Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

30 July 2005

Ketiga

3:35 AM Posted by Dyah Utami , No comments
Toni tidak pernah merasa sesial ini dalam hidupnya. Dua kali ditolak cewek hanya dalam jangka waktu lima belas menit! Ini prestasi terburuknya selama tujuh belas tahun hidupnya sebagai seorang playboy. Mula-mula Maya nggak bisa menemaninya ke pestanya Siska gara-gara kudu syuting. Lalu Karin yang badannya pegal gara-gara begadang. Alasan!

Seharusnya tidak begini. Seharusnya semua berjalan lancar sesuai rencananya dua minggu yang lalu.

"Ton, siapa yang akan kamu bawa ke ultah Siska nanti." tanya Hari, temannya sekaligus pacar Siska.

"Emangnya penting?"

Hari menonjok pundak temannya dengan main-main, membuat Toni tergelak. "Oke. Lihat saja nanti, di pesta Siska nanti aku akan membawa salah satu diantara dari mereka. Dan di tengah pesta aku akan langsung menembaknya."

Itu rencananya. Toni selalu berpikir kalau semuanya akan berjalan lancar. Ia tinggal akan telepon salah satunya dan semuanya beres.

Tapi nggak semudah itu. Di hari-hari terakhir ia disibukkan oleh pemikiran mana yang lebih pantas jadi pacarnya. Maya memang tipe ideal seorang cewek: anggun dan cantik bagaikan seorang putri. Satu-satunya kekurangannya adalah isi otaknya. Sebaliknya kelebihan Karin ada di otaknya. Ia cerdas, populer dan kaya. Hanya saja mulut Karin besar. Kalau sudah terbuka, susah ditutup. Nah, kekurangan Karin ini yang jadi kelebihan Septiana. Septiana amat tenang. Diantara ketiganya yang paling jelek memang Septiana, tapi anaknya baik hati dan yang paling disukai Toni, Septiana nggak pernah mengatakan "nggak" padanya.

Toni meraih handphonenya dan mencari-cari nomer telepon Septiana di bagian buku alamat.

"Halo?" terdengar nada lembut mengalun dari seberang, suara bidadari penyelamatnya.

"Septiana, ya?."

"Toni, ya? Ada apa, Ton?"

"Kamu datang ke ultah Siska besok malam, nggak?"

"Tentu aja. Kenapa?"

"Sudah ada yang mau nganterin, belum?"

"Sudah"

Jantung Toni mendadak ingin meledak. "Siapa?"

"Kakakku."

Toni tersenyum lega. "Boleh nggak aku menggantikan tugas kakakmu?"

"Maksudmu kamu mau menjemput aku?"

"Iya." Yes! teriak Toni dalam hati. Septiana pasti setuju. Mendadak pikirannya melayang. Cukup sebulan saja jadian dengan Septiana, kemudian Maya atau Karin. Atau dua minggu saja?

Terdengar nada diam yang panjang.

"Kenapa aku, bukan Maya atau Karin."

Toni ternganga sesaat, ia tak menduga sama sekali. "Egh..mereka nggak bisa. Maya lagi syuting dan Karin sakit."

"Karena itu kamu mengajakku? Karena mereka nggak bisa?"

Toni menjadi panik. Kok tiba-tiba begini.

"Bukan begitu maksudku, Ana."

"Aku mengerti kok, Ton. Jangan khawatir. Aku akan datang, tapi nggak bersamamu. Maaf ya, Ton. Aku harap kamu mengerti."

"Mengerti apa?"

Toni tersentak.

"Aku pikir kamu akan bilang iya, tadi." Karin berbaring di atas tempat tidur Septiana.

"Iya."balas Maya. "Ini kan kesempatan emas. Nggak nyesel, tuh?"

"Nggak." Septiana meletakkan handphonenya dan berbaring memeluk bantalnya. "Habis aku dijadikan ban serep. Memangnya aku cewek apaan."

"Kira-kira Toni lagi ngapain, ya?" tanya Karin.

"Mau taruhan?" Maya tersenyum. "Kurasa ia sedang mencari gadis keempat."

Toni menekan nomer telepon yang nyaris dilupakannya. Kali ini pasti berhasil. Gadis ini tergila-gila padanya. Toni menarik nafas dalam-dalam ketika mendengar sambutan dari seberang.

"Halo, bisa bicara dengan..."

01 July 2005

Sepenggal Dusta

5:21 PM Posted by Dyah Utami , No comments
Aku tahu apa yang akan aku lakukan ini salah. Mbok Yem, Budi dan juga Maman bahkan sudah membujukku berkali-kali supaya aku mengurungkan niatku. Tapi toh akhirnya mereka angkat tangan. Aku sebenarnya mau saja menuruti nasihat mereka kalau ada cara yang lebih baik dari ini. Tapi masalahnya tidak ada. Dan aku tidak mempunyai pilihan lain.

Jadi, aku berdiri di depan pintu, menanti BMW hitam yang meluncur dengan anggun melalui pintu pagar dan berhenti di hadapanku. Ketika rodanya berhenti berputar, Budi sang supir dengan cepat membuka pintu belakang.

Rasanya seperti sudah seabad aku tidak melihatnya. Dadaku bergejolak karena kerinduan yang kupendam dan air mataku nyaris meleleh. Ia nyaris tak berubah, hanya uban yang semakin bertambah di sana-sini. Tetapi senyumannya, kebahagiaannya semuanya terpancar begitu jelas, begitu indah. Dengan cepat aku berlari menyambutnya dan mencium tangannya yang mulai keriput.

"Bapak, Wawan minta maaf tidak bisa menjemput di Gambir."kataku setengah berbisik.

Dengan lembut ia mengelus kepalanya. "Nggak pa-pa, kok le. Bapak juga tahu kamu sibuk dengan semua urusan bisnismu. Tapi..." Matanya berkeliling ke arah istana putih yang ada di belakangku. "Bapak nggak menduga kamu sekaya ini. Kok kamu nggak cerita apa-apa pada Bapak."

Aku tersenyum dan mengeluarkan kata-kata yang semalaman sudah kususun.

"Saya nggak mau Bapak terus-menerus memikirkan Wawan. Kondisi Bapak akhir-akhir ini kan…"

"Bapak sehat-sehat saja kok, Wan." Aku menuntun Bapak masuk ke dalam rumah diikuti Budi yang kanan kirinya dipenuhi bawaan Bapak. Wajah Bapak semakin berbinar-binar ketika melihat bagian dalam rumah. Sebuah permadani merah terhampar menyelimuti lantai marmer. Di dinding, sebuah lukisan kabah yang besar terpampang dan Bapak menatapnya penuh kerinduan. Aku tahu betapa besar keinginan Bapak untuk naik haji tapi nggak pernah kesampaian.

"Jadi bener ini rumahmu, Wan?"

"Ya, begitulah, Pak. Bagaimana menurut Bapak?"

"Yo apik banget. Bapak sama sekali nggak menduga. Sebenarnya pekerjaanmu kuwi opo to, le?"

"Pak Wawan itu pegawai, Pak." timpal Budi sembari menurunkan bawaan Bapak. Aku ingin sekali menutup mulut besarnya. Kenapa nggak biar aku saja yang ngomong?

"Pegawai apa, negeri apa swasta?"

"Swasta." "Negeri." Aku dan Budi berebutan bicara. Aku melotot padanya.

"Negeri." "Swasta"

Bapak mengerutkan alisnya. "Yang benar yang mana?"

"Dulu saya di kerja sebagai pegawai negeri, Pak. Tapi karena gajinya terlalu kecil saya keluar dan kerja sebagai pegawai swasta. Kalau nggak kerja di swasta mana mungkin saya bisa beli rumah sebesar ini kan, Pak?"

Bapak tersenyum puas mendengar jawabanku lalu berjalan menuju kamar yang telah kusiapkan. Ia kelihatan lelah setelah seharian menempuh perjalanan dari Jogya dan memutuskan untuk beristirahat.

Aku berlari menuju dapur dan menghembuskan nafas kuat-kuat di sana. Udara tiba-tiba terasa gerah. Budi dan Maman sang satpam sudah duluan duduk di meja dapur sembari mereguk secangkir teh. Di belakangnya, mbok Yem sibuk mengaduk isi panci.

"Gimana penampilanku?" Budi tertawa sembari menepuk dadanya. "Keren nggak? Pantes kan aku menerima piala oscar?"

"Pantes gundulmu!" Aku nyaris berteriak. "Bapak hampir saja curiga tadi."

Nggak bakal! Bapakmu itu sudah berpikiran tinggi soal kamu. Sepanjang jalan aku bilang kamu itu kaya banget. Tanahmu seabrek-abrek dan ada dari sabang sampai merauke. Bahkan ketika Bapak tanya siapa yang jadi pacarmu sekarang aku bilang Dessy Ratnasari."

Aku menyemburkan tehku, nyaris mengenai Maman."Gila kamu!" teriakku. "Gimana kalau Bapak minta dibawain Dessy!"

"Tenang, Wan. Aku bilang kalian sudah putus. Jadi nggak perlu panik. Lagipula masih ada waktu seminggu untuk bersenang-senang sebelum majikan kita pulang."

Aku menghempaskan tubuhku, menatap langit-langit yang putih dan menghembuskan nafas dalam-dalam. "Ya, Allah. Aku tidak percaya akhirnya kita melakukan rencana gila ini."

"Nah kalau udah tahu kenapa juga dilakukan."timpal Mbok Yem. Aku meliriknya. Di antara orang serumah, Mbok Yem-lah yang paling sering menentang rencanaku. Berkali-kali ia mengingatkan bahwa kebohonganku nggak ada gunanya, cuman menambah masalah saja. Percuma saja berkali-kali kujelaskan kalau aku...

"Nggak ada pilihan lain, Mbok."kataku, lagi-lagi seteguk teh masuk ke mulutku. "Aku sudah terlanjur bilang pada Bapak kalau aku punya pekerjaan yang bagus di kota."

"Lho jadi tukang kebun kan pekerjaan bagus. Daripada jadi pengangguran?"

"Kamu nggak tahu keluargaku sih Bud. Cuman aku anak laki-laki harapan Bapakku. Kakakku, Yono, nggak dapat pekerjaan akhirnya jadi maling dan mati di tangan massa. Kamu tahu apa yang terjadi? Bapakku langsung jantungan dan dirawat di rumah sakit. Terus yang kedua, Joko kerjaannya cuman main judi dan mabuk aja. Setiap pulang, ia nggak pernah bawa apa-apa kecuali hutang. Untungnya adikku Sari sudah menikah jadi beban Bapak sedikit berkurang, meskipun suaminya cuman guru SD. Harapan Bapak padaku itu besar sekali, Bud. Bapak bahkan rela membobol tabungan buat biayaku ke Jakarta. Gimana aku tega ngomong sama Bapak kalau aku cuman jadi tukang kebun di sini?"

"Tapi ini kan sama saja dengan menipu Bapakmu, Wan."kata Mbok Yem bersikeras. "Bayangin kalau Bapakmu sampai tahu yang sebenarnya. Apa nggak lebih sakit lagi?"

"Ya kalau begitu jangan ada yang ngasih tahu!" balasku tak kalah sengit. Wanita itu tampak sedikit tersinggung dan aku merasa menyesal membentaknya. Bagaimanapun juga ia sudah merasa aku sebagai anaknya. Aku menurunkan nadaku. "Aku nggak bermaksud untuk menipu Bapak, Mbok. Aku cuman ingin membuat Bapak bahagia. Sekali ini saja. Apa itu berlebihan? Apa seorang anak nggak boleh membahagiakan Bapaknya?"

"Ya tapi bukan begini caranya, Wan!" kata mbok Yem.

"Terus gimana? Mbok punya cara lain? Nggak kan?" tantangku.

"Terserah kamulah, Wan. Mbok Yem sudah capek ngasih tahu kamu. Kamu ini memang keras kepala. Tapi jangan salahkan mbok kalau nanti ada apa-apa. Mbok sudah bilang jangan berbohong tapi kamu nggak mau nurut." Ia beranjak keluar dengan mangkuk sup di tangannya. "Wan, kamu salah kalau kamu pikir kamu bisa membahagiakan Bapakmu dengan kebohonganmu. Nggak ada kebahagiaan dari kebohongan, Wan. Nggak ada."

Kata-kata terakhirnya begitu tajam, menghujani ulu hatiku seperti duri mawar.

"Jadi?" kata Budi akhirnya. "Kita teruskan?"

Aku memutar-mutar cangkirku dan mereguk habis isinya.

"Apa aku punya pilihan lain?"bisikku pelan.

Budi mengangkat pundaknya. Bersama Wawan ia ngeloyor pergi.

*

Aku nggak pernah melihat Bapak lebih bahagia dari saat ini. Ia begitu menikmati hari-harinya, berjalan-jalan di kebun yang biasa kurawat setiap hari atau bermain-main dengan ikan mas koki yang ada di kolam. Kadang-kadang ia duduk di Gazebo menatap matahari senja menikmati secangkir kopi dan mulai bertutur tentang masa-masa jayanya di pabrik gula zaman Belanda. Dan aku, Budi, Maman dibawanya melayang.

Saat kutatap matanya yang bersinar, senyumnya yang merekah, saat itu pula aku tidak menyesal memainkan sandiwara ini. Bahkan aku rela bersandiwara sepuluh kali apabila ini bisa membuat Bapak bahagia seumur hidupnya.

"Ada kabar buruk, Wan. Majikan kita mau pulang besok," mendadak Budi berkata ketika Bapak sudah masuk ke kamar untuk istirahat.

"Apa?" Keringat dinginku mendadak keluar. "Gimana sih, katanya mau dua minggu di Bali. Ini kan baru seminggu lebih."

"Iya, tapi Ibu sudah kangen sama rumah Jakarta."

Mampus aku! Bagaimana aku membujuk Bapak untuk pulang ke kampung? Bapak kelihatan kerasan banget tinggal di Jakarta. Malah aku mulai berpikir Bapak mau tinggal di sini seumur hidupnya. Kebohongan macam apa lagi yang harus aku ciptakan? Aku begitu lemas sehingga tak sadar Budi menepuk pundakku dan meninggalkanku.

Bapak duduk tepat di depan tape desk, menikmati keroncong yang mengalun perlahan seperti riak-riak kecil sungai ketika aku masuk. Ia tersenyum ketika melihat kedatanganku.

"Kebetulan kamu di sini, le."katanya setengah berbisik. "Bapak mau bicara padamu. Bapak bukannya nggak mau berterima kasih. Apa yang kamu beri pada Bapak ini lebih dari cukup, tapi Bapak nggak bisa tinggal lama-lama. Bapak kangen sama rumah."

Aku tak mempercayai telingaku. Terima kasih Tuhan. Terima kasih.

Bapak pulang keesokan harinya naik kereta argobromo yang uangnya kukumpulkan dari sumbangan kami berempat. Sandiwara yang kami gelar sukses berat.

Kedua majikanku ternyata tidak pulang secepat perkiraan kami. Mereka nggak dapat tiket pesawat ke Jakarta, jadi mereka terpaksa menunggu beberapa hari. Nggak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika adikku, Sari, menelpon malam-malam.

"Maaf mas, Sari mengganggu. Sebenarnya Sari nggak mau mengganggu, tapi kondisi Bapak memaksa Sari menelpon."

Jantungku seperti mau meledak. "Memangnya Bapak kenapa?"

"Bapak masuk rumah sakit lagi. Kemarin banyak orang yang datang ke rumah dan mencari Mas Joko. Tentu saja nggak ada. Kata mereka, Mas Joko kalah judi dan berhutang sepuluh juta. Kalau nggak dibayar, rumah Bapak akan diambil sebagai gantinya." Aku dapat mendengar isakannya yang tertahan. "Dada Bapak langsung sakit dan Bapak harus dirawat."

"Sepuluh juta?" Aku terbelalak. Ya, Allah. Sepuluh juta! Dari mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu?

"Sari hanya punya sejuta." katanya di sela -sela tangisannya. "Itupun setelah pinjam tetangga. Tapi yang sembilan juta lagi darimana? Belum lagi untuk perawatan Bapak."

Kabel telepon itu kuremas. Sesungguhnya aku juga nggak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sama sekali nggak punya uang. Tapi aku nggak mungkin mengatakannya pada Sari. Mereka sudah terlanjur menganggap aku kaya. Bapak sendiri saksinya."

"Sari."Akhirnya aku membuka mulut. "Kamu tenang saja di sana. Nanti Mas kirim uang yang kamu butuhkan."

Aku tahu apa yang baru saja aku lakukan. Sekali lagi aku berbohong. Sekali lagi aku menciptakan harapan semu yang nggak mungkin aku penuhi. Mana mungkin aku bisa mengirimi mereka uang sembilan juta. Kecuali kalau aku...

Mataku terantuk pada brankas besi yang ada di depan mataku.

Tiba-tiba aku tercekat. Kenapa nggak kepikiran?

Malam itu aku memandangi langit-langit kamarku. Aku gelisah. Berkali-kali aku bertanya pada diriku apa ini yang harus kulakukan. Apa tidak ada pilihan lain. Tapi semakin keras aku berpikir semakin yakin aku bahwa tidak ada cara lain. Aku nggak mungkin berbicara pada Mbok Yem, Maman atau Budi soal ini. Mereka nggak akan membantu apa-apa kecuali nasihat setinggi gunung. Satu-satunya jalan aku harus menjebol brankas itu dan mengirim uangnya pada Sari.

Aku bangkit dari tempat tidurku dan menarik senter dari laci. Dunia mungkin punya sejuta alasan untuk mengutukku, tapi aku juga punya sejuta alasan untuk melakukannya.

Perlahan, aku membuka pintu kamarku. Senyap dan gelap. Ini hampir dini hari dan semuanya terlelap. Sembari berjingkat aku berjalan menuju ruang kerja majikanku, berusaha agar tak seorangpun yang terbangun.

Tidak sulit mencari kunci brankas besi itu. Pak Sardi, majikanku itu, selalu menempatkan kunci brankas di laci mejanya. Aku pernah melihatnya memasukkan kunci itu ke laci ketika aku merawat mawar tepat di dekat jendela ruang kerjanya. Tebakanku tidak meleset. Kunci perak itu tampak bersinar di bawah sinar senter yang kubawa.

Entah Pak Sardi yang bodoh atau apa aku tak tahu. Yang jelas brankas besi itu langsung terbuka begitu kuncinya masuk. Pasti ia tidak merubah nomor kombinasinya. Ini sih sama saja dengan mempersilahkan pencuri masuk.

Tanganku bergetar dan keringat dingin mulai mengalir ketika aku menarik gagangnya. Mendadak aku merasa seperti Alibaba yang berhasil membuka pintu gua harta. Dan mataku terbelalak lebar.

Berlembar-lembar uang ratusan ribu tergeletak di sana, menungguku untuk meraihnya satu persatu. Di sampingnya, beberapa perhiasan emas memanggil-manggil namaku. Aku tak sabar untuk merengkuhnya.

Tapi tentu saja Alibaba tidak akan diganggu telepon yang mendadak mendering dan membuat jantungku nyaris copot. Siapa sih yang malam-malam begini telepon? Deringannya semakin menderu-deru dan aku tidak punya pilihan lain kecuali mengangkatnya. Kalau tidak mungkin Maman atau Budi yang akan datang.

"Halo?"

Hanya isakan yang terdengar. Tapi rasanya menghujam jantungku seperti sebuah belati. Aku kenal sekali suara itu.

"Mas Wawan?"

Sari!

"Mas, kita sudah tidak butuh uang itu lagi. Orang-orang itu sudah tidak sabar dan menyita rumah Bapak. Dan Bapak…" Isakan itu semakin menguat. Darahku mengalir lebih cepat.Ya Allah ini tidak mungkin. Sari, tolong jangan katakan kalau... "Bapak sudah tidak ada, Mas."

Gadis itu tak tahan lagi dan menangis sejadi-jadinya. Begitu pilu di telingaku, Begitu tak berdaya.

Air mataku meleleh, tapi itu bukan tangisan. Telepon itu berayun-ayun di udara, menemani diamku, kecewaku, sesalku. Aku tak dapat merasakan apa-apa karena jiwaku terasa lepas. Satu-satunya hal yang aku ingat adalah sesosok bayangan hitam mendekatiku. Aku tahu itu Budi, tapi saat itu ia tampak seperti Izrail. Samar-samar kata-kata Mbok Yem melayang-layang menembus pikiranku. Nggak ada kebahagian dari kebohongan, Wan.

Dan sesungguhnya kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Dan sesungguhnya seorang yang berdusta hingga ia ditetapkan di sisi Allah sebagai pendusta (H.R Bukhari)

17 May 2005

Ada Badai Hari Ini

12:09 AM Posted by Dyah Utami , No comments
Badai sudah dimulai sejak subuh. Angin menghembuskan apapun yang tergeletak di tanah lalu membantingnya ke seluruh penjuru. Hujan mencurahkan isi seluruh perutnya dan mengguyur semua sudut bumi tanpa tersisa. Tapi badai sesungguhnya baru dimulai setelah jam 7.30 saat sebuah lengkingan Pita yang maha dasyat menggelegar.

"Huaaa...Aku terlambaaat!" Pintu depan terbanting. Pita berlari-lari kecil menembus hujan, menuju mobil kijang hijau tuanya. “Kenapa nggak ada yang membangunkan aku?"

Di belakangnya, Wini, kakak perempuannya, mengekori Pita dengan bocah laki-laki lima tahun menggenggam tangan kanannya.

"Kamu sudah dibangunin setengah jam yang lalu. Tapi kamu malah teriak lima menit lagi, lima menit lagi. Ya udah." Ia melirik jam tangannya. "Aku harus berangkat. Titip Andre, ya!"

"Aku ini mau ngejar dosen! Aku tidak bisa bawa bayi! Andre, turun!" Pita menarik keponakannya yang mulai merayap naik ke jok mobil. "Lagipula hari ini adalah wawancara kerja pertamaku!"

"Tapi kamu sudah janji, Pita!" tuntut Wini. "Selama aku kerja shift pagi kamu menjaga Andre!"

"Iya, tapi ini beda! Hari ini kesempatan terakhirku untuk mengejar dosen karena besok aku sudah harus mengurus administrasi sidang. Kalau terlambat, aku harus menunggu sampai semester depan!"

"Kalau aku tidak bekerja hari ini, aku akan dipecat!"

Tanpa menghiraukan protes Pita, Wini pergi meninggalkan Pita tak tahu apa yang harus ia perbuat pada keponakannya. Seakan bisa membaca kebingungan tantenya, Andre berkomentar, "Mekdanel!"

"Nggak ada McDonalds-McDonalds-an!" tegas Pita sembari menyeret Andre ke tetangga sebelah, Mimi, janda dengan satu anak seumuran Andre.

*

Dengan wajah tegang dan kecepatan penuh Pita memacu mobil tuanya menuju rumah Bu Sania sambil sibuk merapal doa. Siapapun di kampus tahu kalau Bu Sania paling ketat dalam masalah waktu, terlambat lima menit saja, ia sudah menyembur seperti letusan gunung berapi.
Tapi mungkin Tuhan sudah bosan mendengar do’a yang sama setiap pagi. Karenanya, begitu Pita sampai di rumah bu Sania, yang ia temukan justru pembantunya.

"Ibu ke kampus." Dari balik pagar, pembantu Bu Sania menjelaskan. "Tapi habis itu langsung ke Jepang. Adiknya kecelakaan."

Mata Pita langsung membulat. Mendadak bayangan ia harus gentayangan di kampus satu semester lagi menghantui dirinya.

"Apa?" teriaknya tak kalah keras. "Naik pesawat jam berapa?"

"Tidak tahu. Telepon saja HP Ibu."

Pita menggerutu. Begitu pantatnya menyentuh jok supir, ia langsung menelpon Bu Sania hanya untuk mendengar suara manis dari mailbox. Hampir saja ia melempar HP-nya kalau saja tidak ingat ia bisa memperoleh barang itu setelah perjuangan merayu ayahnya selama tiga bulan.

"Kenapa sih selalu saja ada masalah pada detik-detik terakhir?" Ia melampiaskan kekesalannya dengan cara menggetok kepalanya ke stir mobil. Sakit! "Oke. Tenang, Pita." Gadis berambut sebahu itu menarik nafas panjang-panjang. "Semuanya belum berakhir. Berpikir. Gunakan kepalamu. Apa yang harus kau lakukan sekarang?"

Gadis itu melirik jamnya. Jam 10 pagi. Ia sibuk berhitung. Untuk ke kampus ia membutuhkan waktu satu jam. Iya kalau ada di kampus, kalau dosen itu gentayangan entah kemana? Wawancara tinggal lima belas menit lagi. Kalau ia ke kampus, ia akan kehilangan wawancara kerja. Sebaliknya kalau ia memburu dosennya ke kampus, belum tentu ia berhasil. Mungkin lebih baik, ia menghadangnya ke bandara sekalian. Hmm, kalau tidak salah penerbangan ke Jepang itu sore.

Pita menstater mobilnya dan menurunkan rem tangannya.


TK Tunas Kasih biasanya terlihat ceria, penuh dengan gelak tawa anak-anak. Namun pagi yang kelam ini telah mengganti keceriaan itu dengan warna kelabu. Persis dengan warna suasana hatinya. Karena hujan, banyak anak-anak yang masih berkeliaran di koridor sekolah dengan suara yang tak kalah seru dari hujan dan derap langkah kaki mereka merambat hingga ke dalam ruangan kepala sekolah. Tuhan! Pita ingin sekali mencekik mereka satu persatu.


"Mbak Pita, Anda punya pengalaman menjadi guru renang?"


Mendengar namanya disebut, Pita langsung tersenyum. Di depannya, seorang perempuan setengah baya berkerudung membetulkan letak kacamata tebalnya.


"Dapat dikatakan saya adalah guru renang bagi keponakan saya sendiri. Namanya Andre. Lima tahun. Ibunya, yaitu kakak saya, seringkali menitipkan Andre pada saya. Jadi bisa dikatakan saya juga terbiasa menangani anak-anak."


Mata kepala sekolah itu naik turun menatap Pita membuat gadis itu bertanya-tanya, apakah ia percaya pada bualannya.


Belum sempat ia mengajukan pertanyaan berikutnya, pintu ruangan terbuka dan seorang guru masuk.

"Maaf, Bu. Mengganggu sebentar." Ia memberikan kode agar sang kepala sekolah keluar.

Sang kepala sekolah tersenyum tipis pada Pita sebagai kode permisi sebentar. Saat itulah HP Pita berbunyi. Pita seharusnya mematikannya karena ia baru berada dalam wawancara pekerjaan yang penting, tapi itu telepon dari Mimi.


"Aku tak tahan lagi!" sembur Mimi. “"Kamu harus menggambil keponakanmu sekarang juga! Dari tadi ia membuat badai sendiri di dalam rumahku!"


"Aku nggak bisa! Aku lagi wawancara kerja!" Pita berusaha menekan suaranya jangan sampai terdengar hingga keluar.


"Mekdanel! Mekdanel! Andle mo Mecdanel!" Pita geram. Ia tahu betul suara siapa itu.


"Mamaaa...Andle jahaaat. Boneka Putli..."


Kekesalannya memuncak hingga akhirnya ia tak bisa menahan dirinya untuk berteriak, "Kalo nggak bisa diam, sumpal aja mulut tuh anak!"


Itu menjadi saat yang paling tak terlupakan dalam hidup Pita. Tepat setelah ia melepaskan kalimat terakhir, sang kepala sekolah masuk, menatap matanya dengan pandangan tak percaya dan mulut ternganga. Inikah gadis yang berani mengklaim bahwa ia mencintai anak-anak?

Pita mencoba untuk tersenyum, tapi terasa sangat hambar. Satu hal yang pasti, ia baru saja menghancurkan wawancara pertamanya.


Dengan wajah suram, Pita menjemput Andre. Mimi kelihatan kesal sehingga Pita harus berjanji akan memberi ganti rugi sebelum mereka pergi. Sepuluh menit kemudian mereka sudah berada di 'Mekdanel'. Andre kelihatan senang. Dengan lahap ia menghabiskan makanannya sementara Pita lebih suka mempertanyakan apa dosanya hingga hari ini ia begitu sial.


Hujan tentu saja tidak bisa menjawab karena mulai reda meski awan hitam masih menggantung di langit. Pita justru menyaksikan kehadiran seseorang yang tidak ia harapkan.


Rama! Pemuda incaran Pita di kampus itu melangkah keluar bersama seorang gadis. Pita terkesima menyaksikan betapa akrabnya mereka.


Oke, tenang, Pita. Mungkin gadis itu adiknya. Tidak, tidak mungkin Rama tidak punya adik. Sepupu? Keponakan? Tetangga? Teman dekat? Atau teman yang sangat-sangat dekat?


Suhu tubuh Pita langsung naik sekian derajat. Sebelum sempat keponakannya menyelesaikan makannya, Pita sudah menarik tangannya menuju tempat parkir.


"Mekdanel!" jerit Andre tidak ikhlas melihat ayamnya masih tersisa seperdelapan.


*


Pita yakin alam sedang mempermainkannya saat ini karena tepat mereka keluar dari mall, hujan kembali turun. Jangankan untuk mencari tahu apa yang dilakukan keduanya di dalam mobil, untuk terus dapat mengikuti sedan putih itu pun ia kesulitan.


Mobil itu dengan lincah menyalip sebuah bus. Apakah mereka tahu? Tidak mungkin. Ia kan sudah menjaga jarak sejauh dua mobil. Sedan itu semakin cepat bergerak. Tentu saja mobil tua Pita bukan tandingannya.


"Tungguin! Nggak sopan! Dibuntutin malah kabur! Nggak tahu susahnya jadi penguntit, ya!"

Lampu kuning. Pita tahu sekian detik lagi, lampu berubah merah. Insting pertama Pita berkata, terobos saja. Ia tidak bisa kehilangan mereka. Tapi di detik-detik terakhir, ia justru berhenti, membuat mobil dan bis di belakangnya marah. Pita tidak peduli. Gadis itu justru menarik nafas dalam-dalam karena lega. Sebuah mobil yang menerobos lampu merah diberhentikan polisi. Di bawah hujan, mereka sibuk bertransaksi.


"Mekdanel lagi ya, Tante."


Pita melirik Andre dengan kesal. Bukannya ikut prihatin, monster kecil itu justru sibuk melempar-lempar sebuah buku. Tunggu dulu. Bukan, itu bukan buku. Itu skripsinya! Ya Tuhan! Sial! Sial! Sial! Kenapa ia malah sibuk mengejar Rama. Tujuannya hari ini kan mengejar dosen!

Pita langsung panik. Di belakangnya, mobil dan bis kembali meneriakinya karena lampu telah berubah menjadi hijau.


"Iya! Sebentar! Dasar cerewet!" Pita masuk ke gigi satu dan mulai berjalan.


Berpikir, Pita. Berpikir. Kamu tidak mungkin ke kampus. Sekarang sudah jam dua. Satu-satunya jalan adalah....


Pita langsung pindah jalur yang membawanya ke jalan tol. Sekali lagi kuda-kuda besi yang ada dibelakangnya meneriakinya karena gerakannya yang mendadak.


"Kita kemana, Tante?" Mata Andre berbinar mengikuti kecepatan kijang Pita seperti orang kebelet membuang hajat.


"Diam saja!" perintah Pita.


Dengan manuver mendadak, ia mendahului sebuah truk gandeng. Andre tertawa senang. Baginya ini lebih baik daripada naik roller coster.


"Lagi! Lagi!" teriaknya memberi provokasi.


Angin bertambah kencang. Hujan bertambah deras. Pita tak sedikitpun mengurangi kecepatannya. Ia bisa saja tergelincir atau menabrak mobil atau dua-duanya. Tapi saat ini yang ada di pikirannya hanya satu. Rama. Bukan! Bukan! Kenapa saat seperti ini pemuda itu masih saja bercokol di kepalanya.


Skripsi, Pita. Pikirkan tentang skripsi! Kamu tidak mau terjebak satu semester lagi di kampus, kan!

Jam sudah menunjukkan 14.30 ketika kijang tuanya memasuki jalan tol Prof. Sediyatmo. Stok kesabaran Pita semakin menipis. Ia berusaha menyalip setiap kali ada kesempatan. Bila tidak, ia melampiaskannya dengan klakson panjang dan omelan yang lebih panjang lagi.


Sayangnya mobil tua Pita tidak bisa mengimbangi semangatnya yang luar biasa. Mendadak, asap putih muncul dan semakin menghalangi pandangannya. Semula Pita mengiranya sebagai kabut, tapi kenapa munculnya dari kap mobil? Belum lagi selesai keheranan Pita, kijangnya melompat-lompat seperti kelinci cegukan sebelum akhirnya berhenti total di bahu jalan.


Pita terbengong-bengong. Mendadak otaknya menjadi kosong. Ia tidak tahu apalagi yang harus ia lakukan. Di sini, di tengah hujan badai, mobilnya mogok sementara dosennya akan pergi ke negeri orang hanya dalam hitungan menit.


Tiba-tiba gadis itu merasa energinya telah habis. Ia lelah berlari kesana-kemari hanya untuk mengejar dosen yang tak ada, melakukan wawancara yang gagal total, mengurus monster kecil ini dan sekarang di penghujung hari, mobilnya rusak. Pita tak kuat lagi. Airmatanya mulai mengalir dan tak lama kemudian tangisnya pecah.


"Tante jangan nangis." hibur Andre. Pita mengangkat kepala dan menemukan setan kecil itu telah berubah menjadi malaikat. Bocah itu tersenyum dan menggenggam hangat tangannya, membuat beban Pita sedikit terangkat.


Hari itu, Pita mengira segalanya telah berakhir. Tapi hidup memang aneh, di kala kita berpikir segalanya sudah hancur, justru saat itulah pertolongan datang meskipun itu berupa sebuah ketukan di kacanya. Pita menurunkan kacanya, darahnya terasa berhenti mengalir.


Rama?


"Pita!" Ia tersenyum. "Aku sudah mengira yang mogok itu pasti kamu. Habis tidak ada yang bisa menyerupai mobil tuamu itu. Kamu baik-baik saja?"


"Mobilku mogok. Emang itu kelihatan baik?" Pita membalas senyumnya.


Rama ikut tertawa. Ya, Tuhan. Pita rela mengalami hari buruk seperti ini sekali lagi hanya untuk melihat tawa iklan odolnya itu.


"Tunggu sebentar. Kutelponkan mobil derek. Ngomong-ngomong ngapain kamu disini?"


"Ngejar Bu Sania. Aku dengar dari pembantunya dia mau Jepang. Aku harus minta tanda-tangan persetujuan skripsi. Kamu sendiri?"


Telinga Rama seakan tak percaya ketika mendengarkan jawaban itu.


"Wah, ini pasti sudah takdir kita bertemu di sini! Percaya atau tidak aku sedang mengantarkan Bu Sania ke bandara. Ia tanteku."


Dagu Pita langsung jatuh. Tidak! Ini tidak mungkin terjadi.


"Ayo. Kuantar kamu ketemu tanteku. Hujan-hujanan sedikit nggak pa-pa kan?"


Pita seakan tak mempercayai keberuntungannya. Setelah apa yang terjadi hari ini, segalanya menjadi mudah. Sangat mudah bahkan. Bu Sania sama sekali tidak marah melihatnya. Ia bahkan meminta maaf padanya. Karena panik, ia benar-benar lupa akan Pita.


Soal gadis yang ia lihat berjalan mesra dengan Rama itu, Pita juga tidak perlu khawatir lagi. Ia ternyata juga masih terbilang keluarga Rama.


"Kamu mau ikut mengantar sampai bandara?" tawar Rama setelah acara tanda tangan selesai. Hati kecil Pita menjerit kata mau sampai sepuluh kali. Rasanya berat sekali ketika ia harus menolak.


"Aku kan harus menunggu mobil derek."


"Oh iya." Rama terlihat kecewa. "Tunggu saja di gerbang tol. Aku akan menjemputmu."


Saat itu juga Pita ingin melompat-lompat seperti kanguru, tapi ia baru melakukannya setelah sedan putih itu hilang dari pandangannya.


"Andre! Sini, Sayang!" teriaknya. Ia berlari memeluk keponakannya yang turun dari mobil. Keponakannya berusaha mengelak tapi Pita lebih cekatan. Wajah Andre habis dilumat kecupan Pita.

Hujan mulai reda dan pelangi muncul di ufuk sore, tapi itu semua tak sebanding dengan kebahagiaan Pita saat ia melaju di atas mobil derek. Semua penderitaannya terhapus sudah. Ia bahkan berharap hujan turun sekali lagi agar bila Rama menjemputnya, ia bisa menjalankan mobilnya pelan-pelan. ***


(To My Cicle of Friends: May You All Get The Best And May The Best Gets You)

29 April 2005

Dia Di Dalam Mimpi

10:03 AM Posted by Dyah Utami No comments
Tepat dua bulan dua minggu dan dua hari setelah ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun, Shari merasa jatuh cinta untuk pertama kalinya. Sayangnya, cowok yang ia sukai bukanlah cowok paling ganteng di sekolah atau guru pengganti yang digilai teman-temannya atau juga tetangga sebelah rumah melainkan seorang pemuda yang ia lihat hanya beberapa menit dalam mimpinya.

"Kamu nggak bisa jatuh cinta pada sebuah mimpi!" begitu protes Eliz, sahabatnya, begitu mendengar deklarasi cintanya. Ia berjalan cepat menyalip puluhan murid sekolah lainnya yang masih bergerombol di depan pintu kelas masing-masing seusai sekolah.

"Kenapa nggak?" Di belakangnya, Shari mengekor menuntut penjelasan.

"Karena…" Eliz berbalik mendadak dan nyaris menabrak Shari bila dua detik saja gadis itu terlambat mengerem. "Karena dia itu mimpi! Dia itu tidak nyata!"

"Tapi bagaimana kalau ternyata dia itu benar-benar ada di dunia ini?" tantang Shari.

"Bagaimana kalau ternyata dia itu nggak ada?" tanya Eliz balik.

Shari menghela nafas dalam-dalam.

"Ok. Mungkin kamu benar. Mungkin dia nggak ada. Sekali lagi, mungkin. Tapi, dalam hidup ini berapa banyak sih cowok yang kamu suka juga menyukai kamu? Tidak banyak, kan? Dan ketika ada cowok yang begitu baik padamu, cowok yang begitu sempurna di matamu, meskipun ia hanyalah kreasi mimpimu, apakah sedikitpun kamu tidak akan jatuh hati padanya?"

Gadis berkaca mata tebal itu pura-pura berpikir serius sejenak sebelum berkata dengan tegas,

"Tidak! Karena aku bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan! Semua cowok dalam mimpi memang selalu sempurna. Kalau tidak, itu namanya mimpi buruk! Kenapa sih kamu nggak cari yang ada di dunia nyata aja? Kaya di dunia ini udah nggak ada stok yang bagus aja."

"Seperti siapa?"

"Marcel."

Mendengar nama itu disebut, air muka Shari langsung berubah. Ia tidak tahu mana yang harus ia lakukan terlebih dahulu, tertawa atau muntah. "Marcel? Yang benar aja!"

Kali ini giliran Eliz yang sedikit kesal. "Emang apa yang salah dengan Marcel?"

"Iya, kalo tidak ada makhluk jantan di dunia ini lagi."sambung Shari dengan cepat.

Eliz berkacak pinggang. "Aku nggak tahu kenapa kamu sebal banget sama Marcel."

"Aku yang nggak tahu kenapa kamu dan anak-anak lainnya suka bergaul sama Marcel. Dia itu udah jelek, brengsek, jahil, malas, suka mengganggu orang…."
Belum selesai Shari menyelesaikan kalimatnya, sebuah bola hitam putih melayang tepat ke kepala Shari. Gadis itu kehilangan keseimbangannya sebelum akhirnya sepasang tangan yang kokoh berhasil menangkapnya. Tanpa mendongakpun, Shari sudah bisa menebak siapa pelakunya.

"Kena lagi ya, Shari. Maaf ya." Dengan sepasang mata bulatnya yang berbinar-binar, Marcel menatapnya dan menyebarkan senyuman polos yang bisa meyakinkan orang bahwa ia tak mungkin berniat jahat. Namun, Shari bukanlah gadis kebanyakan yang bisa langsung dirontokkan hatinya dengan cara itu. Ia langsung menghempaskan pegangan Marcel.

"Kenapa sih setiap kali aku pulang sekolah, setiap kali aku melintasi lapangan, selalu saja kamu menendang bola ke arah ke kepalaku. Memangnya aku ini gawang, apa?"

"Kalau begitu jangan lewat lapangan! Gampang, kan." ucapnya ringan sebelum memungut bola, menjentikkannya ke kepala Shari, lalu berlari kecil ke lapangan.

"Lihat, kan? Sekarang kamu tahu kan betapa brengseknya dia, Liz. Liz? Eliz?"

Shari mendengus. Percuma, Eliz sudah tersihir akan kehadiran Marcel. Mata Eliz berkelana mengikuti setiap gerakan Marcel. Ia bahkan tidak sadar sahabatnya memilih pergi ke ruang OSIS dan menyelesaikan sisa artikel majalah dinding yang harus ia buat. Itu adalah artikel kemenangan tim sepak bola sekolah mereka. Tapi kenapa foto yang akan dipasang justru aksi Marcel yang mencetak gol? Sungguh menyebalkan, bahkan ruang OSIS pun tidak steril dari pengaruh Marcel.

Shari tak ingat bagaimana awalnya genderang perang antara mereka berdua ditabuh. Yang ia tahu pasti sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di sekolah ini, Marcel selalu memanfaatkan setiap detik waktunya untuk membuat hidup Shari sengsara. Mulai dari menarik rambut panjang Shari, menarik PR yang semalam suntuk ia kerjakan atau yang lebih terang-terangan, menarik kertas ujian Shari untuk dicontek. Yang paling menjengkelkan adalah kalaupun akhirnya ia tertangkap basah, dengan cepat ia merubah wajahnya menjadi begitu polos, begitu kelihatan tak berdosa, sehingga guru yang paling sadis pun yang tega untuk menghukumnya!

Kadangkala Shari heran, kok ada orang yang begitu menyebalkan tapi bisa berlagak suci seperti Marcel. Ia begitu berbanding terbalik dengan pangerannya. Shari menghela nafas panjang. Senyumnya merekah lebar saat pikirannya mulai melayang jauh ke dunia sang Pangeran.

Bersama angin siang hari yang sepoi-sepoi, pangeran melaju dengan kuda putih. Wajahnya yang begitu tampan semakin sempurna dengan senyumannya yang menawan. Ia melompat turun dari kuda dan mendekati Shari dengan setangkai mawar merah yang jauh lebih indah dari padang bunga di sekelilingnya.

Mawar merah itu mengelus pipi Shari dengan hangat. Saat menutup matanya, Shari bisa merasakan keharuman bunga memenuhi indera penciumannya dan mendengarkan rangkaian kata-kata romantis yang mengalir dari bibirnya. Bunga itu menggelitik pipi dan telinga Shari. Gadis itu tersenyum karena geli, namun senyum segera lenyap saat matanya terbuka dan menemukan seekor monster sedang menggambar mukanya dengan kapur biru!

Shari memekik, membuat pemuda itu mundur beribu langkah sembari menutup kedua telinganya.

"Nggak usah teriak gitu, dong. Kaya’ mau diperkosa aja!"

"Ngapain kamu di sini!"

"Ngembaliin bola." jawab Marcel tanpa perasaan berdosa. "Kamu yang ngapain di sini? Tidur sambil cengar-cengir kaya orang ngimpi mesum."

"Bukan urusanmu!" Muka biru Shari langsung berubah menjadi merah meskipun ia sibuk menghapusnya dengan tissue. "Lagipula apa nggak ada cara lain yang lebih normal untuk membangunkan orang tidur?"

"Tadinya sih aku berpikir untuk melempar bola ke arahmu."

Shari tak ingin menunda waktu lebih lama lagi untuk keluar dari tempat itu. Satu menit lebih lama lagi, ia bisa gila karena kelakuan Marcel. Namun justru Marcel yang sepertinya tidak mau lepas dari dirinya karena begitu ia menghentikan metro mini, Marcel dan teman-temannya ikutan naik.

Ya Tuhan, ada ratusan metro mini di Jakarta ini, kenapa juga Engkau takdirkan hamba-Mu ini berada dalam satu kendaraan dengan makhluk paling menyebalkan di dunia? Atau jangan-jangan....

Seperti bisa membaca pikiran Shari, Marcel membuka mulut terlebih dahulu sebelum sempat Shari mengeluarkan komentar.

"Jangan ge-er, ya. Aku nggak ngikutin kamu. Aku sama anak-anak mau main ke tempat Riki. Bukan salahku kalau rumah Riki satu jalan denganmu! Siapa juga yang sudi ngebuntitin kamu. Emangnya kamu itu siapa?"

Shari menggeram. Ia tak tahan lagi. Lebih baik ia turun dan mencari angkutan lain. Namun baru selangkah ia melewati Marcel, Marcel justru menahan tangannya.

"Jangan turun!"perintahnya tegas. "Ada tawuran!"

"Apa-apaan, sih! Lepaskan tanganku!"

Begitu lepas dari Marcel, Shari berbalik menghadap kaca metromini dan sebelum Marcel sempat melakukan apapun, sesuatu yang keras menembus kaca dan langsung menghantam kepala Shari. Yang Shari tahu itu bukanlah sebuah bola karena sedetik kemudian aliran merah kental mengalir dan hal terakhir yang Shari ingat adalah wajah panik Marcel.

Saat mata Shari terbuka, yang ia temukan hanyalah senyum jahil Eliz. Shari baru menyadari bahwa ia berada di rumah sakit.

"Marcel nggak ada di sini." Sahabatnya yang memasang tampang nakal.

"Aku nggak nyariin dia! Enak aja." Shari memegangi kepalanya yang masih sakit.
Baru seminggu kemudian Shari diizinkan keluar dari rumah sakit. Dalam masa peristirahatannya itu, entah mengapa ia berharap Marcel menjenguknya. Mungkin karena ia berharap ia bisa berterima kasih pada Marcel. Karena sesungguhnya ia tak tahu bagaimana cara berterima kasih pada orang yang sudah lama ia benci.

Maka, pagi itu, saat ia mendapat kesempatan untuk berdua saja di dalam kelas dengan Marcel, suasana menjadi aneh dan kaku. Marcel duduk dengan kaki di atas meja dan wajah tertutup tabloid olah raga.

Di bawah sinar matahari pagi yang menyelinap melalui jendela dan jatuh ke atas wajah Marcel, untuk pertama kalinya, Shari bisa menilai Marcel dengan baik tanpa prasangka buruk. Eliz benar, ada sesuatu yang menarik dengan wajahnya yang tidak terlalu manis tapi juga tidak terlalu maskulin. Saat membaca, kejahilan dan segala kenakalannya lenyap, tertutupi dengan wajah yang begitu terlihat dewasa, serupa dengan wajah yang berusaha melindunginya di metromini tempo dulu.

"Ada yang mau kamu omongin atau emang kamu ingin ngeliatin aku sepanjang hari?" Marcel menurunkan tabloidnya, menatap Shari dengan tanda tanya di wajahnya.

Shari menggigit bibir atasnya, rasanya sedikit berat untuk mengatakan, "Aku cuma ingin berterima kasih atas pertolonganmu."

"Oh, begitu."ujarnya seraya kembali ke tabloidnya.

Tak tahan berlama-lama dalam situasi aneh seperti ini, Shari memutuskan untuk berbalik dan pergi. Namun baru lima langkah ia berjalan....

"Shari." Namanya terucap dengan sangat lembut.

Shari menoleh dan mendapatkan Marcel sedikit sedikit kaku dan kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata. Sama sekali tidak terlihat seperti seorang Marcel.

"Maaf. Hubungan kita selama ini nggak baik dan agak susah bagiku untuk melihat kamu tiba-tiba datang dan berterima kasih." Marcel berusaha menyembunyikan ketidaknyamanannya dengan membuang muka, namun tidak berhasil. Akhirnya "Ka-kamu datang ke final pertandingan bola besok?"

Shari sama sekali tak menduga Marcel akan bertanya seperti itu. Insting pertamanya menolak, namun mendadak ia mendengar ketukan di jendela dan di sana bibir Eliz nyaris menempel membentuk kata ya ya ya. Sejak kapan makhluk yang satu itu bertengger di sana?

"Entahlah."Akhirnya Shari mengeluarkan jawaban yang tidak pasti. “Emangnya kenapa?”

Wajah Marcel terlihat bersemu merah ketika ia berkata, "Berarti banget kalau kamu mau datang."

Dengan kata terakhirnya, Marcel bangkit dan pergi keluar kelas, meninggalkan Shari yang sibuk mencerna arti kalimat terakhirnya dan melewati Eliz yang masuk ke dalam kelas sembari tertawa kegirangan.

"Berarti banget kalau kamu mau datang?" ulang Eliz. Ia tertawa seperti anak kecil berhasil menemukan permen. "Wah, dia pasti suka sama kamu."

"Apa? Nggak mungkin! Nggak mungkin! Kamu pasti bercanda."

"Ayolah, Shari." Eliz menonjok pundak Shari dengan main-main. "Kamu ini nggak buta, bego atau dua-duanya, kan? Dia itu begitu supaya kamu mau perhatian sama dia. Lagipula kalau dia benar-benar nggak suka sama kamu, mana mungkin dia sampai benar-benar panik waktu meminta aku datang ke rumah sakit. Sekarang ia malah memintamu datang ke pertandingan. Berapa banyak gadis yang secara pribadi diundang untuk datang?"

"Tapi aku nggak suka sama dia. Aku..."

"Kamu suka pada orang yang nggak lebih bunga tidurmu." potong Eliz. "Sampai kapan kamu akan menunggu, eh? Jangan-jangan saat kamu sadar dia cuma mimpi, semuanya sudah terlambat. Rambutmu sudah putih dan udah nggak ada lagi cowok yang mau sama kamu. Kamu sendiri dulu bilang, berapa banyak sih cowok yang kita suka, suka sama kita. Nah, sekarang ada Marcel yang aku yakin suka sama kamu. Sekarang tinggal kamu. Kamu memang mungkin belum suka sama Marcel, tapi apapun bisa terjadi kalau kamu mau membuka hatimu buat dia. Jadi kenapa kamu nggak ngambil kesempatan ini?"

Shari paling benci kalau Eliz benar. Sialnya, kata-kata Eliz terus berada dalam pikirannya hingga separuh malam menjelang. Memang kalau dibandingkan dengan sang pangeran, Marcel itu nggak ada apa-apanya. Kalau ia datang, itu sama artinya dengan memberi harapan baru buat Marcel. Dan entah kenapa rasanya ia seperti mengkhianati pangeran. Lalu bagaimana kalau ia sudah bersama dengan Marcel mendadak sang pangeran benar-benar ada?

Begitu ia jatuh tertidur ia justru tak tahu mana yang lebih buruk, dunia nyata atau dunia mimpi. Mimpinya dipenuhi oleh puluhan monster yang mengejarnya. Dengan terengah-engah gadis itu berlari hingga mencapai sebuah kastil tua tak terawat. Secepat kilat ia membanting pintunya dan berusaha menahannya agar binatang-binatang mengerikan itu tak bisa mendapatkannya. Namun yang ia temui di kastil jauh lebih mengerikan. Bukan saja ada monster berkepala tiga, namun juga hantu tanpa kepala, mumi dan vampir.

Ketakutan semakin memenuhi raga Shari. Ia berlari, keluar dari kastil dan tanpa sadar jatuh ke sungai hitam yang seakan tak berdasar. Sedetik sebelum ia kehabisan nafas dan merasa ini adalah akhir dari hidupnya, Shari dapat merasakan tangannya ditarik keluar.

Pangeran!

Shari terbangun dengan wajah terkejut. Tidak mungkin! Kenapa yang menolongnya justru Marcel?

Sepanjang perjalanannya ke stadium tempat pertandingan Marcel, Shari banyak berpikir. Mungkin Eliz benar, pangeran cuma kreasi mimpinya. Marcel itu nyata. Lagipula kalau dipikir-pikir, Marcel juga tidak terlalu buruk. Ia mungkin jahil, ia mungkin nakal, tapi ada banyak hal di dunia ini yang jauh lebih buruk dari kenakalannya.

Dari kejauhan, ia bisa mendengar riuh rendah suara teman-temannya sibuk meneriakkan nama Marcel. Suara-suara itu seakan memanggilnya untuk mendekati Marcel.

Baru saja Shari hendak melangkah ke arah lapangan, mendadak saja seorang menabraknya hingga Shari terjatuh.

"Kamu nggak pa-pa?"

Jantung Shari nyaris berhenti berdebar ketika menatap wajah pemuda yang menabrak sekaligus membantunya untuk bangkit. Apakah ini yang namanya takdir? Ataukah ini bagian dari lelucon alam yang ditujukan padanya? Sekarang, tepat di hadapannya, berdiri seorang pemuda yang selama ini ia pikir tak lebih dari sebuah mimpi. Wajahnya, suaranya, gayanya berbicara, semuanya sama. Bahkan kehangatan tangannya pun sesuai dengan apa yang ia rasakan dalam tidurnya.

Saat ia berpikir semuanya adalah mimpi, semuanya berubah menjadi kenyataan. Tapi bagaimana kalau mimpi itu hanyalah mimpi? Bagaimana kalau sang pangeran bukanlah seperti dalam mimpinya dan Marcel justru merupakan pangeran yang selama ini ia cari dan ia tunggu?

Mendadak, Shari tak tahu apa yang harus ia lakukan. Shari seperti merasa terjebak dalam labirin dan tak tahu jalan keluarnya. Berkali-kali ia menatap pangeran di hadapannya dan Marcel yang ada jauh di belakang sang pangeran bergantian seraya berharap ada jawaban dari semua ini. Haruskah ia mengejar mimpi atau mengejar kenyataan?

(To my sis: May he's not merely a dream)