Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

22 March 2013

B1A4, Keberuntungan, dan Takdir Langit

8:52 AM Posted by Dyah Utami , , , 1 comment
Secarik kertas itu masih tersimpan di laci saya, namun saya masih ingat isinya: “Tuhan, saya ikhlas kalau saya tidak dapat tiket gratis B1A4. Tetapi saya lebih ikhlas lagi kalau saya dapat.” Doa yang memaksa, iya saya tahu itu. Tetapi itulah saya, dua minggu yang lalu.  Dan ajaibnya, paksaan itu berhasil.  Entah mengapa, Tuhan memutuskan mengabulkan doa saya yang tidak bermutu itu.

Mengapa B1A4?
Saya bukan pecinta berat Korean Wave, tetapi juga bukan anti. Selama ada yang bagus, ya saya menonton dramanya atau mendengarkan lagunya. Tetapi rasanya tidak pernah sampai tergila-gila banget. Sampai kemudian saya membuat novel remaja dan saya butuh model untuk tokoh utama cowok. Cari sana sini, akhirnya ketemu B1A4.  Hmm...hmm... saya pakai saja salah satu membernya sebagai model karakter cowok saja (Kalau nanti kalian baca novelnya, kalian pasti akan tahu siapa).
Trisno Saking Jalaran Kulino, mungkin itu yang terjadi pada saya. Saya semakin menyukai karakter  ciptaan saya, semakin sering mendengarkan lagu B1A4 dan akhirnya ya saya jadi suka banget.
Jadi ketika saya tahu B1A4 akan manggung di Indonesia tepat hanya beberapa saat setelah novel saya selesai, ini seperti takdir saja (atau kebetulan?) Tetapi lima ratus ribu untuk satu tiket? Saya tidak sekaya itu untuk membuang lima ratus ribu begitu saja. 

Menguji Keberuntungan
Kemudian, saya memutuskan untuk sedikit bermain dengan keberuntungan saya. Saya bukan orang paling beruntung di dunia, tetapi rasanya keberuntungan saya juga tidak jelek-jelek amat. Jadi, saya memutuskan untuk mengujinya. Akankah saya beruntung menonton B1A4 secara gratis?
Maka dimulailah perburuan saya mendapatkan tiket gratis. Kalau tidak salah, saya ikut sekitar 3 kuis berhadiah tiket gratis. Tidak banyak, sih mengingat kalau saya niat banget seharusnya saya mengikuti setiap peluang tiket gratis. Sementara itu, saya juga melakukan visualisasi. Sembari menonton video klipnya, saya membayangkan betapa enaknya bisa menonton konser dengan gratis. Itu saja.

Perburuan Sore
Siang itu, muncul miss call tidak dikenal di ponsel saya. Perasaan saya mengatakan sepertinya telepon ini penting. Akhirnya, saya memutuskan untuk menelpon balik. Ternyata dari Warner Indonesia. Itu kan yang ngeluarin albumnya B1A4? Apa mungkin..... Sayangnya, si mbak penerima telepon tidak tahu apa-apa. Jadi saya terpaksa menunggu.
Baru sorenya, ada telepon lagi yang mengabarkan bahwa saya mendapat tiket gratis B1A4. Saya melongo, tidak percaya Tuhan benar-benar mengabulkan permintaan saya. Namun lima detik kemudian, saya diberi kabar. Saya harus sampai di kantor mereka (di Gambir) sebelum jam 5 sore. Gilingan bajaj! Gimana caranya saya bisa sampai di Gambir pada jam pulang kerja seperti ini? Akhirnya, saya ngebut ke Gambir dengan taksi. Sungguh mengejutkan saya bisa sampai di kantor Warner sebelum jam 4.30. Terima kasih banget kepada supir Blue Bird yang sudah sudi membawa saya sampai ke Gambir dengan gila-gilaan (dan selamat).

The Concert and My Funny Little Game
Konser B1A4 berjalan dengan baik dan saya cukup menikmatinya. Tetapi, kemudian saya sadar bahwa yang membuat saya bahagia saat itu, bukanlah konser  B1A4, tetapi perasaan bahwa saya terhubung dengan Yang Maha Kuasa. Bahwa di atas sana, ada yang mendengarkan doa saya. Bahwa dari sekian banyak yang mengikuti undian, nama saya yang diambil dan dinyatakan sebagai pemenang. Anda mungkin mengatakan itu kebetulan, namun saya mengatakannya sebagai doa yang terkabul. Dan rasa bersyukur itu yang terus memenuhi dada saya lama setelah konser itu selesai. 

Oh, ya. Saya memutuskan untuk membuat eksperimen kecil berkaitan dengan takdir. Adik saya yang tergila-gila pada Baro B1A4 meminta saya memberikan hadiah pada mereka. Dan saya memutuskan untuk memasukkan novel terakhir saya, Marginalia, di dalamnya. 

Akan jatuh ke tangan siapa Marginalia ini?
Saya meminta siapapun yang menerimanya untuk memfoto dirinya bersama novel saya dan men-tweetnya kepada saya. 

Saya tidak tahu novel itu akan jatuh ke tangan siapa. Mungkin kelak saya akan mendengar kabar dari seseorang dari Korea, dari Bhutan, atau mungkin tidak sama sekali. Tidak masalah bagi saya. Saya telah menyerahkan novel saya ke tangan takdir dan saya akan membiarkannya bermain dengan cara-Nya sendiri. Dan itulah yang menarik dengan bermain bersama takdir.
Reactions:

1 comment: