Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

30 July 2005

Ketiga

3:35 AM Posted by Dyah Utami , No comments
Toni tidak pernah merasa sesial ini dalam hidupnya. Dua kali ditolak cewek hanya dalam jangka waktu lima belas menit! Ini prestasi terburuknya selama tujuh belas tahun hidupnya sebagai seorang playboy. Mula-mula Maya nggak bisa menemaninya ke pestanya Siska gara-gara kudu syuting. Lalu Karin yang badannya pegal gara-gara begadang. Alasan!

Seharusnya tidak begini. Seharusnya semua berjalan lancar sesuai rencananya dua minggu yang lalu.

"Ton, siapa yang akan kamu bawa ke ultah Siska nanti." tanya Hari, temannya sekaligus pacar Siska.

"Emangnya penting?"

Hari menonjok pundak temannya dengan main-main, membuat Toni tergelak. "Oke. Lihat saja nanti, di pesta Siska nanti aku akan membawa salah satu diantara dari mereka. Dan di tengah pesta aku akan langsung menembaknya."

Itu rencananya. Toni selalu berpikir kalau semuanya akan berjalan lancar. Ia tinggal akan telepon salah satunya dan semuanya beres.

Tapi nggak semudah itu. Di hari-hari terakhir ia disibukkan oleh pemikiran mana yang lebih pantas jadi pacarnya. Maya memang tipe ideal seorang cewek: anggun dan cantik bagaikan seorang putri. Satu-satunya kekurangannya adalah isi otaknya. Sebaliknya kelebihan Karin ada di otaknya. Ia cerdas, populer dan kaya. Hanya saja mulut Karin besar. Kalau sudah terbuka, susah ditutup. Nah, kekurangan Karin ini yang jadi kelebihan Septiana. Septiana amat tenang. Diantara ketiganya yang paling jelek memang Septiana, tapi anaknya baik hati dan yang paling disukai Toni, Septiana nggak pernah mengatakan "nggak" padanya.

Toni meraih handphonenya dan mencari-cari nomer telepon Septiana di bagian buku alamat.

"Halo?" terdengar nada lembut mengalun dari seberang, suara bidadari penyelamatnya.

"Septiana, ya?."

"Toni, ya? Ada apa, Ton?"

"Kamu datang ke ultah Siska besok malam, nggak?"

"Tentu aja. Kenapa?"

"Sudah ada yang mau nganterin, belum?"

"Sudah"

Jantung Toni mendadak ingin meledak. "Siapa?"

"Kakakku."

Toni tersenyum lega. "Boleh nggak aku menggantikan tugas kakakmu?"

"Maksudmu kamu mau menjemput aku?"

"Iya." Yes! teriak Toni dalam hati. Septiana pasti setuju. Mendadak pikirannya melayang. Cukup sebulan saja jadian dengan Septiana, kemudian Maya atau Karin. Atau dua minggu saja?

Terdengar nada diam yang panjang.

"Kenapa aku, bukan Maya atau Karin."

Toni ternganga sesaat, ia tak menduga sama sekali. "Egh..mereka nggak bisa. Maya lagi syuting dan Karin sakit."

"Karena itu kamu mengajakku? Karena mereka nggak bisa?"

Toni menjadi panik. Kok tiba-tiba begini.

"Bukan begitu maksudku, Ana."

"Aku mengerti kok, Ton. Jangan khawatir. Aku akan datang, tapi nggak bersamamu. Maaf ya, Ton. Aku harap kamu mengerti."

"Mengerti apa?"

Toni tersentak.

"Aku pikir kamu akan bilang iya, tadi." Karin berbaring di atas tempat tidur Septiana.

"Iya."balas Maya. "Ini kan kesempatan emas. Nggak nyesel, tuh?"

"Nggak." Septiana meletakkan handphonenya dan berbaring memeluk bantalnya. "Habis aku dijadikan ban serep. Memangnya aku cewek apaan."

"Kira-kira Toni lagi ngapain, ya?" tanya Karin.

"Mau taruhan?" Maya tersenyum. "Kurasa ia sedang mencari gadis keempat."

Toni menekan nomer telepon yang nyaris dilupakannya. Kali ini pasti berhasil. Gadis ini tergila-gila padanya. Toni menarik nafas dalam-dalam ketika mendengar sambutan dari seberang.

"Halo, bisa bicara dengan..."

01 July 2005

Sepenggal Dusta

5:21 PM Posted by Dyah Utami , No comments
Aku tahu apa yang akan aku lakukan ini salah. Mbok Yem, Budi dan juga Maman bahkan sudah membujukku berkali-kali supaya aku mengurungkan niatku. Tapi toh akhirnya mereka angkat tangan. Aku sebenarnya mau saja menuruti nasihat mereka kalau ada cara yang lebih baik dari ini. Tapi masalahnya tidak ada. Dan aku tidak mempunyai pilihan lain.

Jadi, aku berdiri di depan pintu, menanti BMW hitam yang meluncur dengan anggun melalui pintu pagar dan berhenti di hadapanku. Ketika rodanya berhenti berputar, Budi sang supir dengan cepat membuka pintu belakang.

Rasanya seperti sudah seabad aku tidak melihatnya. Dadaku bergejolak karena kerinduan yang kupendam dan air mataku nyaris meleleh. Ia nyaris tak berubah, hanya uban yang semakin bertambah di sana-sini. Tetapi senyumannya, kebahagiaannya semuanya terpancar begitu jelas, begitu indah. Dengan cepat aku berlari menyambutnya dan mencium tangannya yang mulai keriput.

"Bapak, Wawan minta maaf tidak bisa menjemput di Gambir."kataku setengah berbisik.

Dengan lembut ia mengelus kepalanya. "Nggak pa-pa, kok le. Bapak juga tahu kamu sibuk dengan semua urusan bisnismu. Tapi..." Matanya berkeliling ke arah istana putih yang ada di belakangku. "Bapak nggak menduga kamu sekaya ini. Kok kamu nggak cerita apa-apa pada Bapak."

Aku tersenyum dan mengeluarkan kata-kata yang semalaman sudah kususun.

"Saya nggak mau Bapak terus-menerus memikirkan Wawan. Kondisi Bapak akhir-akhir ini kan…"

"Bapak sehat-sehat saja kok, Wan." Aku menuntun Bapak masuk ke dalam rumah diikuti Budi yang kanan kirinya dipenuhi bawaan Bapak. Wajah Bapak semakin berbinar-binar ketika melihat bagian dalam rumah. Sebuah permadani merah terhampar menyelimuti lantai marmer. Di dinding, sebuah lukisan kabah yang besar terpampang dan Bapak menatapnya penuh kerinduan. Aku tahu betapa besar keinginan Bapak untuk naik haji tapi nggak pernah kesampaian.

"Jadi bener ini rumahmu, Wan?"

"Ya, begitulah, Pak. Bagaimana menurut Bapak?"

"Yo apik banget. Bapak sama sekali nggak menduga. Sebenarnya pekerjaanmu kuwi opo to, le?"

"Pak Wawan itu pegawai, Pak." timpal Budi sembari menurunkan bawaan Bapak. Aku ingin sekali menutup mulut besarnya. Kenapa nggak biar aku saja yang ngomong?

"Pegawai apa, negeri apa swasta?"

"Swasta." "Negeri." Aku dan Budi berebutan bicara. Aku melotot padanya.

"Negeri." "Swasta"

Bapak mengerutkan alisnya. "Yang benar yang mana?"

"Dulu saya di kerja sebagai pegawai negeri, Pak. Tapi karena gajinya terlalu kecil saya keluar dan kerja sebagai pegawai swasta. Kalau nggak kerja di swasta mana mungkin saya bisa beli rumah sebesar ini kan, Pak?"

Bapak tersenyum puas mendengar jawabanku lalu berjalan menuju kamar yang telah kusiapkan. Ia kelihatan lelah setelah seharian menempuh perjalanan dari Jogya dan memutuskan untuk beristirahat.

Aku berlari menuju dapur dan menghembuskan nafas kuat-kuat di sana. Udara tiba-tiba terasa gerah. Budi dan Maman sang satpam sudah duluan duduk di meja dapur sembari mereguk secangkir teh. Di belakangnya, mbok Yem sibuk mengaduk isi panci.

"Gimana penampilanku?" Budi tertawa sembari menepuk dadanya. "Keren nggak? Pantes kan aku menerima piala oscar?"

"Pantes gundulmu!" Aku nyaris berteriak. "Bapak hampir saja curiga tadi."

Nggak bakal! Bapakmu itu sudah berpikiran tinggi soal kamu. Sepanjang jalan aku bilang kamu itu kaya banget. Tanahmu seabrek-abrek dan ada dari sabang sampai merauke. Bahkan ketika Bapak tanya siapa yang jadi pacarmu sekarang aku bilang Dessy Ratnasari."

Aku menyemburkan tehku, nyaris mengenai Maman."Gila kamu!" teriakku. "Gimana kalau Bapak minta dibawain Dessy!"

"Tenang, Wan. Aku bilang kalian sudah putus. Jadi nggak perlu panik. Lagipula masih ada waktu seminggu untuk bersenang-senang sebelum majikan kita pulang."

Aku menghempaskan tubuhku, menatap langit-langit yang putih dan menghembuskan nafas dalam-dalam. "Ya, Allah. Aku tidak percaya akhirnya kita melakukan rencana gila ini."

"Nah kalau udah tahu kenapa juga dilakukan."timpal Mbok Yem. Aku meliriknya. Di antara orang serumah, Mbok Yem-lah yang paling sering menentang rencanaku. Berkali-kali ia mengingatkan bahwa kebohonganku nggak ada gunanya, cuman menambah masalah saja. Percuma saja berkali-kali kujelaskan kalau aku...

"Nggak ada pilihan lain, Mbok."kataku, lagi-lagi seteguk teh masuk ke mulutku. "Aku sudah terlanjur bilang pada Bapak kalau aku punya pekerjaan yang bagus di kota."

"Lho jadi tukang kebun kan pekerjaan bagus. Daripada jadi pengangguran?"

"Kamu nggak tahu keluargaku sih Bud. Cuman aku anak laki-laki harapan Bapakku. Kakakku, Yono, nggak dapat pekerjaan akhirnya jadi maling dan mati di tangan massa. Kamu tahu apa yang terjadi? Bapakku langsung jantungan dan dirawat di rumah sakit. Terus yang kedua, Joko kerjaannya cuman main judi dan mabuk aja. Setiap pulang, ia nggak pernah bawa apa-apa kecuali hutang. Untungnya adikku Sari sudah menikah jadi beban Bapak sedikit berkurang, meskipun suaminya cuman guru SD. Harapan Bapak padaku itu besar sekali, Bud. Bapak bahkan rela membobol tabungan buat biayaku ke Jakarta. Gimana aku tega ngomong sama Bapak kalau aku cuman jadi tukang kebun di sini?"

"Tapi ini kan sama saja dengan menipu Bapakmu, Wan."kata Mbok Yem bersikeras. "Bayangin kalau Bapakmu sampai tahu yang sebenarnya. Apa nggak lebih sakit lagi?"

"Ya kalau begitu jangan ada yang ngasih tahu!" balasku tak kalah sengit. Wanita itu tampak sedikit tersinggung dan aku merasa menyesal membentaknya. Bagaimanapun juga ia sudah merasa aku sebagai anaknya. Aku menurunkan nadaku. "Aku nggak bermaksud untuk menipu Bapak, Mbok. Aku cuman ingin membuat Bapak bahagia. Sekali ini saja. Apa itu berlebihan? Apa seorang anak nggak boleh membahagiakan Bapaknya?"

"Ya tapi bukan begini caranya, Wan!" kata mbok Yem.

"Terus gimana? Mbok punya cara lain? Nggak kan?" tantangku.

"Terserah kamulah, Wan. Mbok Yem sudah capek ngasih tahu kamu. Kamu ini memang keras kepala. Tapi jangan salahkan mbok kalau nanti ada apa-apa. Mbok sudah bilang jangan berbohong tapi kamu nggak mau nurut." Ia beranjak keluar dengan mangkuk sup di tangannya. "Wan, kamu salah kalau kamu pikir kamu bisa membahagiakan Bapakmu dengan kebohonganmu. Nggak ada kebahagiaan dari kebohongan, Wan. Nggak ada."

Kata-kata terakhirnya begitu tajam, menghujani ulu hatiku seperti duri mawar.

"Jadi?" kata Budi akhirnya. "Kita teruskan?"

Aku memutar-mutar cangkirku dan mereguk habis isinya.

"Apa aku punya pilihan lain?"bisikku pelan.

Budi mengangkat pundaknya. Bersama Wawan ia ngeloyor pergi.

*

Aku nggak pernah melihat Bapak lebih bahagia dari saat ini. Ia begitu menikmati hari-harinya, berjalan-jalan di kebun yang biasa kurawat setiap hari atau bermain-main dengan ikan mas koki yang ada di kolam. Kadang-kadang ia duduk di Gazebo menatap matahari senja menikmati secangkir kopi dan mulai bertutur tentang masa-masa jayanya di pabrik gula zaman Belanda. Dan aku, Budi, Maman dibawanya melayang.

Saat kutatap matanya yang bersinar, senyumnya yang merekah, saat itu pula aku tidak menyesal memainkan sandiwara ini. Bahkan aku rela bersandiwara sepuluh kali apabila ini bisa membuat Bapak bahagia seumur hidupnya.

"Ada kabar buruk, Wan. Majikan kita mau pulang besok," mendadak Budi berkata ketika Bapak sudah masuk ke kamar untuk istirahat.

"Apa?" Keringat dinginku mendadak keluar. "Gimana sih, katanya mau dua minggu di Bali. Ini kan baru seminggu lebih."

"Iya, tapi Ibu sudah kangen sama rumah Jakarta."

Mampus aku! Bagaimana aku membujuk Bapak untuk pulang ke kampung? Bapak kelihatan kerasan banget tinggal di Jakarta. Malah aku mulai berpikir Bapak mau tinggal di sini seumur hidupnya. Kebohongan macam apa lagi yang harus aku ciptakan? Aku begitu lemas sehingga tak sadar Budi menepuk pundakku dan meninggalkanku.

Bapak duduk tepat di depan tape desk, menikmati keroncong yang mengalun perlahan seperti riak-riak kecil sungai ketika aku masuk. Ia tersenyum ketika melihat kedatanganku.

"Kebetulan kamu di sini, le."katanya setengah berbisik. "Bapak mau bicara padamu. Bapak bukannya nggak mau berterima kasih. Apa yang kamu beri pada Bapak ini lebih dari cukup, tapi Bapak nggak bisa tinggal lama-lama. Bapak kangen sama rumah."

Aku tak mempercayai telingaku. Terima kasih Tuhan. Terima kasih.

Bapak pulang keesokan harinya naik kereta argobromo yang uangnya kukumpulkan dari sumbangan kami berempat. Sandiwara yang kami gelar sukses berat.

Kedua majikanku ternyata tidak pulang secepat perkiraan kami. Mereka nggak dapat tiket pesawat ke Jakarta, jadi mereka terpaksa menunggu beberapa hari. Nggak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika adikku, Sari, menelpon malam-malam.

"Maaf mas, Sari mengganggu. Sebenarnya Sari nggak mau mengganggu, tapi kondisi Bapak memaksa Sari menelpon."

Jantungku seperti mau meledak. "Memangnya Bapak kenapa?"

"Bapak masuk rumah sakit lagi. Kemarin banyak orang yang datang ke rumah dan mencari Mas Joko. Tentu saja nggak ada. Kata mereka, Mas Joko kalah judi dan berhutang sepuluh juta. Kalau nggak dibayar, rumah Bapak akan diambil sebagai gantinya." Aku dapat mendengar isakannya yang tertahan. "Dada Bapak langsung sakit dan Bapak harus dirawat."

"Sepuluh juta?" Aku terbelalak. Ya, Allah. Sepuluh juta! Dari mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu?

"Sari hanya punya sejuta." katanya di sela -sela tangisannya. "Itupun setelah pinjam tetangga. Tapi yang sembilan juta lagi darimana? Belum lagi untuk perawatan Bapak."

Kabel telepon itu kuremas. Sesungguhnya aku juga nggak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sama sekali nggak punya uang. Tapi aku nggak mungkin mengatakannya pada Sari. Mereka sudah terlanjur menganggap aku kaya. Bapak sendiri saksinya."

"Sari."Akhirnya aku membuka mulut. "Kamu tenang saja di sana. Nanti Mas kirim uang yang kamu butuhkan."

Aku tahu apa yang baru saja aku lakukan. Sekali lagi aku berbohong. Sekali lagi aku menciptakan harapan semu yang nggak mungkin aku penuhi. Mana mungkin aku bisa mengirimi mereka uang sembilan juta. Kecuali kalau aku...

Mataku terantuk pada brankas besi yang ada di depan mataku.

Tiba-tiba aku tercekat. Kenapa nggak kepikiran?

Malam itu aku memandangi langit-langit kamarku. Aku gelisah. Berkali-kali aku bertanya pada diriku apa ini yang harus kulakukan. Apa tidak ada pilihan lain. Tapi semakin keras aku berpikir semakin yakin aku bahwa tidak ada cara lain. Aku nggak mungkin berbicara pada Mbok Yem, Maman atau Budi soal ini. Mereka nggak akan membantu apa-apa kecuali nasihat setinggi gunung. Satu-satunya jalan aku harus menjebol brankas itu dan mengirim uangnya pada Sari.

Aku bangkit dari tempat tidurku dan menarik senter dari laci. Dunia mungkin punya sejuta alasan untuk mengutukku, tapi aku juga punya sejuta alasan untuk melakukannya.

Perlahan, aku membuka pintu kamarku. Senyap dan gelap. Ini hampir dini hari dan semuanya terlelap. Sembari berjingkat aku berjalan menuju ruang kerja majikanku, berusaha agar tak seorangpun yang terbangun.

Tidak sulit mencari kunci brankas besi itu. Pak Sardi, majikanku itu, selalu menempatkan kunci brankas di laci mejanya. Aku pernah melihatnya memasukkan kunci itu ke laci ketika aku merawat mawar tepat di dekat jendela ruang kerjanya. Tebakanku tidak meleset. Kunci perak itu tampak bersinar di bawah sinar senter yang kubawa.

Entah Pak Sardi yang bodoh atau apa aku tak tahu. Yang jelas brankas besi itu langsung terbuka begitu kuncinya masuk. Pasti ia tidak merubah nomor kombinasinya. Ini sih sama saja dengan mempersilahkan pencuri masuk.

Tanganku bergetar dan keringat dingin mulai mengalir ketika aku menarik gagangnya. Mendadak aku merasa seperti Alibaba yang berhasil membuka pintu gua harta. Dan mataku terbelalak lebar.

Berlembar-lembar uang ratusan ribu tergeletak di sana, menungguku untuk meraihnya satu persatu. Di sampingnya, beberapa perhiasan emas memanggil-manggil namaku. Aku tak sabar untuk merengkuhnya.

Tapi tentu saja Alibaba tidak akan diganggu telepon yang mendadak mendering dan membuat jantungku nyaris copot. Siapa sih yang malam-malam begini telepon? Deringannya semakin menderu-deru dan aku tidak punya pilihan lain kecuali mengangkatnya. Kalau tidak mungkin Maman atau Budi yang akan datang.

"Halo?"

Hanya isakan yang terdengar. Tapi rasanya menghujam jantungku seperti sebuah belati. Aku kenal sekali suara itu.

"Mas Wawan?"

Sari!

"Mas, kita sudah tidak butuh uang itu lagi. Orang-orang itu sudah tidak sabar dan menyita rumah Bapak. Dan Bapak…" Isakan itu semakin menguat. Darahku mengalir lebih cepat.Ya Allah ini tidak mungkin. Sari, tolong jangan katakan kalau... "Bapak sudah tidak ada, Mas."

Gadis itu tak tahan lagi dan menangis sejadi-jadinya. Begitu pilu di telingaku, Begitu tak berdaya.

Air mataku meleleh, tapi itu bukan tangisan. Telepon itu berayun-ayun di udara, menemani diamku, kecewaku, sesalku. Aku tak dapat merasakan apa-apa karena jiwaku terasa lepas. Satu-satunya hal yang aku ingat adalah sesosok bayangan hitam mendekatiku. Aku tahu itu Budi, tapi saat itu ia tampak seperti Izrail. Samar-samar kata-kata Mbok Yem melayang-layang menembus pikiranku. Nggak ada kebahagian dari kebohongan, Wan.

Dan sesungguhnya kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Dan sesungguhnya seorang yang berdusta hingga ia ditetapkan di sisi Allah sebagai pendusta (H.R Bukhari)