Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

30 October 2013

Menulis Cerita Misteri seperti Detektif Conan

8:21 PM Posted by Dyah Utami , , , 5 comments
Siapa yang tidak mengenal Detektif Conan? Bagi generasi sekarang, Detektif Conan adalah salah satu detektif fiktif paling ternama, bahkan mungkin di atas Sherlock Holmes. Karya Aoyama Gosho ini terkenal lewat komik maupun serial televisinya. Jika kamu ingin membuat cerita detektif, Detektif Conan dapat menjadi salah satu referensi kamu. 

Detektif Conan berkisah tentang seorang remaja dengan kemampuan analisis yang luar biasa bernama Shinichi Kudo. Akibat efek sebuah alat saat mengejar musuhnya, ia diubah menjadi sosok anak kecil. Ia terpaksa menjadi sosok Conan. Ia kemudian bekerja sama dengan seorang detektif swasta bernama Kogoro Mouri dan putrinya, Ran Mouri yang amat menyukai Shinichi. Karena ucapan anak kecil tidak akan dianggap oleh banyak orang, Conan membius Kogoro setiapkali ia tahu siapa pelakunya. Selain keduanya, ada juga tokoh Profesor Agasa yang tahu akan masa lalu Conan dan Inspektur Megure yang seringkali mengandalkan kemampuan Kogoro, atau mungkin Conan lebih tepatnya.

Dari segi cerita, kisah Detektif Conan termasuk pada genre cerita misteri klasik, seperti Sherlock Holmes. Secara garis besar, alur cerita setiap kasus Detektif Conan adalah seperti ini:
  • Pada awalnya semua baik-baik. Conan dan yang lain mungkin sedang berlibur, reuni, makan ramen atau yang lain.
  • Terjadi pembunuhan, di mana Conan terlibat membantu.
  • Ia menemukan sejumlah pelaku dan petunjuk. Tentu saja ia dianggap sebagai pengganggu karena masih kecil.
  • Detektif Conan menemukan siapa pelakunya dan kemudian ‘menembak’ Kogoro dengan obat bius. Ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
  • Pelaku mengaku dan menceritakan alasan yang sebenarnya. Dunia kembali tenang.
Tips Menulis Cerita Misteri ala Detektif Conan
 
Tidaklah mudah jika kamu ingin membuat cerita misteri ala Detektif Conan (memang ada menulis cerita yang mudah?) Akan tetapi, jika kamu ingin menulis cerita misteri seperti Aoyama Gosho, perhatikanlah sejumlah hal berikut ini.
  • Banyaknya membaca referensi cerita misteri klasik. Meskipun Detektif Conan tampil dengan gaya Sherlock Holmes, kamu juga bisa membaca cerita misteri karangan penulis lain seperti Agatha Christie, Dorothy L. Sayers, dan lain-lain. Beberapa kasus Detektif Conan juga termasuk genre locked-room mystery. Jika kamu bisa mendapatkannya, cobalah karya Dickson Carr. Kamu juga bisa nonton Monk untuk mendapatkan ide. 
  • Bacalah kasus kejahatan dan kasus forensik yang pernah terjadi. Kamu dapat mengunduh ebook tentang forensik di situs seperti avaxhome.ws. Jika kamu enggan membaca dalam bahasa Inggris, kunjungi saja perpustakaan atau toko buku terdekat. Kamu akan mendapat gambaran bagaimana seorang detektif mengambil kesimpulan tentang pelaku atau yang terjadi dari melihat atau meniliti mayat. Yah, tentu saja kamu harus menguatkan hati jika kamu melihat gambar-gambar mayat dengan beragam akibat.  
  • Banyaklah berkhayal. Tempatkan mayat dalam posisi paling tidak memungkinkan untuk terbunuh dan buatlah skenario paling aneh akan tetapi masuk akal mengenai bagaimana sang korban bisa terbunuh.
  • Banyaklah berlatih Lateral Thinking. Soal-soal lateral thinking membantu kamu berpikir out of the box. Dengan latihan seperti ini, kamu bisa ‘menipu’ pembaca dan menciptakan kasus-kasus yang menarik. Coba beberapa situs berikut ini: brainfood, puzz.com, creative puzzle, ataupun folj.  
  • Ciptakan satu karakter detektif yang kuat dan yang lain sebagai tambahan saja. Detektif tersebut haruslah orang yang ahli di bidangnya. Mungkin kamu akan membuatnya sebagai tukang mabuk, mata keranjang dan lain-lain sebagai ‘gimmick’, tetapi detektif kamu haruslah seseorang yang memiliki komitmen tinggi untuk menegakkan keadilan. Fungsi karakter lain adalah menguatkan karakter utamanya, jadi jangan buat terlalu berlebihan sehingga menenggelamkan tokoh utamamu.

27 October 2013

Cerita Misteri versus Cerita Suspense: Apa Bedanya?

8:11 PM Posted by Dyah Utami , , , 1 comment
Ini ilustrasi aja, kok. Bukan beneran ^_^
Dalam artikel sebelumnya, saya memberikan pengertian cerita misteri menurut Sue Grafton. Pembagian yang sedikit beda dianut oleh Carolyn Wheat dalam How to Write Killer Fiction. Kalau Sue Grafton melihat Misteri sebagai payung besar beragam subgenre, Carolyn Wheat melihat bahwa Misteri terpisah dari cerita suspense. Ini artinya cerita thriller, mata-mata, petualangan dan lain-lain tidak berada di bawah cerita misteri. Ini menarik karena kalau dipikir memang cerita misteri memiliki perbedaan dengan cerita suspense. Dari sudut pandang ini, mari kita bahas perbedaan antara keduanya. 

Cerita Misteri

Sebuah mayat ditemukan di dasar jurang. Kemudian seorang detektif datang menyelidiki kematian tersebut. Adanya tokoh yang memahami situasi dan kemudian menanganinya membuat sebuah cerita langsung masuk kategori misteri. Meski ada kata detektif, belum tentu tokoh tersebut harus seorang polisi. Bisa jadi seorang biasa seperti Miss Marple dalam Agatha Christie. Akan tetapi, ia haruslah seseorang yang memiliki skill untuk menyelidiki apa yang terjadi. Karena kemampuannya, biasanya pembaca selalu tertinggal dari sang detektif. Saat sang detektif sudah mengambil kesimpulan apa yang terjadi, pembaca masih kebingungan. Cerita misteri juga biasanya berisi petunjuk-petunjuk yang akan diselediki oleh tokoh. Beberapa petunjuk akan menunjukkan arah ke pelaku, beberapa menjadi petunjuk sesat atau red herring. 

Di akhir cerita, detektif akan berhasil menemukan pelaku. Entah hasilnya pelaku tertangkap atau tidak, itu terserah kepada penulis. Yang jelas, pembaca akan merasa secara intelektual terpuaskan karena merasa berhasil ikut memecahkan kasus tersebut. Cerita-cerita detektif seperti Sherlock Holmes, Conan, Poirot dan lain-lain tentu saja tergolong dalam cerita misteri ini.

Cerita Suspense
Cerita suspense seperti mimpi buruk bagi tokoh utamanya. Dari awal, ia dikejar oleh beragam masalah yang semakin lama justru semakin buruk. Mungkin ia diteror oleh mayat tikus mati di depan rumah atau mendadak keluarganya kecelakaan. Benarkah kecelakaan atau ada yang mencelakai? Perlahan, tokoh utama akan meningkatkan keterampilan dalam menghadapi bahaya. 

Berbeda dengan cerita misteri di mana pelaku tersembunyi, pembaca cerita suspense bisa jadi sudah tahu siapa pelakunya. Sepanjang cerita, pembaca terus menebak-nebak apakah tokoh utama akan selamat atau tidak. Jika penulisnya cerdas memberi akhir yang menarik, maka pembaca akan memperoleh kepuasan emosi. Cerita suspense ada dalam karya Tom Clancy, John Grisham, Michael Crichton, Dan Brown dan lain-lain. Sebagai catatan, novel-novel Michael Crichton, Dan Brown dan James Patterson seringkali digolongkan thriller karena tingkat ketegangannya lebih tinggi daripada suspense. Jadi kalau ada yang tanya apa perbedaan antara suspense dan thriller, tingkat ketegangan novel thriller lebih tinggi daripada suspense.

Setelah tahu beda antara keduanya, kita akan mulai belajar meramu cerita misteri pada post selanjutnya.

26 October 2013

Cara Membuat Sinopsis Novel Untuk Penerbit

9:12 AM Posted by Dyah Utami , , 22 comments
Aku mau nanya, gimana cara bikin sinopsis yang bagus? Habisnya sinopsisku masih berantakan sekali. Terima kasih.
(M lewat FB)

Pertanyaan M merupakan satu dari beberapa pertanyaan serupa yang masuk ke inbox saya. Sebenarnya sih tidak ada satu cara menulis sinopsis novel yang tepat. Semua penulis punya gaya masing-masing. Tetapi, mari saya beritahu bagaimana saya membuat sinopsis novel untuk dikirimkan ke penerbit.

Sinopsis adalah penjelasan tentang isi cerita, yaitu apa yang terjadi dan siapa yang berubah, dari awal sampai akhir. 

Jadi di dalam sinopsis harus jelas siapa tokoh utama kamu, siapa lawannya, apa masalah tokoh utama kamu dan bagaimana tokoh kamu menyelesaikan masalahnya. Bayangkan seperti saat kamu menceritakan isi film kepada teman kamu. Nah, kurang lebih seperti itulah sinopsis.

Prinsip Sinopsis

  1. Menarik. Kamu sedang menjual ide kamu kepada editor. Jadi buatlah dengan bahasa semenarik mungkin. Kalau kamu sendiri nggak yakin apakah cerita kamu menarik, kemungkinan editor juga nggak akan menanggap cerita kamu menarik. Orang kamu sendiri gak yakin.
  2. Ringkas. Nggak perlu membuat sinopsis terlalu mendetil. Cukup jelaskan adegan yang prinsip dan penting.
  3. Gunakan sudut pandang orang ketiga, meski nanti kamu menulis dengan POV 1 di novelmu.

4 Hal yang harus ada dalam sinopsis, tanpa  terkecuali:

  1. Memberikan penjelasan inti konflik dalam cerita
  2. Menjelaskan siapa karakter protagonis dan antagonis dalam cerita.
  3. Menunjukkan apa masalah dan tantangan tokoh utama dalam cerita.
  4. Memperlihatkan bagaimana konflik dipecahkan dan diakhiri.


 Contoh Sinopsis

Ini merupakan contoh sinopsis yang saya gunakan untuk novel Marginalia. Novel ini diikutkan dalam lomba menulis novel romance Qanita (dan menang juara 2).

SINOPSIS
MARGINALIA

[ mar-gi-na-li-a    n    catatan-catatan di tepi buku, naskah, atau surat ]

Ketika kekasihnya meninggal dunia, ARUNA, vokalis utama band rock Lescar, hanya ingin berkonsentrasi pada kariernya. Ia percaya cintanya berakhir dengan mengembalikan buku puisi Rumi berisi catatan pinggir kekasihnya ke kafe Marginalia, tempat buku itu berasal.
DRUPADI, pemilik wedding organizer Luna Nueva tengah sibuk mengurusi pernikahan sepupunya yang penuh dengan tuntutan, INEZ. Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah kafe tersembunyi di dalam taman, kafe Marginalia. Namun baginya, konsep marginalia adalah omong kosong. Bagaimana mungkin sebuah catatan di pinggir buku bisa membawa keajaiban? Karena itu, ketika ia dipaksa menulis marginalia demi melancarkan bisnisnya, Drupadi mengambil buku secara acak dan menuliskan marginalia secara asal-asalan. Ia tidak pernah menduga, marginalia itu akan mengubah hidupnya.
Mengira marginalia kekasihnya telah mengubah hidup seseorang, Aruna kembali ke kafe  itu. Ia marah besar begitu menemukan marginalia Drupadi. Ia bersumpah untuk melakukan segala hal untuk menemukan pelakunya, termasuk menyamar sebagai wedding singer di acara Drupadi. Hanya saja, alih-alih menghajar pelakunya, Aruna justru jatuh cinta pada Drupadi.
Drupadi tentu saja tidak menganggap Aruna serius. Ia punya banyak alasan untuk itu. Pertama, ia baru saja diputuskan ADNAN yang sudah dipacarinya selama dua tahun. Kedua, hatinya pernah dihancurkan oleh seorang musisi. Dan sekarang ia malah dikejar oleh roker yang lebih muda darinya? Apa pengalaman buruk tidak mengajarinya sesuatu?
Aruna tidak menyerah. Namun semakin lama ia mengejar Drupadi, semakin banyak rahasia yang terkuak, masa lalu kelam yang mengikat dirinya dan Drupadi. Masa lalu keduanya kembali menghantui, membawa masalah yang lebih dalam dari yang mereka duga, memaksa keduanya mempertaruhkan semua hal yang mereka cintai.
Dan kini, keduanya harus menentukan apakah marginalia, yang hanya merupakan tulisan kecil di pinggir buku, adalah keajaiban bagi cinta sejati atau bencana terbesar bagi hidup mereka. 

Coba perhatikan isinya. 

Saya sengaja langsung memberi tahu arti Marginalia itu apa karena kebanyakan orang tidak tahu apa arti Marginalia. Setelah itu, sepanjang dua paragraf, saya langsung bercerita tentang tokoh utama dan masalahnya. Semakin ke bawah, kamu dapat melihat bahwa kebanyakan saya bercerita tentang alur cerita: bagaimana tokoh utamanya malah jatuh cinta, galau, dan kemudian berhubungan dengan masa lalu. Saya sengaja memperbesar font untuk nama tokoh ketika pertama kali disebut supaya mudah bagi editor untuk melacak siapa nama tokoh utamanya. Kamu tidak harus melakukan hal ini.

Kamu juga dapat memperhatikan bahwa saya tidak memasukkan nama semua tokoh ke dalam sinopsis ini. Di dalam Marginalia ada sederet tokoh yang lain, seperti anggota Lescar lainnya, Fendi sang manager Lescar, Gandi dan Sonya pemilik Kafe Marginalia, Chiya sahabat Drupadi, Ibunya Drupadi dan Ibunya Inez. Namun nggak berarti semuanya harus berjejalan masuk ke dalam sinopsis. Jika kamu ingin memasukkan tokoh pendukung, masukkan saja tokoh yang memengaruhi kejadian penting dalam cerita. 

Jika sinopsis ini dikirimkan langsung ke penerbit, maka saya akan menjelaskan endingnya secara detil. Tetapi karena ini untuk lomba, maka saya sengaja membuat sinopsis dengan akhir cerita sengaja saya gantung. Kan saya ingin bikin jurinya penasaran.

Semoga sedikit sharing saya bermanfaat buat kalian.

Happy Writing. 


24 October 2013

Yuk Mengenal Sejarah Cerita Misteri

8:00 PM Posted by Dyah Utami 4 comments
Mungkin kamu bertanya-tanya buat apa sih tahu sejarah dan aneka bentuk cerita misteri? Sebenarnya sih memang nggak penting-penting banget kalau kamu memang ingin langsung menulis. Artinya, menulis ya menulis saja. Nggak penting juga kan menggolongkan cerita kamu termasuk apa. Orang pada akhirnya yang penting adalah kualitas kamu kok. Ntar terserah aja orang mau menggolongkan sebagai apa.

Hanya saja kalau saya pribadi, saya suka melongok sejarah karena darinya saya bisa belajar banyak hal. Termasuk di dalamnya mencari buku-buku cerita misteri yang paling berpengaruh. Dalam penjelasan berikut, saya akan melihat cerita misteri lebih sempit lingkupannya, yaitu cerita detektif atau (sebagian orang menyebut sebagai) cerita kriminal (crime writing).

Sejarah
Edgar Allan Poe
Pengarang pertama yang menuliskan cerita detektif mungkin adalah Edgar Allan Poe dalam cerita pendeknya Pembunuhan di Rue Morgue (The Murders in the Rue Morgue) pada tahun 1841. Poe bahkan menciptakan subgenre dalam cerita detektif yang disebut sebagai Impossible Crime (kejahatan yang tidak mungkin) atau sering disebut sebagai locked room mystery (misteri kamar tertutup). Kalau kamu sering membaca Detektif Conan, banyak kasus detektif conan yang termasuk locked room mystery.
 
Setelah Poe ada Sherlock Holmes yang lahir dari tangan dingin Sir Arthur Conan Doyle. Keduanya membangun sosok detektif yang rasional dan mengambil kesimpulan berdasarkan bukti yang ada. Hingga sekarang Sherlock Holmes menjadi salah satu karakter detektif yang paling berpengaruh dan menjadi panutan banyak penulis. Jadi kalau kamu mau belajar menulis cerita detektif, setidaknya, lahaplah Sherlock Holmes. 

Ragam Cerita Misteri
Hadirnya tulisan Edgar Allan Poe dan Sir Arthur Conan Doyle mendorong lebih banyak munculnya cerita misteri. Dari beragam cerita misteri (atau cerita detektif), dapat kita simpulkan ada tiga ragam cerita misteri yang berkembang sampai sekarang.

Classic Whodunit
Sebenarnya saya mau menuliskan artinya dalam bahasa Indonesia, tapi sampai sekarang sepertinya saya belum menemukan istilah yang tepat. Jadi, Classic Whodunit aja, ya? Yang termasuk ke dalam jenis cerita ini adalah kisah seperti Sherlock Holmes atau karya-karya Agatha Christie.  

Ciri-ciri cerita seperti ini biasanya terjadi di tempat-tempat yang ‘indah’ seperti dalam kisah Agatha Christie, di pedesaan Inggris. Awal cerita digambarkan sebagai dunia yang teratur kemudian keteraturan itu terganggu karena adanya pembunuhan. Tokoh utama kemudian berusaha mencari pelaku. Setelah pelaku ditemukan, dunia kembali menjadi tenang.
Aliran ini juga disebut sebagai cerita ‘cozy detective’. Disebut cozy karena memang para pembacanya menganggapnya sebagai bacaan ringan yang bisa dinikmati sembari bersantai. Pembacanya tidak perlu terlalu pusing karena akhirnya semua akan baik-baik saja.
 
Bagi sebagian pihak, classic whodunit terkesan tidak realistis. Tapi, saya pikir sampai sekarang classic whodunit masih banyak dipakai para penulis dan tidak ada salahnya dengan itu. Kalau kamu nonton serial Monk, Psych atau Castle, kamu akan menemukan nuansa classic Whodunit di dalamnya.

American Hard-Boiled Detective Story
Jika cerita detektif Inggris membuka cerita dengan dunia yang pada awalnya baik-baik saja, para detektif Amerika ini justru mengungkapkan bahwa dunia memang sudah kacau sebelum terjadi kejahatan. Kekerasan adalah hal yang biasa di dunia tersebut. Bahkan adalah hal biasa jika detektifnya sama kacaunya. Bisa jadi para detektif ini bercerai, memiliki masalah pribadi, dan lain-lain. Ciri lainnya adalah korban tidak hanya satu, tapi beragam. Dan para pelaku berusaha membungkam jagoan dengan beragam cara. Pengarang yang menonjol dari ragam cerita ini adalah Dashiell Hammet dan Raymond Chandler. Penulis terkenal lain yang masuk dalam jenis ini adalah Sue Grafton, Michael Connelly, Ruth Rendell, Val McDermid, Ian Rankin dan P.D James.

Police Prosedural
Untuk jenis yang satu ini, kamu dapat mengingatnya dengan mudah. Pokoknya, ingat saja CSI! Jika dalam Classic dan American Hard Boiled, tokoh utamanya adalah seseorang, dalam the prosedural, tokoh utamanya adalah tim polisi itu sendiri. Drama yang ditunjukkan berlangsung di laboratorium forensik, kesesuaian antara satu saksi dan yang lain dan lain-lain. Para tokoh utamanya juga digambarkan manusiawi, bukan manusia super yang serba tahu. Tokoh utamanya tidak harus polisi, lho. Bisa saja seorang profiler atau petugas forensik. Beberapa penulis yang terkenal dalam jenis ini adalah Joseph Wambaugh, James Ellroy, dan Patricia Cornwell. 

Nah, sekarang kamu sudah tahu sejarah dan ragam ceritanya. Pada pembahasan berikutnya, kita akan belajar membedakan cerita misteri dan cerita suspense.

20 October 2013

Apa itu Cerita Misteri?

7:56 PM Posted by Dyah Utami , , , 3 comments
http://farm7.static.flickr.com/6188/6042195091_1c5c2eb111.jpg
Jika kamu ditanya cerita misteri itu apa, mungkin kamu akan langsung menjawab cerita misteri rumah berhantu atau misteri UFO. Iya, kan? 

Sebenarnya cangkupan cerita misteri itu luas, lho. Tidak hanya berkisar hal gaib saja. Sue Grafton dalam pendahuluan di buku  Writing Mysteries mengatakan bahwa genre (baca: jangre) misteri itu memayungi banyak subgenre seperti: traditional whodunit, the private eye, the classic puzzle, the police procedural, action/adventure (nah ini baru bisa diartikan sebagai cerita petualangan), thriller, espionage (cerita mata-mata),  pyschological dan romantic suspense. Jadi sebenarnya, cangkupan cerita misteri itu bisa luas sekali. Kalau kamu masih bingung beda antara satu dengan yang lain, nanti kita akan pelajari bersama-sama.

Cerita misteri itu bertujuan untuk memecahkan sebuah teka-teki yang diletakkan di halaman awal. Misalnya, ditemukan sebuah mayat di depan Istana Merdeka. Yang harus dilakukan tokoh dalam cerita misteri itu adalah mencari tahu siapa pelakunya dan juga alasan melakukannya. Apakah itu ada hubungannya dengan keamanan negara (nah ini akan jatuh pada cerita misteri mata-mata. Atau mungkin akan jadi cerita suspense atau mungkin malah awal dari sebuah petualangan? 

Yang menarik (dan mungkin membuat genre cerita misteri ini terlihat sulit adalah) penulis dituntut untuk meletakkan petunjuk di beragam tempat. Mungkin ternyata korban adalah pegawai kereta api. Apakah ini ada artinya atau cuma kebetulan belaka. Begitu juga kalau ternyata ada seorang narapidana mantan teroris yang berkeliaran di sekitar tempat kejadian. Apakah ia memiliki kaitan dengan kejadian ini atau tidak?

Pada akhirnya, sebuah cerita misteri yang menarik haruslah memberi kepuasan kepada pembaca. Itu bisa berarti pelaku akhirnya tertangkap atau mungkin ada alasan mengapa pelaku membunuh korban. Tapi tidak berarti pelaku harus tertangkap, lho. Karena bisa jadi, pelaku tetap bebas karena hukum yang berlaku dan lain-lain. Yang jelas, penulis yang baik harus bisa menjelaskan mengapa akhir ceritanya haruslah seperti itu. 

Pada bagian berikutnya, saya akan menjelaskan sejarah dan beragam jenis cerita misteri dari sudut yang sedikit berbeda.

11 October 2013

Hello, Liar: Sebuah Catatan Proses Kreatif

2:05 AM Posted by Dyah Utami 8 comments

Saya memiliki kebiasaan untuk menuliskan semacam catatan singkat tentang novel saya tepat setelah novel tersebut selesai. Untuk Hello Liar, saya justru menuliskannya setelah pengumuman lomba Gagas Media Seven Deadly Sins dipublikasikan. Mungkin saya tidak mau ada juri yang membaca catatan saya ini dan jadi terpengaruh #kege-eran atau simply saya memang pemalas. Hmm, sepertinya yang kedua, karena saya baru sadar, saya tidak membuat catatan untuk Unfriend You dan Detektif Imai. #selfnote.

Hello Liar bukanlah novel dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Setidaknya, bagi saya lebih sulit mengolah plot Unfriend You dan Marginalia. Unfriend You memiliki semacam beban moral karena ada isu sosial besar yang harus disampaikan tanpa harus menggurui sementara Marginalia adalah novel romantis pertama saya. Saat itu, saya buta tentang genre novel romantis itu sendiri. 

Not The Right Time?

Pada saat menuliskan novel Hello Liar, sebenarnya tingkat energi saya tidak terlalu baik. Saya baru saja menyelesaikan dua novel berturut-turut (Detektif Imai 4 dan Unfriend You) dan saya ingin istirahat. Dua novel berturut-turut saja sudah cukup gila untuk saya, apalagi tiga? Namun pada saat yang sama, saya seperti tidak bisa melepaskan lomba ini begitu saja. Tantangan 7 Deadly Sins tidak mudah, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang berkata, It’s just too good to let go. I could do it. I just need the right story. 

Akhirnya, setelah tahu waktu penulisan naskah diperpanjang, saya memutuskan untuk ikut. Dengan hitungan waktu yang tersisa sekitar dua bulan, saya positif saya bisa menuliskan sesuatu untuk lomba ini.  

Tentang Ide

 Saya tidak langsung muncul dengan ide Hello Liar yang diangkat dari tema Greed (Keserakahan), satu dari tema 7 Seven Deadly Sins yang ditawarkan. Sebenarnya, saya terlebih dahulu bermain-main dengan ide yang lain seperti Lust (Nafsu), Pride (Kesombongan), Envy (Kedengkian), Gluttony (Kerakusan), Sloth (Kemalasan). Tetapi pada akhirnya semua ide ini mental dengan satu alasan: terlalu banyak riset yang harus dilakukan. Ada ide yang melibatkan penari balet dan juga dokter hewan dan kebun binatang. Terbayang kan harus seperti apa risetnya? Rasanya tidak mungkin saya riset sekaligus menulis dalam waktu dua bulan.

Selama berhari-hari,  saya mencermati daftar 7 Deadly Sins berkali-kali. Sesekali saya bertemu dengan Ninna Rosmina di perpustakaan untuk berdiskusi tentang tema yang masing-masing kami ambil. Kami mencari buku-buku yang disarankan oleh pihak juri Gagas Media. Saya mulai browsing di internet, berusaha mengerti makna 7 Deadly Sins itu sendiri serta beberapa buku yang terkait dengan hal itu.

Untuk setiap dosa, saya mencoba menjabarkan ide apa yang bisa saya buat. Sesuatu yang unik tetapi tidak terlalu menyulitkan saya. Dan yang lebih penting lagi, saya harus menikmati perjalanan menulisnya.

Ketika sedang mengamati Greed, saya mulai berpikir. Apa bentuk tertinggi dari keserakahan? Tidak lain dan tidak bukan, korupsi. Tetapi korupsi terkesan berat, ribet dan mungkin tidak banyak orang yang mau membacanya—termasuk saya. Kecuali saya bisa sebagus Aravind Adiga dalam The White Tiger yang menang Man Booker Prize, sebaiknya saya lupakan saja ide menulis tentang korupsi.  Bagaimana dengan kejahatan lainnya? Apa bentuk lain dari keserakahan yang membuat jengkel banyak orang, yang dialami hampir setiap orang? Jawaban yang muncul di otak saya: Penipuan.

Korupsi bisa terasa atau tidak pada kehidupan sehari-hari. Tetapi penipuan? Yes. Kamu menemukan penipuan lewat SMS mama-minta-pulsa, telepon palsu dari 'rumah sakit', teman yang minta contekan, pacar yang selingkuh atau bahkan iklan di televisi. Begitu banyak penipuan yang terjadi sehingga cukup membuatmu percaya semua orang penipu. Bagi penulis, itu berarti ada banyak tema yang bisa dieksploitasi dari kisah penipuan. 

Tetapi tema yang berbeda saja tidak cukup. Semua penulis yang ikut lomba pasti akan berlomba-lomba menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Dengan reputasi Gagas, saya yakin ada cukup banyak penulis bagus yang ikutan. Karena itu saya butuh ‘sesuatu’ yang bisa membuat novel saya menonjol di antara yang lain. Saya membutuhkan simbol, keunikan, lokalitas atau apalah gitu. Saat itulah saya memutuskan untuk memasukkan unsur terakhir dari bahan blenderan novel saya: cerita rakyat. 

Nah, apa cerita rakyat yang saya masukkan ke dalam cerita? Silakan mulai menebak-nebak.

Detik Terakhir

Maka dalam waktu kurang dari dua bulan (sebelum dipotong perkiraan waktu pembuatan video dan pengiriman naskah), saya berusaha mengerjakan naskah Hello Liar. Dan ya, selama 2 bulan itu, saya merasa cukup bersenang-senang. Saya sangat menyukai tokoh utama saya yang tidak biasa, plotnya yang tidak mudah ditebak dan yang paling tidak saya duga, saya cukup menikmati pembuatan videonya bersama Ninna Rosmina. Pembuatan video itu hanya berlangsung satu hari, tetapi sepertinya kami berhasil membuat video yang lumayan representatif untuk lomba (sebenarnya sih daripada nggak ada). Saya belajar banyak tentang tampil dan membuat video dari sini. Saya rasa, itu adalah salah satu poin pembelajaran terpenting dari lomba ini.

Dan detik terakhir? Yup! Saya mengirimkannya hanya satu hari sebelum tenggat waktu. Seperti biasa, tenggat waktu selalu diwarnai dengan tinta printer yang mendadak habis. Ada yang tahu mengapa tinta printer selalu habis pada saat genting?

Jadi, itulah sekilas sharing saya tentang Hello Liar. Semoga ada satu atau dua hal yang bisa kamu pelajari dari pengalaman saya. 

Jangan lupa, tunggu kehadiran novelnya, ya. :D

03 October 2013

Kamu Nggak Perlu Good Mood Untuk Menulis

4:02 AM Posted by Dyah Utami 1 comment
Salah satu mitos yang sering dikembangkan penulis (atau penulis baru) adalah kita memerlukan mood tertentu untuk menulis. Jika suasana hati kita lagi bagus, kita bisa menulis. Jika suasana hati kita nggak bagus (alias malas), kita tidak bisa menulis. Ada juga yang harus ada pendorong mood atau mood booster, baru deh kita bisa menulis. Misalnya: harus diiringi musik, ditemani kopi atau ditemani cowok ganteng. ^_^ 

Benarkah demikian?

Pada awalnya, saya juga termasuk yang percaya bahwa menulis itu perlu suasana hati yang bagus. Perasaan bahwa suasana hati yang bagus itu penting menjadikan pekerjaan menulis menjadi sesuatu yang spesial. Seakan-akan penulis adalah makhluk penting yang kalau suasana hatinya tidak bagus, ia tidak bisa menulis. Dan kalau ia tidak menulis, maka tamatlah riwayat industri penerbitan.

Tetapi lama kelamaan, saya tahu saya tidak memiliki kemewahan yang bernama waktu. Waktu tidak pernah peduli akan suasana hati saya. Bagi waktu, entah ada tenggat waktu atau tidak, pilihan saya hanya dua: menulis atau tidak menulis. 

Kemudian, saya mulai memaksakan diri untuk menulis. Novel tidak akan pernah terwujud hanya karena saya memikirkannya. Saya yang harus duduk di depan komputer dan mengetikkannya. Saat itulah, saya menyadari bahwa kualitas tulisan saya saat good mood ataupun bad mood sama bagusnya (atau sama jeleknya, tergantung sudut pandang kamu). 

Mungkin karena saya tipe orang yang moody, pada akhirnya saya juga banyak memikirkan masalah mood itu sendiri. Mengapa sih saya enggan menulis? Apa yang membuat saya malas? Dan yang paling penting, bagaimana saya bisa mengatasi masalah mood-mood-an ini? 

Dari pengalaman saya, ada tiga penyebab mengapa kamu menulis.

Kamu malas menulis ya karena kamu malas saja. Titik. Kamu tidak memiliki motivasi menulis. Kamu merasa masih banyak hal yang lebih menarik daripada menatap layar putih yang menyebalkan itu. So, kalau ini penyebab kamu malas menulis, temukan alasan mengapa kamu harus menulis. Apa cerita itu penting bagi kamu, kamu butuh eksis, butuh uang dan lain-lain. Jika kamu tetap saja tidak menemukan motivasi, berhentilah membuang waktu kamu untuk menulis. 

Kamu takut karya kamu dianggap jelek. Ini adalah penyebab keengganan saya menulis. Saya takut karya saya tidak cukup bagus atau sebaliknya, standar yang saya terapkan terlalu tinggi sehingga pada akhirnya saya malah tidak menulis. Saya percaya, kebanyakan orang yang serius menulis menghadapi masalah ini. Perfeksionis. 

Bagi saya, tidak mudah menghadapi hal ini. Setiap kali saya memulai karya baru, saya selalu dijangkiti penyakit ini. Cara yang saya lakukan adalah, saya membayangkan betapa menyenangkannya jika saya berhasil menyelesaikan novel tersebut. Saya membayangkan betapa cantik covernya atau betapa bahagia para pembaca saya. Hal positif seperti itu selalu bisa membangkitkan semangat saya untuk terus menulis.

Namun jika cara itu tidak berhasil, ingatlah bahwa semua tulisan pada awalnya adalah sampah (kata Hemingway, lho). Semua karya yang kamu anggap bagus merupakan hasil koreksi dan revisi berkali-kali. Semua alur cerita yang indah itu merupakan perombakan cerita berkali-kali. Dan betapapun indahnya tulisan kamu, pembaca akan menemukan cara untuk membantai tulisan kamu. Perasaan takut bukan untuk kamu hindari, tetapi kamu terima dan kamu hadapi. 

Kamu nggak mood menulis karena kamu nggak tahu apa yang harus ditulis. Otak kita blank karena otak kita kekurangan gizi. Artinya, kamu kurang banyak baca buku atau kurang pengalaman hidup. Saya termasuk tipe yang sebelum membuat baca dan menonton film. Ini bukan sekedar riset, tetapi juga merupakan cara saya untuk ‘mencuri’ ide. Saya mencari novel sejenis supaya menghindari penulisan yang sama, tetapi saya juga mencari novel di mana saya bisa mendapatkan cara baru untuk menerapkan ide saya. 

Kalau kamu kurang pengalaman hidup, coba memperluas pergaulan kamu, jalan-jalan untuk mencari inspirasi, bergabunglah dengan komunitas dan cari hobi lain, bukan hanya menulis. Pengalaman hidup membantu pemikiran kamu jadi lebih luas dan lebih dalam, dan semakin banyak manusia yang kamu temui, kamu semakin punya banyak bahan untuk kamu tulis.

Intinya, jangan menyerah begitu saja kalau suasana hati kamu lagi nggak bagus (terutama kalau kamu menghadapi tenggat waktu). Kamu yang seharusnya mengatur suasana hati kamu, bukan sebaliknya. 

Happy Writing!

31 July 2013

Hari Gini Masih Nge-bully dan di-bully? Apa Kata Smash? - Kisah Pemenang GA Unfriend You

4:00 PM Posted by Dyah Utami 9 comments

Hari Gini Masih Nge-bully dan di-bully? Apa Kata Smash?! 

oleh Mel Ara


Sempat ngerasa sedih, karena sering di-bully
Pernah jadinya malu, karena dicibir mulu …

 
Pernah dengar lirik lagu Smash yang itu? Yups, Senyum semangat! Eits … saya bukannya penggemar boy band lho, cuma suka aja sama lirik lagunya —whatever-lah! Fixed say thanks to Smash J

Apa hubungannya lirik lagu Smash dengan artikel ini? Cuma mau bahas tentang bullying kok .... 
—soalnya ada kata-kata bully di lirik lagu Smash tadi #maksa!

Kata bully memang bukan barang baru lagi, itu merupakan suatu tindak penindasan dan pelecehan psikis yang tidak bermoral. Kasihan korban bully, akan merasa terkucil, rendah diri, malu dan bisa tidak punya semangat hidup lagi. Padahal kalau ditelusuri, biasanya orang yang suka nge-bully hanya karena didasari oleh perasaan iri hati, dengki, dendam dan ingin menutupi kekurangan diri dengan cara menindas orang yang dianggap lemah, agar dirinya merasa lebih hebat.

Kenapa seseorang bisa tega mem-bully? Biasanya didorong karena perasaan benci dan dendam. Bisa juga karena penyakit jiwa, merasa tertekan, tidak puas akan suatu hal, hingga mencari pelampiasan dengan menyakiti orang lain. Dan kenapa seseorang bisa kena bully? Karena orang tersebut lemah, penakut, tak kuasa melawan karena menganggap lawan lebih kuat/jumlah lebih banyak. Yang di-bully juga bisa jadi sedang diberi pelajaran supaya kapok. Makanya kawan … kalau tidak mau di-bully, hati-hati menjaga sikap, kalau bikin salah lebih baik cepat introspeksi diri, jangan malah sibuk cari pembelaan diri. Ingat ya kawan, ada api pasti ada asap, semua akibat pasti bermula dari sebab #ngomong apa sih?

Tapi kalau ditelaah lagi, sebenarnya baik yang mem-bully atau di-bully pada hakikatnya sama-sama merugi. Kok bisa? Karena kegiatan bully mem-bully itu jelas perbuatan tidak bermanfaat. Pernah dengar istilah ‘kalah jadi abu menang jadi arang’? Apa hubungannya? Bukannya yang di-bully sama sekali tidak menghendaki hal itu menimpanya? Betul! Tapi coba deh pikirkan lagi. Keuntungan apa yang diperoleh dari acara ‘bullying’? Tidak ada!

Secara psikis, kedua belah pihak sama-sama terbebani oleh pikiran-pikiran negatif dan rasa takut. Karena yang mem-bully bisa diliputi perasaan bersalah, dan yang di-bully merasakan takut dan depresi. Kalau sudah begini, bagaimana cara mengatasi agar jangan sampai terjadi bullying di sekitar kita?

Berpikir positif! Yups, siapa pun dan tentang apa pun. Kalau ada masalah, jangan dijadikan ajang bully mem-bully. Jangan lari dari masalah dan jangan mau jadi korban bullying. Bully biasanya diawali dengan intimidasi. Sebelum berkelanjutan, kalau perlu intimidasilah pelaku intimidasi. Bukan bermaksud membalas, tapi ibarat makan buah simalakama, lebih baik makan saja salah satunya. Anda tidak mau berada di pihak yang merugi dan dirugikan, bukan? Hidup itu pilihan, kawan!

Jika merasa terbebani oleh suatu masalah, bicarakanlah dengan orang yang tepat. Jangan asal curhat. Mentang-mentang ada social media, maka dijadikan fasilitas buat mengusir galau yang ujung-ujungnya bisa membuat suasana memanas, dan tanpa disadari dari situlah proses bully mem-bully terjadi. Di zaman internet sekarang ini, kegiatan bullying dunia nyata pun sudah merambah sampai ke dunia maya —sudah bukan hal aneh. Padahal tidak bermaksud menyindir siapa pun, tapi karena seseorang merasa bermasalah karena suatu kejadian, maka terjadilah kesalahpahaman yang memakan emosi dan melibatkan banyak pihak. Sebaiknya jangan termakan emosi, atasi segala perbedaan pendapat dengan kepala dingin.

Daripada pusing-pusing, mending cari kegiatan positif. Menulis, baca buku atau mendengar musik. Sssttt … ada novel bagus nih, tentang bullying dan kisah persahabatan yang mengharu biru dari Kak Dyah Rini, judulnya Unfriend You. Masihkah kau temanku? Masih dong ya. Yuk, stop bullying dan kekerasan di sekitar kita. Tidak ada manfaatnya, kawan! Mending kita nyanyi lagi aja J

Tak peduli ku di-bully, omongan lo gue beli
Cacian lo gue cuci dengan senyuman prestasi
Tak pernah ku malu karna cibiranmu
Kujadikan motivasi untuk maju!

Senyumanku tak akan pernah luntur lagi, singing all day long
Semangatku tak akan pernah patah lagi, dancing all nigth long


Sumber aslinya bisa dicek di http://melardi46.blogspot.com/2013/07/hari-gini-masih-nge-bully-dan-di-bully.html

28 July 2013

Apa Salahku? : Kisah Pemenang Giveaway Unfriend You

5:12 PM Posted by Dyah Utami 5 comments

Sekarang ini sering kali terdengar kata-kata “bullying”. Awalnya aku gak tau apa arti bullying itu. Tapi setelah search ke google dan tau artinya ternyata sering aku alami sejak aku kecil. Pada masa-masa sekolah dulu.
Aku  adalah anak pertama dari dua bersaudara (saat itu). Ketika usia TK aku dititipkan di rumah uwakku (kakaknya papa), hal tersebut bukan berarti karena kedua orang tuaku tak mau mengurusku tetapi karena saat itu aku paling akrab dengan uwak. Uwak hanya memiliki satu anak tunggal yang sudah kuliah, sehingga akulah yang menemaninya seharian di rumah sejak umur 4 tahun.
Alhamdulillah di keluarga uwak aku di berikan fasilitas, dan kasih sayang yang cukup seperti seorang ibu terhadap anaknya.
Nah, hingga aku memasuki usia TK. Aku disekolahkan oleh uwak di sebuah TK swasta di Denpasar, Bali. TK tersebut letaknya tak jauh dari rumahnya uwak, tinggal nyebrang dari komplek perumahan uwak.

Karena sekolah swasta saat itu adalah sekolah yang “wah”, maka di sekolah itu pun aku belajar dengan fasilitas yang menurutku sudah mewah. Zaman dahulu, tahun 1991 yang namanya otopet belum terlalu dikenal, tapi di sekolahku mainan itu sudah ada. Tentu saja disesuaikan dengan ukuran anak TK. Permainan bak pasir, taman tanah liat. Kami bebas menggunakannya saat jam istirahat tiba. Di sekolah itu pun dahulu aku tidak belajar menulis ataupun berhitung seperti pada zaman sekarang. Disana kami belajar berdoa, melipat, menggunting, mewarnai, mengecat, membuat pola. Selebihnya adalah bermain.
Aku sangat menikmati sekolah disana, kecuali dengan beberapa anak-anak lelakinya. Entah kenapa saat aku sedang bermain ayunan, anak-anak tersebut merebutnya. Mereka medorongku, meludahiku dan mengatai-ngataiku. Sehingga sempat membuat aku mogok sekolah beberapa hari. Aku yang memang dasar pendiam, tak pernah mau bercerita kepada siapapun. Akhirnya uwak menungguiku saat jam sekolah. Sejak itu tak ada lagi yang menggangguku.  hingga aku lulus aku dari TK tersebut.  Itulah saat pertama kalinya aku mengalami bullying.
Saat kedua adalah ketika aku dan keluargaku ( mama, papa dan adikku) pindah dari Denpasar ke Bandung. Aku si anak baru masuk pada pertengahan caturwulan di kelas empat SD di sebuah SD negeri di Bandung dan belum tahu apa-apa tentang sekolah baruku tersebut. Aku homesick. Aku kangen dengan kehidupanku di Bali, dengan uwakku, kangen dengan teman-temanku sekolahku dahulu. Walaupun Bali hanyalah tempat kelahiranku tapi bagiku Bali itu sudah menyatu dalam jiwaku.
Saat itu aku masih merasa canggung dan hanya berkenalan dengan beberapa teman saja. Setelah beberapa bulan, entah karena aku pendiam atau apa, aku mengalami bullying lagi. Badanku yang agak bongsor membuat anak laki-laki mengejekku. Si “Ubur-ubur”.
Selain itu beberapa temanku juga mengalami bullying di kelas. Ketua kelas kami adalah seorang anak perempuan yang semena-mena. Entah bagaimana ceritanya dia bisa menjadi KM (Ketua Murid). Menurut temanku sejak kelas satu SD dia selalu menjadi KM dan anak emas para guru padahal anaknya gak pinter, bukan juara umum, dari keluarga yang kurang (hanya gayanya aja yang sok jadi orang kaya). Sebut saja namanya Yuli.
Yuli selalu dititipi wali kelas agar kelas tenang , tidak berisik sehingga tidak mengganggu kelas lain yang sedang belajar. Yuli pun menerapkan aturan jika ada yang berisik atau mengobrol saat jam pelajaran kosong alias tidak ada guru maka mulutnya akan di tutupi lakban. Tapi hal tersebut tidak membuat teman-teman jera. Masih saja banyak “korban” Yuli. Lalu ia pun menambah hukuman dengan mengolesi balsam di mulut orang yang membuat kegaduhan. Tak ada yang bisa menolak aturan Yuli saat itu. Hingga suatu hari aku dan temanku, Amri pun kena olesan balsam di mulut. Padahal kami tidak mengobrol saat itu. Kami hanya berbincang dan membahas pelajaran yang tadi disampaikan oleh guru kami karena ada hal yang tidak aku mengerti dari penjelasan ibu guru.
Teman-temanku kaget melihat aku dan Amri diolesi mulutnya dengan balsam. Mereka semua tahu kalo aku anak baru yang pendiam dan gak pernah membuat kegaduhan. Tetapi Yuli tidak peduli. Amri saat itu meringis dan air matanya jatuh karena menahan rasa perih, Walaupun hanya di diolesi di mulut saja. Aku hanya bisa menangis di dalam kamar tanpa ada satu orang pun yang tahu sehingga membuatku merasa malas lagi ke sekolah dan aku menjadi anak dengan prestasi yang biasa aja. Aku merasa dia hendak mempeloncoku sebagai anak baru dan supaya tidak kelihatan Amri pun ikut jadi korban.

Peraturan itu hanya berlangsung beberapa bulan saja, mungkin karena ada yang melapor kepada wali kelas kami. Akhirnya peraturan diubah. Dengan didenda Rp. 50,-/orang ,dan uangnya akan dimasukkan ke dalam uang kas kelas. Lagi-lagi semuanya tidak bisa menolak walaupun merasa keberatan.
Kemudian saat aku kelas enam SD. Aku mempunyai sahabat dekat 4 orang. 3 perempuan dan satu laki-laki. Entah apa salahku pada Elma, sahabatku tersebut tega membuat hatiku sakit. Dia tiba-tiba pindah ke kelompok Yuli, dkk. Padahal yang kutahu dahulu ia tak suka sama sekali dengan Yuli. Elma pun tak pernah mau disapa lagi oleh kami apalagi menyapa dan tak pernah mau lagi bermain dengan kami bertiga.  Dia membully aku melalui tangan orang lain, beberapa teman laki-laki di kelas. Aku lupa fitnahan apa yang ia lemparkan tetapi yang pasti saat itu ada beberapa anak laki-laki yang menerorku  melalui telepon ke rumah. Orang tuaku marah besar. Setelah diselediki oleh wali kelasku akhirnya ketahuanlah siapa pelaku pemfitnahan tersebut dan otak di baliknya. Ternyata otak di balik ini semua adalah sahabatku sendiri, Elma. Mereka pun meminta maaf.
Di sekolah madrasah pun aku pernah mengalami bullying. Entah siapa yang melakukakannya.  Suatu hari aku menemukan sebuah tulisan di dalam buku tulisku.
Jelema Beunghar Teu Ngamodal!! (Orang kaya tapi tidak ngemodal!!) Begitulah isi kata-kata tersebut. Apa maksudnya ya? Aneh, padahal aku gak pernah minta-minta makanan saat orang lain jajan, gak pernah malak. Apa mungkin karena aku jarang jajan? ataukah ada yang sakit hati gara-gara salah seorang temanku pernah kumarahi karena mencontek hasil pekerjaanku? Ah.. entahlah..
Saat aku SMP kelas dua, pembullyan itu belum selesai. Aku dimanfaatkan oleh teman sebangkuku. Aku harus mengerjakan tugas kelompok sendirian. Tetapi setelah tugasnya selesai, hasil kerja kerasku hingga begadang tidak terpakai, dia malah menggunakan hasil kerja dari temanku yang lain yang sekelompok. Selain itu juga dia sering menghindari dan menjauhi aku. Dia ada hanya saat butuh aku saja, ketika aku sudah tidak dibutuhkan dia berteman dengan orang lain. Kami sebangku tetapi dia sering melengos pergi atau pindah-pindah bangku. Sakit sekali hatiku saat itu. Teman-teman yang menyaksikan hal tersebut bersimpati denganku dan merangkulku. Untungnya teman laki-laki saat itu baik-baik, sehingga aku banyak berteman dengan mereka. Aku pun menyaingi dia dengan prestasi. Rangkingku selalu diatas dia. Dia selalu tampak tidak senang dengan prestasiku dan mulai mencoba mendekatiku lagi. Tapi aku sekarang tidak terlalu perduli dengannya, toh aku sudah punya banyak teman baru.
Ada lagi, di kelas yang sama. Saat SMP kelas satu cawu II aku sudah berkerudung. Saat itu anak yang berkerudung masih jarang dan aneh. Di kelasku yang berkerudung ada 2 orang, tetapi hanya aku yang berkerudung rapih selebihnya bongkar pasang kerudung. Beberapa anak laki-laki di kelas sangat penasaran denganku. Mereka yang tak mengenalku saat belum berkerudung selalu penasaran dengan panjangnya rambutku kini yang telah ditutupi kerudung.
“Yu, rambutmu panjangnya segimana sih? Sebahu? Sedada? Sepinggang? Atau jangan-jangan kamu botak ya makanya kamu berkerundung?” Kata seorang temanku.
“Yee.. aku kan di kerudung supaya rambutku ga kelihatan. Kalo mau mamerin rambut ngapain juga berkerudung.” Jawabku.
Beberapa dari mereka sampai ada yang mengintipku ketika wudhu supaya melihat seberapa panjangnya rambutku, bahkan hingga ketika di kamar mandi sekalipun. Untung saja segera ketahuan oleh istrinya penjaga sekolah dan mereka pun akhirnya dimarahi.
Ada juga seorang teman laki-laki. Dia sangat gemulai, kayak perempuan. Ya bisa dibilang banci lah. Temen-temen laki-laki banyak yang jijik sama dia, dan dia pun tidak senang bergaul dengan teman laki-laki tetapi lebih banyak dengan teman perempuan. Aku pun sedikit meladeninya dan menanggapi cerita-ceritanya yang bagiku tak masuk akal. Walaupun dia gemulai, tetapi nalurinya sebagai lelaki tetap ada.
“Yu, kamu bawa mukena gak? aku mau solat duhur nih.” Katanya pada jum’at siang saat kami sedang mengerjakan tugas matematika karena gurunya berhalangan hadir.
“Kamu kan laki, Gilang? Masa mau pake mukena? Kamu gak jum’atan ya?” jawabku.
Tiba-tiba dia mendekati kearah samping saat aku duduk. Dan membuka kerudungku dengan mudahnya dari arah belakang (karena kerudung langsung).
Semuanya kaget. Aku pun langsung menangis dan mengambil kerudungku untuk dipakai kembali. Benar-benar memalukan. Teman laki-laki pun langsung mengeroyok Gilang. Diletakkannya Gilang diatas meja dengan posisi terlentang dan “digulung”. Maka sejak itu aku pun jijik dengan temanku itu.
Untuk kesekian kalinya aku mengalami lagi apa itu bullying. Terjadi di SMA kelas satu. KM di kelasku perempuan namanya Sinta. Dia kayaknya gak suka dengan teman-teman yang berkerudung. Empat orang yang berkerudung termasuk aku tidak diajak dan ikut peran dalam drama di panggung dalam rangka tugas kesenian. Kami hanya dijadikan seksi konsumsi yang harus melayani teman-teman saat pentas di panggung, kami dianggap emak-emak. Kami dikucilkan dan tidak terlalu dianggap.Kami jadi harus membuat prakarya sebagai tugas pengganti.
“Yu, kasian kelas kamu kok anak yang berkerudungnya gak ikut main di panggung hanya di jadikan seksi konsumsi aja. Padahal di kelas lain semuanya ikut gabung.” Ucap Vera temanku dari kelas lain.
“Gak tau, gak suka kali dia sama yang berkerudung.” Jawabku sambil tersenyum getir.
Aku gak tau mengapa hampir seluruh hidupku aku mengalami bullying.  Apa karena aku terlihat lemah sehingga mereka dengan seenak udelnya memperlakukanku begitu?.
Setelah mengalami bullying hampir dalam seluruh hidupku aku menjadi anak yang selalu minderan, makin pendiam, dan pernah punya niat untuk bunuh diri dengan menabrakkan diri di kereta atau minum baygon.
Dalam keputus asaanku, aku pun melarikan diri dan bergaul dengan teman-teman Rohis ataupun eksul, dan tidak banyak bergaul dengan teman-teman di kelas. Semuanya Memuakkan!!
Untung saja pelarianku ini berbuah manis. Lama kelamaan aku makin mantap menatap hidup, merasa jadi orang yang berguna, rasa percaya diri ada lagi.
Banyak sekali pelajaran dan hikmah yang aku ambil dari sahabt-sahabatku di Rohis.
Ini dia yang membuatku kembali bangkit:
1. Aku berteman dengan orang-orang yang tepat, mereka selalu optimis. Melihat masalah adalah sebagai sebuah pendewasaan diri.
2. Jangan perdulikan orang lain, fokus pada diri sendiri.
3. Ingat kita punya Alloh sandaran kita semua
4. Biarkan orang lain berbuat jahat toh dia yang akan dapat dosanya.
5. Selalu berbuat baik kepada orang lain dan berpikir positif, walaupun kita di jahati.
6. Bila kita mau marah, jangan lampiaskan kepada orang lain. Jangan sampai orang lain jadi korban kemarahan kita. Cara untuk marah. Lampiaskan dengan mengalihkan ke nulis, menuliskan uneg-uneg lalu di bakar, atau juga menuliskan di atas pasir.
7. Simpan sendiri masalah (jangan diumbar) dan Curhat kepada orang yang tepat bila ada masalah, walaupun kadaang tidak menyelesaikan. Setidaknya beban terkurangi.
8. Terbuka kepada orang tua.
9. Berbagi rasa gembira kepada orang lain
10. ingat selalu kebaikan orang lain kepada kita dan ingat kesalahan kita kepada orang lain.
11. Tunjukkan sifat tegas, kritis,dan berani sehingga tidak di pandang sebagai orang yang lemah.

Aku sangat berterima kasih kepada sahabat-sahabatku : Kang Bayu, Kang Bukhari, Teh Hindun, Teh Nur, Kang Firman,  Kang Mamin, Teh Desti, Kang Yari. Dan hingga sekarang aku masih menjalin hubungan dengan beberapa orang diantara mereka.
So.. Apa salahku hingga aku sering mengalami bullying? Itu urusan mereka!!!

Baca naskah aslinya di: http://tajdiidunnisaa.wordpress.com/2013/07/17/apa-salahku/