Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

18 September 2012

Marginalia - Teaser Bab 1

8:17 PM Posted by Dyah Utami , , , , , 16 comments
'Novel Pemenang Lomba Romance Qanita yang akan diterbitkan oleh Penerbit Qanita'.

MARGINALIA
#1

ARUNA
Cahaya blitz. Teriakan penggemar. Kamera. Wartawan. Untuk sesaat, semua yang terjadi di dalam kafe ini terasa tidak nyata. Benarkah ini terjadi sekarang atau aku kembali ke masa lalu? Di sampingku, Fendi, adik sekaligus manager Lescar sibuk menjual kata-kata indahnya kepada wartawan. Ia terlihat begitu hidup, hingga aku lupa kapan terakhir kali aku melihatnya sehidup itu. Setahun yang lalu? Sebelum Padma meninggal? Sebelum aku memutuskan meninggalkan Lescar?
“Jimi adalah vokalis hebat,” kata Fendi kepada wartawan. “Tetapi melihat Ren kembali seperti formasi awal Lescar, ini luar biasa. Semoga ini awal yang baik untuk album ketiga Lescar.”
“Apakah keputusan mengganti Jimi ini ada hubungannya dengan penangkapan Jimi karena narkoba kemarin?”
“Eight Records memiliki komitmen anti narkoba bagi semua artisnya,” kata Fendi. Ia mulai berkeringat, tidak nyaman mendengar pertanyaan itu. Lescar, sebagai artis yang bernaung di bawah Eights Records juga begitu. Jika ada anak Lescar yang memakai narkoba, ia harus menerima konsekuensinya.”
“Ren, apa Anda sungguh-sungguh kembali ke Lescar atau hanya sementara saja?” Wartawan beralih kepadaku.
Bangji, bassist Lescar, menyikutku. Aku tergagap dan kemudian menutupinya dengan senyumku. Tentu saja sungguhan. Kalau cuma sesaat, itu sama artinya dengan saya mengecewakan fans Lescar.”
“Benarkah Anda vakum dari Lescar karena depresi, Ren?”
Akhirnya pertanyaan itu keluar juga. Mendadak, aku bisa melihat Padma duduk di antara wartawan, tersenyum ke arahku. Waktu seperti membeku di sekitarnya. Rambutnya yang lurus panjang tergerai indah, matanya yang indah kembali mencuri jiwaku. Aku seperti bisa suaranya yang jernih membacakan puisi Rumi.
“Heh, kalian semua berlebihan,” sela Juna, gitaris Lescar. “Memangnya kalian semua nggak pernah ingin istirahat? Roker juga manusia, bukan pisau belati.”
Beberapa wartawan tertawa mendengarnya.
 “Bagaimana perubahan formasi ini memengaruhi pembuatan album ketiga Lescar?”
“Nggak masalah,” kata Fendi. “Kami baru merekam satu atau dua lagu bareng Jimi.  Dan kalian tahu apa yang lebih keren?  Ren telah membuat lima lagu untuk album terbaru Lescar.” Fendi bangkit. Ia semakin bersemangat. “Jadi, bagaimana, apa kalian semua mau mendengarkan lagu terbaru Lescar?”
Semuanya berteriak. Mereka telah lupa bagaimana aku menghilang secara setahun. Mereka telah lupa semua gosip tentang Padma dan aku. Mereka hanya perlu mengingat saat ini, saat Lescar kembali ke atas panggung.
Maka aku meraih mike, membiarkan irama mengambil alih tubuhku. Aku telah kembali ke elemenku. Irama rock Lescar segera menghentak, menggoyang kafe itu. Tidak perlu waktu lama sebelum fans Lescar ikut menjerit, larut dalam suaraku. Aku baru menyadari betapa aku merindukan dunia ini. Dunia di mana segalanya gemerlap, penuh raungan, keringat, cahaya dan blitz kamera dan teriakan fans Lescar.
Aku pikir, inilah akhirnya. Aku tak membutuhkan yang lain lagi. Satu orang Padma lebih dari cukup untuk menggelapkan duniaku dan aku tidak mau kembali ke sana. Akan tetapi, aku salah. Sesuatu akan terjadi, dan sekali lagi aku tidak berdaya mengikuti permainan takdir. Karena takdir sudah lama memutarkan rodanya, jauh sebelum aku menyadarinya.

DRUPADI
Ketika pagi itu Inez menelpon, aku tahu hari itu akan menjadi hari yang buruk. Aku membenci Inez. Tidak, aku ingin membunuhnya. Aku ingin menjebloskannya ke dalam brankas besi dan kemudian melesakkannya ke palung laut yang paling dalam. Tetapi sialnya aku tidak bisa melakukannya. Pertama karena ia adalah sepupuku, putri dari Tante Lisye yang tercinta dan yang kedua karena ia adalah klien terbesar usahaku, wedding organizer Luna Nueva. Aku benci mengakuinya, tetapi tanpa Inez dan calon suaminya yang sangat kaya itu, Luna Nueva mungkin sudah bangkrut berlumuran hutang.
Tetapi masalahnya,  Inez berubah lebih cepat daripada orang minum obat dalam sehari. Hari ini ia meminta konsep pernikahan simply elegant, besoknya ia akan menginginkan konsep tradisional yang mewah, dan sebelum aku sempat merancangnya, ia akan meminta konsep pernikahan di pinggir pantai. Begitu terus sehingga anak buahku nyaris angkat tangan.
Dan Inez selalu melakukannya pada saat yang tidak tepat. Seperti pagi ini, saat mobilku mendadak mogok di tengah jalanan macet. Di belakangku, belasan mobil sibuk merongrongku. Chiya, asistenku yang mungil itu, terpaksa turun untuk mendorong mobilku. Namun baru beberapa langkah, Chiya berhenti mendorong. Dari kaca spion aku bisa melihat Chiya menerima telepon dengan wajah panik.
Aku berdecak jengkel. Hanya ada satu orang yang bisa membuat Chiya panik.
“Inez?” tanyaku begitu kami sudah berhasil meminggirkan mobil.
“Iya, mbak Inez minta ganti venue.”
“Lagi?” Nadaku meninggi. “Nggak usah diturutin, Chiya. Aku akan ke rumahnya siang ini dan meminta ketegasan. Kalau Inez terus berubah, lebih baik dia nggak usah pakai Luna Nueva aja!”
“Aduh, Ibu. Jangan,” Chiya kelihatan panik. “Kalau mbak Inez mundur, ntar teman-temannya mbak Inez kabur juga. Udah ada dua yang deal, nih. Empat lagi sudah kelihatan positif.  Lagipula dia udah mau memakai konsep simply elegant yang kemarin aku ajuin itu. Masalahnya cuma di venue. Mbak Inez maunya nikah di venue yang belum pernah dipakai sebelumnya.”
“Apa? Di Jakarta ini mana ada tempat yang belum pernah dipakai orang untuk menikah sebelumnya? Apa dia mau nikah di kuburan atau TPA?”
“Maksudnya tempat baru, Bu.” Chiya merajuk. “Ibu, jangan marah-marah gitu, dong.”
Aku membanting pintu mobil, melampiaskan amarahku. Semua orang selalu mengatakan bahwa aku adalah orang yang tegas dan sulit berubah pikiran. Aku bisa memecat orang dalam lima menit, tidak peduli orang itu punya lima anak dan ibu yang kena stroke. Tetapi kecuali ibuku, tidak ada yang tahu aku punya titik lemah pada segala sesuatu yang polos dan lembut. Jika ada kucing atau anak anjing yang menatapku dengan tatapan polos, meski terkadang aku ingin memenggal kepala mereka, aku tidak berdaya menolak permintaan mereka. 
“Oke,” kataku mengalah. “Nanti kita pikirkan. Sekarang mendingan kita mikirin mobil ini dulu.” Tanganku meraih ponselku, menekan nomer telepon bengkel.  
Di atasku, langit mulai menderu. Angin bertiup kencang, membawa terbang daun kering dan menerjang mata dan blazer hitamku. Aku menatap langit dan menyaksikan awan abu-abu bergumul menjadi satu. Perasaanku mengatakan hujan akan turun dengan cepat. Aku mendengus kesal. Mengapa hal-hal buruk selalu datang berendengan?
“Eh, ada kafe?” Mendadak Chiya bersuara. “Ibu, ada kafe di sini!”
Aku mengalihkan pandanganku pada Chiya. Aku baru sadar kami berdiri tepat di depan sebuah jalan setapak kecil. Tanaman rambat, bedeng bunga dan lentera tua tertata rapi menghiasi sepanjang jalan setapak, berusaha mengundang orang untuk masuk ke dalamnya. Tetapi, jika tidak ada papan kayu putih bertuliskan Kafe Marginalia, aku tidak akan menyadari kehadiran tempat itu.
“Bu, kita cek, yuk. Siapa tahu mau jadi venue.”
 “Chiya, orang menikah itu untuk pamer, bukan untuk main petak umpet. Nggak ada yang mau menikah di tempat tersembunyi seperti itu.”
“Kalau nggak ada yang tahu, berarti belum pernah ada yang menikah di situ, kan?”
“Enggak, Chiya.”
Tetes hujan mulai berjatuhan. Aku mendongak. Hujan turun semakin cepat. Aku mengeluarkan kunciku dan memutuskan untuk menunggu pihak bengkel di mobil saja. Namun Chiya berpikiran lain.
Chiya berlari masuk.
“Chiya!” teriakku.
Saat itu, seharusnya aku membiarkan Chiya. Toh kami akan bertemu lagi di kantor dan aku bisa memarahinya sepuas hatiku. Namun aku justru melakukan hal yang sebaliknya. Aku mengikuti Chiya masuk, berlari menyusuri jalan setapak dengan gemuruh dan rintik air hujan di atas kepalaku.
Untuk beberapa saat, aku hanya fokus menghindarkan diriku dari derau air hujan. Aku tidak tahu aku ada di mana, ke mana aku berlari. Aku teringat menginjak rerumputan yang basah, patung cupid dan bunga teratai di dalam kolam, petir yang mengguncang dan akhirnya suara lonceng saat Chiya mendorong pintu.
“Selamat!” Aku mendengar seseorang berkata. Aku tidak memperhatikannya karena aku sibuk mengurai hujan dari rambut dan blazerku. Baru kemudian aku menemukan seorang lelaki pendek tersenyum lebar padaku. Ia mengingatkanku pada kue mochi: padat, bulat, dan hangat. “Selamat karena Anda berdua berhasil menemukan kafe kami.”
Untuk sesaat, aku mengira aku salah masuk ke sebuah perpustakaan kuno. Baru setelah aku menyadari ada meja dan kursi serta bau kopi yang semerbak, aku sadar aku telah memasuki sebuah kafe. Kafe itu terlihat kuno, seperti telah berabad-abad ditinggalkan orang dan sekarang ditemukan kembali. Aku sedikit khawatir kafe itu akan runtuh karena petir, tetapi sepertinya kafe itu cukup tokoh dan terawat dengan baik. Rak bukunya terbuat dari jati, lampu hiasnya sederhana namun terlihat kokoh meski telah dimakan usia. Sayang, semua itu dinodai dengan pemilihan kayu murahan untuk undak-undakan. Jadi ini yang kutebak tentang kafe Marginalia: dulu adalah toko buku yang berkelas, namun kemudian jatuh ke keturunannya yang miskin yang mengubahnya menjadi kafe.
“Anda ingin pesan apa?” tanya lelaki itu. Di dadanya tertera namanya, Gandi. “Tunggu dulu, biarkan saya menebak. Anda pasti suka espresso. Dan untuk Anda,” Ia tersenyum pada Chiya. “Anda pasti suka cokelat hangat.”
“Eh, betul banget,” Chiya tertawa kecil. “Kok tahu?”
Gandi tergelak senang.  “Mungkin aura Anda. Mungkin pakaian Anda. Mungkin saya hanya asal menebak. Anda berdua pegawai di mana?”
“Sebenarnya, kami dari wedding organizer Luna Nueva,” Aku mengeluarkan kartu namaku dengan sopan. “Saya Drupadi dan ini asisten saya, Chiya.”
Wedding organizer?” Gandi kelihatan terkejut. “Saya Gandi, pemilik kafe ini. Itu istri saya, Sonya.” Ia mengarahkan tangannya pada seorang perempuan kurus berambut hitam panjang di balik meja kasir. Ia mengingatkanku pada Sadako.
“ Oh, ya. Selagi Anda di sini, Anda bisa menuliskan marginalia di buku.”
“Mar-Mar apa?” tanyaku.
 “Marginalia,” kata Gandi. “Catatan pinggir di buku. Semua buku di sini boleh dibaca dan diberi catatan kecil di sampingnya.”
Aku tidak begitu tertarik pada buku. Bagiku hubungan dengan buku berakhir setelah kuliah selesai. Tetapi Chiya berbeda. Ia langsung meraih buku terdekat yang bisa ia raih. Tak lama kemudian ia terkikik sendiri.
“Maka Malin Kundang yang telah membatu menggelinding dan menggelinding hingga menghantam rumahnya. Ibunya mati seketika. Itu balasan bagi ibu yang tidak bisa mendidik anaknya. Apa itu yang Anda maksud dengan marginalia?”
“Tentu saja. Anda bisa menulis apa saja di samping buku.”
“Termasuk ‘brengsek’, atau ‘kamu ngomong apaan sih?” kataku sinis.
Chiya mencari buku lain dan menunjukkan foto seorang penulis perempuan yang ditambahi kumis dan giginya diwarnai hitam. Gandi terbahak melihatnya.
“Itu perbuatan ayah saya,” katanya sedikit malu. “Penulisnya terlalu narsis dan tulisannya tidak bermutu. Jadi, ayah saya membalasnya.”
 “Buat apa Anda mengizinkan orang mencorat-coret buku Anda? Apa nggak sayang?” tanyaku heran.
Itu karena kami percaya, buku itu hidup.”
Aku mengangkat satu alisku, tidak mengerti.
Banyak orang merasa sayang mencorat-coret buku mereka, tetapi menurutku kebanggaan terbesar sebuah buku adalah saat seorang manusia mengambilnya dari sekian banyak buku yang ada, membacanya dengan sepenuh hati, menekuk ujung halamannya, meninggalkan marginalia di samping tulisan yang sudah ada dan kemudian melanjutkannya kepada manusia lain. Itulah saat sebuah buku menjadi hidup, karena kemudian mereka akan menciptakan keajaiban.”
Aku mencoba menelaah kalimatnya yang terdengar ajaib di telingaku.
Tetapi keajaiban itu nggak ada. Semua yang kita sebut sebagai keajaiban hanyalah gejala yang belum bisa dijelaskan saja. Telepon, listrik, pergi ke bulan, bukankah dulu terlihat seperti keajaiban di mata nenek moyang kita?”
Gandi tergelak mendengar ucapanku. “Ah, tipe yang tidak percaya pada keajaiban.”
Bu Dru bilang, kalau di dunia ini ada keajaiban, kita tinggal duduk manis dan perang akan berhenti dengan sendirinya,” tambah Chiya. “Iya kan, Bu?”
 “Betul, Chiya. Alam ini hidup dalam aturannya sendiri, terkadang acak dan jalang. Tidak ada yang romantis ataupun ajaib tentang kehidupan.”
“Masa?” Sonya datang membawakan pesanan kami. Sebuah senyuman misterius tersungging di wajahnya. Aku sama sekali tidak menyukai senyuman itu. Pada saat itu aku berharap aku sama sekali tidak pernah datang ke tempat itu atau mengikuti perbuatan konyol Chiya karena kemudian Sonya menunduk dan berbisik ke telingaku, mengatakan sesuatu yang membuat bulu kudukku mendadak berdiri.
“Hati-hati. Biasanya orang yang bicara seperti itu akan kena batunya.”

15 September 2012

Workshop Novel Romantis

7:16 PM Posted by Dyah Utami , No comments
Gimana sih bikin konsep novel romantis yang keren dan cepat?
Gimana cara menciptakan karakter yang romantis tanpa membuang banyak waktu?

Aku nggak punya banyak waktu untuk menulis. Ada nggak sih cara cepat menulis novel romantis tanpa buang banyak waktu?

Ada, dong!

Ayo ikuti: 

Workshop Novel Romantis with @ Dyah P. Rinni. (Pemenang ke 2 Lomba Novel Romance Qanita)

Kamu akan belajar mematangkan konsep novel romantis kamu, menciptakan karakter romantis yang keren, plus mengolah plot yang bikin gregetan.

Setelah ikutan, kamu akan menghasilkan sinopsis dan outline yang siap dikembangkan menjadi novel romantis.


Berapa? Cukup investasi Rp 150.000 saja. Kamu akan diundang ke dalam grup khusus di Facebook dan dapat 3 x pertemuan (seminggu sekali). Di sana kamu akan mendapatkan materi, latihan, dan bisa tanya jawab. Kamu juga akan dikirimi novel Love Asset dan mendapatkan Sertifikat Pelatihan.


Workshop dimulai hari Rabu, 26 September. 2012. Pelatihan setiap rabu malam pukul 9.00 - 10.30 
Pendaftaran sampai tgl 25  September 2012.

Bagi yang berminat :
Transfer : a/n Dewi Kurniawati

BCA : 0711613551

BRI : 0339-01-032334-50-1

Jika sudah transfer, SMS ke  08567034845 (Dewi Kurniawati)

Ayo ikutan!

12 September 2012

I am Number Two

2:23 AM Posted by Dyah Utami 1 comment
Setelah penantian dua bulan, akhirnya pengumuman itu keluar juga. Saya juara nomer dua di Qanita Romance 2012. Perasaan saya campur aduk: senang, lega, sedikit takut.

Senang dan lega karena kerja keras saya menemukan hasilnya. Apa yang saya inginkan dulu, menang di event ini, terkabul juga. Iya, saya memang hanya ingin menjadi nomer dua.

Psikolog mengatakan lebih enak menjadi pemenang medali perunggu daripada meraih medali perak. Ini karena peraih perak merasa sedikit lagi bisa mencapai emas, sementara peraih perunggu sadar diri dan bersyukur menjadi yang ketiga.

Saya tidak begitu.

Saya tidak pernah menang besar sebelumnya. Prestasi saya paling tinggi hanyalah 10 besar dongeng dan misteri Bobo. Entah berapa abad yang lalu. Bagi saya ini adalah lompatan Neil Armstrong di bulan.

Kedua, menjadi second best artinya masih banyak yang harus saya pelajari. Saya dilarang merasa puas. Dan ini sangat saya sadari ketika saya menuliskah naskah tersebut. Selama ini saya hanya menulis cerita remaja. Menulis cerita romantis sama sekali bukan teritori saya. Jadi ini seperti saya sedikit nekad masuk ke dalam terowongan gelap tanpa tahu apakah terowongan itu memiliki ujung atau tidak.

Ketiga, saya sesungguhnya penakut. Mendadak banyak yang follow saya di twitter. Mendadak banyak yang memberi selamat. Semua mata memandang saya. Ini seperti pisau bermata dua bagi saya. Di satu sisi saya senang, di sisi lain ada kekhawatiran tersendiri. Orang bisa memuja Anda di satu hari kemudian berbalik melawan Anda keesokan harinya. Untungnya, sekali lagi, saya hanya si nomer dua.

Jadi begitulah. Karena sudah diberi kepercayaan untuk menang, saya harus menerimanya bukan? Lagipula kemenangan, sebagaimana kekalahan juga merupakan bagian dari pembelajaran hidup.

Dan kembali menulis. Dan kembali berjuang.

Happy Writing, Guys.