Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

11 October 2013

Hello, Liar: Sebuah Catatan Proses Kreatif

2:05 AM Posted by Dyah Utami 8 comments

Saya memiliki kebiasaan untuk menuliskan semacam catatan singkat tentang novel saya tepat setelah novel tersebut selesai. Untuk Hello Liar, saya justru menuliskannya setelah pengumuman lomba Gagas Media Seven Deadly Sins dipublikasikan. Mungkin saya tidak mau ada juri yang membaca catatan saya ini dan jadi terpengaruh #kege-eran atau simply saya memang pemalas. Hmm, sepertinya yang kedua, karena saya baru sadar, saya tidak membuat catatan untuk Unfriend You dan Detektif Imai. #selfnote.

Hello Liar bukanlah novel dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Setidaknya, bagi saya lebih sulit mengolah plot Unfriend You dan Marginalia. Unfriend You memiliki semacam beban moral karena ada isu sosial besar yang harus disampaikan tanpa harus menggurui sementara Marginalia adalah novel romantis pertama saya. Saat itu, saya buta tentang genre novel romantis itu sendiri. 

Not The Right Time?

Pada saat menuliskan novel Hello Liar, sebenarnya tingkat energi saya tidak terlalu baik. Saya baru saja menyelesaikan dua novel berturut-turut (Detektif Imai 4 dan Unfriend You) dan saya ingin istirahat. Dua novel berturut-turut saja sudah cukup gila untuk saya, apalagi tiga? Namun pada saat yang sama, saya seperti tidak bisa melepaskan lomba ini begitu saja. Tantangan 7 Deadly Sins tidak mudah, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang berkata, It’s just too good to let go. I could do it. I just need the right story. 

Akhirnya, setelah tahu waktu penulisan naskah diperpanjang, saya memutuskan untuk ikut. Dengan hitungan waktu yang tersisa sekitar dua bulan, saya positif saya bisa menuliskan sesuatu untuk lomba ini.  

Tentang Ide

 Saya tidak langsung muncul dengan ide Hello Liar yang diangkat dari tema Greed (Keserakahan), satu dari tema 7 Seven Deadly Sins yang ditawarkan. Sebenarnya, saya terlebih dahulu bermain-main dengan ide yang lain seperti Lust (Nafsu), Pride (Kesombongan), Envy (Kedengkian), Gluttony (Kerakusan), Sloth (Kemalasan). Tetapi pada akhirnya semua ide ini mental dengan satu alasan: terlalu banyak riset yang harus dilakukan. Ada ide yang melibatkan penari balet dan juga dokter hewan dan kebun binatang. Terbayang kan harus seperti apa risetnya? Rasanya tidak mungkin saya riset sekaligus menulis dalam waktu dua bulan.

Selama berhari-hari,  saya mencermati daftar 7 Deadly Sins berkali-kali. Sesekali saya bertemu dengan Ninna Rosmina di perpustakaan untuk berdiskusi tentang tema yang masing-masing kami ambil. Kami mencari buku-buku yang disarankan oleh pihak juri Gagas Media. Saya mulai browsing di internet, berusaha mengerti makna 7 Deadly Sins itu sendiri serta beberapa buku yang terkait dengan hal itu.

Untuk setiap dosa, saya mencoba menjabarkan ide apa yang bisa saya buat. Sesuatu yang unik tetapi tidak terlalu menyulitkan saya. Dan yang lebih penting lagi, saya harus menikmati perjalanan menulisnya.

Ketika sedang mengamati Greed, saya mulai berpikir. Apa bentuk tertinggi dari keserakahan? Tidak lain dan tidak bukan, korupsi. Tetapi korupsi terkesan berat, ribet dan mungkin tidak banyak orang yang mau membacanya—termasuk saya. Kecuali saya bisa sebagus Aravind Adiga dalam The White Tiger yang menang Man Booker Prize, sebaiknya saya lupakan saja ide menulis tentang korupsi.  Bagaimana dengan kejahatan lainnya? Apa bentuk lain dari keserakahan yang membuat jengkel banyak orang, yang dialami hampir setiap orang? Jawaban yang muncul di otak saya: Penipuan.

Korupsi bisa terasa atau tidak pada kehidupan sehari-hari. Tetapi penipuan? Yes. Kamu menemukan penipuan lewat SMS mama-minta-pulsa, telepon palsu dari 'rumah sakit', teman yang minta contekan, pacar yang selingkuh atau bahkan iklan di televisi. Begitu banyak penipuan yang terjadi sehingga cukup membuatmu percaya semua orang penipu. Bagi penulis, itu berarti ada banyak tema yang bisa dieksploitasi dari kisah penipuan. 

Tetapi tema yang berbeda saja tidak cukup. Semua penulis yang ikut lomba pasti akan berlomba-lomba menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Dengan reputasi Gagas, saya yakin ada cukup banyak penulis bagus yang ikutan. Karena itu saya butuh ‘sesuatu’ yang bisa membuat novel saya menonjol di antara yang lain. Saya membutuhkan simbol, keunikan, lokalitas atau apalah gitu. Saat itulah saya memutuskan untuk memasukkan unsur terakhir dari bahan blenderan novel saya: cerita rakyat. 

Nah, apa cerita rakyat yang saya masukkan ke dalam cerita? Silakan mulai menebak-nebak.

Detik Terakhir

Maka dalam waktu kurang dari dua bulan (sebelum dipotong perkiraan waktu pembuatan video dan pengiriman naskah), saya berusaha mengerjakan naskah Hello Liar. Dan ya, selama 2 bulan itu, saya merasa cukup bersenang-senang. Saya sangat menyukai tokoh utama saya yang tidak biasa, plotnya yang tidak mudah ditebak dan yang paling tidak saya duga, saya cukup menikmati pembuatan videonya bersama Ninna Rosmina. Pembuatan video itu hanya berlangsung satu hari, tetapi sepertinya kami berhasil membuat video yang lumayan representatif untuk lomba (sebenarnya sih daripada nggak ada). Saya belajar banyak tentang tampil dan membuat video dari sini. Saya rasa, itu adalah salah satu poin pembelajaran terpenting dari lomba ini.

Dan detik terakhir? Yup! Saya mengirimkannya hanya satu hari sebelum tenggat waktu. Seperti biasa, tenggat waktu selalu diwarnai dengan tinta printer yang mendadak habis. Ada yang tahu mengapa tinta printer selalu habis pada saat genting?

Jadi, itulah sekilas sharing saya tentang Hello Liar. Semoga ada satu atau dua hal yang bisa kamu pelajari dari pengalaman saya. 

Jangan lupa, tunggu kehadiran novelnya, ya. :D

Reactions:

8 comments:

  1. Lagi-lagi kagum padamu, Di. Sepersekian saja aku ingin mengikuti caramu menuntaskan novel-novel itu, tapi kamu memang unik dan beda, aku belum bisa seperti dirimu (entah suatu hari nanti...nekat bermimpi). Makanya, Marginalia saja sudah bikin aku salut. Baca ini, aku yakin ada sesuatu yang bikin aku bakal seharian gak mau berhenti nih baca novelmu. Congrats ya, Di. :)

    ReplyDelete
  2. Wahahahahahaaa emang kalo.nunggu detik yerakhir tuh ada aja kejadiannya
    Kalau aku seringnya pengen ngedit lagi -_-
    Anyway selamat buat naskahmu ya dee...happy for you ^_^

    ReplyDelete
  3. Hello Liar beda dengan Marginalia, mbak Wiwiek. Ini cerita remaja ^_^
    Makasih sudah mampir, mbak Winda. Saya nggak punya banyak waktu untuk editing. Semoga dari pihak Gagas ada banyak masukan dari editor.

    ReplyDelete
  4. Selama ini saya termasuk orang yang fanatik jika saya ingin membeli novel. Saya sangat suka thd gaya penulisan seorang novelis. Kalau bukan beliau yg menulis saya maka saya hanya sekedar pinjem novel ke temen atau perpustakaan. Saat ini saya sudah menyelingkuhi novelis tersebut. Dengan sadar saya membeli Marginalia dan Unfriend You.

    ReplyDelete
  5. Congrats Mbak Dyah! Saya benar-benar menunggu novel ini terbit. Dan, ah. Semoga suatu hari nanti saya bisa sekeren Mbak (atau lebih hebat mungkin, hohoho).
    Sukses terussss! :))

    ReplyDelete
  6. bikin penasaran :D dan bukan terhadap novel-novelnya, tapi juga penulisnya ;)

    ReplyDelete
  7. Hehe, kalau begitu tolong jangan selingkuh dari saya ya mbak Irfa ^__________^

    @polaris: kamu pasti bisa. Saya dengan senang hati melihat anak Indonesia lain yang bisa sukses. Mari kita gemakan karya Indonesia ke seluruh penjuru dunia.

    @Def: Haha.... saya ya begini saja. Mau penasaran apanya? ^_^

    ReplyDelete
  8. whoaaa.. kenapa kalo BW ke deetopia membuat jantungku berdebar yaa #tanya sana, kenapa?

    proses pembuatan - teaser - alur pemikiran, all is simply RED.
    why red?
    I thought that was describing all of ur sexy words.....

    PS. I hate catch ur capcay

    ReplyDelete