Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

11 May 2010

15 Books I'll Always Remember

3:50 AM Posted by Dyah Utami , No comments
Make a list of the 15 books that you'll always remember. Don't think too hard. Choose the first 15 books that you'll be able to remember in 15 minutes. Tag 15 friends, including me. I am curious to know what books my friends chose.

(In no particular order, ya)

1. Sang Alkemis - Paulo Coelho. Mungkin karena dibaca pada waktu yang tepat, jadinya buku ini benar-benar memengaruhi gue. Rasanya buku ini bakal gue rekomendasikan ke semua orang.

2. Little Prince

3. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Maap. Tapi ini yang kepikiran. :p

4. The Original Beauty Bible - Paula Begouin. Buku tentang kecantikan dan perawatan kulit. Sangat mengubah pandangan hidup gue tentang dua hal tadi.

5. Making Faces - Kevyn Aucoin. Buku tentang make up paling bagus yang pernah gue baca. :p

6. Twilight. Remember this book for the wrong reason. ^o^

7. Thesaurus Bahasa Indonesia boleh masuk kan?

8. Menulis secara populer - Ismail Marahimin. Buku pertama yang gue miliki tentang kepenulisan. Sebenarnya yang gue lebih ingat adalah penulisnya, dosen yang sangat kejam dalam menilai tulisan orang. >.<

9. Menulis itu gampang - Arswendo Atmowiloto.

10. The name of this book is secret - pseudonymous bosh. buku anak-anak yang dituturkan dengan gaya yang unik.

11. Lima Sekawan - Enid Blyton. This is how I spend my childhood.

12. Pluto

13. Bleach

14. 21th century boys

15. Deadnote.

Maap, empat yang terakhir bukan kategori buku, tapi manga >.< tapi emang keempat manga itu lumayan membantu gue dalam membuat plot dan menciptakan karakter. dan pada dasarnya gue gak ingat buku yang lain.... *kabur pelan-pelan*

Pembunuhan Dalam Cerita Anak: Ya atau Tidak?

3:17 AM Posted by Dyah Utami , , , No comments
Suatu siang ketika saya jalan ke toko buku Gramedia, saya menemukan sebuah buku Misteri Pembunuhan Penggemar Harry Potter karya seorang anak umur 13 tahun. Saya tahu, ini buku yang sudah sedikit lama (2005), akan tetapi ketika pertama keluar saya tidak begitu memperhatikan kehadirannya. Sampai sekarang.

Saya sebenarnya masih sedikit bingung membuat pembatasan kekerasan dalam sebuah cerita anak. Bahkan untuk memasukkan tema kematian dalam cerita anak saja, saya merasa perlu hati-hati. Kalau ditujukan untuk anak terlalu muda, saya menghindarinya. Karena itu juga saya menabukan diri untuk memasukkan cerita pembunuhan. Kenapa? Karena pembunuhan merupakan hal yang serius dan punya tingkat kekerasan yang tinggi (meskipun hal yang sama bisa diterapkan pada penyiksaan atau pemerkosaan). Melihat pembunuhan juga merupakan suatu hal yang traumatis, bahkan bagi orang dewasa sekalipun.

Memang di dalam buku tersebut, pembunuhan tidak terlalu diekspos. Bahkan menurut saya terlalu sederhana. Sedikit mengejutkan melihat anak-anak yang jadi detektif cilik mengharapkan bertemu dengan kasus pembunuhan. Bahkan setelah dapatpun, reaksi mereka terhadap pembunuhan itu sendiri, minimalis (saya mengharapkan ada rasa shock atau ketakutan ketika pertama kali melihat pembunuhan. Ternyata, tidak.)

Setelah saya membaca buku itu, saya jadi meragukan pemikiran saya sendiri. Mungkinkah anak zaman sekarang lebih terekspos dalam masalah kekerasan hingga cerita pembunuhan bukan lagi masalah? Coba lihat game yang dimainkan anak-anak zaman sekarang. Banyak yang mengandung darah di mana-mana. Memang sih game itu bukan buat anak-anak. Maksud saya adalah, apakah zaman telah berubah sehingga petualangan lima sekawan, Nancy Drew atau Hardy Boys cuma cocok untuk 'bayi' saja? Atau bagaimana? Ya atau tidak untuk cerita pembunuhan dalam cerita anak-anak?

Oh, ya. Satu lagi. Bagaimana dengan peran penegak hukum atau figur yang dihormati (guru) sebagai sosok antagonis (penjahat) dalam cerita anak. Setuju atau tidak?

Belajar Detektif dari Monk

3:14 AM Posted by Dyah Utami , 1 comment
Beberapa hari ini saya menghadapi dilema untuk memasukkan cerita pembunuhan dalam cerita anak.

Akan tetapi, setelah mengikuti dorama Amerika, Monk, saya agak memikirkan ulang untuk memasukkan cerita pembunuhan.

Monk adalah kisah seorang detektif yang mengalami masalah jiwa setelah kematian istrinya sehingga dipecat dari kepolisian San Fransisco. Meski demikian, kemampuannya yang hebat dalam memecahkan kasus kejahatan, membuatnya selalu dipakai pihak kepolisian. Selama ini saya selalu berpikir kalau mau menampilkan pembunuhan ya harus menampilkan mayatnya dan itu berarti menampilkan adegan yang terlalu vulgar untuk anak-anak.

Akan tetapi uniknya Monk tidak perlu itu semua untuk menyelesaikan kasusnya. Saya ingat salah satu adegan di mana ada kasus seorang laki-laki membunuh pacarnya dengan cara dipukul lalu digergaji. Yang ditampilkan di TV hanya jendela yang terkena percikan darah. Saat diotopsi, sama sekali tidak ditampilkan potongan mayat. Hanya omongan si dokter forensik saja.

Begitu juga dengan saat ada adegan perempuan yang mati tercekik karena syal lehernya terjepit lift.Hanya menggambarkan suara perempuan itu yang minta tolong dan kemudian meninggal. Satu-satunya penampilan mayat yang saya ingat adalah saat ada seorang pelayan yang meninggal, tapi tidak bisa ditemukan mayatnya. Setelah ketemu, baru deh kelihatan mayatnya. Tapi itupun hanya terlihat wajah pucat mayat. Tidak terlihat darahnya (padahal seingat saya matinya ditusuk. Hmm....mungkin ditusuknya dari belakang hingga tidak terlihat dari depan)

Anyway, ini adalah salah satu cara untuk memasukkan kasus pembunuhan akan tetapi tidak perlu menampilkan adegan vulgar. Akan tetapi, saya belum tahu seperti apakah model kasus pembunuhan yang melibatkan anak-anak. Hmm....