Catatan Dunia Menulis dan Kreativitas

12 November 2011

SUKSES SELF PUBLISHING ALA JACK CANFIELD

7:17 PM Posted by dee 1 comment
Jack Canfield, creator of Chicken Soup Series

Siapa yang nggak tahu Jack Canfield? Semua yang hobi baca Chicken Soup tentu tahu dalang di balik buku yang fenomenal ini. Namun berapa banyak yang tahu jika Chicken soup bukanlah buku yang lahir dari tangan penerbit besar? Chicken soup bisa dibaca jutaan orang hingga saat ini berkat kegigihan Jack Canfield dan sohibnya, Mark Victor Hansen. 

Pada Awalnya
Pada awalnya Jack dan Mark  berupa untuk menerbitkan Chicken Soup ke penerbit besar. Bersama-sama mereka bergerilya ke banyak penerbit. Namun apa daya, 130 penerbit yang mereka datangi menolak. Salah satu alasannya adalah nggak ada yang mau membeli buku kumpulan cerita. Tidak putus asa, akhirnya keduanya memutuskan untuk menerbitkannya sendiri alias melakukan self publishing.

Jalan Menuju Sukses
Ini bagian yang ingin Anda ketahui. Bagaimana mereka bisa sukses menjual buku tanpa melalui penerbit? Dari bukunya, The Success Principle, ada beberapa poin yang ditulis oleh Jack Canfield yang berkaitan dengan perjuangannya menjual Chicken Soup:
  1. Jika ingin menghasilkan hal yang besar, bermimpilah besar.
Jangan takut bermimpi besar, begitu pesan Jack. Orang yang bermimpi besar akan menarik hal-hal yang besar. Jadi jangan peduli kalau ada orang yang bilang ah buku gitu doang mana mungkin jadi bestseller. Nyatanya memang ada buku yang gitu doang menjadi bestseller. Ingat poconggg? Saat menerbitkan Chicken Soup, Jack dan Mark membuat visi 2020 yaitu menjual 1 milyar buku pada tahun 2020 dan mengumpulkan dana amal sebesar $500 juta pada tahun 2020.Memang saat ini belum sampai tahun 2020. Tetapi mengingat kesuksesan Chicken Soup yang luar biasa, mungkin banget kan mereka berhasil mencapainya.

  1. Bawa tujuanmu yang paling penting di dalam dompet.
Jack dan Mark menulis keinginan mereka dalam selembar kertas dan membawanya ke mana-mana dalam dompet mereka.  Jack menulis, Saya bahagia bisa menjual buku chicken soup 1,5 juta copy chicken soup pada tanggal 30 Desember 1994. Meskipun sempat ditertawakan, nyatanya keduanya memang berhasil mencapai 1,3 juta kopi chicken soup. Meleset? Hm.. so what? Toh di kemudian hari Chicken soup berhasil 8 juta kopi di seluruh dunia dalam 30 bahasa. 

  1. Lakukan Lima Hal dalam satu hari.
Salah satu kunci keberhasilan Chicken soup masuk menjadi bestseller adalah dengan melakukan aturan Lima, yaitu melakukan lima hal dalam satu hari untuk mempromosikan bukunya. Ada banyak hal yang dilakukan Jack Canfield dan Mark Hansen untuk mempromosikan Chicken Soup: mulai dari menulis press release, mengirimkan buku secara gratis ke sejumlah selebritas, menelpon orang yang bersedia melakukan book review, bersedia melakukan book signing di toko buku manapun, berusaha menjual chicken soup di gift shop, pom bensin, dan lain-lain. Jack juga rajin mengirimkan artikel ke lima puluh  majalah lokal dan regional di seluruh Amerika Serikat. Tiga puluh lima di antaranya menerbitkannya, memperkenalkan Chicken Soup ke lebih dari 6 juta pembaca. Pokoknya lima aktivitas promosi setiap harinya! 

Dan kapan mereka sukses? Dua tahun kemudian! Mungkin Anda terperangah membacanya. Tetapi begitulah kenyataannya. Kesuksesan tidak diraih dalam semalam. Namun kesuksesan mereka juga tidak main-main. Chicken Soup adalah salah satu buku terlaris di dunia (cek saja wiki kalau tidak percaya) dan telah dialihbahasakan ke tiga puluh bahasa dunia.


  1. Banyak dan Rajin Beramal
Heh? Apa hubungannya dengan dengan sukses menulis buku? Jack Canfield percaya bahwa semakin banyak kita memberi, maka semakin banyak kita menerima. Bersama para penulis Chicken Soup, Jack Canfield telah mendonasikan lebih dari 100 lembaga amal. Para Penulis Chicken Soup bahkan pernah membuat buku untuk didistribusikan secara gratis untuk para narapidana. Hasilnya? Justru muncul permintaan menerbitkannya untuk umum! Di Indonesia, setahu saya penulis Ippho Santosa melakukan doa bersama anak yatim ketika ia meluncurkan buku 7 Keajaiban Rezeki. Dan kita tahu buku itu menjadi salah satu bestseller di Indonesia.

  1. Banyak Berbagi
Poin ini mirip dengan poin nomer empat. Namun fokusnya adalah berbagi dengan orang dalam, bukan orang luar.  Jack Canfield mengatakan ia selalu berusaha membagi pendapatan secara adil dengan sekretaris, editor, penulis, dan orang-orang yang terlibat dalam Chicken Soup. Bukan saja digaji lebih tinggi dibanding penerbit biasa, karyawannya juga memiliki rencana pension dan bonus tahunan yang menarik.  Saya pribadi berharap banyak penerbit yang melakukan hal ini. Sudah sering saya mendengar penerbit yang kurang menghargai penulisnya dan membayar mereka di bawah kepantasan (hmm pernah mendengar ajakan antologi yang penulisnya dibayar dengan sejumlah pulsa?) atau editor yang tuntutan kerjanya tidak sebanding dengan gajinya. 

Dan kalau Anda sedang melakukan self publishing seperti Jack Canfield? Bayarlah cover designer Anda dengan harga layak. Bayarlah penulis Anda dengan harga pantas. Berterimakasihlah kepada orang yang telah membeli buku Anda. Berterima kasihlah kepada orang yang sudah mengkritik buku Anda.  Hargai orang-orang yang telah bekerja bersama Anda.  Pada akhirnya kebaikan yang Anda lakukan akan kembali kepada Anda berupa kebaikan juga.

NB: Kalau Anda tertarik membaca buku Jack Canfield, The Succes Principle, Anda bisa mendapatkannya secara online di toko buku Gramedia.

03 November 2011

Self Publishing, Ya atau Tidak?

12:31 AM Posted by dee 3 comments
Let me read it first, then I'll let you know my opinion.

Sebenarnya, saya bukanlah orang yang terlalu mendorong self publishing. Mungkin kedengarannya sombong, tetapi saya selalu merasa kualitas buku yang dihasilkan self publishing berada di bawah standar penerbitan tradisional. Ini karena buku yang dihasilkan tanpa sentuhan tangan editor. Jadi, self publishing terlihat sebagai cara kalau sudah mentok dengan penerbit tradisional, ya udah nerbitin sendiri aja.

Akan tetapi ketika seorang teman mengajak saya untuk menerbitkan novel sendiri, saya mulai limbung. Tetapi teman saya bukanlah orang yang frustrasi karena ditolak penerbit. Dia bilang, “buat pembelajaran aja, mbak. Biar kita belajar menangani semuanya sendiri.”

Okay, saya pikir. Kenapa tidak.

Sejalan dengan itu, saya mulai mencari tahu sendiri tentang self publishing. Saya bahkan menemukan banyak buku besar yang beawal dari penerbitan sendiri. Beberapa contohnya terangkum dalam Chicken Soup for the Writer’s soul:
·        The Celestine Prophecy karya James Redfield. Ia mulai menjual bukunya dari bagasi mobilnya lebih dari 100.000 eksemplar. Akhirnya ia menjual ke Warner books dengan nilai $800.00. Ia menjadi buku terlaris nomer satu tahun 1996, berada dalam daftar buku terlaris New York Times selama 165 minggu dan terjual lebih dari 5,5 juta eksemplar. Nggak jelek buat buku self publishing, kan?
·        The Elements of Style oleh William Strunk, Jr. Buku wajib tata bahasa Inggris ini awalnya merupakan buku kuliahan Cornell University.
·        A Time to Kill oleh John Grisham.
·        The Chrismas Box oleh Richard Paul Evans ditulis dalam waktu enam minggu. Ia menerbitkan dan mempromosikannya sendiri sebelum akhirnya dijual ke Simon & Schuster seharga $4,2 juta. Buku ini mencapai peringkat teratas daftar buku terlaris Publishers Weekly dan diterjemahkan ke dalam tiga belas bahasa.

Bukan itu saja, ternyata sejumlah pengarang terkenal seperti Deepak Chopra, Mark Twain, James Joyce, D.H Lawrence, Anais Nin, George Bernard Shaw, Edgar Allan Poe, Rudyard Kipling, dan sebagainya juga menerbitkan bukunya sendiri.

So, apakah ini berarti kita harus meninggalkan penerbitan tradisional? Ya dan tidak. Ya jika kamu yakin kamu bisa menjual empat kali lebih banyak dari penerbit. Ya jika niatmu adalah untuk pembelajaran. Ya jika kamu yakin tidak ada penerbit yang mau menerima bukumu (karena pasarnya terlalu spesifik). Tetapi saya mengatakan tidak jika kamu masih pemula. Tidak jika kamu belum berjuang menembus penerbit tradisional.

Bagi saya, bekerja sama dengan editor dan penerbitan adalah sebuah pengalaman yang menarik. Kamu belajar melihat sisi pandang penerbit, belajar mengenai kelakuan toko buku, belajar promosi dan hey, siapa tahu dari editor kamu mendapatkan peluang membuat buku baru lagi.

Yang ingin saya sampaikan, jangan terlalu kaku memilih self publishing atau penerbitan tradisional. Toh pada akhirnya yang penting bagi pembaca adalah apa yang ingin kamu sampaikan.

26 October 2011

Seabrek Cara Dapat Buku Gratis

11:59 PM Posted by dee , 5 comments
Eh, tau nggak, novel yang baru gue baca keren abis, lho.


Ketika teman saya, penulis Putu Felisia, menuliskan artikel tentang fans yang ingin mendapatkan buku gratis, saya langsung berpikir. Apakah tidak ada cara mendapatkan buku gratis selain melalui kuis? Apalagi kuis kan hanya sesaat saja. Itupun kalau cukup beruntung. Bagaimana dengan mereka yang kantongnya pas-pasan? Apa pintu tertutup untuk mendapatkan buku gratis?

Tentu saja tidak. Eh, saya serius. Saya pikir, pasti ada banyak jalan yang saling menguntungkan untuk mendapatkan buku gratis. Nah masalahnya, gimana caranya?

Barter.

Yup. Kamu nggak salah baca. Barter. Sistem tukar menukar barang yang dipraktikkan zaman dahulu kala itu bisa kamu terapkan untuk mendapatkan ‘buku gratis’.

Oke, tunggu dulu. Kenapa penulis mau melakukan barter buku? Karena penulis ingin terkenal. Ia ingin semua orang membeli bukunya. Dengan demikian, royalti yang ia terima akan semakin besar.

Kalau kamu belum mampu membeli bukunya, tentunya kamu bisa membantunya untuk lebih dikenal orang, kan? Ini kuncinya. Anggap saja, yang kamu lakukan adalah membantunya promosi. Biaya promosi nggak murah, lho. Nah, bayangin kalau dengan bantuanmu dalam promosi, ada seratus orang aja yang tahu dan pengen beli buku tersbut. Masa’ sih penulis itu nggak mau?

Nah apa yang bisa kamu barter? Ini beberapa ide yang bisa kamu pakai.

  1. Kamu barteran buku atau novel tersebut dengan novel kamu sendiri. Kalau kamu sudah pernah menerbitkan novel sendiri, that’s great. Kamu punya bahan barteran. Kenapa penulis bakal mau? Sebagian karena kasihan, sebagian lagi karena dia pengen juga sih dapat novel gratis tanpa keluar uang. Hihihi... Gimana kalau antologi? Hmm... mungkin tergantung penulis yang kamu hubungi, ya. Karena gimanapun juga dalam antologi, jumlah halaman yang kamu tulis kurang sebanding dengan novel barteran yang jumlahnya ratusan itu. Kecuali antologi barter dengan antologi ya.
  2. Kamu membuat promosi novel tersebut di sekolah kamu. Mungkin kamu bisa bikin poster iklan novel itu di majalah dinding sekolah. Atau selebaran. Atau pengumuman di radio sekolah. Bayangkan kalau semua temanmu tahu tentang novel ini, bukankah ini jadi keuntungan buat si penulis juga?
  3. Kamu janji untuk SMS tentang novel itu ke 50 temanmu. Kalau biaya SMS Rp 250, berarti kamu hanya mengeluarkan biaya Rp 12.500. Jauh lebih murah daripada beli novelnya, kan?
  4. Kamu janji update status facebook dan twitter tentang novel itu selama dua minggu.
  5. Kamu akan membuat resensinya novel sang penulis di blogmu dan blog teman-temanmu. Bikin notes di facebook juga bisa jadi alternatif.
  6. Kamu mengundang penulis ke acara radio sekolahmu atau kampusmu.
  7. Kamu bikin acara yang berkaitan dengan tema novel itu. Misalnya costume party ala detektif? pajama party ala Jepang? Pementasan drama berdasarkan novel tersebut? Kenapa nggak? Siapa tahu kamu malah dapat sponsor dari penerbit.
Intinya adalah pikirkan ide kreatif yang bisa kamu perbuat dan hal itu menguntungkan juga buat si penulis. Selain kamu lebih terhormat karena melakukan sesuatu, ini juga dapat jadi cara kamu untuk mendukung penulis favorit kamu. Dengan membangun hubungan baik dengan penulis, kamu juga akan ketularan ilmu menulisnya.

Dan yes, kalau kamu mau nyoba, kamu bisa menghubungi saya di email atau facebook.com/deetopia. Ide unik apalagi yang kamu punya?

NB: Kalau penulisnya sudah terkenal, mungkin kamu harus memikirkan cara yang lebih kreatif untuk mendapatkan barteran buku. Atau mungkin lebih baik kamu menabung. Atau cari pinjaman.:D

19 October 2011

Saya Menulis Seperti...

7:39 PM Posted by dee No comments
Sebenarnya, ini iseng-iseng saja.
Di sebuah forum saya menemukan link yang katanya bisa menganalisis gaya tulisan kita ini seperti siapa. Hmm.... keren juga, kan? Tetapi ternyata pas saya klik, link itu mengharuskan tulisan kita dalam bahasa inggris. Walah, gimana ini. Tulisan saya kan bisa dikatakan 99% bahasa Indonesia. Jadi daripada pusing-pusing, saya pakai saja google translate saya untuk menerjemahkan postingan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Dan hasilnya?



I write like
Vladimir Nabokov
I Write Like by Mémoires, journal software. Analyze your writing!

Sejujurnya, saya belum pernah baca karya Nabokov #grin. Kayaknya ini tambahan PR buat saya. Baiklah, mulai cari ebook Nabokov! Yay!

Oh, ya kalau kamu mau, kamu bisa coba sendiri di I Write Like




28 June 2011

Novel Pertama dan Piramida Penulis

5:25 AM Posted by dee , , 3 comments

Penampakan novel saya di  Gramedia Matraman.
Saya selalu bertanya-tanya, gimana sih rasanya ngelihat novel pertama yang kita tulis terpajang di toko buku? Kita bakal ngerasa bangga, senang, atau mungkin merasa takut? Takut akan kritik, takut tidak laku dan sebagainya?

Kayaknya itu semua menimpa saya  hari itu saya datang ke Gramedia Matraman. Di sana, di pojok buku bagian novel, dekat jendela, buku saya dipajang. Buku saya jauh dari tempat daftar bestseller, bukan di rak khusus atau diletakkan dengan manis di belakang kasir, namun saya tetap merasa senang. Saya merasa inilah hasil perjuangan saya dan penerbit (yups.. ini hasil kerja tim, not just me), inilah awal dari segalanya.

Seorang penulis pernah menuturkan kalau tingkatan penulis ada 5 macam. Yang pertama, adalah orang yang ingin menulis namun tidak pernah menulis. Yang di atasnya adalah orang yang menulis, namun tidak selesai. Di atasnya lagi adalah penulis yang selesai namun tidak menerbitkannya. Di atasnya? Penulis yang mengirimkan naskahnya namun ditolak. Dan yang paling tinggi tentu saja, penulis yang berhasil menerbitkan karyanya. Tapi tahu nggak di atas piramida itu ada sebuah roda keberuntungan (wheels of fortune). Nah kalau beruntung, dia akan menjadi bestseller.

Kamu tentu bisa berdebat alasan sebuah buku menjadi bestseller atau tidak. Tetapi waktu saya membaca pendapat itu, perasaan saya menjadi lebih nyaman. Saya nggak punya kewajiban menjadikan buku saya bestseller, yang menjadi kewajiban saya adalah menulis yang terbaik. Hanya dengan itu, saya berharap roda keberuntungan mampir kepada saya.

NB: Novel perdana saya, Detektif Imai dan Ruangan Separuh Rusak sudah tersedia di toko buku Gramedia seharga 36.000. Jika kesulitan mendapatkannya, kamu bisa membelinya melalui penerbit Buah Hati, toko buku online seperti kutukutubuku.com dan Bukukita.com atau saya. Email saya di dyah.utami@gmail.com Ada tanda tangan gratis, jika kamu mau.

10 February 2011

Buku Buku Yang Mengubah Hidup Saya

7:10 AM Posted by dee , , 3 comments
Buku apa yang mengubah kehidupan seekor kucing?
Tadinya saya mau membuat judul buku paling bagus tahun 2010 atau sejenisnya. Tapi kemudian saya menyadari, ngapain juga saya bikin yang kaya' gitu. Orang saya juga nggak ingat kapan pasnya saya membaca buku ini. Iya kalau bener tahun 2010. Kalau nggak? Atau mungkin ntar jadi pertanyaan. Bukankah harusnya buku tersebut terbitan tahun 2010. Nah lho. Lagipula ini sudah tahun 2011. Jadi rata-rata telat juga kan kalau pakai angka 2010?

Jadinya, saya menulis saja sejumlah buku yang paling banyak berperan dalam kehidupan pribadi saya. Ada yang mengubah saya dari segi kesehatan, karir, spiritual sampai juga ke make-up (sorry ya jek. Saya masih perempuan ^o^) Cukup menarik ternyata sebagian besar adalah buku non fiksi dan hanya satu yang fiksi. Berikut ini adalah daftarnya berdasarkan huruf:
  1. Agar Siapa Saja Mau Berdamai Dengan Anda dan Agar Siapa Saja Mau Berubah untuk Anda oleh David J. Lieberman, Ph.D.  Buku ini menyadarkan saya tentang sifat  asli manusia. Bahwa rasa marah lahir dari ketakutan dan bahwa kita bisa mengubah orang jika niat kita tulus untuk kebaikan orang itu sendiri. Yang saya suka adalah buku ini begitu sederhana dan ringkas, langsung menembak ke permasalahan yang kita hadapi.
  2. Making Faces oleh Kevyn Aucoin. Oke, ini memang buku tentang make up. Tetapi sumpah buku ini bagus banget buat perempuan yang mau belajar dandan. Kevyn ngajarin bahwa make up yang bagus itu nggak harus tujuh lapis. Ditambah ilustrasi yang bagus dan peralatan yang simple, ini benar-benar buku yang must have buat semua perempuan.
  3. On Writing oleh Stephen King. Stephen King adalah salah satu penulis favorit saya. Buku ini adalah biografinya, tetapi banyak nasihat kepenulisan yang tertera di dalamnya. Mulai dari pengalamannya ditolak sampai dengan bagaimana menjadi penulis yang baik. Buku yang inspiratif bagi semua penulis.
  4. Pelatihan Shalat Khusyu' oleh Abu Sangkan. Saya adalah seorang muslim dan meskipun sudah sholat bertahun-tahun, rasanya kualitas sholat saya masih begitu-begitu aja. Buku ini mengajak saya untuk lebih memahami makna sholat dan bagaimana sholat bukan sekedar ritual tetapi meditasi yang sangat dalam yang mengkoneksikan antara manusia dan penciptanya.Buku yang bagus untuk memaknai ibadah yang sebenarnya.
  5. Quantum Ikhlas oleh Erbe Sentanu. Anda ingat The Secretnya Rhonda Byrne? Quantum Ikhlas mirip dengan itu. Dengan memakai pendekatan Indonesia, Quantum Ikhlas terasa lebih dekat dan praktis. Saya banyak belajar tentang makna hidup yang sebenarnya dari sini.
  6. Sang Alkemis oleh Paolo Coelho. Sang Alkemis datang ketika saya menghadapi titik kejenuhan dalam karir di perusahaan tempat saya kerja. Bersama karakter utamanya, saya diajak mempertanyakan apa hal yang paling penting dalam hidup saya dan mendorong saya untuk berani meninggalkan apa yang saya miliki untuk mencapai tujuan hidup saya. Saya belum sampai ke piramida, tentu, tetapi keberanian meninggalkan toko kristal saya dapatkan dari Sang Alkemis.
  7. Staying Young oleh Mehmet C. Oz, MD. Mehmet Oz dan situs realage.com banyak mengubah cara pandang saya pada kesehatan saya. Saya jadi lebih memperhatikan makanan dan olahraga. Saya juga mengikuti yoga karena beliau, meski sekarang tak sesering dahulu lagi.
  8. The Miracle of Enzyme oleh Hiromi Sinya. Dr. Sinya membuat saya lebih perhatian pada kesehatan saya. Ia yang membuat saya lebih banyak mengkonsumsi sayuran dan buah sekarang, meninggalkan susu, mengurangi kopi dan  mengunyah lebih banyak. Tulisannya akan membuka cakrawala Anda tentang kesehatan. Dijamin.
  9. The Whuffie Factor oleh Tara Hunt. Whuffie Factor adalah modal sosial yang Anda butuhkan agar sukses di dunia maya. Menariknya, seperti di dunia nyata, Anda harus banyak beramal, berbagi, dan terlibat agar diakui oleh orang lain. Buku ini mengubah cara pandang saya tentang dunia maya, bahwa dalam banyak hal sebenarnya dunia maya tidak jauh berbeda dengan dunia nyata.
Bagaimana dengan Anda? Apa buku yang mengubah hidup Anda?



25 January 2011

Indonesia Permai: The (Writer's) Soundtracks

12:46 AM Posted by dee , 1 comment
Semua penulis pasti punya semacam soundtrack tertentu ketika menciptakan sebuah karya. Err... atau nggak juga? *grin* Yang jelas, saya biasanya selalu punya soundtrack. Tujuannya sih dua. Yang pertama supaya setiap kali dengar lagu itu, semangat saya untuk nulis bisa terus jalan. Saya butuh atmosfer tertentu untuk menciptakan sebuah karya. Entah atmosfer sedih, gembira, dan lain-lain.

Nah yang kedua? Well, siapa tahu saja saya cukup beruntung seperti Stephanie Meyer yang suka banget sama Muse (en memakai Muse waktu menulis Twilight) dan kok ya kebetulan film Twilight juga memakai lagunya Muse (hate you for that Meyer!) Siapa tahu saya juga ketiban rezeki Arashi juga mau membuatkan lagu untuk saya *ngarepindurenbangkokjatuh*

Anyway, Indonesia Permai atau Imai selalu punya gaya yang ceria dan ketika saya mendengarkan lagu Arashi ini, saya langsung klop dengannya. Apalagi semangat mengejar mimpi yang diusung Arashi dalam lagu ini kayaknya pas buat mereka.  

Mungkin ada juga sih lagu Indonesia yang cocok, nggak harus lagu Jepang juga. Tapi ya gitu deh... namanya juga udah klop. :) Bahkan saking senengnya, saya malah ngebayangin kalau Imai dibuat filmnya atau dramanya atau drama musikalnya *ngimpikejatuhanduren* pasnya ya pakai lagu Arashi.


ARASHI - WE CAN MAKE IT.


Satu lagi lagu yang saya pakai dari Arashi untuk buku 1 Imai adalah STEP AND GO. Tapi sayangnya, video klipnya nggak saya temukan lagi di youtube :( *hiks*

Akan tetapi kalau kalian penggemar berat Arashi pasti kalian tahu deh dua lagu ini. Kalau belum, coba deh dengerin. Biarpun boysband, gaya lagunya bener-bener beda dengan ala Korea en Indonesia.

09 December 2010

Seekor Katak dan Dinding Trotoar

9:15 AM Posted by dee , 4 comments

Waktu telah menunjukan jam sepuluh malam ketika saya melalui kompleks belakang menuju rumah saya. Pada siang hari, daerah itu adalah salah satu bagian favorit tempat tinggal saya. Sebuah taman panjang teratur menghiasi tepian sungai, menciptakan oase kecil di tengah-tengah Jakarta yang padat. Bahkan saya menggunakan taman di sepanjang sungai itu sebagai setting novel saya.

Akan tetapi, di malam hari, taman itu tidak terlalu menarik lantaran situasinya yang sangat sepi dan pencahayaannya yang tidak merata, terutama pada bagian ujung taman. Apalagi malam itu hujan rintik-rintik turun, membuat saya semakin cepat melangkah.

Saat saya mencapai ujung taman itulah kemudian saya melihat seekor katak.Sebenarnya bukanlah hal yang aneh jika saya melihat katak di sana. Namanya juga dekat dengan sungai. Saya teringat dulu ketika tanah lapangnya dibiarkan liar. Setelah hujan, akan terdengar orkestra katak saling bersahutan. Sungguh menyenangkan.

Untuk beberapa saat, saya tertarik untuk mengamati makhluk kecil itu. Katak itu tengah berusaha melompat sekuat tenaga untuk naik ke atas trotoar. Tentu saja dengan badannya yang kecil, sulit baginya untuk mencapai trotoar dan akhirnya sampai ke sungai. Tetapi ia tidak berhenti melompat. Ia terus melompat dan terus melompat. Saya sempat berpikir, sampai kapankah katak itu akan terus melompat? Trotoar itu cukup panjang dan nyaris tidak ada bagian yang lebih rendah bagi sang katak untuk bisa mencapai sungai.

Akan tetapi saya salah. Ternyata ada satu lubang kecil di ujung trotoar. Lubang itu dibuat agar air dari jalanan bisa mencapai sungai. Jika sang katak mau bekerja lebih lama lagi, ia akan menemukan lubang itu dan ia akan kembali ke sungai.

Pikiran itu membawa saya pada diri saya sendiri. Meskipun saya mencintai menulis, tetap saja ada momen di mana saya mempertanyakan semua arti hidup saya. Apakah menulis dapat membuat saya hidup berkecukupan? Apakah saya hanya hidup dalam ilusi saya sendiri? Bagaimana kalau tidak ada yang menyukai tulisan saya? Apakah saya tidak realistis dengan kondisi perbukuan di Indonesia?

Kegigihan katak itu dalam melompat itu membuat saya merenung. Mungkin seperti katak, tujuan hidup manusia adalah sungai itu. Kita semua memiliki sungai itu. Entah berupa kebahagian di dunia dan di akhirat, kekayaan, cinta, kepopuleran dan lain-lain. Untuk mencapainya, selalu ada trotoar tinggi yang harus dilompati: keluarga yang tidak setuju, situasi ekonomi yang tidak mendukung, bakat yang dirasa kurang, dan lain-lain. Saya tidak tahu apakah kemudian katak itu memilih meninggalkan sungai dan menerima tinggal di selokan saja. Akan tetapi, saya berharap katak itu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Begitu juga kita semua. Memang pada akhirnya kita semua dihadapkan pilihan apakah kita akan terus mengejar mimpi kita atau akhirnya menerima hidup apa adanya. Akan tetapi, kalau kita mau percaya bahwa ada lubang kecil itu, pada akhirnya kita akan menemukannya, meskipun butuh waktu lama untuk menemukannya. Hanya saja, berapa banyak dari kita yang bersedia berjuang begitu lama dan begitu keras untuk mencapai mimpi yang mungkin tinggal sedikit lagi tercapai?

Saya tidak tahu apakah saya bisa menjadi seorang penulis yang baik. Tetapi seperti katak itu yang hanya bisa meloncat, saya juga hanya bisa menulis. Saya hanya bisa berharap, suatu saat saya akan menemukan lubang kecil itu dan akhirnya mencapai sungai saya sendiri.

29 November 2010

Event Menulis Nanowrimo: Sebuah Catatan

9:06 PM Posted by dee , 2 comments
salah satu ide menambah word count

Bagi saya, mungkin tidak ada kegiatan menulis tahunan yang lebih menarik dibandingkan nanowrimo. Ini karena nanowrimo berarti dua hal: bertemu dengan rekan sesama penulis (sepertinya justru ini yang lebih menarik) dan tentu saja, menulis novel. Bukan berarti saya tidak menulis novel di luar kegiatan menulis ini. Hanya saja, ide menulis novel dari dasar, berjuang bersama sesama rekan penulis dan akhirnya menang bersama-sama, tetap menarik bagi saja meski sudah tiga kali saya melakukannya.


Nanowrimo: Apaan sih itu?
Nanowrimo adalah singkatan dari National Novel Writing Month. Gampangnya, nanowrimo adalah  kegiatan menulis novel bareng seluruh dunia. Yup. SELURUH DUNIA.  Mulai tanggal 1 November, kamu mulai menulis novel dari dasar atau halaman pertama, hingga kamu mencapai 50.000 kata. Harus 50.000 kata atau kamu tidak akan mendapat gelar winner. 
Jangan panik dulu. 50.000 itu tidak terlalu banyak, lho (tapi juga tidak terlalu sedikit). Kalau dikonversikan ke dalam halaman, mungkin sekitar 150 halaman. Agar beban kerja kamu tidak terlalu berat, kamu cukup mengetik sekitar 1.667 kata per hari. Pada hari ke 30, kamu akan mendapatkan  50.000 kata. Untuk mengetahui jumlah kata, kamu bisa mengecek word count yang ada di word processor kamu.


Apa untungnya ikutan Nanowrimo?
Sayangnya, tidak ada medali emas atau Ipad baru menanti kamu. Yang jelas, kamu akan mendapatkan kepuasan batin karena berhasil menyelesaikan novel yang kamu ingin tulis selama ini.  Tahap pertama kepenulisan telah kamu lalui dan kamu dapat melanjutkannya ke jenjang berikutnya, menyuntingnya.
Nanowrimo juga membantu kamu lebih disiplin, sesuatu yang sangat penting kalau kamu ingin serius jadi penulis. Dan karena kamu akan berhubungan dengan sesama penulis, kamu juga akan mendapatkan jaringan penulis yang lebih luas. Siapa tahu kamu akan dapat kenalan dari penerbit!


Nanowrimo bagi saya
Saya suka nanowrimo. Dua novel saya yang sedang ada di tangan penerbit ditulis ketika saya melakukan nanowrimo. Tahun 2010 ini, saya memanfaatkan nanowrimo untuk sedikit keluar dari jalur dan menulis cerita fantasi, sesuatu yang tak pernah baik saya lakukan. Saya pikir, inilah momen untuk membebaskan diri saya tanpa ada beban dari pihak manapun (termasuk diri saya sendiri). Dan hasilnya cukup mengejutkan. Saya merasa cerita fantasi saya tidak buruk-buruk amat (meskipun tidak bagus-bagus juga).


Tips Memenangkan Nanowrimo Buat Sang Pemalas

  1. Siapkan ide novel Nanowrimo beberapa hari sebelum mulai lomba. Ini jauh lebih bagus daripada kamu benar-benar blank pada saat nanowrimo dimulai 
  2. Tuliskan apa yang ada di pikiran kamu mengenai novelmu.  Anggap kamu sedang berlatih menulis novel, bukan menulis novel. Hal ini membuat pikiranmu lebih nyaman dan tidak terbebani.
  3. Tidak perlu menulis bab per bab. Tuliskan setiap adegan yang kamu bayangkan tentang novel kamu. Jika kamu malas menulis bab tertentu, lewatkan saja dan lanjutkan ke bab lainnya. Toh yang membaca hanya kamu.
  4. Jika kamu sudah muak dengan komputermu dan ingin menulis di atas kertas, lakukan saja. Nanti kamu dapat mengira-ngira jumlah katanya dan menambahkannya di file novelmu. Tak perlu mengetik ulang.
  5. Jika kamu sudah kehabisan ide tentang plot, lakukan pembahasan tentang tokoh-tokohmu. Kamu akan mengenali tokohmu dengan lebih baik dan kamu juga akan menambah word count.
  6. Pada awal nanowrimo, tulislah sebanyak mungkin sebagai ‘tabungan’. Semakin ke belakang, tentu ada kecenderungan api perjuanganmu padam, entah karena idemu semakin mengecil atau kamu terlalu sibuk. Dengan tabunganmu, beban tulisanmu menjadi berkurang namun kamu tetap berpeluang menjadi pemenang.
  7. Kumpul bareng bersama penulis lain di Write-Ins. Kamu bisa dapat tambahan ide baru sekaligus menambah teman.
  8. Beri hadiah kecil bagi dirimu setiap minggu jika kamu berhasil mendapatkan target. Mungkin hanya sekedar es krim atau nonton bioskop. Apapun yang membuat kamu bertambah semangat.

20 September 2010

7 Kebiasaan Buruk Penulis yang sering dipelihara!

8:58 PM Posted by dee , No comments
Tidur tidak akan menambah jumlah halaman tulisan Anda. :D
Sebagai penulis, atau mungkin calon penulis, kamu pasti punya sejumlah kebiasaan. Ada yang baik dan ada juga yang buruk. Cobalah untuk mengenali sejumlah kebiasaan buruk penulis dan menghancurkannya. Ini semua demi diri penulis kamu yang lebih baik. Kebiasaan buruk penulis itu antara lain:
  1. Tidak disiplin. Ini adalah adalah kebiasaan buruk penulis yang utama. Karena kamu pikir kamu seniman, kamu punya hak untuk tidak disiplin. Salah besar. Banyak penulis besar yang memasang waktu khusus untuk menulis. Ada ide atau tidak, mereka harus ada di depan komputer dan menulis. Selain itu, jika kamu malas, kamu tidak akan menepati tenggat waktu. Penerbit bisa jadi enggan menggunakan kamu lagi.
  2. Menunggu mood menulis. Kalau kamu harus menunggu suasana hati yang tepat untuk menulis, kamu akan sulit menemukannya. Selalu ada hal yang dapat mengganggu kamu: tetangga kamu yang sibuk memasang petasan, adik kamu yang menangis atau bahkan bajaj yang tak henti-hentinya lewat di depan rumah. Jadi kapan kamu bisa menulis? Sebenarnya, kamu perlu melanjutkan kebiasaan buruk penulis ini. Kamu bisa menulis kapanpun tanpa menunggu mood. Katakan saja pada dirimu: Saya mau menulis sekarang. Sekarang adalah mood yang tepat untuk menulis. Otak saya akan mengeluarkan ide-ide yang brillian.
  3. Terlalu sibuk. “Aduh, saya terlalu sibuk kerja.” Atau “tugas kuliah ini terlalu berat.” Kalau kamu memang benar-benar berniat menjadi penulis, tidak ada alasan mempertahankan kebiasaan buruk penulis ini. Karena jika kamu menundanya sekarang, besar kemungkinan kamu akan terus menundanya.
  4. Takut idenya tidak orisinil. Kebiasaan buruk penulis ini lahir karena kita ingin menjadi sempurna, ingin menjadi yang pertama. Padahal di dunia ini, semua ide pasti pernah terpikirkan oleh penulis. Yang bisa kita lakukan adalah mengolah ide itu dengan lebih baik dibandingkan sebelumnya.
  5. Meniru ide orang lain. Kamu pikir karena Stephanie Meyer bisa kaya dengan menulis tentang vampir, kamu juga akan sukses menulis tentang vampir. Nyatanya, dengan melakukan kebiasaan buruk penulis ini, kamu hanyalah seorang pengekor. Atau bisa jadi saat buku vampir kamu selesai, trend buku sudah mengarah ke tema yang lainnya.
  6. Enggan mencatat ide dan berpikir akan mengingatnya. Kamu punya ide akan tetapi kamu sedang berada di dalam angkutan umum. Jadi kamu putuskan untuk menulis ide itu nanti saja di rumah. Salah! Ini adalah kebiasaan buruk penulis yang harus dibuang karena bisa jadi, kamu kehilangan ide saat kamu menundanya. Karena itu selalu sediakan bolpen dan kertas.  Kamu tidak pernah tahu kapan ide kamu datang.
  7. Takut hasilnya tidak sempurna. Kebiasaan buruk penulis ini lahir dari keinginan kamu untuk sempurna. Kamu terus merevisi berkali-kali. Tapi sadarkah kamu bahwa tidak ada gading yang tidak retak? Karenanya, cukup sampai kamu puas (atau sedikit puas) dan kemudian kirim hasilnya ke penerbit. Mereka akan memberikan masukan yang mungkin tidak kamu pikirkan sebelumnya.

Makanya, sebelum kebiasaan itu mendarah daging, hentikanlah. Ubah kebiasaan buruk penulis dalam dirimu dan jadilah penulis yang lebih baik!

11 September 2010

6 Cerita Rakyat Indonesia Terbaik bagi Anak Anda.

6:32 PM Posted by dee 7 comments
Anak Anda minta didongengkan sebelum tidur dan Anda meraup buku cerita rakyat terdekat yang bisa Anda Apa yang Anda dongengkan? Cerita rakyat Hansel dan Gretel yang memanggang nenek sihir? Oh tidak. Tentu Anda tidak ingin anak Anda bermimpi buruk, bukan?

Di sini saya memilih sejumlah cerita rakyat yang baik untuk diceritakan kepada anak Anda. Cerita rakyat tersebut mengandung moral pembelajaran yang baik serta memiliki jalan cerita yang menarik bagi anak-anak.


Beberapa cerita rakyat Indonesia yang baik untuk anak (menurut saya) adalah:


6. Malin Kundang (Sumatera Barat) atau Batu Menangis (Kalimantan Barat). 
Cerita rakyat yang amat terkenal ini selalu menjadi sumber pembelajaran yang baik agar anak tidak durhaka pada orang tuanya. Anak Anda juga dapat melihat dampak buruk bersikap sombong. Hanya saja kalau kita mau jujur, apakah orang tua Malin Kundang juga baik karena tega mengutuk anaknya?


5. Bawang Merah Bawang Putih (Jawa Tengah) atau Burung dan Semangka (Kalimantan Selatan). 
Cerita rakyat ini juga sama terkenalnya dengan kisah malin kundang. Kita selalu bisa belajar tentang orang-orang sabar dan jujur yang akhirnya menemukan kebahagiaan. Cinderella ala Indonesia ini juga akan disukai oleh anak perempuan. Meski bukan berupa kisah Cinderella, Burung dan Semangka memiliki alur yang sama dengan Bawang Merah Bawang Putih.


4. Beribu Kandung Seekor Kucing (Jambi). 
Singkatnya ini adalah kisah dua anak yang tidak terima karena memiliki ibu kandung seekor kucing dan memutuskan untuk mencari penggantinya. Saya menyukai cerita rakyat ini karena memiliki alur kisah pencarian yang menarik dan memiliki kisah moral yang menarik. Anak-anak dapat belajar bersyukur dan bahwa apa yang mereka miliki merupakan yang terbaik bagi mereka. 


3. Si Kancil (Jawa). 
Makhluk mirip rusa ini dikenal cerdik dalam mengatasi musuh-musuhnya seperti Pak Tani, Buaya atau Harimau. Meskipun demikian, berhati-hatilah dalam memilih episode si kancil agar si kecil Anda mampu membedakan kecerdikan dengan keculasan. Salah satu episode favorit saya adalah saat si kancil menghadapi buaya.


2. Rusa dan Si Kulomang (Maluku Utara). 
Ini adalah versi lokal untuk kisah perlombaan antara kelinci dan kura-kura. Cerita rakyat Indonesia ini bukan saja menegangkan, tetapi juga mengajarkan moral yang baik bagi anak-anak. Ketekunan menjalani sesuatu lebih baik daripada terburu-buru dan kemudian berhenti di tempat.


1.Timun Mas (Jawa Tengah). 
Jika saya hanya boleh memilih satu cerita rakyat yang didongengkan kepada anak-anak, saya akan memilih kisah tentang Timun Mas. Timun Mas memiliki segalanya. Musuh yang sulit untuk dikalahkan (raksasa), konflik antara timun mas dan raksasa dan yang paling penting, mengajarkan pada anak-anak keberanian untuk melawan kejahatan.


Inilah bekal pilihan Anda untuk mendongengkan pada anak Anda. Di luar ini, tentu saja masih ada cerita rakyat Indonesia yang menarik untuk diceritakan. Hanya saja pastikan Anda membacanya secara tuntas sebelum memutuskan untuk menceritakannya. Selamat mendongeng!

24 July 2010

Pemboenoehan Tempoe Doeloe - Sebuah Catatan dari Perpustakaan Nasional

7:58 PM Posted by dee , , , 2 comments
Ada yang psikopat, ada yang kejam, ada yang berusaha menipu polisi
Hari ini saya memutuskan untuk pergi ke Perpustakaan National dengan satu alasan sederhana, saya kehabisan ide. Saya pikir, berjalan-jalan sedikit, membaca koran luamaaa siapa tahu dapat membantu saya menciptakan (adegan) pembunuhan lebih baik lagi.
Jadi, setelah mengurusi pendaftaran barang sejenak (yang sistemnya sudah jauh lebih baik daripada waktu zaman kuliah saya), saya memutuskan untuk pergi ke bagian mikrofilm di lantai empat. Terus terang, saya belum tahu koran apa yang harus dibaca. Jadi, saya main tebak menebak saja. Saya comot sebuah nama yang memiliki banyak publikasi dari daftar mikrofilm yang tersedia, Bintang Timoer. Usut punya usut ternyata salah satu penjaga gawang Bintang Timoer adalah Armijn Pane. Hayo, siapa yang masih ingat siapa Armijn Pane?
Ternyata sadis juga
Kebanyakan kasus kejahatan hanya ditulis dalam beberapa baris. Maklum saja waktu itu, sekali terbit, Bintang Timoer hanya 8 halaman di mana ia harus membagi tempat untuk berita luar negeri, olahraga, bagian untuk perempuan dan bagian khusus bahasa Belanda. Tapi soal isi, jangan salah. Bisa sama ngerinya dengan berita kejahatan zaman sekarang. Contohnya ini.
Ditombak dan Ditjintjang
Dari pemekasan dikabarkan bahwa di Sampang, onderdistrict Darmotjamplong seorang pentjoeri hewan telah kepergok dan telah ditoembak, kemoedian ditjintjang.
Majatnya dimasokkan dalam karoeng dan dilempar ke kali.
Orang jang berlakoe kedjam itoe telah tertangkap. (24 augustus 1935)
Atau bagaimana dengan yang ini?
Diboenoeh Toejoeh Orang
Dari Pamekasan Aneta kabarkan, bahwa dalam onderdistrict Waroe telah kedjadian pemboenoehan kedjam. Korban itoe dipegang oleh ampat orang sedang sedang tiga orang lainnja menghantamnya dengan sendjata tadjam. (24 Augustus 1935)
Yang Psikopat juga ada
Yang lebih mengejutkan saya lagi, ternyata pada zaman dahulu, ternyata sudah ada pembunuhan berantai (hmm… apa ini bisa disebut pembunuhan berantai). Tidak main-main pelakunya adalah seorang administrateur (pemilik perkebunan atau sejenisnya. Kalau sekarang mungkin semacam pengusaha terkenal kali ya). Berita ini memakan ruang cukup banyak di beberapa edisi Bintang Timoer meskipun tidak masuk ke halaman utama.
Pemboenoehan Soember Bopong
Lima orang jang diboenoeh
Berhoeboeng dengan pemboenoehan di Soember Bopong itoe, diberitakan oleh ,, Bat. Nbld.” Lebih djoeh bahwa soedah pasti, bahwa ada dilakukan di Soember Bopong itoe lime pemboenoehan. Pertama pemboenoehan pendjoeal daging, jang kedoea pemboenoehan pemetik, jang ketiga pemboenoehan pentjoeri kajoe, jang keempat seorang anak gadis jang baroe beroemoer empat belas tahoen, jang ada berhoeboengan dengan M, dan jang kelima seorang orang jang dipoekoel dalam kebun laloe dikoeboerkan disana djoega.
Pada soeatoe hari M menembak tiga kali pada seorang jang hendak berhoeboengan dengan seorang perempoean, jang disoekai oleh Mondt. Tetapi orang itoe tiada kena.
Doea tiga perkara hilang lagi boleh djadi menoenjokkan bahwa ada lagi pemboenoehan. Ternjata bahwa soekar kepada M mengakoe karena dia tiada tahoe tentang pemboenoehan dimana dia ditanjai.
Akan menjoekarkan penjelidikan, Mondt menoendjoekkan mandoer Afghaan itoe djadi pembantoenja jang teroetama, tetapi mandoer itu hanya sedikit berhoeboengan dengan segala perkara itoe. (23 Augustus 1935)
Menurut Bintang Timoer, tuan Mondt ini memiliki sifat seperti Hyde dan Jeckyll. Di satu sisi, ia sangat baik dan bahkan mau bergaul dengan kuli, akan tetapi di sisi lain memiliki sifat sangat ketakutan akan ada yang mau membunuhnya. Tentu saja kemungkinan besar ini hanya pendapat Bintang Timoer atau hasil wawancara karena tidak pendapat ahli dari psikiatri, misalnya.
Menipu Polisi
Jangan dikira orang zaman dulu tidak punya ‘kreativitas’ dalam menutupi kejahatannya. Dalam Bintang Timoer, 24 Agustus tertera usaha menipu polisi seperti di bawah ini.
Pemboenoehan
Di Patjitan di desa Tegalombo, afd. Patjitan telah d ketemoekan majat se-orang jang memboenah diri dengan jalan menggantoeng diri. Belakangan ternjata orang itoe diboenoeh. Selidikan land, oet menjatakan bahwa dalam ini tersangkoet perkara tanah.
Orang malang itoe diboenoeh oleh anak dan temannja. Dengan menggantoeng majatnya mereka berharap bahwa orang akan mendoega koerban itoe telah menggantoeng diri.
Sayang tidak diberitahu bagaimana upaya politie mengungkapkan kasus tersebut. Karena itu saya hanya bisa menduga-duga. Entah polisi menginterogasi sejumlah orang atau polisi pada saat itu sudah cukup cerdas. Saya pribadi beranggapan yang kedua karena kasus gantung diri kelihatan berbeda dengan pembunuhan *sok tahu.com* Saya mengira polisi menemukan fakta seperti orang tersebut tidak menjulurkan lidahnya (seperti layaknya orang bunuh diri) atau ditemukan tanda-tanda perkelahian. Atau bisa juga beberapa hari sebelumnya, si korban mempunyai masalah pribadi yang lebih memungkinkan skenario dibunuh, bukannya bunuh diri. Apapun itu, polisi masa itu tentulah beruntung sang pembunuh tidak sepintar rekannya di Irlandia yang bisa menciptakan skenario ‘mirip bunuh diri’ .
Jadi, kalau ada yang mau disimpulkan, ternyata sifat manusia tidak berubah sepanjang masa. Mau zaman dulu ataupun sekarang sama saja. Yang namanya kekejaman, psikopat, dan kejahatan lainnya tetap saja meskipun manusia mungkin merasa jauh lebih modern dari yang dulu. Dan ini, meskipun kedengarannya ironis, membantu saya lebih percaya diri dalam menulis fiksi misteri.
Fun Fact:
Ternyata tahun 1935 sudah ada Tiger Balm. *fakta nggak nyambung*
Apa ada yang memperhatikan kalau nama mandor yang membantu pembunuhan atau dikambinghitamkan dalam kasus pembunuhan di Soember Bopong bernama Afghan ? :D

04 July 2010

Indonesia Permai: Karakter

9:08 PM Posted by dee , No comments
Hal yang pertama kali saya lakukan setelah mendapatkan 'tugas' membuat novel detektif remaja adalah menciptakan karakter. Gimanapun juga, karakter adalah salah satu bagian terpenting dalam cerita, apalagi cerita detektif. Pengennya saya sih karakter itu asyik banget. Masalahnya, gimana mendefinisikan asyik? Apakah asyik itu tokoh detektif yang serba jagoan seperti James Bond versi ABG misalnya? Atau justru yang kocak abis, kelihatan bego, tapi jempolan memecahkan kasus? Apakah jumlah jagoannya cukup satu seperti yaah.... Nancy Drew, dua seperti Sherlock Holmes dan Dr. Watson, tiga seperti trio detektif, atau bahkan lima seperti lima sekawan?

Nah itu keputusan yang sulit. Saya menginginkan karakter yang masuk akal. Saya lebih suka karakter yang nggak serba tahu, tapi dia belajar dan bekerja sama dengan banyak orang. Karena itu tipe single fighter seperti Nancy tidak menjadi pilihan saya. Kemudian saya menjatuhkan pilihan pada model keroyokan mirip lima sekawan (minus anjingnya) karena dua alasan: makin banyak orang makin ramai dan saya punya banyak sudut pandang untuk saya mainkan. Bukankah menyenangkan kalau satu bab kita melihat dari sudut pandang A dan kemudian di bab berikutnya kita melihat dari sudut pandang B?

Nah, kalau kamu melihat model lima jagoan (atau empat jagoan atau tiga jagoan), kamu akan melihat semacam pembagian tugas. Ada yang jadi pemimpin, ada yang jadi pemikir, pengacau dan ada anjingnya :p. Saya pikir model semacam ini akan mempermudah pembaca untuk mengingat karakter-karakter itu sendiri. Jadi saya menciptakan lima karakter dengan sedikit twist: seorang detektif yang menjadi problem maker sekaligus problem solver, seorang pemimpin yang enggan memimpin karena lebih suka belajar, seorang pemberontak, seorang jenius yang 'menderita' sindrom asperger, dan si manis yang.. hmm... sejauh ini masih terkesan jadi pemanis. :p

Berbeda dengan karakter tim detektif seperti misalnya lima sekawan atau trio detektif yang dari awal mereka sudah rukun dan selalu bersama, karakter tim saya justru punya konflik antar anggota. Saya rasa hal itu jadi bumbu yang menarik selain fakta karena di dunia nyata kita toh juga nggak selalu akur dengan teman.

27 June 2010

Indonesia Permai: Sebuah Awal

Kira-kira setahun atau dua tahun yang lalu, saya bertemu dengan dua editor dari sebuah penerbit. Kebetulan juga, keduanya adalah sahabat baik saya. Waktu itu kami tengah membicarakan sebuah proyek buku sederhana. Yang diminta dari saya hanyalah membantu menuliskan beberapa cerita yang dengan sedikit riset dapat saya lakukan (meskipun kemudian ternyata tidak semudah yang saya bayangkan).

Dari sela-sela pembicaraan kami, entah bagaimana, kami tiba pada percakapan betapa kurang beragamnya buku anak atau remaja saat ini. Saat ini kami tidak lagi menemukan buku menarik seperti Trio Detektif, Lima Sekawan dan lain-lain. Memang buku-buku lama seperti Lima Sekawan kemudian diterbitkan lagi. Tetapi sepertinya tidak ada generasi baru dalam menulis genre detektif petualangan seperti itu. Apalagi ketika kami membicarakan penulis lokal.

Pada akhirnya kami semua mengambil kesimpulan, kami seharusnya tidak boleh mengeluh. Kami seharusnya melihat ini sebagai kesempatan. Dan karena hanya saya satu-satunya penulis di pertemuan itu, tebak siapa yang kena imbasnya :D

Beberapa hari kemudian, saya terus mengolah ide tentang detektif remaja yang saya inginkan. Saya mencari beberapa ebook gratisan (maaf) dari internet. Saya juga berburu beberapa buku anak di toko buku (see? I don't just rely on the free illegal books ;P). Salah satu teman editor sayajuga mengirimkan dua buku yang ia rasa berkaitan dengan penulisan saya.

Draft buku yang pertama berhasil saya selesaikan pada akhir bulan November dua tahun yang lalu, bertepatan dengan Nanowrimo. Akan tetapi, naskah yang benar-benar punya muka untuk dikirimkan kepada penerbit baru muncul tiga bulan kemudian. Saya juga sudah menyelesaikan draft buku kedua sekitar sebulan yang lalu dan pada saat ini sedang memasuki proses reading di penerbit.

Akan ada banyak yang saya tuliskan di blog ini mengenai karakter atau latar belakang penulisan saya. So, stay tune. :D