Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

09 December 2010

Seekor Katak dan Dinding Trotoar

9:15 AM Posted by Dyah Utami , 4 comments

Waktu telah menunjukan jam sepuluh malam ketika saya melalui kompleks belakang menuju rumah saya. Pada siang hari, daerah itu adalah salah satu bagian favorit tempat tinggal saya. Sebuah taman panjang teratur menghiasi tepian sungai, menciptakan oase kecil di tengah-tengah Jakarta yang padat. Bahkan saya menggunakan taman di sepanjang sungai itu sebagai setting novel saya.

Akan tetapi, di malam hari, taman itu tidak terlalu menarik lantaran situasinya yang sangat sepi dan pencahayaannya yang tidak merata, terutama pada bagian ujung taman. Apalagi malam itu hujan rintik-rintik turun, membuat saya semakin cepat melangkah.

Saat saya mencapai ujung taman itulah kemudian saya melihat seekor katak.Sebenarnya bukanlah hal yang aneh jika saya melihat katak di sana. Namanya juga dekat dengan sungai. Saya teringat dulu ketika tanah lapangnya dibiarkan liar. Setelah hujan, akan terdengar orkestra katak saling bersahutan. Sungguh menyenangkan.

Untuk beberapa saat, saya tertarik untuk mengamati makhluk kecil itu. Katak itu tengah berusaha melompat sekuat tenaga untuk naik ke atas trotoar. Tentu saja dengan badannya yang kecil, sulit baginya untuk mencapai trotoar dan akhirnya sampai ke sungai. Tetapi ia tidak berhenti melompat. Ia terus melompat dan terus melompat. Saya sempat berpikir, sampai kapankah katak itu akan terus melompat? Trotoar itu cukup panjang dan nyaris tidak ada bagian yang lebih rendah bagi sang katak untuk bisa mencapai sungai.

Akan tetapi saya salah. Ternyata ada satu lubang kecil di ujung trotoar. Lubang itu dibuat agar air dari jalanan bisa mencapai sungai. Jika sang katak mau bekerja lebih lama lagi, ia akan menemukan lubang itu dan ia akan kembali ke sungai.

Pikiran itu membawa saya pada diri saya sendiri. Meskipun saya mencintai menulis, tetap saja ada momen di mana saya mempertanyakan semua arti hidup saya. Apakah menulis dapat membuat saya hidup berkecukupan? Apakah saya hanya hidup dalam ilusi saya sendiri? Bagaimana kalau tidak ada yang menyukai tulisan saya? Apakah saya tidak realistis dengan kondisi perbukuan di Indonesia?

Kegigihan katak itu dalam melompat itu membuat saya merenung. Mungkin seperti katak, tujuan hidup manusia adalah sungai itu. Kita semua memiliki sungai itu. Entah berupa kebahagian di dunia dan di akhirat, kekayaan, cinta, kepopuleran dan lain-lain. Untuk mencapainya, selalu ada trotoar tinggi yang harus dilompati: keluarga yang tidak setuju, situasi ekonomi yang tidak mendukung, bakat yang dirasa kurang, dan lain-lain. Saya tidak tahu apakah kemudian katak itu memilih meninggalkan sungai dan menerima tinggal di selokan saja. Akan tetapi, saya berharap katak itu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Begitu juga kita semua. Memang pada akhirnya kita semua dihadapkan pilihan apakah kita akan terus mengejar mimpi kita atau akhirnya menerima hidup apa adanya. Akan tetapi, kalau kita mau percaya bahwa ada lubang kecil itu, pada akhirnya kita akan menemukannya, meskipun butuh waktu lama untuk menemukannya. Hanya saja, berapa banyak dari kita yang bersedia berjuang begitu lama dan begitu keras untuk mencapai mimpi yang mungkin tinggal sedikit lagi tercapai?

Saya tidak tahu apakah saya bisa menjadi seorang penulis yang baik. Tetapi seperti katak itu yang hanya bisa meloncat, saya juga hanya bisa menulis. Saya hanya bisa berharap, suatu saat saya akan menemukan lubang kecil itu dan akhirnya mencapai sungai saya sendiri.

29 November 2010

Event Menulis Nanowrimo: Sebuah Catatan

9:06 PM Posted by Dyah Utami , 2 comments
salah satu ide menambah word count

Bagi saya, mungkin tidak ada kegiatan menulis tahunan yang lebih menarik dibandingkan nanowrimo. Ini karena nanowrimo berarti dua hal: bertemu dengan rekan sesama penulis (sepertinya justru ini yang lebih menarik) dan tentu saja, menulis novel. Bukan berarti saya tidak menulis novel di luar kegiatan menulis ini. Hanya saja, ide menulis novel dari dasar, berjuang bersama sesama rekan penulis dan akhirnya menang bersama-sama, tetap menarik bagi saja meski sudah tiga kali saya melakukannya.


Nanowrimo: Apaan sih itu?
Nanowrimo adalah singkatan dari National Novel Writing Month. Gampangnya, nanowrimo adalah  kegiatan menulis novel bareng seluruh dunia. Yup. SELURUH DUNIA.  Mulai tanggal 1 November, kamu mulai menulis novel dari dasar atau halaman pertama, hingga kamu mencapai 50.000 kata. Harus 50.000 kata atau kamu tidak akan mendapat gelar winner. 
Jangan panik dulu. 50.000 itu tidak terlalu banyak, lho (tapi juga tidak terlalu sedikit). Kalau dikonversikan ke dalam halaman, mungkin sekitar 150 halaman. Agar beban kerja kamu tidak terlalu berat, kamu cukup mengetik sekitar 1.667 kata per hari. Pada hari ke 30, kamu akan mendapatkan  50.000 kata. Untuk mengetahui jumlah kata, kamu bisa mengecek word count yang ada di word processor kamu.


Apa untungnya ikutan Nanowrimo?
Sayangnya, tidak ada medali emas atau Ipad baru menanti kamu. Yang jelas, kamu akan mendapatkan kepuasan batin karena berhasil menyelesaikan novel yang kamu ingin tulis selama ini.  Tahap pertama kepenulisan telah kamu lalui dan kamu dapat melanjutkannya ke jenjang berikutnya, menyuntingnya.
Nanowrimo juga membantu kamu lebih disiplin, sesuatu yang sangat penting kalau kamu ingin serius jadi penulis. Dan karena kamu akan berhubungan dengan sesama penulis, kamu juga akan mendapatkan jaringan penulis yang lebih luas. Siapa tahu kamu akan dapat kenalan dari penerbit!


Nanowrimo bagi saya
Saya suka nanowrimo. Dua novel saya yang sedang ada di tangan penerbit ditulis ketika saya melakukan nanowrimo. Tahun 2010 ini, saya memanfaatkan nanowrimo untuk sedikit keluar dari jalur dan menulis cerita fantasi, sesuatu yang tak pernah baik saya lakukan. Saya pikir, inilah momen untuk membebaskan diri saya tanpa ada beban dari pihak manapun (termasuk diri saya sendiri). Dan hasilnya cukup mengejutkan. Saya merasa cerita fantasi saya tidak buruk-buruk amat (meskipun tidak bagus-bagus juga).


Tips Memenangkan Nanowrimo Buat Sang Pemalas

  1. Siapkan ide novel Nanowrimo beberapa hari sebelum mulai lomba. Ini jauh lebih bagus daripada kamu benar-benar blank pada saat nanowrimo dimulai 
  2. Tuliskan apa yang ada di pikiran kamu mengenai novelmu.  Anggap kamu sedang berlatih menulis novel, bukan menulis novel. Hal ini membuat pikiranmu lebih nyaman dan tidak terbebani.
  3. Tidak perlu menulis bab per bab. Tuliskan setiap adegan yang kamu bayangkan tentang novel kamu. Jika kamu malas menulis bab tertentu, lewatkan saja dan lanjutkan ke bab lainnya. Toh yang membaca hanya kamu.
  4. Jika kamu sudah muak dengan komputermu dan ingin menulis di atas kertas, lakukan saja. Nanti kamu dapat mengira-ngira jumlah katanya dan menambahkannya di file novelmu. Tak perlu mengetik ulang.
  5. Jika kamu sudah kehabisan ide tentang plot, lakukan pembahasan tentang tokoh-tokohmu. Kamu akan mengenali tokohmu dengan lebih baik dan kamu juga akan menambah word count.
  6. Pada awal nanowrimo, tulislah sebanyak mungkin sebagai ‘tabungan’. Semakin ke belakang, tentu ada kecenderungan api perjuanganmu padam, entah karena idemu semakin mengecil atau kamu terlalu sibuk. Dengan tabunganmu, beban tulisanmu menjadi berkurang namun kamu tetap berpeluang menjadi pemenang.
  7. Kumpul bareng bersama penulis lain di Write-Ins. Kamu bisa dapat tambahan ide baru sekaligus menambah teman.
  8. Beri hadiah kecil bagi dirimu setiap minggu jika kamu berhasil mendapatkan target. Mungkin hanya sekedar es krim atau nonton bioskop. Apapun yang membuat kamu bertambah semangat.

20 September 2010

7 Kebiasaan Buruk Penulis yang sering dipelihara!

8:58 PM Posted by Dyah Utami , No comments
Tidur tidak akan menambah jumlah halaman tulisan Anda. :D
Sebagai penulis, atau mungkin calon penulis, kamu pasti punya sejumlah kebiasaan. Ada yang baik dan ada juga yang buruk. Cobalah untuk mengenali sejumlah kebiasaan buruk penulis dan menghancurkannya. Ini semua demi diri penulis kamu yang lebih baik. Kebiasaan buruk penulis itu antara lain:
  1. Tidak disiplin. Ini adalah adalah kebiasaan buruk penulis yang utama. Karena kamu pikir kamu seniman, kamu punya hak untuk tidak disiplin. Salah besar. Banyak penulis besar yang memasang waktu khusus untuk menulis. Ada ide atau tidak, mereka harus ada di depan komputer dan menulis. Selain itu, jika kamu malas, kamu tidak akan menepati tenggat waktu. Penerbit bisa jadi enggan menggunakan kamu lagi.
  2. Menunggu mood menulis. Kalau kamu harus menunggu suasana hati yang tepat untuk menulis, kamu akan sulit menemukannya. Selalu ada hal yang dapat mengganggu kamu: tetangga kamu yang sibuk memasang petasan, adik kamu yang menangis atau bahkan bajaj yang tak henti-hentinya lewat di depan rumah. Jadi kapan kamu bisa menulis? Sebenarnya, kamu perlu melanjutkan kebiasaan buruk penulis ini. Kamu bisa menulis kapanpun tanpa menunggu mood. Katakan saja pada dirimu: Saya mau menulis sekarang. Sekarang adalah mood yang tepat untuk menulis. Otak saya akan mengeluarkan ide-ide yang brillian.
  3. Terlalu sibuk. “Aduh, saya terlalu sibuk kerja.” Atau “tugas kuliah ini terlalu berat.” Kalau kamu memang benar-benar berniat menjadi penulis, tidak ada alasan mempertahankan kebiasaan buruk penulis ini. Karena jika kamu menundanya sekarang, besar kemungkinan kamu akan terus menundanya.
  4. Takut idenya tidak orisinil. Kebiasaan buruk penulis ini lahir karena kita ingin menjadi sempurna, ingin menjadi yang pertama. Padahal di dunia ini, semua ide pasti pernah terpikirkan oleh penulis. Yang bisa kita lakukan adalah mengolah ide itu dengan lebih baik dibandingkan sebelumnya.
  5. Meniru ide orang lain. Kamu pikir karena Stephanie Meyer bisa kaya dengan menulis tentang vampir, kamu juga akan sukses menulis tentang vampir. Nyatanya, dengan melakukan kebiasaan buruk penulis ini, kamu hanyalah seorang pengekor. Atau bisa jadi saat buku vampir kamu selesai, trend buku sudah mengarah ke tema yang lainnya.
  6. Enggan mencatat ide dan berpikir akan mengingatnya. Kamu punya ide akan tetapi kamu sedang berada di dalam angkutan umum. Jadi kamu putuskan untuk menulis ide itu nanti saja di rumah. Salah! Ini adalah kebiasaan buruk penulis yang harus dibuang karena bisa jadi, kamu kehilangan ide saat kamu menundanya. Karena itu selalu sediakan bolpen dan kertas.  Kamu tidak pernah tahu kapan ide kamu datang.
  7. Takut hasilnya tidak sempurna. Kebiasaan buruk penulis ini lahir dari keinginan kamu untuk sempurna. Kamu terus merevisi berkali-kali. Tapi sadarkah kamu bahwa tidak ada gading yang tidak retak? Karenanya, cukup sampai kamu puas (atau sedikit puas) dan kemudian kirim hasilnya ke penerbit. Mereka akan memberikan masukan yang mungkin tidak kamu pikirkan sebelumnya.

Makanya, sebelum kebiasaan itu mendarah daging, hentikanlah. Ubah kebiasaan buruk penulis dalam dirimu dan jadilah penulis yang lebih baik!

11 September 2010

6 Cerita Rakyat Indonesia Terbaik bagi Anak Anda.

6:32 PM Posted by Dyah Utami 4 comments
Anak Anda minta didongengkan sebelum tidur dan Anda meraup buku cerita rakyat terdekat yang bisa Anda Apa yang Anda dongengkan? Cerita rakyat Hansel dan Gretel yang memanggang nenek sihir? Oh tidak. Tentu Anda tidak ingin anak Anda bermimpi buruk, bukan?

Di sini saya memilih sejumlah cerita rakyat yang baik untuk diceritakan kepada anak Anda. Cerita rakyat tersebut mengandung moral pembelajaran yang baik serta memiliki jalan cerita yang menarik bagi anak-anak.


Beberapa cerita rakyat Indonesia yang baik untuk anak (menurut saya) adalah:


6. Malin Kundang (Sumatera Barat) atau Batu Menangis (Kalimantan Barat). 
Cerita rakyat yang amat terkenal ini selalu menjadi sumber pembelajaran yang baik agar anak tidak durhaka pada orang tuanya. Anak Anda juga dapat melihat dampak buruk bersikap sombong. Hanya saja kalau kita mau jujur, apakah orang tua Malin Kundang juga baik karena tega mengutuk anaknya?


5. Bawang Merah Bawang Putih (Jawa Tengah) atau Burung dan Semangka (Kalimantan Selatan). 
Cerita rakyat ini juga sama terkenalnya dengan kisah malin kundang. Kita selalu bisa belajar tentang orang-orang sabar dan jujur yang akhirnya menemukan kebahagiaan. Cinderella ala Indonesia ini juga akan disukai oleh anak perempuan. Meski bukan berupa kisah Cinderella, Burung dan Semangka memiliki alur yang sama dengan Bawang Merah Bawang Putih.


4. Beribu Kandung Seekor Kucing (Jambi). 
Singkatnya ini adalah kisah dua anak yang tidak terima karena memiliki ibu kandung seekor kucing dan memutuskan untuk mencari penggantinya. Saya menyukai cerita rakyat ini karena memiliki alur kisah pencarian yang menarik dan memiliki kisah moral yang menarik. Anak-anak dapat belajar bersyukur dan bahwa apa yang mereka miliki merupakan yang terbaik bagi mereka. 


3. Si Kancil (Jawa). 
Makhluk mirip rusa ini dikenal cerdik dalam mengatasi musuh-musuhnya seperti Pak Tani, Buaya atau Harimau. Meskipun demikian, berhati-hatilah dalam memilih episode si kancil agar si kecil Anda mampu membedakan kecerdikan dengan keculasan. Salah satu episode favorit saya adalah saat si kancil menghadapi buaya.


2. Rusa dan Si Kulomang (Maluku Utara). 
Ini adalah versi lokal untuk kisah perlombaan antara kelinci dan kura-kura. Cerita rakyat Indonesia ini bukan saja menegangkan, tetapi juga mengajarkan moral yang baik bagi anak-anak. Ketekunan menjalani sesuatu lebih baik daripada terburu-buru dan kemudian berhenti di tempat.


1.Timun Mas (Jawa Tengah). 
Jika saya hanya boleh memilih satu cerita rakyat yang didongengkan kepada anak-anak, saya akan memilih kisah tentang Timun Mas. Timun Mas memiliki segalanya. Musuh yang sulit untuk dikalahkan (raksasa), konflik antara timun mas dan raksasa dan yang paling penting, mengajarkan pada anak-anak keberanian untuk melawan kejahatan.


Inilah bekal pilihan Anda untuk mendongengkan pada anak Anda. Di luar ini, tentu saja masih ada cerita rakyat Indonesia yang menarik untuk diceritakan. Hanya saja pastikan Anda membacanya secara tuntas sebelum memutuskan untuk menceritakannya. Selamat mendongeng!

24 July 2010

Pemboenoehan Tempoe Doeloe - Sebuah Catatan dari Perpustakaan Nasional

7:58 PM Posted by Dyah Utami , , , 1 comment
Ada yang psikopat, ada yang kejam, ada yang berusaha menipu polisi
Hari ini saya memutuskan untuk pergi ke Perpustakaan National dengan satu alasan sederhana, saya kehabisan ide. Saya pikir, berjalan-jalan sedikit, membaca koran luamaaa siapa tahu dapat membantu saya menciptakan (adegan) pembunuhan lebih baik lagi.
Jadi, setelah mengurusi pendaftaran barang sejenak (yang sistemnya sudah jauh lebih baik daripada waktu zaman kuliah saya), saya memutuskan untuk pergi ke bagian mikrofilm di lantai empat. Terus terang, saya belum tahu koran apa yang harus dibaca. Jadi, saya main tebak menebak saja. Saya comot sebuah nama yang memiliki banyak publikasi dari daftar mikrofilm yang tersedia, Bintang Timoer. Usut punya usut ternyata salah satu penjaga gawang Bintang Timoer adalah Armijn Pane. Hayo, siapa yang masih ingat siapa Armijn Pane?
Ternyata sadis juga
Kebanyakan kasus kejahatan hanya ditulis dalam beberapa baris. Maklum saja waktu itu, sekali terbit, Bintang Timoer hanya 8 halaman di mana ia harus membagi tempat untuk berita luar negeri, olahraga, bagian untuk perempuan dan bagian khusus bahasa Belanda. Tapi soal isi, jangan salah. Bisa sama ngerinya dengan berita kejahatan zaman sekarang. Contohnya ini.
Ditombak dan Ditjintjang
Dari pemekasan dikabarkan bahwa di Sampang, onderdistrict Darmotjamplong seorang pentjoeri hewan telah kepergok dan telah ditoembak, kemoedian ditjintjang.
Majatnya dimasokkan dalam karoeng dan dilempar ke kali.
Orang jang berlakoe kedjam itoe telah tertangkap. (24 augustus 1935)
Atau bagaimana dengan yang ini?
Diboenoeh Toejoeh Orang
Dari Pamekasan Aneta kabarkan, bahwa dalam onderdistrict Waroe telah kedjadian pemboenoehan kedjam. Korban itoe dipegang oleh ampat orang sedang sedang tiga orang lainnja menghantamnya dengan sendjata tadjam. (24 Augustus 1935)
Yang Psikopat juga ada
Yang lebih mengejutkan saya lagi, ternyata pada zaman dahulu, ternyata sudah ada pembunuhan berantai (hmm… apa ini bisa disebut pembunuhan berantai). Tidak main-main pelakunya adalah seorang administrateur (pemilik perkebunan atau sejenisnya. Kalau sekarang mungkin semacam pengusaha terkenal kali ya). Berita ini memakan ruang cukup banyak di beberapa edisi Bintang Timoer meskipun tidak masuk ke halaman utama.
Pemboenoehan Soember Bopong
Lima orang jang diboenoeh
Berhoeboeng dengan pemboenoehan di Soember Bopong itoe, diberitakan oleh ,, Bat. Nbld.” Lebih djoeh bahwa soedah pasti, bahwa ada dilakukan di Soember Bopong itoe lime pemboenoehan. Pertama pemboenoehan pendjoeal daging, jang kedoea pemboenoehan pemetik, jang ketiga pemboenoehan pentjoeri kajoe, jang keempat seorang anak gadis jang baroe beroemoer empat belas tahoen, jang ada berhoeboengan dengan M, dan jang kelima seorang orang jang dipoekoel dalam kebun laloe dikoeboerkan disana djoega.
Pada soeatoe hari M menembak tiga kali pada seorang jang hendak berhoeboengan dengan seorang perempoean, jang disoekai oleh Mondt. Tetapi orang itoe tiada kena.
Doea tiga perkara hilang lagi boleh djadi menoenjokkan bahwa ada lagi pemboenoehan. Ternjata bahwa soekar kepada M mengakoe karena dia tiada tahoe tentang pemboenoehan dimana dia ditanjai.
Akan menjoekarkan penjelidikan, Mondt menoendjoekkan mandoer Afghaan itoe djadi pembantoenja jang teroetama, tetapi mandoer itu hanya sedikit berhoeboengan dengan segala perkara itoe. (23 Augustus 1935)
Menurut Bintang Timoer, tuan Mondt ini memiliki sifat seperti Hyde dan Jeckyll. Di satu sisi, ia sangat baik dan bahkan mau bergaul dengan kuli, akan tetapi di sisi lain memiliki sifat sangat ketakutan akan ada yang mau membunuhnya. Tentu saja kemungkinan besar ini hanya pendapat Bintang Timoer atau hasil wawancara karena tidak pendapat ahli dari psikiatri, misalnya.
Menipu Polisi
Jangan dikira orang zaman dulu tidak punya ‘kreativitas’ dalam menutupi kejahatannya. Dalam Bintang Timoer, 24 Agustus tertera usaha menipu polisi seperti di bawah ini.
Pemboenoehan
Di Patjitan di desa Tegalombo, afd. Patjitan telah d ketemoekan majat se-orang jang memboenah diri dengan jalan menggantoeng diri. Belakangan ternjata orang itoe diboenoeh. Selidikan land, oet menjatakan bahwa dalam ini tersangkoet perkara tanah.
Orang malang itoe diboenoeh oleh anak dan temannja. Dengan menggantoeng majatnya mereka berharap bahwa orang akan mendoega koerban itoe telah menggantoeng diri.
Sayang tidak diberitahu bagaimana upaya politie mengungkapkan kasus tersebut. Karena itu saya hanya bisa menduga-duga. Entah polisi menginterogasi sejumlah orang atau polisi pada saat itu sudah cukup cerdas. Saya pribadi beranggapan yang kedua karena kasus gantung diri kelihatan berbeda dengan pembunuhan *sok tahu.com* Saya mengira polisi menemukan fakta seperti orang tersebut tidak menjulurkan lidahnya (seperti layaknya orang bunuh diri) atau ditemukan tanda-tanda perkelahian. Atau bisa juga beberapa hari sebelumnya, si korban mempunyai masalah pribadi yang lebih memungkinkan skenario dibunuh, bukannya bunuh diri. Apapun itu, polisi masa itu tentulah beruntung sang pembunuh tidak sepintar rekannya di Irlandia yang bisa menciptakan skenario ‘mirip bunuh diri’ .
Jadi, kalau ada yang mau disimpulkan, ternyata sifat manusia tidak berubah sepanjang masa. Mau zaman dulu ataupun sekarang sama saja. Yang namanya kekejaman, psikopat, dan kejahatan lainnya tetap saja meskipun manusia mungkin merasa jauh lebih modern dari yang dulu. Dan ini, meskipun kedengarannya ironis, membantu saya lebih percaya diri dalam menulis fiksi misteri.
Fun Fact:
Ternyata tahun 1935 sudah ada Tiger Balm. *fakta nggak nyambung*
Apa ada yang memperhatikan kalau nama mandor yang membantu pembunuhan atau dikambinghitamkan dalam kasus pembunuhan di Soember Bopong bernama Afghan ? :D

04 July 2010

Indonesia Permai: Karakter

9:08 PM Posted by Dyah Utami , No comments
Hal yang pertama kali saya lakukan setelah mendapatkan 'tugas' membuat novel detektif remaja adalah menciptakan karakter. Gimanapun juga, karakter adalah salah satu bagian terpenting dalam cerita, apalagi cerita detektif. Pengennya saya sih karakter itu asyik banget. Masalahnya, gimana mendefinisikan asyik? Apakah asyik itu tokoh detektif yang serba jagoan seperti James Bond versi ABG misalnya? Atau justru yang kocak abis, kelihatan bego, tapi jempolan memecahkan kasus? Apakah jumlah jagoannya cukup satu seperti yaah.... Nancy Drew, dua seperti Sherlock Holmes dan Dr. Watson, tiga seperti trio detektif, atau bahkan lima seperti lima sekawan?

Nah itu keputusan yang sulit. Saya menginginkan karakter yang masuk akal. Saya lebih suka karakter yang nggak serba tahu, tapi dia belajar dan bekerja sama dengan banyak orang. Karena itu tipe single fighter seperti Nancy tidak menjadi pilihan saya. Kemudian saya menjatuhkan pilihan pada model keroyokan mirip lima sekawan (minus anjingnya) karena dua alasan: makin banyak orang makin ramai dan saya punya banyak sudut pandang untuk saya mainkan. Bukankah menyenangkan kalau satu bab kita melihat dari sudut pandang A dan kemudian di bab berikutnya kita melihat dari sudut pandang B?

Nah, kalau kamu melihat model lima jagoan (atau empat jagoan atau tiga jagoan), kamu akan melihat semacam pembagian tugas. Ada yang jadi pemimpin, ada yang jadi pemikir, pengacau dan ada anjingnya :p. Saya pikir model semacam ini akan mempermudah pembaca untuk mengingat karakter-karakter itu sendiri. Jadi saya menciptakan lima karakter dengan sedikit twist: seorang detektif yang menjadi problem maker sekaligus problem solver, seorang pemimpin yang enggan memimpin karena lebih suka belajar, seorang pemberontak, seorang jenius yang 'menderita' sindrom asperger, dan si manis yang.. hmm... sejauh ini masih terkesan jadi pemanis. :p

Berbeda dengan karakter tim detektif seperti misalnya lima sekawan atau trio detektif yang dari awal mereka sudah rukun dan selalu bersama, karakter tim saya justru punya konflik antar anggota. Saya rasa hal itu jadi bumbu yang menarik selain fakta karena di dunia nyata kita toh juga nggak selalu akur dengan teman.

27 June 2010

Indonesia Permai: Sebuah Awal

9:07 PM Posted by Dyah Utami , , , 1 comment
Kira-kira setahun atau dua tahun yang lalu, saya bertemu dengan dua editor dari sebuah penerbit. Kebetulan juga, keduanya adalah sahabat baik saya. Waktu itu kami tengah membicarakan sebuah proyek buku sederhana. Yang diminta dari saya hanyalah membantu menuliskan beberapa cerita yang dengan sedikit riset dapat saya lakukan (meskipun kemudian ternyata tidak semudah yang saya bayangkan).

Dari sela-sela pembicaraan kami, entah bagaimana, kami tiba pada percakapan betapa kurang beragamnya buku anak atau remaja saat ini. Saat ini kami tidak lagi menemukan buku menarik seperti Trio Detektif, Lima Sekawan dan lain-lain. Memang buku-buku lama seperti Lima Sekawan kemudian diterbitkan lagi. Tetapi sepertinya tidak ada generasi baru dalam menulis genre detektif petualangan seperti itu. Apalagi ketika kami membicarakan penulis lokal.

Pada akhirnya kami semua mengambil kesimpulan, kami seharusnya tidak boleh mengeluh. Kami seharusnya melihat ini sebagai kesempatan. Dan karena hanya saya satu-satunya penulis di pertemuan itu, tebak siapa yang kena imbasnya :D

Beberapa hari kemudian, saya terus mengolah ide tentang detektif remaja yang saya inginkan. Saya mencari beberapa ebook gratisan (maaf) dari internet. Saya juga berburu beberapa buku anak di toko buku (see? I don't just rely on the free illegal books ;P). Salah satu teman editor sayajuga mengirimkan dua buku yang ia rasa berkaitan dengan penulisan saya.

Draft buku yang pertama berhasil saya selesaikan pada akhir bulan November dua tahun yang lalu, bertepatan dengan Nanowrimo. Akan tetapi, naskah yang benar-benar punya muka untuk dikirimkan kepada penerbit baru muncul tiga bulan kemudian. Saya juga sudah menyelesaikan draft buku kedua sekitar sebulan yang lalu dan pada saat ini sedang memasuki proses reading di penerbit.

Akan ada banyak yang saya tuliskan di blog ini mengenai karakter atau latar belakang penulisan saya. So, stay tune. :D

11 May 2010

15 Books I'll Always Remember

3:50 AM Posted by Dyah Utami , No comments
Make a list of the 15 books that you'll always remember. Don't think too hard. Choose the first 15 books that you'll be able to remember in 15 minutes. Tag 15 friends, including me. I am curious to know what books my friends chose.

(In no particular order, ya)

1. Sang Alkemis - Paulo Coelho. Mungkin karena dibaca pada waktu yang tepat, jadinya buku ini benar-benar memengaruhi gue. Rasanya buku ini bakal gue rekomendasikan ke semua orang.

2. Little Prince

3. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Maap. Tapi ini yang kepikiran. :p

4. The Original Beauty Bible - Paula Begouin. Buku tentang kecantikan dan perawatan kulit. Sangat mengubah pandangan hidup gue tentang dua hal tadi.

5. Making Faces - Kevyn Aucoin. Buku tentang make up paling bagus yang pernah gue baca. :p

6. Twilight. Remember this book for the wrong reason. ^o^

7. Thesaurus Bahasa Indonesia boleh masuk kan?

8. Menulis secara populer - Ismail Marahimin. Buku pertama yang gue miliki tentang kepenulisan. Sebenarnya yang gue lebih ingat adalah penulisnya, dosen yang sangat kejam dalam menilai tulisan orang. >.<

9. Menulis itu gampang - Arswendo Atmowiloto.

10. The name of this book is secret - pseudonymous bosh. buku anak-anak yang dituturkan dengan gaya yang unik.

11. Lima Sekawan - Enid Blyton. This is how I spend my childhood.

12. Pluto

13. Bleach

14. 21th century boys

15. Deadnote.

Maap, empat yang terakhir bukan kategori buku, tapi manga >.< tapi emang keempat manga itu lumayan membantu gue dalam membuat plot dan menciptakan karakter. dan pada dasarnya gue gak ingat buku yang lain.... *kabur pelan-pelan*

Pembunuhan Dalam Cerita Anak: Ya atau Tidak?

3:17 AM Posted by Dyah Utami , , , No comments
Suatu siang ketika saya jalan ke toko buku Gramedia, saya menemukan sebuah buku Misteri Pembunuhan Penggemar Harry Potter karya seorang anak umur 13 tahun. Saya tahu, ini buku yang sudah sedikit lama (2005), akan tetapi ketika pertama keluar saya tidak begitu memperhatikan kehadirannya. Sampai sekarang.

Saya sebenarnya masih sedikit bingung membuat pembatasan kekerasan dalam sebuah cerita anak. Bahkan untuk memasukkan tema kematian dalam cerita anak saja, saya merasa perlu hati-hati. Kalau ditujukan untuk anak terlalu muda, saya menghindarinya. Karena itu juga saya menabukan diri untuk memasukkan cerita pembunuhan. Kenapa? Karena pembunuhan merupakan hal yang serius dan punya tingkat kekerasan yang tinggi (meskipun hal yang sama bisa diterapkan pada penyiksaan atau pemerkosaan). Melihat pembunuhan juga merupakan suatu hal yang traumatis, bahkan bagi orang dewasa sekalipun.

Memang di dalam buku tersebut, pembunuhan tidak terlalu diekspos. Bahkan menurut saya terlalu sederhana. Sedikit mengejutkan melihat anak-anak yang jadi detektif cilik mengharapkan bertemu dengan kasus pembunuhan. Bahkan setelah dapatpun, reaksi mereka terhadap pembunuhan itu sendiri, minimalis (saya mengharapkan ada rasa shock atau ketakutan ketika pertama kali melihat pembunuhan. Ternyata, tidak.)

Setelah saya membaca buku itu, saya jadi meragukan pemikiran saya sendiri. Mungkinkah anak zaman sekarang lebih terekspos dalam masalah kekerasan hingga cerita pembunuhan bukan lagi masalah? Coba lihat game yang dimainkan anak-anak zaman sekarang. Banyak yang mengandung darah di mana-mana. Memang sih game itu bukan buat anak-anak. Maksud saya adalah, apakah zaman telah berubah sehingga petualangan lima sekawan, Nancy Drew atau Hardy Boys cuma cocok untuk 'bayi' saja? Atau bagaimana? Ya atau tidak untuk cerita pembunuhan dalam cerita anak-anak?

Oh, ya. Satu lagi. Bagaimana dengan peran penegak hukum atau figur yang dihormati (guru) sebagai sosok antagonis (penjahat) dalam cerita anak. Setuju atau tidak?

Belajar Detektif dari Monk

3:14 AM Posted by Dyah Utami , 1 comment
Beberapa hari ini saya menghadapi dilema untuk memasukkan cerita pembunuhan dalam cerita anak.

Akan tetapi, setelah mengikuti dorama Amerika, Monk, saya agak memikirkan ulang untuk memasukkan cerita pembunuhan.

Monk adalah kisah seorang detektif yang mengalami masalah jiwa setelah kematian istrinya sehingga dipecat dari kepolisian San Fransisco. Meski demikian, kemampuannya yang hebat dalam memecahkan kasus kejahatan, membuatnya selalu dipakai pihak kepolisian. Selama ini saya selalu berpikir kalau mau menampilkan pembunuhan ya harus menampilkan mayatnya dan itu berarti menampilkan adegan yang terlalu vulgar untuk anak-anak.

Akan tetapi uniknya Monk tidak perlu itu semua untuk menyelesaikan kasusnya. Saya ingat salah satu adegan di mana ada kasus seorang laki-laki membunuh pacarnya dengan cara dipukul lalu digergaji. Yang ditampilkan di TV hanya jendela yang terkena percikan darah. Saat diotopsi, sama sekali tidak ditampilkan potongan mayat. Hanya omongan si dokter forensik saja.

Begitu juga dengan saat ada adegan perempuan yang mati tercekik karena syal lehernya terjepit lift.Hanya menggambarkan suara perempuan itu yang minta tolong dan kemudian meninggal. Satu-satunya penampilan mayat yang saya ingat adalah saat ada seorang pelayan yang meninggal, tapi tidak bisa ditemukan mayatnya. Setelah ketemu, baru deh kelihatan mayatnya. Tapi itupun hanya terlihat wajah pucat mayat. Tidak terlihat darahnya (padahal seingat saya matinya ditusuk. Hmm....mungkin ditusuknya dari belakang hingga tidak terlihat dari depan)

Anyway, ini adalah salah satu cara untuk memasukkan kasus pembunuhan akan tetapi tidak perlu menampilkan adegan vulgar. Akan tetapi, saya belum tahu seperti apakah model kasus pembunuhan yang melibatkan anak-anak. Hmm....