Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

11 December 2012

Burung yang Tergantung di Dahan

6:57 PM Posted by Dyah Utami 1 comment
sumber:dithalen.blogspot.com
Sore itu, teman saya menelpon saya. Karena sinyal di rumah saya tidak begiu bagus, saya memutuskan ke teras rumah saya. Namun, apa yang seharusnya hanya menjadi percakapan biasa, berubah menjadi pelajaran penting bagi saya.

Pada awalnya, saya hanya melihat sesuatu yang bergerak liar di dahan pohon depan rumah saya. Sementara telinga saya mendengarkan kalimat dari teman saya, mata saya tidak bisa lepas dari binatang kecil itu. Kelelawar? Begitu mulanya saya berpikir. Namun kemudian saya sadar. Tidak, itu bukan kelelawar. Itu adalah burung gereja. Dan ia tengah tersangkut dalam jeratan tali.

Seusai telepon ditutup, saya langsung mengambil gunting. Begitu keluar dari rumah, saya baru mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Seekor burung gereja tengah tergantung di dahan, berjuang melepaskan diri dari jeratan tali. Namun semakin lama ia bergerak, semakin erat tali itu menjeratnya.

Saat saya naik ke tempat sampah untuk memotong dahannya, saya mendapatkan kaki mungilnya telah terluka. Entah sudah berapa lama ia ada di sana. Sejam, setengah hari, atau bahkan lebih dari itu? Posisinya sedikit tersembunyi, kecil kemungkinan orang akan melihatnya. Jika saya tidak melihatnya, apakah ia bisa selamat?

Saya sedikit takut, ia akan berbalik mematuk saya, namun makhluk itu terlihat pasrah saat saya berusaha menguraikan jeratan tali itu. Saya melakukannya dengan hati-hati, takut saya justru akan memotong kaki kecilnya tanpa sengaja. Dibutuhkan beberapa waktu sebelum akhirnya, saya berhasil melepaskan jeratannya.

Burung kecil itu akhirnya berhasil terbang lagi. Namun itu mungkin tidak sadar kalau ia baru saja meninggalkan pelajaran bagi saya. Jika Tuhan tidak membawa saya pada posisi itu di waktu itu, entah siapa yang akan menolongnya.

Saat itu saya menyadari bahwa dalam situasi seburuk apapun, ada tangan yang melindungi kita. Dan tanganNya terulur pada kita pada waktu yang tepat, melalui orang yang tepat. Yang perlu kamu lakukan hanyalah terus mengepakkan sayapmu, berharap tangan itu cepat terulur padamu.

 

21 November 2012

Pria yang Membelah Bukit (dan Ketekunan Menulis)

5:31 AM Posted by Dyah Utami , No comments
Hari ini saya membaca kisah tentang pria yang membelah bukit. Benar-benar membelah bukit dalam arti yang sebenarnya. Namanya adalah Suhandi dan usianya, 92 tahun. Lama pengerjaan, 11 tahun.

Pada awalnya adalah kegelisahan Suhandi lantaran sawahnya sulit mendapatkan air dari sungai Cikembang dan Cipanjaran gara-gara ada Bukit Pasir Cacing yang gundul. Dari sini, kemudian ia mendapat gagasan untuk membuat saluran air yang membelah bukit setinggi 4 meter itu. Pada tahun 1988 ia mewujudkan mimpinya dan mengajak warga lain bergabung. Yang ia dapatkan hanyalah penolakan dan ejekan.

Namun Suhandi yang saat itu berusia 68 tahun tidak menyerah. Dengan bantuan istrinya, Suhandi mencangkuli bukit itu siang dan malam. Saat warga lain tertidur, mereka mencangkul dan terus mencangkul. Lebih dari itu, Suhandi bahkan pernah nyaris tewas tertimbun tanah. Semua itu tidak menghentikan langkah Suhandi mencapai mimpi mereka yang baru terwujud 11 tahun kemudian.

Sekarang, bukan saja tanah di sekitarnya menjadi subur karena terkena aliran air, Suhandi juga mendapatkan penghargaan dari pemerintah.

Hati saya tersentuh ketika membacanya. 11 tahun bukanlah hal yang main-main. Berapa banyak dari kita yang sanggup menekuni suatu hal yang sama bila kita mengetahui bahwa hasilnya baru kita peroleh 11 tahun kemudian?

Saya baru saja mengeluh sore ini. Saya mengeluh karena hasil kerja saya selama setengah bulan ini, nyaris tidak terpakai karena saya menemukan konsep yang lebih menarik. Itu artinya, saya harus membongkar semua tulisan 20.000 kata saya dan memulai dari awal lagi. Menulis premis lagi. Membuat sinopsis lagi, mengatur ulang plot lagi, dan sebagainya. Padahal, saya sungguh berharap akhir bulan ini saya sudah menyelesaikan satu draft yang utuh. Mungkin itu yang membuat saya sungguh kesal.

Tetapi, kemudian saya menyadari. Bahkan jika saya sudah bekerja berbulan-bulan dan kemudian membuangnya begitu saja, saya tidak ada apa-apanya dibandingkan ketekunan pak Suhandi ini.

Pak Suhandi mengingatkan saya bahwa hanya dengan kegigihan bekerja, maka impian kita baru bisa tercapai. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada cara yang enak.

Terkadang waktunya panjang, sangat panjang mungkin. Terkadang, kita mendapatkan hinaan dan ejekan. Tetapi jika kita terus bertahan, terus percaya pada mimpi kita, terus bekerja keras, pada akhirnya kita akan berhasil mencapai impian kita. Bahkan bukit pun akan tunduk di bawah cangkul.

Masalahnya hanyalah apakah kita cukup kuat untuk bertahan selama itu? Dan seberapa jauh kita rela berkorban?

sumber berita: Kompas, 20 November 2012.

 

30 October 2012

Cara Gampang Bikin Cover Buku For Fun!

7:41 AM Posted by Dyah Utami , , 18 comments
Salah satu trik saya untuk membantu menyelesaikan naskah adalah dengan membuat cover bohongannya. Saya suka menipu diri saya sendiri bahwa naskah saya sebenarnya sudah jadi, tinggal diekstrak saja dari otak. Buktinya, nih udah ada covernya. Hahaha...Kalau kamu suka mengkhayal ngelamun menciptakan visualisasi bukumu udah terpampang di toko, kamu juga bisa pakai cara ini. Siapa tahu terkabul.

Oh, ya. Cover ini bukan cover betulan. Ukurannya kecil, dan kamu nggak bisa memakainya untuk penerbitan betula. So, jangan protes ya. Ini hanya untuk fun aja.

Oke. Kita langsung aja. Saya nggak pakai photoshop karena saya nggak tahu caranya. Jadi, cara yang saya pakai adalah:

  1. Cari gambar yang diinginkan di Google Image.
  2. Alternatif lain yang saya suka adalah dengan mencari gambar untuk cover di flickrCC. Tinggal cari aja kata kunci yang kamu inginkan. Klik ukuran yang kamu inginkan dan kemudian simpan dan klik kanan pada tetikus. Saya berusaha menggunakan ukuran yang 'large'.
  3. Setelah itu pergilah ke Ribbet.com Biarpun namanya ribet, cara bikinnya nggak ribet, kok. Bahkan, kamu nggak perlu daftar. 
  4. Masukkan gambar yang sudah kamu simpan di komputer di bagian "upload a photo"
  5. Kamu bisa mengatur ukuran gambar di 'basic edit"
  6. Kamu bisa menambahkan tulisan di 'text'
  7. Setelah selesai berkreasi, kamu bisa save di komputer kamu. Selesai, deh.
Ini hasil beberapa 'cover' yang saya buat. Asyik, ya. Serasa sudah menerbitkan bukunya. Padahal, naskahnya diketik aja belum. #digaplok.

Kalau kamu udah bikin, pasang linknya di kolom komentar, ya. ^____^


 

21 October 2012

Lezatnya Gizi dalam Semangkuk Sroto Sokaraja

8:20 AM Posted by Dyah Utami No comments




Dari awal, ia sudah menawarkan sensasi yang menggoda. Aromanya yang penuh rempah menari-nari, keluar dari kepulan hangat semangkuk soto yang menggoda. Jahe, serai, lengkuas, bawang putih, bawang merah serta kemiri dan kunyit berdansa dalam alunan kuah kaldu kecoklatan yang sedikit kental. Ketika mereka bertemu dengan toge yang segar dan potongan daging ayam atau sapi yang nikmat, rasanya menjadi tak tertahankan: segar, hangat, dan nikmat. 

Namun pertunjukkan belum selesai. Bumbu kacang yang pedas datang untuk untuk memberi kejutan sensasi yang belum pernah Anda temui. Ia panas, menggoda, dan meningkatkan sensasi lidah Anda ke jenjang yang lebih tinggi. Ia akan ditemani dengan krupuk warna-warni yang gurih dan heboh, bak penari samba Brazil. Bila Anda merasa belum cukup, tambahkan juga mendoan ke dalam petualangan kuliner Anda. Ia adalah irisan tempe tipis berlapis tepung yang hangat dan paling enak dinikmati saat baru saja selesai digoreng. Dan Anda akan tenggelam dalam sensasi kuliner yang tiada duanya. Anda akan menginginkannya lagi, lagi, dan lagi. 

Karena ia bukan sembarang soto yang Anda kenal. Namanya adalah Sroto. Sroto Sokaraja.  

Bagi banyak orang, nama Sokaraja mungkin bukanlah nama yang akrab di telinga. Anda mungkin lebih mengenal tetangganya, Purwokerto ataupun Banyumas di Jawa Tengah. Sebenarnya, Sokaraja merupakan nama sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas. Letaknya berada di sebelah timur kota Purwokerto dan sebelah utara kabupaten Banyumas. Meski hanya sebuah kecamatan, Sokaraja terkenal akan sroto dan getuk gorengnya. Di daerah ini juga terdapat pabrik gula Kalibagor yang sayangnya  telah lama ditutup.

Nah itu sekilas tentang Sokaraja. Sekarang, mari kita kembali bicara mengenai srotonya. 

Dari mana Sroto Berasal?
Hmm...nikmatnya Sroto Sokaraja
Sari Edelstein (2011) dalam Food, Cuisine and Cultural Competency, mengatakan bahwa masakan Indonesia, merupakan salah satu masakan paling unik di dunia lantaran kombinasi geografis dan kekayaan budayanya. Kita semua tahu bahwa banyak pedagang asing datang ke Indonesia: Cina, India, Timur Tengah, dan juga barat. Tentunya tidak heran kalau kedatangan mereka juga membawa pengaruh bagi budaya Indonesia, termasuk makanannya.  Begitu juga dengan Soto. 

Menurut Dennys Lombard dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya, Soto berasal dari Cina dengan nama Caudo. Soto pertama kali terkenal di Semarang dan kemudian menyebar ke daerah lainnya dengan beragam istilah. Ada Coto (Makassar), Tauto (Pekalongan), dan tentu saja Sroto di Sokaraja.

Setiap tempat kemudian mengembangkan variasi soto masing-masing. Ada yang memadukan dengan penggunaan kunyit dari India, ataupun penggunaan gorengan bawang putih sebagai taburan seperti Cina. Ada juga yang menggunakan unsur budaya Jawa, yaitu penggunaan kemiri dan bawang merah.

Begitu juga dengan Sroto Sokaraja.  Ia tetap memasukkan unsur-unsur standar dalam soto, yaitu penggunaan bawang putih, bawang merah, beberapa bumbu khas Indonesia serta kuah kaldu daging yang kental. Namun ia menambahkan unsur lokal yang menjadikannya berbeda dengan soto lainnya. Ia memadukan sambal kacang pedas, penggunaan ketupat dan mendoan yang merupakan karya asli bangsa Indonesia. Ketiga unsur ini menciptakan variasi baru dalam soto yang tidak kalah lezatnya dengan soto lain yang ada. 

 Yang ada di dalam Sroto
Sroto itu baik bagi Anda. Lihat saja kandungan gizinya di dalam sebuah mangkuk. Pertama, Anda akan mendapatkan toge dan bumbu kacang. Sebagaimana kita semua tahu, kacang kaya akan kalori dan nutrisi vitamin e dan asam lemak omega-3. Orang yang mengkonsumsi kacang memiliki risiko lebih rendah terkena serangan jantung daripada mereka yang tidak mengkonsumsi kacang. Ini karena lemak tak jenuh dalam kacang membantu menurunkan kolesterol darah sehingga mencegah penggumpalan darah yang dapat mengganggu kerja jantung.

Selain kacang, Anda akan bertemu dengan bawang putih. Si mungil ini sangat berguna untuk membantu melawan pilek karena ia adalah antiobiotik alami. Ia membantu memperlancar peredaran darah dan menurunkan kolesterol. 

Anda akan juga menemukan daging dalam mangkuk Sroto Anda. Daging merupakan sumber potein yang sangat baik untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh. Daging kaya akan vitamin dan mineral. Meskipun demikian, ingatlah bahwa konsumsi daging berlebihan dapat meningkatkan jumlah bakteri berbahaya dalam usus.

Dan jika Anda menambahkan mendoan sebagai teman bersantap sroto Anda, Anda akan mendapatkan sejumlah manfaat dari kedelainya seperti: menurunkan tekanan darah tinggi, kadar kolesterol serta menurunkan risiko penyakit jantung. Hanya berhati-hatilah dengan penggunaan minyak gorengnya yang kurang baik untuk kesehatan jika sudah terlalu sering dipakai. Dan perhatikan juga kerupuknya. Demi kesehatan Anda, konsumsilah kerupuk yang dibuat dengan pewarna khusus untuk makanan.

05 October 2012

Mengurai Writer's Block

3:19 PM Posted by Dyah Utami , , No comments
Paolo Coelho pernah mengatakan bahwa satu-satunya saat di mana Ia mengalami writer's block atau kebuntuan dalam menulis adalah saat komputernya rusak. Saya pikir, itu keren banget dan seharusnya semua penulis seperti dia.

Tetapi sayangnya tidak begitu. Bagi sebagian dari kita writer's block itu nyata, sama nyatanya dengan hantu. Artinya, Anda bebas memilih apakah writer's block itu ada atau tidak.

Bagi saya, writer's block itu nyata. Mungkin sebagian orang akan memandang sikap ini sebagai tidak professional, tetapi hey, itulah yang terjadi. Setelah menyelesaikan novel terakhir saya, energi saya seperti terkuras habis. Ada ide baru yang muncul, tetapi entah kenapa setiap kali saya mencoba membuat konsepnya, saya selalu tidak puas. Saya selalu menemukan jalan buntu. Tidak peduli berapa banyak buku yang saya baca. Ada yang salah, tetapi saya tidak tahu apa.

Dan saat itu saya menyadari bahwa itulah writer's block saya. Pada awalnya saya membencinya. Saya ingin kembali ke masa saat saya mengerjakan novel sebelumnya. Dunia terasa indah, penuh kupu-kupu, kata-kata saya lancar. Itu yang saya inginkan. Tetapi bukan seperti itu kenyataannya.

Baru kemudian saya menyadari bahwa tidak seharusnya saya membenci writer's block itu. Saat masalah datang, sebenarnya ia tengah mengatakan ada sesuatu yang salah Entah kita kurang motivasi (sehingga malas), kurang ilmu, kurang riset, kurang mencintai ide kita, jenuh, ada masalah, dan sebagainya. Hanya Anda yang bisa menanyakan itu pada diri Anda sendiri dan menemukan jawabannya.

Jadi bagaimana jika Anda menghadapi writer's block. Ini sedikit tips untuk menguraikannya.

  1. Terima writer's block sebagai bagian dari lingkaran kreativitas. Kadang Anda dapat ide, kadang tidak. Tetapi jangan jadikan ini alasan. Teruslah mencari ide yang lain.
  2. Jika Anda kurang motivasi, tanyakan pada diri Anda sendiri alasan dasar mengapa Anda harus menyelesaikan tulisan Anda. Niat yang positif biasanya lebih memudahkan Anda meremukkan writer's block daripada niat seperti ingin terlihat hebat.
  3. Salah satu alasan mengapa Anda mendapat writer's block adalah Anda tidak berpikir dengan lancar. Coba cari tahu bagaimana orang kreatif seperti Da Vinci atau Edison (atau mungkin penulis favorit Anda?) memecahkan kebuntuan mereka.
  4. Sumber ide yang kering juga mungkin menjadi alasannya. Carilah ide baru lewat buku atau pengalaman hidup baru
  5. Carilah pendapat dari teman Anda yang bisa dipercaya. Mungkin mereka bisa melihat apa yang salah saat Anda tidak.
  6. Jika Anda memang jenuh, beristirahatlah. Tubuh Anda memiliki hak untuk istirahat. Menulis itu seperti lari marathon, bukan lari 100 m. Untuk bertahan dalam jangka panjang, Anda perlu mengatur energi dengan baik.
  7. Yang terakhir, bersikaplah fleksibel. Mungkin ada ide yang lebih baik di luar sana. Tinggalkan ide lama Anda tetapi jangan melupakannya.
Catatan: Saran di atas tidak berlaku jika Anda menghadapi tenggat waktu. Sorry, jenuh atau tidak jenuh Anda harus memenuhi tugas Anda kalau Anda masih ingin bertahan.

 

18 September 2012

Marginalia - Teaser Bab 1

8:17 PM Posted by Dyah Utami , , , , , 16 comments
'Novel Pemenang Lomba Romance Qanita yang akan diterbitkan oleh Penerbit Qanita'.

MARGINALIA
#1

ARUNA
Cahaya blitz. Teriakan penggemar. Kamera. Wartawan. Untuk sesaat, semua yang terjadi di dalam kafe ini terasa tidak nyata. Benarkah ini terjadi sekarang atau aku kembali ke masa lalu? Di sampingku, Fendi, adik sekaligus manager Lescar sibuk menjual kata-kata indahnya kepada wartawan. Ia terlihat begitu hidup, hingga aku lupa kapan terakhir kali aku melihatnya sehidup itu. Setahun yang lalu? Sebelum Padma meninggal? Sebelum aku memutuskan meninggalkan Lescar?
“Jimi adalah vokalis hebat,” kata Fendi kepada wartawan. “Tetapi melihat Ren kembali seperti formasi awal Lescar, ini luar biasa. Semoga ini awal yang baik untuk album ketiga Lescar.”
“Apakah keputusan mengganti Jimi ini ada hubungannya dengan penangkapan Jimi karena narkoba kemarin?”
“Eight Records memiliki komitmen anti narkoba bagi semua artisnya,” kata Fendi. Ia mulai berkeringat, tidak nyaman mendengar pertanyaan itu. Lescar, sebagai artis yang bernaung di bawah Eights Records juga begitu. Jika ada anak Lescar yang memakai narkoba, ia harus menerima konsekuensinya.”
“Ren, apa Anda sungguh-sungguh kembali ke Lescar atau hanya sementara saja?” Wartawan beralih kepadaku.
Bangji, bassist Lescar, menyikutku. Aku tergagap dan kemudian menutupinya dengan senyumku. Tentu saja sungguhan. Kalau cuma sesaat, itu sama artinya dengan saya mengecewakan fans Lescar.”
“Benarkah Anda vakum dari Lescar karena depresi, Ren?”
Akhirnya pertanyaan itu keluar juga. Mendadak, aku bisa melihat Padma duduk di antara wartawan, tersenyum ke arahku. Waktu seperti membeku di sekitarnya. Rambutnya yang lurus panjang tergerai indah, matanya yang indah kembali mencuri jiwaku. Aku seperti bisa suaranya yang jernih membacakan puisi Rumi.
“Heh, kalian semua berlebihan,” sela Juna, gitaris Lescar. “Memangnya kalian semua nggak pernah ingin istirahat? Roker juga manusia, bukan pisau belati.”
Beberapa wartawan tertawa mendengarnya.
 “Bagaimana perubahan formasi ini memengaruhi pembuatan album ketiga Lescar?”
“Nggak masalah,” kata Fendi. “Kami baru merekam satu atau dua lagu bareng Jimi.  Dan kalian tahu apa yang lebih keren?  Ren telah membuat lima lagu untuk album terbaru Lescar.” Fendi bangkit. Ia semakin bersemangat. “Jadi, bagaimana, apa kalian semua mau mendengarkan lagu terbaru Lescar?”
Semuanya berteriak. Mereka telah lupa bagaimana aku menghilang secara setahun. Mereka telah lupa semua gosip tentang Padma dan aku. Mereka hanya perlu mengingat saat ini, saat Lescar kembali ke atas panggung.
Maka aku meraih mike, membiarkan irama mengambil alih tubuhku. Aku telah kembali ke elemenku. Irama rock Lescar segera menghentak, menggoyang kafe itu. Tidak perlu waktu lama sebelum fans Lescar ikut menjerit, larut dalam suaraku. Aku baru menyadari betapa aku merindukan dunia ini. Dunia di mana segalanya gemerlap, penuh raungan, keringat, cahaya dan blitz kamera dan teriakan fans Lescar.
Aku pikir, inilah akhirnya. Aku tak membutuhkan yang lain lagi. Satu orang Padma lebih dari cukup untuk menggelapkan duniaku dan aku tidak mau kembali ke sana. Akan tetapi, aku salah. Sesuatu akan terjadi, dan sekali lagi aku tidak berdaya mengikuti permainan takdir. Karena takdir sudah lama memutarkan rodanya, jauh sebelum aku menyadarinya.

DRUPADI
Ketika pagi itu Inez menelpon, aku tahu hari itu akan menjadi hari yang buruk. Aku membenci Inez. Tidak, aku ingin membunuhnya. Aku ingin menjebloskannya ke dalam brankas besi dan kemudian melesakkannya ke palung laut yang paling dalam. Tetapi sialnya aku tidak bisa melakukannya. Pertama karena ia adalah sepupuku, putri dari Tante Lisye yang tercinta dan yang kedua karena ia adalah klien terbesar usahaku, wedding organizer Luna Nueva. Aku benci mengakuinya, tetapi tanpa Inez dan calon suaminya yang sangat kaya itu, Luna Nueva mungkin sudah bangkrut berlumuran hutang.
Tetapi masalahnya,  Inez berubah lebih cepat daripada orang minum obat dalam sehari. Hari ini ia meminta konsep pernikahan simply elegant, besoknya ia akan menginginkan konsep tradisional yang mewah, dan sebelum aku sempat merancangnya, ia akan meminta konsep pernikahan di pinggir pantai. Begitu terus sehingga anak buahku nyaris angkat tangan.
Dan Inez selalu melakukannya pada saat yang tidak tepat. Seperti pagi ini, saat mobilku mendadak mogok di tengah jalanan macet. Di belakangku, belasan mobil sibuk merongrongku. Chiya, asistenku yang mungil itu, terpaksa turun untuk mendorong mobilku. Namun baru beberapa langkah, Chiya berhenti mendorong. Dari kaca spion aku bisa melihat Chiya menerima telepon dengan wajah panik.
Aku berdecak jengkel. Hanya ada satu orang yang bisa membuat Chiya panik.
“Inez?” tanyaku begitu kami sudah berhasil meminggirkan mobil.
“Iya, mbak Inez minta ganti venue.”
“Lagi?” Nadaku meninggi. “Nggak usah diturutin, Chiya. Aku akan ke rumahnya siang ini dan meminta ketegasan. Kalau Inez terus berubah, lebih baik dia nggak usah pakai Luna Nueva aja!”
“Aduh, Ibu. Jangan,” Chiya kelihatan panik. “Kalau mbak Inez mundur, ntar teman-temannya mbak Inez kabur juga. Udah ada dua yang deal, nih. Empat lagi sudah kelihatan positif.  Lagipula dia udah mau memakai konsep simply elegant yang kemarin aku ajuin itu. Masalahnya cuma di venue. Mbak Inez maunya nikah di venue yang belum pernah dipakai sebelumnya.”
“Apa? Di Jakarta ini mana ada tempat yang belum pernah dipakai orang untuk menikah sebelumnya? Apa dia mau nikah di kuburan atau TPA?”
“Maksudnya tempat baru, Bu.” Chiya merajuk. “Ibu, jangan marah-marah gitu, dong.”
Aku membanting pintu mobil, melampiaskan amarahku. Semua orang selalu mengatakan bahwa aku adalah orang yang tegas dan sulit berubah pikiran. Aku bisa memecat orang dalam lima menit, tidak peduli orang itu punya lima anak dan ibu yang kena stroke. Tetapi kecuali ibuku, tidak ada yang tahu aku punya titik lemah pada segala sesuatu yang polos dan lembut. Jika ada kucing atau anak anjing yang menatapku dengan tatapan polos, meski terkadang aku ingin memenggal kepala mereka, aku tidak berdaya menolak permintaan mereka. 
“Oke,” kataku mengalah. “Nanti kita pikirkan. Sekarang mendingan kita mikirin mobil ini dulu.” Tanganku meraih ponselku, menekan nomer telepon bengkel.  
Di atasku, langit mulai menderu. Angin bertiup kencang, membawa terbang daun kering dan menerjang mata dan blazer hitamku. Aku menatap langit dan menyaksikan awan abu-abu bergumul menjadi satu. Perasaanku mengatakan hujan akan turun dengan cepat. Aku mendengus kesal. Mengapa hal-hal buruk selalu datang berendengan?
“Eh, ada kafe?” Mendadak Chiya bersuara. “Ibu, ada kafe di sini!”
Aku mengalihkan pandanganku pada Chiya. Aku baru sadar kami berdiri tepat di depan sebuah jalan setapak kecil. Tanaman rambat, bedeng bunga dan lentera tua tertata rapi menghiasi sepanjang jalan setapak, berusaha mengundang orang untuk masuk ke dalamnya. Tetapi, jika tidak ada papan kayu putih bertuliskan Kafe Marginalia, aku tidak akan menyadari kehadiran tempat itu.
“Bu, kita cek, yuk. Siapa tahu mau jadi venue.”
 “Chiya, orang menikah itu untuk pamer, bukan untuk main petak umpet. Nggak ada yang mau menikah di tempat tersembunyi seperti itu.”
“Kalau nggak ada yang tahu, berarti belum pernah ada yang menikah di situ, kan?”
“Enggak, Chiya.”
Tetes hujan mulai berjatuhan. Aku mendongak. Hujan turun semakin cepat. Aku mengeluarkan kunciku dan memutuskan untuk menunggu pihak bengkel di mobil saja. Namun Chiya berpikiran lain.
Chiya berlari masuk.
“Chiya!” teriakku.
Saat itu, seharusnya aku membiarkan Chiya. Toh kami akan bertemu lagi di kantor dan aku bisa memarahinya sepuas hatiku. Namun aku justru melakukan hal yang sebaliknya. Aku mengikuti Chiya masuk, berlari menyusuri jalan setapak dengan gemuruh dan rintik air hujan di atas kepalaku.
Untuk beberapa saat, aku hanya fokus menghindarkan diriku dari derau air hujan. Aku tidak tahu aku ada di mana, ke mana aku berlari. Aku teringat menginjak rerumputan yang basah, patung cupid dan bunga teratai di dalam kolam, petir yang mengguncang dan akhirnya suara lonceng saat Chiya mendorong pintu.
“Selamat!” Aku mendengar seseorang berkata. Aku tidak memperhatikannya karena aku sibuk mengurai hujan dari rambut dan blazerku. Baru kemudian aku menemukan seorang lelaki pendek tersenyum lebar padaku. Ia mengingatkanku pada kue mochi: padat, bulat, dan hangat. “Selamat karena Anda berdua berhasil menemukan kafe kami.”
Untuk sesaat, aku mengira aku salah masuk ke sebuah perpustakaan kuno. Baru setelah aku menyadari ada meja dan kursi serta bau kopi yang semerbak, aku sadar aku telah memasuki sebuah kafe. Kafe itu terlihat kuno, seperti telah berabad-abad ditinggalkan orang dan sekarang ditemukan kembali. Aku sedikit khawatir kafe itu akan runtuh karena petir, tetapi sepertinya kafe itu cukup tokoh dan terawat dengan baik. Rak bukunya terbuat dari jati, lampu hiasnya sederhana namun terlihat kokoh meski telah dimakan usia. Sayang, semua itu dinodai dengan pemilihan kayu murahan untuk undak-undakan. Jadi ini yang kutebak tentang kafe Marginalia: dulu adalah toko buku yang berkelas, namun kemudian jatuh ke keturunannya yang miskin yang mengubahnya menjadi kafe.
“Anda ingin pesan apa?” tanya lelaki itu. Di dadanya tertera namanya, Gandi. “Tunggu dulu, biarkan saya menebak. Anda pasti suka espresso. Dan untuk Anda,” Ia tersenyum pada Chiya. “Anda pasti suka cokelat hangat.”
“Eh, betul banget,” Chiya tertawa kecil. “Kok tahu?”
Gandi tergelak senang.  “Mungkin aura Anda. Mungkin pakaian Anda. Mungkin saya hanya asal menebak. Anda berdua pegawai di mana?”
“Sebenarnya, kami dari wedding organizer Luna Nueva,” Aku mengeluarkan kartu namaku dengan sopan. “Saya Drupadi dan ini asisten saya, Chiya.”
Wedding organizer?” Gandi kelihatan terkejut. “Saya Gandi, pemilik kafe ini. Itu istri saya, Sonya.” Ia mengarahkan tangannya pada seorang perempuan kurus berambut hitam panjang di balik meja kasir. Ia mengingatkanku pada Sadako.
“ Oh, ya. Selagi Anda di sini, Anda bisa menuliskan marginalia di buku.”
“Mar-Mar apa?” tanyaku.
 “Marginalia,” kata Gandi. “Catatan pinggir di buku. Semua buku di sini boleh dibaca dan diberi catatan kecil di sampingnya.”
Aku tidak begitu tertarik pada buku. Bagiku hubungan dengan buku berakhir setelah kuliah selesai. Tetapi Chiya berbeda. Ia langsung meraih buku terdekat yang bisa ia raih. Tak lama kemudian ia terkikik sendiri.
“Maka Malin Kundang yang telah membatu menggelinding dan menggelinding hingga menghantam rumahnya. Ibunya mati seketika. Itu balasan bagi ibu yang tidak bisa mendidik anaknya. Apa itu yang Anda maksud dengan marginalia?”
“Tentu saja. Anda bisa menulis apa saja di samping buku.”
“Termasuk ‘brengsek’, atau ‘kamu ngomong apaan sih?” kataku sinis.
Chiya mencari buku lain dan menunjukkan foto seorang penulis perempuan yang ditambahi kumis dan giginya diwarnai hitam. Gandi terbahak melihatnya.
“Itu perbuatan ayah saya,” katanya sedikit malu. “Penulisnya terlalu narsis dan tulisannya tidak bermutu. Jadi, ayah saya membalasnya.”
 “Buat apa Anda mengizinkan orang mencorat-coret buku Anda? Apa nggak sayang?” tanyaku heran.
Itu karena kami percaya, buku itu hidup.”
Aku mengangkat satu alisku, tidak mengerti.
Banyak orang merasa sayang mencorat-coret buku mereka, tetapi menurutku kebanggaan terbesar sebuah buku adalah saat seorang manusia mengambilnya dari sekian banyak buku yang ada, membacanya dengan sepenuh hati, menekuk ujung halamannya, meninggalkan marginalia di samping tulisan yang sudah ada dan kemudian melanjutkannya kepada manusia lain. Itulah saat sebuah buku menjadi hidup, karena kemudian mereka akan menciptakan keajaiban.”
Aku mencoba menelaah kalimatnya yang terdengar ajaib di telingaku.
Tetapi keajaiban itu nggak ada. Semua yang kita sebut sebagai keajaiban hanyalah gejala yang belum bisa dijelaskan saja. Telepon, listrik, pergi ke bulan, bukankah dulu terlihat seperti keajaiban di mata nenek moyang kita?”
Gandi tergelak mendengar ucapanku. “Ah, tipe yang tidak percaya pada keajaiban.”
Bu Dru bilang, kalau di dunia ini ada keajaiban, kita tinggal duduk manis dan perang akan berhenti dengan sendirinya,” tambah Chiya. “Iya kan, Bu?”
 “Betul, Chiya. Alam ini hidup dalam aturannya sendiri, terkadang acak dan jalang. Tidak ada yang romantis ataupun ajaib tentang kehidupan.”
“Masa?” Sonya datang membawakan pesanan kami. Sebuah senyuman misterius tersungging di wajahnya. Aku sama sekali tidak menyukai senyuman itu. Pada saat itu aku berharap aku sama sekali tidak pernah datang ke tempat itu atau mengikuti perbuatan konyol Chiya karena kemudian Sonya menunduk dan berbisik ke telingaku, mengatakan sesuatu yang membuat bulu kudukku mendadak berdiri.
“Hati-hati. Biasanya orang yang bicara seperti itu akan kena batunya.”