Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

11 May 2010

Pembunuhan Dalam Cerita Anak: Ya atau Tidak?

3:17 AM Posted by Dyah Utami , , , No comments
Suatu siang ketika saya jalan ke toko buku Gramedia, saya menemukan sebuah buku Misteri Pembunuhan Penggemar Harry Potter karya seorang anak umur 13 tahun. Saya tahu, ini buku yang sudah sedikit lama (2005), akan tetapi ketika pertama keluar saya tidak begitu memperhatikan kehadirannya. Sampai sekarang.

Saya sebenarnya masih sedikit bingung membuat pembatasan kekerasan dalam sebuah cerita anak. Bahkan untuk memasukkan tema kematian dalam cerita anak saja, saya merasa perlu hati-hati. Kalau ditujukan untuk anak terlalu muda, saya menghindarinya. Karena itu juga saya menabukan diri untuk memasukkan cerita pembunuhan. Kenapa? Karena pembunuhan merupakan hal yang serius dan punya tingkat kekerasan yang tinggi (meskipun hal yang sama bisa diterapkan pada penyiksaan atau pemerkosaan). Melihat pembunuhan juga merupakan suatu hal yang traumatis, bahkan bagi orang dewasa sekalipun.

Memang di dalam buku tersebut, pembunuhan tidak terlalu diekspos. Bahkan menurut saya terlalu sederhana. Sedikit mengejutkan melihat anak-anak yang jadi detektif cilik mengharapkan bertemu dengan kasus pembunuhan. Bahkan setelah dapatpun, reaksi mereka terhadap pembunuhan itu sendiri, minimalis (saya mengharapkan ada rasa shock atau ketakutan ketika pertama kali melihat pembunuhan. Ternyata, tidak.)

Setelah saya membaca buku itu, saya jadi meragukan pemikiran saya sendiri. Mungkinkah anak zaman sekarang lebih terekspos dalam masalah kekerasan hingga cerita pembunuhan bukan lagi masalah? Coba lihat game yang dimainkan anak-anak zaman sekarang. Banyak yang mengandung darah di mana-mana. Memang sih game itu bukan buat anak-anak. Maksud saya adalah, apakah zaman telah berubah sehingga petualangan lima sekawan, Nancy Drew atau Hardy Boys cuma cocok untuk 'bayi' saja? Atau bagaimana? Ya atau tidak untuk cerita pembunuhan dalam cerita anak-anak?

Oh, ya. Satu lagi. Bagaimana dengan peran penegak hukum atau figur yang dihormati (guru) sebagai sosok antagonis (penjahat) dalam cerita anak. Setuju atau tidak?

Reactions:

0 komentar:

Post a Comment