap dengan IPod Touch kemudian saya olah dengan Photoshop Action. Saya memakai  instagram action dari dbox dengan action toaster.
Foto asli diambil dengan IPod Touch

Foto setelah di 'action' oleh Photoshop


Ingin bermain-main dengan foto Anda lebih lanjut? Coba cek link-link berikut ini.




0 PELATIHAN EDITING ONLINE

Tuesday, February 28, 2012

Belajar editing via online? Mengapa tidak?
Anda suka menulis tetapi belum pede mengirimkannya? Atau berkali-kali ditolak? Mungkin itu karena Anda belum memahami seperti apa dunia editor dan penerbitan. Apa yang diinginkan editor? Apa hal-hal yang membuat sebuah tulisan dipandang lebih? Bagaimana Anda bisa membuat tulisan Anda lebih cantik dan menarik?

Ikutilah Pelatihan Editing Online. Mari belajar menyunting dan mengedit tulisan Anda sendiri dan memahami bagaimana membuat sebuah tulisan yang apik dan menarik.  

Kegiatan ini akan dilakukan secara online, jadi Anda tidak perlu khawatir terjebak macet atau berjuang menuju tempat pertemuan. Yang Anda harus lakukan adalah duduk di depan komputer, menyalakan internet pada saat pertemuan berlangsung. 

Anda akan bergabung dalam grup rahasia di facebook. Di grup tersebut, pada jam pertemuan, instruktur akan memberikan materi.  Anda dapat langsung berdiskusi dan berlatih self-editing.

Materi:
  • Mengenal dunia editor
  • Berpikir seperti editor dan menyiapkan naskah Anda untuk editing
  • Merevisi naskah fiksi
  • Merevisi naskah non fiksi
  • Klise, Plagiarisme dan isu dunia editing lainnya.
Instruktur: DYAH P.RINNI
Mantan editor sebuah penerbitan nasional yaitu PT Penerbit ERLANGGA, penulis serial novel Detektif Imai.


Target pelatihan :
  • Peserta memahami dunia editor dan berpikir seperti editor
  • Peserta mengetahui langkah-langkah self-editing untuk fiksi maupun non fiksi dengan lebih terarah
  • Peserta mampu meningkatkan kualitas tulisannya
 Investasi : 300 ribu, termasuk:
  •  Biaya pelatihan online 5 x pertemuan (7,8,9,12,13 Maret 2012) @ 1,5 jam dari jam 20.00 - 21.30 WIB
  • Bundel materi yang akan dikirim via email
  • 1 buah Novel LOVE ASSET, dikirim ke alamat masing-masing di Indonesia
Anda tertarik? Segera setorkan investasi Anda melalui rekening :
 a/n Dewi Kurniawati
BCA : 0711613551
BRI : 0339-01-032334-50-1

 Peserta yang sudah transfer harap konfirmasi ke mbak Deka Amalia sms ke : 08567034845

Jangan tunggu lagi. Peserta terbatas.
Segera daftar dan pastikan tempat untuk Anda.

7 Resolusi, Kabah, dan Internet

Sunday, January 01, 2012

Mengajar? Sama sekali nggak kepikiran!
Saya berdiri di pojok ruangan. Udara dingin dari AC mengalir menyambut kedatangan saya. Di hadapan saya, empat bocah mungil yang lucu sibuk bermain. Di mata semua orang, mereka adalah malaikat mungil. Namun di mata saya, mereka adalah monster yang siap mencacah saya. Jantung saya berdebar kencang, perut saya melilit. Saya berada di neraka.

Itulah perasaan saya ketika mendadak saya didaulat untuk menjadi pelatih kepenulisan untuk anak-anak. Tentu saja saya panik. Siapa saya yang ‘berhak’ jadi pelatih? Saya hanyalah mantan editor yang banting setir menjadi penulis, dan sekarang mencoba menjadi pelatih menulis. Di rumah, saat saya memikirkan pengalaman pertama saya itu, rasanya gila banget. Kok ya bisa-bisanya saya ‘terjerumus’ jadi pelatih begini?

GARA-GARA UMROH
Lima lembar kuning di meja saya menjelaskan semuanya pada saya. Itu adalah resolusi yang saya buat di hadapan Tuhan. Saat thawaf, saya memfokuskan diri  agar tulisan saya terkabulkan. Jadi, ini biang keladinya!

Untuk mewujudkan prestasi terbaik saya, saya harus memiliki expertise yang mendukung. Oleh karena itu saya berkomitmen untuk menjadi pakar di bidang: menulis fiksi bestseller dan motivator penulis. 

Berbagai aktivitas yang saya lakukan akan mengarah kepada peningkatan keahlian di bidang tersebut. Saya akan lebih banyak belajar tentang berbagai alternatif, metode dan cara menulis fiksi dan menyemangati orang untuk terus menulis hingga pesan saya bisa meresap ke dalam pikiran dan hati seseorang.

Tunggu dulu. Motivator? MOTIVATOR?  Tuhanku, karena itukah engkau jerumuskan aku menjadi pelatih?
Sepertinya iya. 

Oke. Berhenti sebentar. Ini peringatan untuk siapapun yang membaca blog ini. Hati-hati kalau berdoa karena Tuhan akan mengabulkannya. Ini serius, lho! Ia sudah menunjukkannya kepada saya. Memang sih jalannya lucu, lewat internet. Tetapi, jalannya Tuhan memang tidak tertebak, bukan? 

Tahun ini saya membuat novel bersama dengan teman-teman yang saya kenal melalui internet. Nggak cuma berteman, saya rasa kami jadi cukup dekat untuk terlibat di proyek-proyek kepenulisan. Bahkan kemudian,  salah satunya mengajak saya menjadi pelatih. Lalu mendadak, OMG! ada info pelatihan jadi trainer penulis yang saya dapatkan via facebook! Dan itu hitungannya hanya harian! Saya nggak kebayang deh kalau saya sampai melewatkan kesempatan itu. Saya benar-benar beruntung. Belum lagi ditambah klien pertama saya juga diperoleh grup teman saya melalui internet juga. Klop banget, kan? Memang rezeki saya mengalirnya lewat internet, nih. 


RESOLUSI 2012
Jadi, apa nih yang akan saya lakukan tahun 2012? Yang jelas saya akan terus menggunakan internet untuk mengembangkan usaha baru saya. Saya punya banyak sekali rencana yang berkaitan dengan internet. Awal tahun 2012 saja saya sudah merencanakan tiga pelatihan kepenulisan, di mana salah satunya gratis.
Selain itu, saya ingin mengintensifkan promosi novel saya viainternet. Tahun lalu, promosi via twitter dan goodreads.com menghasilkan hasil yang lumayan. 
Saya ingin meraih klien lebih banyak dan yang paling penting lagi, saya ingin menjangkau lebih banyak pembaca. Saya ingin bertemu dengan individu-individu yang positif, yang ingin menulis untuk menggetarkan hati manusia. Karena menurut saya sih, ehm, nggak ada yang lebih indah daripada sebuah tulisan (apapun bentuknya) selain tulisan yang mampu menggerakkan hati manusia ke arah kebaikan. 

Oh, ya. Lebih banyak komunikasi juga dengan Tuhan. Saya punya perasaan, saya  akan melihat lebih banyak lagi kejadian ajaib lagi. 

Bagaimana dengan kamu?

0 SUKSES SELF PUBLISHING ALA JACK CANFIELD

Saturday, November 12, 2011
Jack Canfield, creator of Chicken Soup Series

Siapa yang nggak tahu Jack Canfield? Semua yang hobi baca Chicken Soup tentu tahu dalang di balik buku yang fenomenal ini. Namun berapa banyak yang tahu jika Chicken soup bukanlah buku yang lahir dari tangan penerbit besar? Chicken soup bisa dibaca jutaan orang hingga saat ini berkat kegigihan Jack Canfield dan sohibnya, Mark Victor Hansen. 

Pada Awalnya
Pada awalnya Jack dan Mark  berupa untuk menerbitkan Chicken Soup ke penerbit besar. Bersama-sama mereka bergerilya ke banyak penerbit. Namun apa daya, 130 penerbit yang mereka datangi menolak. Salah satu alasannya adalah nggak ada yang mau membeli buku kumpulan cerita. Tidak putus asa, akhirnya keduanya memutuskan untuk menerbitkannya sendiri alias melakukan self publishing.

Jalan Menuju Sukses
Ini bagian yang ingin Anda ketahui. Bagaimana mereka bisa sukses menjual buku tanpa melalui penerbit? Dari bukunya, The Success Principle, ada beberapa poin yang ditulis oleh Jack Canfield yang berkaitan dengan perjuangannya menjual Chicken Soup:
  1. Jika ingin menghasilkan hal yang besar, bermimpilah besar.
Jangan takut bermimpi besar, begitu pesan Jack. Orang yang bermimpi besar akan menarik hal-hal yang besar. Jadi jangan peduli kalau ada orang yang bilang ah buku gitu doang mana mungkin jadi bestseller. Nyatanya memang ada buku yang gitu doang menjadi bestseller. Ingat poconggg? Saat menerbitkan Chicken Soup, Jack dan Mark membuat visi 2020 yaitu menjual 1 milyar buku pada tahun 2020 dan mengumpulkan dana amal sebesar $500 juta pada tahun 2020.Memang saat ini belum sampai tahun 2020. Tetapi mengingat kesuksesan Chicken Soup yang luar biasa, mungkin banget kan mereka berhasil mencapainya.

  1. Bawa tujuanmu yang paling penting di dalam dompet.
Jack dan Mark menulis keinginan mereka dalam selembar kertas dan membawanya ke mana-mana dalam dompet mereka.  Jack menulis, Saya bahagia bisa menjual buku chicken soup 1,5 juta copy chicken soup pada tanggal 30 Desember 1994. Meskipun sempat ditertawakan, nyatanya keduanya memang berhasil mencapai 1,3 juta kopi chicken soup. Meleset? Hm.. so what? Toh di kemudian hari Chicken soup berhasil 8 juta kopi di seluruh dunia dalam 30 bahasa. 

  1. Lakukan Lima Hal dalam satu hari.
Salah satu kunci keberhasilan Chicken soup masuk menjadi bestseller adalah dengan melakukan aturan Lima, yaitu melakukan lima hal dalam satu hari untuk mempromosikan bukunya. Ada banyak hal yang dilakukan Jack Canfield dan Mark Hansen untuk mempromosikan Chicken Soup: mulai dari menulis press release, mengirimkan buku secara gratis ke sejumlah selebritas, menelpon orang yang bersedia melakukan book review, bersedia melakukan book signing di toko buku manapun, berusaha menjual chicken soup di gift shop, pom bensin, dan lain-lain. Jack juga rajin mengirimkan artikel ke lima puluh  majalah lokal dan regional di seluruh Amerika Serikat. Tiga puluh lima di antaranya menerbitkannya, memperkenalkan Chicken Soup ke lebih dari 6 juta pembaca. Pokoknya lima aktivitas promosi setiap harinya! 

Dan kapan mereka sukses? Dua tahun kemudian! Mungkin Anda terperangah membacanya. Tetapi begitulah kenyataannya. Kesuksesan tidak diraih dalam semalam. Namun kesuksesan mereka juga tidak main-main. Chicken Soup adalah salah satu buku terlaris di dunia (cek saja wiki kalau tidak percaya) dan telah dialihbahasakan ke tiga puluh bahasa dunia.


  1. Banyak dan Rajin Beramal
Heh? Apa hubungannya dengan dengan sukses menulis buku? Jack Canfield percaya bahwa semakin banyak kita memberi, maka semakin banyak kita menerima. Bersama para penulis Chicken Soup, Jack Canfield telah mendonasikan lebih dari 100 lembaga amal. Para Penulis Chicken Soup bahkan pernah membuat buku untuk didistribusikan secara gratis untuk para narapidana. Hasilnya? Justru muncul permintaan menerbitkannya untuk umum! Di Indonesia, setahu saya penulis Ippho Santosa melakukan doa bersama anak yatim ketika ia meluncurkan buku 7 Keajaiban Rezeki. Dan kita tahu buku itu menjadi salah satu bestseller di Indonesia.

  1. Banyak Berbagi
Poin ini mirip dengan poin nomer empat. Namun fokusnya adalah berbagi dengan orang dalam, bukan orang luar.  Jack Canfield mengatakan ia selalu berusaha membagi pendapatan secara adil dengan sekretaris, editor, penulis, dan orang-orang yang terlibat dalam Chicken Soup. Bukan saja digaji lebih tinggi dibanding penerbit biasa, karyawannya juga memiliki rencana pension dan bonus tahunan yang menarik.  Saya pribadi berharap banyak penerbit yang melakukan hal ini. Sudah sering saya mendengar penerbit yang kurang menghargai penulisnya dan membayar mereka di bawah kepantasan (hmm pernah mendengar ajakan antologi yang penulisnya dibayar dengan sejumlah pulsa?) atau editor yang tuntutan kerjanya tidak sebanding dengan gajinya. 

Dan kalau Anda sedang melakukan self publishing seperti Jack Canfield? Bayarlah cover designer Anda dengan harga layak. Bayarlah penulis Anda dengan harga pantas. Berterimakasihlah kepada orang yang telah membeli buku Anda. Berterima kasihlah kepada orang yang sudah mengkritik buku Anda.  Hargai orang-orang yang telah bekerja bersama Anda.  Pada akhirnya kebaikan yang Anda lakukan akan kembali kepada Anda berupa kebaikan juga.

NB: Kalau Anda tertarik membaca buku Jack Canfield, The Succes Principle, Anda bisa mendapatkannya secara online di toko buku Gramedia.

3 Self Publishing, Ya atau Tidak?

Thursday, November 03, 2011
Let me read it first, then I'll let you know my opinion.

Sebenarnya, saya bukanlah orang yang terlalu mendorong self publishing. Mungkin kedengarannya sombong, tetapi saya selalu merasa kualitas buku yang dihasilkan self publishing berada di bawah standar penerbitan tradisional. Ini karena buku yang dihasilkan tanpa sentuhan tangan editor. Jadi, self publishing terlihat sebagai cara kalau sudah mentok dengan penerbit tradisional, ya udah nerbitin sendiri aja.

Akan tetapi ketika seorang teman mengajak saya untuk menerbitkan novel sendiri, saya mulai limbung. Tetapi teman saya bukanlah orang yang frustrasi karena ditolak penerbit. Dia bilang, “buat pembelajaran aja, mbak. Biar kita belajar menangani semuanya sendiri.”

Okay, saya pikir. Kenapa tidak.

Sejalan dengan itu, saya mulai mencari tahu sendiri tentang self publishing. Saya bahkan menemukan banyak buku besar yang beawal dari penerbitan sendiri. Beberapa contohnya terangkum dalam Chicken Soup for the Writer’s soul:
·        The Celestine Prophecy karya James Redfield. Ia mulai menjual bukunya dari bagasi mobilnya lebih dari 100.000 eksemplar. Akhirnya ia menjual ke Warner books dengan nilai $800.00. Ia menjadi buku terlaris nomer satu tahun 1996, berada dalam daftar buku terlaris New York Times selama 165 minggu dan terjual lebih dari 5,5 juta eksemplar. Nggak jelek buat buku self publishing, kan?
·        The Elements of Style oleh William Strunk, Jr. Buku wajib tata bahasa Inggris ini awalnya merupakan buku kuliahan Cornell University.
·        A Time to Kill oleh John Grisham.
·        The Chrismas Box oleh Richard Paul Evans ditulis dalam waktu enam minggu. Ia menerbitkan dan mempromosikannya sendiri sebelum akhirnya dijual ke Simon & Schuster seharga $4,2 juta. Buku ini mencapai peringkat teratas daftar buku terlaris Publishers Weekly dan diterjemahkan ke dalam tiga belas bahasa.

Bukan itu saja, ternyata sejumlah pengarang terkenal seperti Deepak Chopra, Mark Twain, James Joyce, D.H Lawrence, Anais Nin, George Bernard Shaw, Edgar Allan Poe, Rudyard Kipling, dan sebagainya juga menerbitkan bukunya sendiri.

So, apakah ini berarti kita harus meninggalkan penerbitan tradisional? Ya dan tidak. Ya jika kamu yakin kamu bisa menjual empat kali lebih banyak dari penerbit. Ya jika niatmu adalah untuk pembelajaran. Ya jika kamu yakin tidak ada penerbit yang mau menerima bukumu (karena pasarnya terlalu spesifik). Tetapi saya mengatakan tidak jika kamu masih pemula. Tidak jika kamu belum berjuang menembus penerbit tradisional.

Bagi saya, bekerja sama dengan editor dan penerbitan adalah sebuah pengalaman yang menarik. Kamu belajar melihat sisi pandang penerbit, belajar mengenai kelakuan toko buku, belajar promosi dan hey, siapa tahu dari editor kamu mendapatkan peluang membuat buku baru lagi.

Yang ingin saya sampaikan, jangan terlalu kaku memilih self publishing atau penerbitan tradisional. Toh pada akhirnya yang penting bagi pembaca adalah apa yang ingin kamu sampaikan.

3 Seabrek Cara Dapat Buku Gratis

Wednesday, October 26, 2011
Eh, tau nggak, novel yang baru gue baca keren abis, lho.


Ketika teman saya, penulis Putu Felisia, menuliskan artikel tentang fans yang ingin mendapatkan buku gratis, saya langsung berpikir. Apakah tidak ada cara mendapatkan buku gratis selain melalui kuis? Apalagi kuis kan hanya sesaat saja. Itupun kalau cukup beruntung. Bagaimana dengan mereka yang kantongnya pas-pasan? Apa pintu tertutup untuk mendapatkan buku gratis?

Tentu saja tidak. Eh, saya serius. Saya pikir, pasti ada banyak jalan yang saling menguntungkan untuk mendapatkan buku gratis. Nah masalahnya, gimana caranya?

Barter.

Yup. Kamu nggak salah baca. Barter. Sistem tukar menukar barang yang dipraktikkan zaman dahulu kala itu bisa kamu terapkan untuk mendapatkan ‘buku gratis’.

Oke, tunggu dulu. Kenapa penulis mau melakukan barter buku? Karena penulis ingin terkenal. Ia ingin semua orang membeli bukunya. Dengan demikian, royalti yang ia terima akan semakin besar.

Kalau kamu belum mampu membeli bukunya, tentunya kamu bisa membantunya untuk lebih dikenal orang, kan? Ini kuncinya. Anggap saja, yang kamu lakukan adalah membantunya promosi. Biaya promosi nggak murah, lho. Nah, bayangin kalau dengan bantuanmu dalam promosi, ada seratus orang aja yang tahu dan pengen beli buku tersbut. Masa’ sih penulis itu nggak mau?

Nah apa yang bisa kamu barter? Ini beberapa ide yang bisa kamu pakai.

  1. Kamu barteran buku atau novel tersebut dengan novel kamu sendiri. Kalau kamu sudah pernah menerbitkan novel sendiri, that’s great. Kamu punya bahan barteran. Kenapa penulis bakal mau? Sebagian karena kasihan, sebagian lagi karena dia pengen juga sih dapat novel gratis tanpa keluar uang. Hihihi... Gimana kalau antologi? Hmm... mungkin tergantung penulis yang kamu hubungi, ya. Karena gimanapun juga dalam antologi, jumlah halaman yang kamu tulis kurang sebanding dengan novel barteran yang jumlahnya ratusan itu. Kecuali antologi barter dengan antologi ya.
  2. Kamu membuat promosi novel tersebut di sekolah kamu. Mungkin kamu bisa bikin poster iklan novel itu di majalah dinding sekolah. Atau selebaran. Atau pengumuman di radio sekolah. Bayangkan kalau semua temanmu tahu tentang novel ini, bukankah ini jadi keuntungan buat si penulis juga?
  3. Kamu janji untuk SMS tentang novel itu ke 50 temanmu. Kalau biaya SMS Rp 250, berarti kamu hanya mengeluarkan biaya Rp 12.500. Jauh lebih murah daripada beli novelnya, kan?
  4. Kamu janji update status facebook dan twitter tentang novel itu selama dua minggu.
  5. Kamu akan membuat resensinya novel sang penulis di blogmu dan blog teman-temanmu. Bikin notes di facebook juga bisa jadi alternatif.
  6. Kamu mengundang penulis ke acara radio sekolahmu atau kampusmu.
  7. Kamu bikin acara yang berkaitan dengan tema novel itu. Misalnya costume party ala detektif? pajama party ala Jepang? Pementasan drama berdasarkan novel tersebut? Kenapa nggak? Siapa tahu kamu malah dapat sponsor dari penerbit.
Intinya adalah pikirkan ide kreatif yang bisa kamu perbuat dan hal itu menguntungkan juga buat si penulis. Selain kamu lebih terhormat karena melakukan sesuatu, ini juga dapat jadi cara kamu untuk mendukung penulis favorit kamu. Dengan membangun hubungan baik dengan penulis, kamu juga akan ketularan ilmu menulisnya.

Dan yes, kalau kamu mau nyoba, kamu bisa menghubungi saya di email atau facebook.com/deetopia. Ide unik apalagi yang kamu punya?

NB: Kalau penulisnya sudah terkenal, mungkin kamu harus memikirkan cara yang lebih kreatif untuk mendapatkan barteran buku. Atau mungkin lebih baik kamu menabung. Atau cari pinjaman.:D

0 Saya Menulis Seperti...

Wednesday, October 19, 2011
Sebenarnya, ini iseng-iseng saja.
Di sebuah forum saya menemukan link yang katanya bisa menganalisis gaya tulisan kita ini seperti siapa. Hmm.... keren juga, kan? Tetapi ternyata pas saya klik, link itu mengharuskan tulisan kita dalam bahasa inggris. Walah, gimana ini. Tulisan saya kan bisa dikatakan 99% bahasa Indonesia. Jadi daripada pusing-pusing, saya pakai saja google translate saya untuk menerjemahkan postingan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Dan hasilnya?



I write like
Vladimir Nabokov
I Write Like by Mémoires, journal software. Analyze your writing!

Sejujurnya, saya belum pernah baca karya Nabokov #grin. Kayaknya ini tambahan PR buat saya. Baiklah, mulai cari ebook Nabokov! Yay!

Oh, ya kalau kamu mau, kamu bisa coba sendiri di I Write Like




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...