Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

12 November 2011

SUKSES SELF PUBLISHING ALA JACK CANFIELD

7:17 PM Posted by Dyah Utami 1 comment
Jack Canfield, creator of Chicken Soup Series

Siapa yang nggak tahu Jack Canfield? Semua yang hobi baca Chicken Soup tentu tahu dalang di balik buku yang fenomenal ini. Namun berapa banyak yang tahu jika Chicken soup bukanlah buku yang lahir dari tangan penerbit besar? Chicken soup bisa dibaca jutaan orang hingga saat ini berkat kegigihan Jack Canfield dan sohibnya, Mark Victor Hansen. 

Pada Awalnya
Pada awalnya Jack dan Mark  berupa untuk menerbitkan Chicken Soup ke penerbit besar. Bersama-sama mereka bergerilya ke banyak penerbit. Namun apa daya, 130 penerbit yang mereka datangi menolak. Salah satu alasannya adalah nggak ada yang mau membeli buku kumpulan cerita. Tidak putus asa, akhirnya keduanya memutuskan untuk menerbitkannya sendiri alias melakukan self publishing.

Jalan Menuju Sukses
Ini bagian yang ingin Anda ketahui. Bagaimana mereka bisa sukses menjual buku tanpa melalui penerbit? Dari bukunya, The Success Principle, ada beberapa poin yang ditulis oleh Jack Canfield yang berkaitan dengan perjuangannya menjual Chicken Soup:
  1. Jika ingin menghasilkan hal yang besar, bermimpilah besar.
Jangan takut bermimpi besar, begitu pesan Jack. Orang yang bermimpi besar akan menarik hal-hal yang besar. Jadi jangan peduli kalau ada orang yang bilang ah buku gitu doang mana mungkin jadi bestseller. Nyatanya memang ada buku yang gitu doang menjadi bestseller. Ingat poconggg? Saat menerbitkan Chicken Soup, Jack dan Mark membuat visi 2020 yaitu menjual 1 milyar buku pada tahun 2020 dan mengumpulkan dana amal sebesar $500 juta pada tahun 2020.Memang saat ini belum sampai tahun 2020. Tetapi mengingat kesuksesan Chicken Soup yang luar biasa, mungkin banget kan mereka berhasil mencapainya.

  1. Bawa tujuanmu yang paling penting di dalam dompet.
Jack dan Mark menulis keinginan mereka dalam selembar kertas dan membawanya ke mana-mana dalam dompet mereka.  Jack menulis, Saya bahagia bisa menjual buku chicken soup 1,5 juta copy chicken soup pada tanggal 30 Desember 1994. Meskipun sempat ditertawakan, nyatanya keduanya memang berhasil mencapai 1,3 juta kopi chicken soup. Meleset? Hm.. so what? Toh di kemudian hari Chicken soup berhasil 8 juta kopi di seluruh dunia dalam 30 bahasa. 

  1. Lakukan Lima Hal dalam satu hari.
Salah satu kunci keberhasilan Chicken soup masuk menjadi bestseller adalah dengan melakukan aturan Lima, yaitu melakukan lima hal dalam satu hari untuk mempromosikan bukunya. Ada banyak hal yang dilakukan Jack Canfield dan Mark Hansen untuk mempromosikan Chicken Soup: mulai dari menulis press release, mengirimkan buku secara gratis ke sejumlah selebritas, menelpon orang yang bersedia melakukan book review, bersedia melakukan book signing di toko buku manapun, berusaha menjual chicken soup di gift shop, pom bensin, dan lain-lain. Jack juga rajin mengirimkan artikel ke lima puluh  majalah lokal dan regional di seluruh Amerika Serikat. Tiga puluh lima di antaranya menerbitkannya, memperkenalkan Chicken Soup ke lebih dari 6 juta pembaca. Pokoknya lima aktivitas promosi setiap harinya! 

Dan kapan mereka sukses? Dua tahun kemudian! Mungkin Anda terperangah membacanya. Tetapi begitulah kenyataannya. Kesuksesan tidak diraih dalam semalam. Namun kesuksesan mereka juga tidak main-main. Chicken Soup adalah salah satu buku terlaris di dunia (cek saja wiki kalau tidak percaya) dan telah dialihbahasakan ke tiga puluh bahasa dunia.


  1. Banyak dan Rajin Beramal
Heh? Apa hubungannya dengan dengan sukses menulis buku? Jack Canfield percaya bahwa semakin banyak kita memberi, maka semakin banyak kita menerima. Bersama para penulis Chicken Soup, Jack Canfield telah mendonasikan lebih dari 100 lembaga amal. Para Penulis Chicken Soup bahkan pernah membuat buku untuk didistribusikan secara gratis untuk para narapidana. Hasilnya? Justru muncul permintaan menerbitkannya untuk umum! Di Indonesia, setahu saya penulis Ippho Santosa melakukan doa bersama anak yatim ketika ia meluncurkan buku 7 Keajaiban Rezeki. Dan kita tahu buku itu menjadi salah satu bestseller di Indonesia.

  1. Banyak Berbagi
Poin ini mirip dengan poin nomer empat. Namun fokusnya adalah berbagi dengan orang dalam, bukan orang luar.  Jack Canfield mengatakan ia selalu berusaha membagi pendapatan secara adil dengan sekretaris, editor, penulis, dan orang-orang yang terlibat dalam Chicken Soup. Bukan saja digaji lebih tinggi dibanding penerbit biasa, karyawannya juga memiliki rencana pension dan bonus tahunan yang menarik.  Saya pribadi berharap banyak penerbit yang melakukan hal ini. Sudah sering saya mendengar penerbit yang kurang menghargai penulisnya dan membayar mereka di bawah kepantasan (hmm pernah mendengar ajakan antologi yang penulisnya dibayar dengan sejumlah pulsa?) atau editor yang tuntutan kerjanya tidak sebanding dengan gajinya. 

Dan kalau Anda sedang melakukan self publishing seperti Jack Canfield? Bayarlah cover designer Anda dengan harga layak. Bayarlah penulis Anda dengan harga pantas. Berterimakasihlah kepada orang yang telah membeli buku Anda. Berterima kasihlah kepada orang yang sudah mengkritik buku Anda.  Hargai orang-orang yang telah bekerja bersama Anda.  Pada akhirnya kebaikan yang Anda lakukan akan kembali kepada Anda berupa kebaikan juga.

NB: Kalau Anda tertarik membaca buku Jack Canfield, The Succes Principle, Anda bisa mendapatkannya secara online di toko buku Gramedia.

03 November 2011

Self Publishing, Ya atau Tidak?

12:31 AM Posted by Dyah Utami 3 comments
Let me read it first, then I'll let you know my opinion.

Sebenarnya, saya bukanlah orang yang terlalu mendorong self publishing. Mungkin kedengarannya sombong, tetapi saya selalu merasa kualitas buku yang dihasilkan self publishing berada di bawah standar penerbitan tradisional. Ini karena buku yang dihasilkan tanpa sentuhan tangan editor. Jadi, self publishing terlihat sebagai cara kalau sudah mentok dengan penerbit tradisional, ya udah nerbitin sendiri aja.

Akan tetapi ketika seorang teman mengajak saya untuk menerbitkan novel sendiri, saya mulai limbung. Tetapi teman saya bukanlah orang yang frustrasi karena ditolak penerbit. Dia bilang, “buat pembelajaran aja, mbak. Biar kita belajar menangani semuanya sendiri.”

Okay, saya pikir. Kenapa tidak.

Sejalan dengan itu, saya mulai mencari tahu sendiri tentang self publishing. Saya bahkan menemukan banyak buku besar yang beawal dari penerbitan sendiri. Beberapa contohnya terangkum dalam Chicken Soup for the Writer’s soul:
·        The Celestine Prophecy karya James Redfield. Ia mulai menjual bukunya dari bagasi mobilnya lebih dari 100.000 eksemplar. Akhirnya ia menjual ke Warner books dengan nilai $800.00. Ia menjadi buku terlaris nomer satu tahun 1996, berada dalam daftar buku terlaris New York Times selama 165 minggu dan terjual lebih dari 5,5 juta eksemplar. Nggak jelek buat buku self publishing, kan?
·        The Elements of Style oleh William Strunk, Jr. Buku wajib tata bahasa Inggris ini awalnya merupakan buku kuliahan Cornell University.
·        A Time to Kill oleh John Grisham.
·        The Chrismas Box oleh Richard Paul Evans ditulis dalam waktu enam minggu. Ia menerbitkan dan mempromosikannya sendiri sebelum akhirnya dijual ke Simon & Schuster seharga $4,2 juta. Buku ini mencapai peringkat teratas daftar buku terlaris Publishers Weekly dan diterjemahkan ke dalam tiga belas bahasa.

Bukan itu saja, ternyata sejumlah pengarang terkenal seperti Deepak Chopra, Mark Twain, James Joyce, D.H Lawrence, Anais Nin, George Bernard Shaw, Edgar Allan Poe, Rudyard Kipling, dan sebagainya juga menerbitkan bukunya sendiri.

So, apakah ini berarti kita harus meninggalkan penerbitan tradisional? Ya dan tidak. Ya jika kamu yakin kamu bisa menjual empat kali lebih banyak dari penerbit. Ya jika niatmu adalah untuk pembelajaran. Ya jika kamu yakin tidak ada penerbit yang mau menerima bukumu (karena pasarnya terlalu spesifik). Tetapi saya mengatakan tidak jika kamu masih pemula. Tidak jika kamu belum berjuang menembus penerbit tradisional.

Bagi saya, bekerja sama dengan editor dan penerbitan adalah sebuah pengalaman yang menarik. Kamu belajar melihat sisi pandang penerbit, belajar mengenai kelakuan toko buku, belajar promosi dan hey, siapa tahu dari editor kamu mendapatkan peluang membuat buku baru lagi.

Yang ingin saya sampaikan, jangan terlalu kaku memilih self publishing atau penerbitan tradisional. Toh pada akhirnya yang penting bagi pembaca adalah apa yang ingin kamu sampaikan.